Tradisi meudikee, bu kulah dan bu lukat saat Maulid Nabi

SAAT peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa tradisi yang berlaku di Aceh. Mulai dari membawa makanan dan nasi bungkus daun pisang yang dikenal dengan “bu kulah”, membawa ketan atau “bu lukat” hingga semarak rombongan zikir yang dikenal “meudikee.”

Di Aceh Utara, rasanya maulid tidak afdol jika menikmati aneka hidangan lezat tanpa bu kulah. Biasanya bu kulah dikemas dengan nasi minyak, tanpa santan. Namun ada juga yang hanya menggunakan nasi putih biasa.

Untuk lauk jelas terhidang mulai dari daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, udang, telur hingga aneka sayur. Tanpa ketinggalan nenas yang dimasak dengan gula karamel atau dikenal dengan “pajri nanas”.

Untuk bu lukat jelas tidak asing lagi. Beras ketan yang dimasak dengan santan ditambah inti kelapa manis tak hanya tersedia saat maulid. Tapi juga saat ada acara selamatan (khanduri) dan tepung tawar (persijuk). Meski tidak semua warga membawa bu lukat ke meunasah, tetapi rasanya tanpa bu lukat ada yang kurang lengkap.

Yang satu ini pasti selalu ada saat perayaan maulid, yakni meudikee. Biasanya untuk rombongan zikir, desa yang sedang merayakan maulid mengundang rombongan zikir dari desa lain ditambah rombongan zikir desa sendiri. Selain untuk menyemarakkan acara, juga sebagai ajang silaturahmi.

Umumnya rombongan zikir dari kalangan remaja dan anak-anak. Mereka memakai baju koko putih dipadu celana panjang hitam, plus peci hitam khas Aceh.

Seperti halnya yang berlangsung di Desa Siren, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Minggu 17 Februari 2013. Khanduri maulid itu digelar di bawah meunasah desa setempat.

Dahri Yusuf selaku panitia acara mengatakan, perayaan maulid nabi merupakan tradisi turun temurun setiap tahunnya. “Selain mengundang dua grup zikir, kita juga undang warga miskin dan anak yatim,” katanya kepada ATJEHPOSTcom.[] (ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply