Tuberculosis kebal obat

PENYAKIT Tbc (tuberculosis) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis (Tbc). Sumber penularan melalui percikan dahak yang mengandung kuman. Gejala umum batuk berdahak selam 2 minggu atau lebih. Bila tidak diobati, selama lima tahun sebagian besar (50%) pasien akan meninggal.

Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman Tbc. Tahun 2009 jumlah penderita baru sebanyak 9,27 kasus Indonesia menempati peringkat ketiga penyandang pasien Tb terbanyak dengan perkiraan 528.000 kasus baru pertahun.

Secara nasional, pengobatan penyakit Tbc pada umumnya selama 5-8 bulan dengan mengadopsi strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) yang direkomendasi World Health Organisation (WHO). Pengobatan Tb secara umum saja masih ditemukan pasien yang putus berobat atau Drop Out (DO). Apalagi pengobatan terhadap pasien yang telah kebal obat atau Multi Drug Resisten (MDR) selama 2 tahun lebih dengan suntikan setiap hari selama 6 bulan.

Masalah lain yang dihadapi adalah belum semua Rumah Sakit mampu melakukan pengobatan terhadap Tb MDR. Selain masalah kesiapan anggaran yang dibutuhkan untuk pengobatan juga sangat tinggi. Selain pengobatan, diagnosisnya juga tergolong rumit. Proses diagnosis membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan Tb biasa. Di Indonesia baru 5 laboratorium  yang sudah dapat memeriksa TB MDR secara kultur (biakan).

TB MDR yaitu pasien Tb yang paling sedikit kebal terhadap isoniazid dan ripamfisin. Selain Tb MDR ada kategori pasien Tb yang lebih parah lagi yaitu XDR (Extensively drug-resistant)  maupun TDR (Totally Drug Resistent).  

Penyebab TB MDR

Pada dasarnya Tb MDR merupakan buatan manusia (Man made phenomenom). Penyebabnya dapat berasal dari pasien, petugas kesehatan bahkan Manajemen program.

Pasien yang sedang dalam pengobatan, namun tidak patuh terhadap anjuran dokter/petugas kesehatan, tidak teratur minum obat, menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya merupakan salah satu faktor kuman menjadi kekebalan atau resisten terhadap obat. Selain masalah absorbsi juga ditengarai memiliki konstribusi terhadap kekebalan obat.

Selain pasien, petugas kesehatan juga memiliki peranan dalam membentuk kuman Tb kebal terhadap obat. Hal ini disebabkan karena diagnosis tidak tepat, pengobatan tidak menggunakan paduan yang tepat, dosis, jenis, jumlah obat dan jangka waktu pengobatan tidak adekuat atau memenuhi syarat serta kurangnya penyuluhan kepada pasien.

Data survey resistensi di Indonesia pasien baru Tb MDR hanya 1-2%, sedangkan Tb MDR yang pernah diobati sebelumnya mencapai 15%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak penderita TB MDR sebenarnya sudah pernah mendapatkan pengobatan Tb.

Saat ini, masih banyak penyedia jasa kesehatan yang belum mengdopsi strategi DOTS dalam pengobatan Tb. Sehingga dikhawatirkan pasien Tb tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat baik jenis maupun dosis.

Program pengendalian Tb juga berpengaruh terhadap lahirnya Tb MDR. Ketersediaan obat, kualitas obat, sarana laboratorium maupun pelatihan petugas merupakan bentuk tanggungjawab program pengendalian Tb.

Hari Tb Sedunia

Hari Tb sedunia tahun 2013 dengan tema “Global Stop TB in My Life Time.  Terjemahkan dalam tema nasional menjadi “Stop TB Sekarang Juga”. Tujuannya mengajak seluruh lapisan masyarakat bergerak bersama mendukung pengendalian TB.

Di Aceh hari Tb sedunia diperingati dengan menggelar seminar penanggulangan Tb pada 20 April 2013 lalu di Banda Aceh yang dihadiri oleh praktisi kesehatan dan para pakar penyakit Tb. Momentum ini diharapkan menjadi awal kesadaran terhadap pengobatan Tb yang benar dan adekuat sesuai dengan International Standard for TB Care (ISTC). Petugas kesehatan diharapkan dapat memberi pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan pasien Tb, bukan malah semakin memperparah kesehatan pasien.

Selain itu, masyarakat harus paham dan menyadari bahwa pengobatan penyakit Tb tidak sama dengan pengobatan influenza yang hanya butuh minum obat beberapa hari sudah cukup. Namun obat Tbc harus diminum setiap hari selama 6 bulan atau lebih.

Saat ini petugas ataun praktisi kesehatan masih ada tidak mau berterus terang terhadap penyakit yang diderita pasien. Misalnya dengan menyebut paru-paru basah, paru-paru kotor ataupun lainnya padahal si pasien mengidap Tb. Hal ini kemungkinan karena kekhawatiran pasien tidak siap menerima kenyataan. Apapun alasannya petugas kesehatan harus mampu menjamin pasien Tb mendapatkan pengobatan yang adekuat baik dosis, jenis, maupun waktu pengobatan.           

Seharusnya masyarakat juga harus siap dan mampu menerima vonis sebagai pasien Tb. Petugas kesehatan seharusnya (juga) tidak menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Sehingga proses penyembuhan dapat berjalan dengan baik secara kooperatif.

Penanganan dan pengobatan pasien Tb secara benar dan adekuat, diharapkan dapat mempercepat penanggulangan penyakit Tb. Sehingga diharapkan pasien Tb yang kebal obat seperti MDR, TDR, bahkan XDR dapat dicegah sedini mungkin. 

Dengan pengobatan yang adekuat, semua pasien Tb akan terbebas dari penyakitnya bukan memperparah keadaan. Pada akhirnya Indonesia dapat terbebas dari Tb sesuai tujuan pembangunan kesehatan.[]

 

Penulis adalah Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara

  dan Siswa SDAU Angkatan III

  • Uncategorized

Leave a Reply