Tumpukan Kredit Mubazir kian Membesar

Tumpukan Kredit Mubazir kian Membesar

JAKARTA – Iklim ekonomi yang masih mendung terbukti mengerem ekspansi perusahaan. Hal ini berujung terhadap keraguan nasabah dalam mencairkan kredit perbankan.

Lihat saja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik atau undisbursed loan tembus Rp 1.194 triliun per Juli 2015.

Tumpukan kredit mubazir itu tercatat tumbuh 12,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 1.062 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi ketimbang pertumbuhan kucuran kredit bank umum yang sebesar 9,8% per Juli 2015.

Mengacu data OJK, kredit mubazir terus meningkat dalam tempo tiga tahun belakangan. Gambaran saja, undisbursed loan pada tahun 2012 silam mencapai Rp 817,2 triliun. Satu tahun kemudian, kredit mubazir tersebut meningkat 29,7% dan kembali naik 7,2% di sepanjang tahun 2014.

Dialami bank besar 

Tren yang merekam kenaikan tumpukan kredit menganggur di industri perbankan turut dialami hampir seluruh bank besar. Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia mengatakan, peningkatan undisbursed loan tidak terlepas dari lesunya permintaan kredit di sepanjang tahun ini.

“Karena permintaan turun, penyaluran kredit ikut turun,” imbuh dia, kepada KONTAN, Jumat (2/10). Kredit mubazir bank pelat merah itu mencapai lebih dari Rp 115,2 triliun per Agustus 2015.

Tumpukan kredit mubazir itu terdiri dari fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik oleh sebagian besar perusahaan BUMN dan korporasi swasta.

Undisbursed loan uncommitted BRI dalam denominasi rupiah mencapai Rp 42,19 triliun, dua kali lipat dari Rp 20,99 triliun dalam bentuk valuta asing (valas). Serta, uncommited lainnya sebesar Rp 52,03 triliun.

Kredit menganggur di bank besar lain juga kian meningkat. Misal, Bank Central Asia (BCA) memiliki undisbursed loan Rp 145,957 triliun per Agustus 2015.

Sementara, kredit mubazir Bank Negara Indonesia (BNI) mencapai Rp 33,212 triliun. Bank Permata tak kalah besar. Kredit mubazir bank patungan milik Grup Astra International dan Standard Chartered ini lebih dari Rp 50 triliun pada periode yang sama.

“Sebagian merupakan fasilitas kredit untuk modal kerja dan sebagian lain karena kredit investasi yang juga melambat. Hal ini dikarenakan iklim usaha sedang melambat,” tutur Roy A Arfandy, Direktur Utama Bank Permata.

Parwati Surjaudaja, Direktur Utama OCBC NISP menimpali, penyerapan kredit yang rendah terjadi merata di seluruh sektor kredit.[] Sumber: kontan.co.id

Foto ilustrasi

Leave a Reply