Ada Lemak di Perut Itu Justru Sehat

    24
    0

    MUNGKIN Anda kesal dengan perut Anda yang tidak seramping para atlet. Tapi sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kelebihan lemak di bagian perut tak sepenuhnya pertanda buruk.

    Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Loyola University Chicago itu menunjukkan bahwa salah satu bagian tertentu dari lemak perut yang sebelumnya diperkirakan mempunyai sedikit manfaat kemungkinan mempunyai peranan penting dalam mengatur sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan itu percaya bahwa temuan ini bisa membantu pengembangan obat baru untuk transplantasi organ pasien dan pasien dengan penyakit autoimun seperti Lupus dan penyakit Chron (sejenis peradangan para perut).

    Lemak perut yang diidentifikasi para ilmuwan itu bernama omentum, selembar jaringan lemak yang menempel pada perut dan menggantung di depan usus, bisa menjadi bantalan pelindung. Omentum adalah salah satu depot penyimpan lemak di dalam tubuh dan lemak mengental yang terakumulasi di sana.

    “Ini berbentuk seperti celemek dan bisa meregang seperti adonan pizza,” kata Makio Iwashima, profesor di Departemen Mikrobilogi dan Imunologi di Loyola University Chicago, seperti dikutip Sydney Morning Herald.

    “Meski secara fisiologi fungsinya belum jelas, dokter sudah lama mengetahui bahwa menempelnya omentum pada organ yang rusak bisa membantu jaringan untuk sembuh, sebuah prosedur yang dikenal dengan ‘omentum transposition’,” kata Iwashima.

    Pada penelitian tersebut Iwashima dan timnya menunjukkan hal tersebut dengan model tikus. Tikus punya omentum yang terdiri atas tiga tipe sel yang memegang peranan penting dalam proses penyembuhan jaringan, yaitu sel induk dewasa, sel yang mengurangi peradangan akut, dan sel kekebalan.

    “Kami sekarang mempunyai bukti bahwa omentum tidak hanya merupakan lemak yang berdiam diri di dalam perut,” ungkap Iwashima. “Berdasarkan data ini, fungsi utama omentum adalah untuk merekrut dan memperluas sel yang spesialiasinya adalah penyembuhan jaringan dan regenerasi,” ujarnya.| sumber: Tempo