Tokoh Perdamaian Aceh Tidak Banyak Menulis?

Tokoh Perdamaian Aceh Tidak Banyak Menulis?

BANDA ACEH – Pendiri penerbitan Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas akan membicarakan urgensitas catatan dan dokumentasi konflik Aceh, di Gedung Turki Sultan Selim II ACC, Banda Aceh, Selasa, 11 Agustus 2015, pukul 14.00 sampai selesai.

Pembicaraan tersebut akan disampaikannya dalam dialog kebudayaan bertajuk “Peran Intelektualime dalam Perdamaian Aceh”. Dialog ini dilaksanakan oleh Lembaga antarabangsa PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) bersama manajemen gedung Turki Sultan Selim II ACC.

Mukhlisuddin mengatakan, proses dan perdamaian konflik Aceh harus terdokumentasi dalam berbagai bentuk dan cara. Itu supaya generasi anak cucu Aceh tidak ahistoris terhadap perjalanan bangsanya.

Menurutnya, Aceh hari ini tahu masa kejayaan kerajaan Islam Aceh tidak lepas dari buku dan sejumlah penelitian yang dibukukan lalu terdistribusi seluruh dunia. Jika konflik dan aktor-aktor yang terlibat dalam periode-periode tertentu misalnya periode 1990-2000-an saja tidak dibukukan, maka akan terjadi kecatatan sejarah pada masa depan .

“Apabila seluk beluk, peran dan kontribusi mahasiswa ketika masa 1990-2000-an, lalu peran dan kontribusi pasukan inong balee ketika itu tidak ikut didokumentasikan dengan baik, lalu didistribusikan kepada seluruh penjuru nusantara, maka tidak mustahil keberadaan kedua elemen itu akan dianggap dongeng di masa depan,” kata Mukhlisuddin, di Banda Aceh, 8 Agustus 2015.

Menurutnya, kurangnya perdebatan iktelektual dalam bentuk buku dan penelitian akan mengakibatkan Aceh ditimpa penyesatan sejarah. Ia menegaskan, seluruh catatan konflik Aceh harus dibukukan, lalu dibaca dan dijadikan referenai bagi kaum muda kelak.

“Aceh ke depan harus dibangun atas catatan sejarah yang benar dari aktor insider, bukan malah selalu berpedoman pada aktor outsider. Banyangkan saja berapa banyak tim juru runding GAM dari masa ke masa yang menulis buku untuk membangun bangsanya ke depan,” kata Mukhlisuddin.

Mukhlisuddin menyayangkan tokoh Aceh tidak menulis, sementara dengan juru runding RI telah menghasilkan banyak karya yang mengupas tentang seluk beluk perundingan tersebut.

“Untuk itu, perjuangan dalam era saat ini sejauh mana kita mampu membuktikan bahwa sejarah kita paling benar, dan sejarah mereka sebaliknya. Menyatukan perbedaan dalam narasi dan literasi adalah sebuah keharusan dan kewajiban semua profesi rakyat Aceh,” katanya.

Selain Mukhlisuddin, dialog KEBUDAYAAN yang dipandu oleh Thayeb Loh Angen tersebut akan diisi oleh Taufik Al Mubarak bertema jurnalisme damai, Salman Yoga S tentang efek laten karya tulis dalam merawat perdamaian, dan Herman RN bertajuk menulis titah nabi berdamai sunnatullah. [] (mal)

Leave a Reply