Agar Tak Jadi Anak Jajahan

SINAR mentari di pagi yang sangat cerah pada Sabtu 7 Juni 2014 menghangatkan kulit saya yang berjalan keluar dari Hotel 01 Batam Cabter, Batam. Saya mencari kendaraan untuk menuju ke BCC Hotel and Residence pagi-pagi pukul 07.00.

Barusan, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, memberi intruksi agar pagi-pagi sudah di BCC Hotel and Residence. Ia akan berangkat pagi dari Hotel Harmoni One tempatnya menginap sekitar pukul 07.30. Artinya saya sebagai anak buah harus lebih cepat setengah jam.

Di BCC, sembari menunggu Mualem (Muzakir Manaf) tiba saya menemui adik-adik yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXV di Batam. BCC Hotel adalah tempat kalifah Aceh menginap. Hotel bintang lima ini berasa sekali seperti berada di Jepang, semuanya bergaya negeri matahari terbit.

Tak lama berselang, Mualem tiba. Dia ditemani Gamal Abdul Nasir, sang ajudan yang tak berhenti tersenyum. Ketua Kafilah Aceh Prof Syahrizal Abbas MA menyambut Mualem.

Di sini turut hadir Ketua Persatuan Masyarakat Aceh Batam (Permasa) Sulaiman alias Tgk Nanggroe, Sekjen Permasa Faisal, dan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Batam Drs H Jayadi Nur. Mualem mengharapkan kafilah Aceh tampil maksimal. “Tetap semangat mengikuti perlombaan. Jaga citra Aceh sebagai daerah Serambi Mekkah melalui peningkatan prestasi pada MTQ ini,” katanya.

Setelah beramah tamah di sini, Mualem langsung menuju Bandara Hang Nadim, Batam. Saya tentu mendampinginya. Kami memasuki ruang VIP mengambil tempat di sebelah kanan.

Di sana sudah ada Tanwier Mahdi, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Dan yang membuat saya sedikit terkesiap adalah sosok hitam manis berwajah khas Indonesia bagian timur, bertubuh subur inilah dia Bram Oktaviani Atururi. Ia Gubernur Papua Barat yang juga adalah Ketua Gerindra Papua Barat. Sangat bersahabat, begitu melihat Mualem ia langsung berdiri dan menyodorkan tangan. Mereka berdua saling berajabatan tangan sangat erat.

Hanya berbincang sedikit. Tentu tiada jauh-jauh dari politik, maklum keduanya adalah tokoh politik dari dua kutub Indonesia, Mualem dari ujung barat dan Bram dari ujung timur. Sempat saya dengar mereka berdua bertekat memenangkan pasangan calon presiden Prabowo-Hatta.

Selanjutnya Mualem terbang ke Medan sebelum menuju Aceh. Jam menunjukkan pada pukul 11.00.

Kesempatan yang langka bertemu tokoh Papua Barat seperti Bram membuat saya betah duduk di bandara. Saya memang penasaran sama sosok ini, dia mampu menyulap Raja Ampat menjadi begitu terkenal saat ini.

Setelah memesan minuman ringan, saya dan Tanwier Mahdi berbincang-bincang dengan Bram. Tentu lebih banyak mendengarnya bercerita seputar kiprahnya membangun Papua Barat.

Bram membuka kisah ringan, tentang dirinya yang adalah jebolan Akabri dan teman sekelas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, Djoko Suyanto, dan Ryamizard Ryakudu. “Saya satu-satunya putra Papua di angkatan itu dengan 1.100 taruna Akabri,” kata Bram sambil tertawa lebar.

Selanjutnya dia meniti karier di marinir. “Saya pernah berugas di Simeulue selama setahun. Waktu itu cengkeh sangat Berjaya,” katanya.  Ia menutup karier militernya dengan pangkat terakhir brigadier jenderal mariner. Setalah itulah dia berkarier di dunia politik. Bram mengawalinya dengan menjadi Bupati Sorong yang melingkupi tempat wisata yang kini sangat terkenal itu, Raja Ampat.

Ia menjadi bupati sebelum Raja Ampat menjadi mandiri. Menurut data dari Wikipedia, Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulauyang berdekatan dan berlokasi di barat bagian kepala burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

“Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta,” begitu catatan dari Wikipedia.

Bram membangun Raja Ampat menjadi kawasan wisata setelah mendapat ide dari temannya yang seorang warga Amerika. “Dia bilang Raja Ampat punya potensi. Dia yakin sukses walaupun tahu bagaimana sulitnya trasnportasi ke Papua,” kata Bram.

Lalu Bram pun menggarap Raja Ampat. Dia menggeber promosi wisata ke segala penjuru dunia. Lalu mengedepankan masyarakat untuk membangun kawasan wisata di Raja Ampat. Banyak berdiri home stay milik warga dibandingkan hotel berbintang. Wisatawan diarahkan untuk menginap di home stay milik masyarakat. “Lebih orisinil,” kata Bram. Jadi ini adalah bentuk pengembangan bisnis pariwisata tanpa memarginalkan masyarakat setempat

Menjadi Bupati Sorong hanya satu periode, dia berhasil membuat Raja Ampat mendunia. Selanjutnya menjadi Wakil Gubernur Papua satu periode, lalu menjadi Gubernur Papua Barat. Saat ini dia menjabat gubernur untuk periode kedua yang dilantik pada 17 Januari 2012 lalu.

