Umar Patek Minta Maaf karena Lakukan Aksi Peledakan Bom

Terdakwa kasus bom Bali Umar Patek menyampaikan permintaan maaf kepada korban bom Bali pertama dan bom Natal saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri, Jakarta Barat, Senin (7/5).

"Saya minta maaf kepada keluarga korban atau pun korban yang mengalami luka atau cacat permanen ataupun kepada seluruh masyarakat Bali khususnya saat itu yang merasa mengalami proses pemiskinan dan juga kepada umat Kristiani di Jakarta yang menjadi korban bom Natal itu sendiri," kata Umar Patek seperti dilaporkan Wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho.

"Saya merasa bersalah kenapa saat itu saya tidak melapor kepada polisi.

Umar Patek dalam persidangan hari ini juga menilai pengeboman di Bali pada tahun 2002 sebagai jihad yang gagal.

"Pengeboman di Bali itu gagal total sama sekali tidak berhasil karena sejak semula baik Muklas dan Imam Samudra mengatakan kepada saya bahwa misi ini untuk membalas pembantaian umat Islam di Palestina, orang-orang bule yang dibunuh Bali tidak ada hubungannya dengan Palestina.

"Misi ini jelas gagal total dan juga menyimpang dari sisi syar'i atau agama."

Ledakan bom di kawasan Kuta, Bali pada 12 Oktober 2002 itu sendiri menewaskan 202 orang.

Akui keterlibatan

Meski Patek sempat mengaku tidak setuju dengan target dalam aksi pengeboman baik yang berlangsung di Bali pada tahun 2002 maupun peledakan bom di sejumlah gereja di Jakarta pada tahun 2000 lalu namun dia mengaku ikut membantu menyiapkan kedua aksi peledakan tersebut.

"Saya bersama Sawad meramu bahan (peledak) kurang dari 50 kilogram. Sawad yang mengatur komposisinya, saya saat itu juga sempat menanyakan komposisinya," papar Umar Patek soal bagaimana dia membantu peledakan bom Bali 2002.

"Dulmatin mengatakan kepada saya saat itu yang akan merakit bom itu semua adalah Dr Azahari."

Selain mengaku ikut berperan dalam peledakan bom Bali pada tahun 2002 lalu, Umar Patek dalam persidangan hari ini juga mengaku ikut membantu aksi peledakan bom Natal tahun 2000 di sejumlah gereja di Jakarta.

"Dulmatin meracik bahannya saya memasukannya bahan racikannya beratnya sampai satu kilogram ke dalam plastik. Saya juga mengayak bahannya saat itu," jelas Umar Patek.

"Dulmatin memang punya kemampuan itu dan semua yang dari Afghanistan bisa melakukan perakitan bom."

Tidak kenal Osama

Dalam persidangan hari ini Patek membantah bahwa dia tahu soal aliran dana untuk aksi pengeboman di Bali.

"Soal asal muasalnya saya tidak tahu," katanya singkat saat menjawab pertanyaan Majelis Hakim.

Patek juga membantah bahwa dia punya akses dan kenal dengan Osama Bin Laden serta aktif dalam organisasi Jamaah Islamiyah.

"Saya denger saja namanya di media tapi demi Allah saya tidak pernah bertemu dengan Osama Bin Laden."

"Saya bukan anggota JI. Saya tidak pernah dibaiat untuk masuk organisasi saya hanya pernah dibaiat untuk belajar sungguh-sungguh dan sabar oleh Muklas di Malaysia saat akan ke Afghanistan," jelasnya saat ditanya Jaksa soal keterlibatannya di Jamaah Islamiyah.

Umar Patek sebelumnya dalam sidang ini dijerat enam dakwaan termasuk pembunuhan, pembuatan bom dan kepemilikan senjata api ilegal terkait serangan Bom Bali I.

Atas berbagai dakwaan itu, Patek terancam hukuman mati.

  • Uncategorized

Leave a Reply