Unas-ITB Perkuat Kerja Sama Sains dan Teknologi

BANDUNG — Universitas Nasional (Unas) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menandatangani memorandum of understanding (MoU) di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat, khususnya dalam bidang sains dan teknologi. Penandatanganan ini dilakukan oleh Rektor Unas El Amry Bermawi Putera dan Rektor ITB Akhmaloka.

Penandatanganan kerja sama itu juga disusul dengan penandatanganan memorandum of agreement (MoA) antara Dekan Fakultas Teknik & Sains Unas Ajat Sudrajat dan Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB Bermawi Priyatna Iskandar. Kerja sama ini akan mencakup berbagai kegiatan seperti pengembangan kurikulum Teknik Fisika dalam wadah Asosiasi Pendidikan Teknik Fisika Indonesia, Twinning Program, Transfer Program, dan pembimbingan tugas akhir.

Rektor El Amry mengatakan, ilmu eksakta saat ini sangat penting, tetapi relatif sepi peminat, termasuk Teknik Fisika. Namun, di Unas, program studi Fisika dan Matematika serta keteknikan masih dipertahankan.

"Kami sadar bidang keilmuan ini sangat penting bagi bangsa dan negara karena merupakan dasar dari ilmu-ilmu lain yang ada saat ini. Maka dari itu, suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan ITB sebagai institusi yang terpandang, baik di Indonesia maupun di kancah internasional. Sebagai center of excellence, ITB merupakan institusi yang prestisius. Kami harap kerja sama ini dapat mengembangkan studi sains dan teknologi, tidak hanya di antara kedua instansi, tetapi juga berkontribusi terhadap negara," ungkap El Amry di Jakarta, Minggu (15/1/2012).

Sebelumnya, hal senada juga diungkapkan Rektor ITB Akhmaloka. Menurutnya, kerja sama ini merupakan kerja sama saling menguntungkan. ITB sebagai institut teknologi membutuhkan mitra kerja sama untuk mengembangkan studi sains dan keteknikan, baik dari institusi dalam negeri maupun luar negeri.

"Dengan bermitra, kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama, lebih meringankan daripada harus mengerjakan sendiri-sendiri. Karena itu, MoU di bidang sains dan teknologi ini sangat penting sekali untuk terus dilangsungkan karena tidak mungkin ITB melakukan semuanya sendiri, mengingat kapasitas, dosen, dan infrastrukturnya sangat terbatas," kata Akhmaloka.

Kerja sama tersebut, lanjut Rektor ITB periode 2010-2014 ini, juga sejalan dengan rencana pemerintah meningkatkan jumlah lulusan Pertanian, Sains, dan Engineering yang pada 2014 mendatang diharapkan mencapai dua kali lipat tahun ini. Hal tersebut terlihat pada penambahan jumlah institut teknologi yang saat ini dua, yaitu ITB dan ITS, menjadi delapan. Ia melanjutkan, ITB diminta untuk membidani satu institut di daerah Sumatera, sementara ITS di daerah Kalimantan. Diharapkan, lanjut Akhmaloka, Indonesia dalam jangka panjang dapat memiliki 10 institut teknologi.

Akhmaloka mengakui, kondisi ini merupakan sebuah tantangan bagi ITB. Terlebih lagi jika melihat tren peminatan program studi sains dan keteknikan yang terus menurun dan kalah dengan program studi (prodi) sosial lainnya.

"Saat ini, jumlah prodi sains dan keteknikan jumlahnya 70 persen dari jumlah prodi bidang lain. Namun sayangnya, jumlah mahasiswanya hanya 15 persen dari jumlah total mahasiswa semua program studi," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Teknik & Sains Unas Ajat Sudrajat mengatakan, implementasi kerja sama antara Unas dan ITB meliputi pengembangan kurikulum teknik fisika dalam wadah asosiasi pendidikan teknik fisika Indonesia, yang dilakukan melalui pertemuan rutin dan saling aktif berpartisipasi dalam kegiatan ilmiah nasional.

"Twinning Program memungkinkan kerja sama transfer kuliah S-1 dari Teknik Fisika Unas ke Teknik Fisika ITB, sedangkan Transfer Program adalah sebaliknya, trasfer kuliah dari Teknik Fisika ITB ke Unas. Untuk pembimbingan tugas akhir, mahasiswa Teknik Fisika Unas yang sedang menempuh tugas akhir dapat mengusulkan dosen Teknik Fisika ITB sebagai pembimbing tugas akhir," papar Ajat.
 

  • Uncategorized

Leave a Reply