Luas Papua Barat setara dengan Pulau Jawa. Berpenduduk 750 ribu jiwa, di sana ada perusahaan tambang Tangguh yang lebih besar daripada PT. Arun. Daerah ini juga kaya akan tambang emas, diperkirakan akan menjadi tambang emas terbesar di masa depan. Itulah sebabnya ia membangun database yang konfrehensip untuk memetakan masalah, lalu mencari solusinya.

Begitu banyaknya hasil bumi di Papua Barat, membuat Bram berfikir untuk mendongkrak dunia pendidikan di daerahnya agar mampu mengelola hasil bumi di daerahnya. “Kita yang di ujung ini jangan sampai jadi anak jajahan. Oleh karenanya Pemerintah Pusat harus lebih banyak empati. Lebih mau melihat secara konferehensif,” katanya.

Dia mengatakan, Papua butuh pendekatan kesejahteraan. “Peningkatan pendidikan,” katanya. “Masalahnya dengan wilayah yang begitu luas dan kosentrasi penduduk yang tidak merata menjadi satu tantangan tersendiri dalam membangun Papua Barat,” katanya.

Keterbatasan dalam soal transportasi, Bram menjawabnya dengan menggenjot penerbangan. Kini di Papua Barat ada enam penerbangan tiap hari ke Sorong. “Selalu penuh,” katanya. “Sorong adalah kawasan perikanan, juga kawasan wisata. Dari Sorong menuju Raja Ampat ada kapal pesiar yang melayani.”

Tiba-tiba Bram mengutarakan sebuah pemikirannya yang membuat dahi saya berkerut. Dia bilang, Papua akan merdeka saat Gus Dur menjadi Presiden RI. “Saat ini, saya khawatir jika bukan Prabowo yang presiden maka Papua akan benar-benar lepas dari RI,” katanya. “Pengalaman paling penting adalah saat BJ Habibie menjadi presiden dan lepaslah Timor Timur.”

Kendati demikian, Bram meminta pemerintah pusat tak melihat Aceh dan Papua sebagai orang yang melawan. “Perlawanan lahir karena perasaan tak dihargai, perasaan terpinggirkan. Karena itu pemerintah pusat harus memberi perhatian khusus untuk Papua dan Aceh,” katanya. “Jangan dengan kecurigaan, dengan tuduhan, lihatlah sebagai anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Bram mengatakan, agar bisa setara dalam negara kesatuan maka berikanlah hak-hak Papua dan Aceh. “Sayangilah Papua dan Aceh,” katanya. Saya menimpali, "Pemerintah Pusat kurang arif melihat kita." Pandangan Bram yang bersinar tajam sejenak seolah menusuk mata saya lalu menghujam ulu hati. Saya tercenung.

Reflek saya melirik Tanwier yang ternyata bermimik serius dan manggut-manggut. Lalu terdengar lagi suara Bram yang berat, "kita senasib." Lalu dia melanjutkan, "kamu anak muda, saya dan kamu yang punya pikiran begitu," katanya. Saya mengatakan bahwa saya ingin belajar padanya. "Saya generasi damai pak," kata saya. Sejenak dia menerawang seperti sedang berfikir.  "Pahit nasib anak negeri," celetuk Bram.

Berbincang dengan Bram bagi saya yang paling bermakna adalah semangatnya dalam membangun Papua Barat.  Dia menerapkan bagaimana pola membangun Papua Barat dengan partisipasi masyarakat. Boleh dikata, masyarakat Papua Barat terlibat aktif dalam setiap program pemerintah di sana.

Di ujung pertemuan tiba-tiba muncul Gubernur Malaka (Malaysia) bersama tim Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).  Apa yang dilakukan Bram? Ia langsung mempromosikan Raja Ampat dan mengundangnya ke Papua Barat. Ia bercerita bepata indahnya Raja Ampat. Lalu mereka saling bertukar nomor telepon.

Tak terasa setengah jam kami berbincang-bincang. Bram harus terbang ke Jakarta, begitu juga Tanwier. Setelah berpisah, jujur saya menjadi kagum padanya. Dia membangun Papua Barat dengan konsep yang jelas dan terus menerus dikerjakannya.

Oh ya, Bram pernah datang ke Aceh pasca tsunami dia datang lagi ke Aceh. “Saya bangga melihat Simeulu dibangun,” katanya. Selanjutnya, saya sendiri bersiap-siap terbang ke Medan untuk melanjutkan penerbangan ke Banda Aceh. Cerita Bram membuat saya tergoda untuk ke Raja Ampat. []

Murthalamuddin adalah Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh dan mantan jurnalis.

Leave a Reply