Timbang-timbang Slogan Baru Aceh

Visit Aceh 2013 tinggal hitungan bulan. Masih bingung menentukan branding. Julukan Serambi Mekah dianggap tak memperhitungkan wisatawan non-Islam.

_____________________________

Seminar itu digelar di Ballroom Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Kamis pekan lalu. Tuan rumahnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Peserta yang hadir tak lebih dari 50 orang.

Sebuah spanduk terpajang di dinding menghadap peserta. Kalimat yang tertulis: rebranding Aceh. Seminar dibuat untuk mencari logo dan slogan baru untuk menarik wisatawan datang ke Aceh. Maklum, tahun depan telah dicanangkan sebagai tahun kunjungan wisata Aceh lewat program “Visit Aceh Year 2013”. Itu sebabnya, dibutuhkan slogan yang tepat untuk menjual pariwisata Aceh ke dunia internasional.  

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tampaknya serius benar mengurusi slogan baru ini.  Sebagai pembicara diundang Daniel Surya, pakar branding yang kini duduk sebagai Chairman SE Asia of DM IDHolland – Global Brand Identity Network.  Salah satu branding yang dikonsep Daniel adalah logo BNI 46. 

Pembicara kunci lainnya adalah Diah Noeh Abubakar, Vice President of Weber Shandwick Indonesia. Seminar hari itu dimoderatori langsung oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jasman Ma’ruf.

Branding ini akan sangat menentukan terhadap sukses tidaknya tahun kunjungan wisata Aceh 2013. Apalagi, program ini dirancang bukan hanya untuk setahun, tetapi berkesinambungan,” kata Jasman.

Dinas Kebudayan dan Pariwisata Aceh sebenarnya jauh-jauh hari telah membuat tagline dan logo untuk mengenalkan tahun kunjungan wisata Aceh. Tagline yang sudah dibuat berbunyi: “Visit Aceh 2013, Beautiful, Peaceful & Religius.”

Hanya saja, kalimat itu dianggap kurang nendang dan terlalu panjang. Padahal, Dinas Pariwisata telah menjalankan serangkaian agenda, seperti lomba menulis Visit Aceh 2013 dengan total hadiah Rp 663 juta. “Tapi, gaungnya terasa kurang terdengar,” kata seorang peserta. “Para stakehorlder juga melihat branding ini kurang memuat esensi Aceh.”

Dia mengatakan slogan itu belum mampu berbicara atau mengomunikasikan pesan dengan jelas pada calon wisatawan. “Ibarat berjualan, tentu suatu produk atau jasa sulit dikenal masyarakat jika branding gagal diterima,” katanya.

Selain soal slogan, desain logo juga diprotes peserta. Kalimat “Visit Aceh 2013” memakai terlalu banyak kombinasi warna. Contohnya, kata “Visit” menggunakan warna merah.  Kemudian, kata “Aceh” menggunakan warna merah hati, ungu, merah muda, hijau, biru, dan hitam. Adapun angka “2013” menggunakan warna merah muda. Untuk warna latar digunakan oranye.

Adapun kalimat “Beautiful, Peaceful & Religius” yang dipilih sebagai tagline atau slogan citra, juga dinilai belum linier dengan kondisi Aceh kekinian.

Menurut seorang peserta, Aceh memang memiliki keindahan alam luar biasa. Namun, itu saja tak cukup bila belum dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Begitu juga dengan kondisi kedamaian Aceh yang sempat terusik dengan aksi kriminal bersenjata. “Khusus untuk religius, ini juga sulit mengukurnya,” kata dia.

Itulah sebabnya, pemilihan branding ini harus betul-betul dipertimbangkan. “Desain logo yang baik adalah yang apabila dilihat secara sekilas sudah dapat menggambarkan ciri khas Aceh. Pemilihan slogan juga tidak boleh asal karena bisa menjadi bumerang bagi diri kita,” sambungnya.

Jasman Ma’ruf bukannya tak punya ide. Dia mengusulkan kata “Serambi Mekah” sebagai tagline baru Visit Aceh 2013. Menurutnya, slogan itu sangat cocok dengan Aceh yang menerapkan syariat Islam. Salah satu yang akan ditonjolkan, kata dia, adalah wisata budaya dan religi. Ditambah dengan berbagai agenda rutin keagamaan, seperti zikir akbar dan ceramah yang akan diisi penceramah nasional. “Inikan dilangsungkan sepanjang 2013,” katanya.

Namun, sejumlah peserta tak sepakat. Kata “Serambi Mekah” dianggap hanya mampu memancing wisatawan yang memiliki satu keyakinan. “Tapi, bagaimana dengan potensi wisatawan dari Eropa atau Amerika yang punya keyakinan berbeda,” tanya seorang peserta. Itulah sebabnya, pemilihan branding haruslah mencitrakan Aceh lebih terbuka di mata dunia.

Pegiat Budaya Aceh, Sarjev, juga mengatakan, pemilihan “Serambi Mekah” sebagai tagline perlu dipertimbangkan lagi. Sebab, kata dia, ada banyak kata yang bisa dipilih untuk memperkuat branding, seperti, Rencong, Iskandar Muda, atau Negeri Hamzah Fansuri. "Ini perlu dipersiapkan secara matang," katanya.

Di kutub lain, Daniel Surya menilai pemilihan “Serambi Mekah” sebagai tagline sebetulnya cukup punya nilai jual. Syaratnya harus dikemas dengan apik, dari pemilihan logo, karakter huruf, dan warna. Desainnya juga harus benar-benar memiliki story telling yang mengandung esensi Aceh.  “Jadi, jangan jatuhnya hanya ke budaya dan religi,” katanya.

‘Serambi Mekah’ sebagai ikon, kata dia, bisa ditarik ke berbagai segmen, bahkan hingga ke sebuah life style. Daniel mencontohkan Emirat Airline, perusahaan penerbangan asal Arab Saudi. “Bayangkan aja, logonya masih pake gambar pedang,” katanya.

Jika simbol islami bisa dikemas dengan kesan premium dan modern, kata Daniel, seharusnya Aceh juga bisa meniru langkah Emirat Airline.

Dijumpai The Atjeh Times di sela-sela seminar, Daniel mengatakan branding Visit Aceh 2013 kurang menggema karena memang kemasannya masih kurang murni. Kampanye-kampanyenya juga masih sebatas komunikasi eksternal. Adapun komunikasi internal – baik antar-SKPA maupun dengan swasta – yang terbangun selama ini masih sporadis.

Untuk meramu ini, kata dia, Aceh perlu memiliki Brand Komite yang terdiri dari pemikir-pemikir branding, tak hanya dari unsur pemerintahan, tapi juga pihak-pihak yang expert (ahli) di branding dan public relation.

Walhasil, seminar sehari itu belum menemukan julukan yang tepat untuk menarik wisatawan. Padahal, tahun 2013 tinggal hitungan bulan.[]

Artikel terkait:
Serambi Mekkah atau Serambi Donya?

  • Uncategorized

Leave a Reply