Berdiwana ke Kota Tua Kutaraja

Kompleks bangunan ini berdiri sejak abad ke 18. Salah satu objek wisata kolonial di ‘kota tua’ Banda Aceh.

MATAHARI berada tepat di atas kepala ketika seorang prajurit keluar dari rumah panggung di kawasan Neusu Jaya, Banda Aceh. Rumah panggung itu memiliki beranda yang luas dan diberi railing kayu yang rendah, tetapi kokoh. Ada dua pintu di depannya.

Warnanya hijau tua, khas warna tentara. Memberikan kesan sejuk ketika dipandang. Terletak di Jalan Nyak Adam Kamil II, belasan rumah tersebut merupakan peninggalan Belanda di masa lalu. Hingga kini kondisinya masih terawat dengan baik. Selain di Nyak Adam Kamil II, rumah-rumah peninggalan Belanda juga tersebar di lokasi lainnya di Neusu Jaya. Selain hijau, warnanya juga ada yang krem berpadu cokelat.

Salah satu rumah panggung di ruas jalan protokol itu berfungsi sebagai Kantor Keuangan Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda. Sedangkan yang lainnya digunakan untuk Kantor Hukum Iskandar Muda, Pusat Koperasi Kartika dan Rumah Ajudan Jenderal. Lokasinya persis di sisi lapangan Kodam IM di Neusu. Hanya terpaut selemparan batu dengan lokasi wisata kuliner Wong Solo.

Sebagai kota tua, Banda Aceh menyimpan banyak sejarah yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini. Salah satunya adalah bangunan-bangunan peninggalan Belanda di kawasan Neusu, kini sudah beralih fungsi menjadi kompleks rumah dinas tentara Kodam Iskandar Muda. Beberapa bangunan di kawasan ini sudah rata dengan tanah karena terbakar beberapa waktu lalu.

Neusu tempo doeloe-tropenmuseumMasa pendudukan Belanda di Aceh yang cukup lama memungkinkan kaum penjajah mendirikan berbagai bangunan demi kepentingan mereka saat itu. Perang Kesultanan Aceh melawan Belanda memang cukup lama, dimulai pada 1973 hingga 1904.

Dari koleksi foto-foto lawas diketahui kompleks perumahan tersebut ada yang dibuat sekitar 1878. Selain membangun tangsi militer, Belanda juga mendirikan bangunan di atas Darud Dunia atau istana Kerajaan Aceh Darussalam. Bangunan tersebut saat ini disebut Meuligoe atau pendopo Gubernur Aceh.

Untuk melindungi pusat pemerintahan Hindia Belanda di Banda Aceh kala itu, Belanda sengaja membangun tangsi-tangsi militer di sekelilingnya. Rumah-rumah militer di Neusu memiliki hubungan dan tahun pendirian yang nyaris sama dengan rumah-rumah kolonial di sekeliling Meuligoe dan rumah Pangdam Iskandar Muda serta bangunan SMA 1 Banda Aceh di kawasan Blang Padang Banda Aceh.

Menyusuri jalan-jalan protokol di kawasan Neusu Jaya sangat menyenangkan. Jaraknya tak begitu jauh dengan pusat Kota Banda Aceh. Rumah-rumah Belanda yang seluruhnya bermaterial kayu, dengan desain yang khas menjadi pemandangan menarik. Di kiri kanan jalan, pohon-pohon bertajuk lebar menjadi peneduh dan membuat udara terasa lebih sejuk. Lokasi ini juga menjadi salah satu pusat kuliner yang ramai dikunjungi warga dan wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh.[] Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Diwana Banda Aceh

Leave a Reply