Trisula Gerindra di DPR Aceh

ABDURRAHMAN memasang mimik wajah serius. Di sampingnya ada beberapa pria dan wanita yang memakai pakaian serba putih. Mereka mengelilingi meja bundar yang beralas kain coklat.

Di atas meja, terdapat botol air ukuran sedang dan gelas. Ada juga kertas putih yang bertuliskan Dewan Gerindra. Kertas ini menandakan bahwa boleh ditempati oleh anggota dewan dari Gerindra.

“Sebentar lagi mulai. Sudah lengkap,” ujar Abdurrahman sambil melihat sekeliling, Minggu malam, 16 November 2014.

Malam itu, di ruang tempat Abdurrahman duduk sedang berlangsung deklarasi koalisi Aceh bermartabat. Acaranya bertempat di Hotel Hermes. Kedatangan Abdurrahman adalah bagian dari deklarasi koalisi Aceh bermartabat.

Maklum, Abdurrahman adalah satu dari 3 kader Gerindra Aceh yang kini dipercayakan menduduki kursi DPR Aceh.

Sosok ini bernama lengkap Abdurrahman Ahmad. Pria kelahiran Aceh Besar, 12 Juni 1963 ini kembali terpilih sebagai anggota DPR Aceh dari Dapil 1 yang mencakup Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah sebelumnya juga pernah menjadi anggota DPR Aceh periode 2004-2009. Sebelum melenggang ke kursi dewan, suami dari Hj. Cut Ziana Zairiani, SE ini aktif sebagai pengusaha.

Abdurrahman mengaku mulai tertarik terjun ke dunia politik karena mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dari keluarga dan para sahabatnya.

Menurutnya, tujuan ia mencalonkan diri sebagai anggota dewan semata-mata karena tekad dan komitmen tingginya yang ingin menjaring aspirasi rakyat yang selama ini belum sepenuhnya tersampaikan.

“Kita berharap dengan deklarasi ini akan terbangun kerjasama yang baik antar partai guna membangun Aceh,” kata Abdurrahman.

++++
GERINDRA merupakan partai bentukan Prabowo Subianto.  Partai Gerindra berdiri pada 6 Februari 2008. Dalam Pemilu 2014, partai Gerindra mendapatkan 73 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Di Aceh, kehadiran partai Gerindra kurang mendapat respon pada Pileg 2009. Saat itu tak satu pun kursi DPR Aceh mampu dikuasai oleh kader partai berlambang kepala garuda tersebut.

Namun perubahan peta politik terjadi pada awal tahun 2014. Perubahan ini berawal dari SK Nomor 03-0052/Kpts/DPP-Gerindra/2013 tentang Susunan Personalia DPD Partai Gerindra Aceh itu tercantum beberapa nama pengurus Partai Aceh.

Surat ini berupa penunjukan Ketua DPD Gerindra Aceh kepada TA Khalid. SK struktur kepengurusan DPD Gerindra Aceh itu diterbitkan pada 12 Maret 2013 ditandatangani oleh Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerinda, H Prabowo Subianto, Prof Dr Ir Suhardi MSc (Ketua Umum), dan H Ahmad Muzani SSos (Sekretaris).

Sejak dipimpin oleh TA Khalid, Gerindra menjalin komunikasi politik yang baik dengan Partai Aceh.

Hasil positifnya, Gerindra berhasil meraih 3 kursi untuk DPR Aceh dan 2 kursi untuk DPR RI. Selain itu, partai ini juga mampu mengirim kader terbaiknya di seluruh DPR kabupaten kota.

“Hasil ini tidak terlepas dari kerjasama yang terbangun dengan Partai Aceh. Ini juga komitmen Gerindra untuk bekerjasama dengan partai Aceh dalam membangun daerah ini,” kata TA Khalid.

+++

TAK hanya Abdurrahman, dua kader Gerindra lainnya di DPR Aceh adalah Kartini Ibrahim dan Drs. Asib Amin.

Kartini merupakan perempuan kelahiran Cibrek, 15 Agustus 1969. Sosok diusung Partai Gerindra dari daerah pemilihan 2 meliputi Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Sebelum melenggang ke kursi dewan, ibu satu anak ini aktif di yayasan yang fokus pada pemberdayaan kaum perempuan. Adapun yayasan yang pernah ia geluti adalah Yayasan Putroe Aceh Pidie sejak tahun 2008. Ia juga aktif di Tim Penggerak PKK Pidie sejak tahun 2012.

"Waktu itu saya banyak memfokuskan diri terhadap pemberdayaan kaum perempuan di Aceh, khususnya janda-janda korban konflik mengingat Kabupaten Pidie merupakan salah satu kawasan yang paling rawan terhadap konflik," ujar Kartini Ibrahim.

Kartini menjelaskan, keikhlasan dan niat tulus yang dilakukannya tersebut semata-mata ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan yang ingin memperoleh hak dan kedudukan yang sama di mata umum. "Jadi meski wanita itu lemah tidak serta merta wanita itu bisa dilecehkan dan dipandang sebelah mata karena majunya negara karena wanita, begitu juga runtuhnya negara itu karena wanita juga," ujarnya lagi.

Sedangkan sosok terakhir adalah Drs. Asib Amin. Sosok ini merupakan tokoh masyarakat di Kabupaten Nagan Raya. Sebelumnya, Asib Amin juga pernah terdaftar sebagai kandidat bupati Nagan Raya pada Pilkada 2012. Namun kalah dengan Drs. T. Zulkarnaini atau yang akrab disapa Ampon Bang di putaran kedua.
 

Baca selengkapnya di Tabloid The Atjeh Post edisi 7

  • Uncategorized

Leave a Reply