10 Perwakilan Negara Sahabat Hadiri Aceh Diplomat Briefing

    7
    0

    SALAH satu rangkaian kegiatan untuk menyambut 10 Tahun perdamaian Aceh, yakni Aceh Diplomat Briefing. Kegiatan ini digelar di Hotel Morissey Jakarta Pusat, Senin 9 Februari 2015.

    Dalam pertemuan yang dihadari oleh sejumlah perwakilan negara sahabat itu, Secretary General (Sec-Gen) Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) Juanda Djamal, memaparkan tentang road map transformasi konflik di Aceh.

    Selain itu, dia juga menguraikan sejumlah tantangan yang dihadapi Aceh saat ini, antara lain, di bidang ekonomi ekonomi, pemerintahan, demokrasi, dan hukum, keamanan, dan hak asasi manusia.

    “10 tahun perdamaian menjadi refleksi bagi masyarakat Aceh atas capaian dan tantangan terhadap agenda-agenda transformasi konflik,” ujar Juanda.

    Juanda juga memberi gambaran tentang kerja-kerja yang telah dan tengah dijalankan oleh kelompok masyarakat sipil di Aceh, khususnya Konsorsium Aceh Baru, antara lain penguatan demokrasi,  pemantauan Pemilu partisipatif dan pertemuan dengan anggota legislatif pasca-pemilu, juga pemantauan parlemen, kerja-kerja membangun perdamaian, konsolidasi masyarakat sipil, membagi pengalaman dan pengetahuan akan  pembangunan perdamaian, pertukaran pemuda dan konfrensi –konfrensi  internasional baik di Patani (Thailand), Aceh, maupun di Bangsamoro (Filipina, program memorial perdamaian, dan kerja-kerja pemulihan sosial-ekonomi di Aceh pasca-konflik.

    “Untuk menjaga perdamaian yang telah terwujud, Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh sadar bahwa kami adalah aktor inti. Namun, dukungan pihak luar (komunitas internasional) juga  dibutuhkan, khususnya dalam mengimplementasikan sejumlah agenda pasca-konflik untuk memperbaiki sistem struktur sosial hasil dari perjanjian damai,” kata Juanda.

     Hadir dalam acara tersebut 10 perwakilan negara sahabat, yakni dari kedutaan Inggris, Hongaria, Tiongkok, dan Swedia.[]