Tiga Hari Bersama Panglima

Di atas panggung, lelaki tinggi tegap itu melemparkan pandangan ke lapangan. Di hadapannya berkumpul ribuan massa. Siang itu, 27 Maret 2014, lelaki bernama Muzakir Manaf itu baru saja tiba di Stadion Simpang Peut, Leupue, Nagan Raya.

“Alhamdulillah jika begini pasti akan diberikan kemenangan oleh Allah” ujar pria yang biasa disapa Mualem itu.

“Alhamdulillah semua sudah bergabung dengan Partai Aceh,” jawab Kamaruddin Abubakar yang berdiri di sampingnya. Kamaruddin Abubakar atau biasa disapa Abu Razak adalah Wakil Ketua Partai Aceh yang juga Ketua Komite Pemenangan Partai Aceh (KPPA).

Hari itu, di sela-sela kampanye, Mualem dan Abu Razak mengajak pimpinan sejumlah organisasi dari Nagan Raya dan Aceh Barat untuk naik ke panggung. Di antaranya ada Amat Rambo yang merupakan Ketua Paguyuban Masyarakat Jawa Nagan Raya. Amat meyakinkan bahwa paguyuban yang dipimpinnya akan memberi suara untuk Partai Aceh.

Ketua Forkab Aceh Barat, Bahri, yang juga hadir pada kampanye itu mengajak semua pihak untuk bergabung dengan Partai Aceh. “Bangsa Aceh harus meusaho mandum, bèk na lé pecah belah,” kata Bahri.

Sebelum kampanye selesai, Mualem minta izin melanjutkan perjalanan menuju Tapaktuan, meninggalkan Abu Razak yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Tiga jam melalui jalanan yang berliku, rombongan Mualem tiba di Tapaktuan, Aceh Selatan.  Di sana, ribuan masyarakat sudah menunggu.

Satu jam di Tapaktuan, perjalanan berlanjut ke Subulussalam. Yang dituju adalah Kantor DPW PA Subulussalam. Tiba saat magrib, acara kampanye sudah selesai. Namun, sebagian masyarakat masih setia menunggu kedatangan mantan Panglima GAM itu. Usai salat Magrib, Mualem menyempatkan diri bersilaturahim dengan masyarakat setempat. Mualem pun berorasi di depan kantor DPW PA Subulussalam.

Mualem juga memaparkan sejumlah program Pemerintah Aceh yang sedang dijalankan, salah satunya langkah-langkah yang diambil untuk meminimalisasi jumlah pengangguran di Aceh. Di antaranya adalah dengan adanya pembangunan pabrik ban mobil di Meulaboh.

Selain itu, Mualem, sapaan akrab Muzakir Manaf, mengatakan pihaknya juga akan mengaktifkan kembali pabrik-pabrik industri yang ada di Aceh, seperti AFF, PT KKA, dan PT PIM di Lhokseumawe.

“Juga pembangunan saluran pipa yang sedang dikerjakan sekarang yang tembus ke Belawan diharapkan bisa mengurangi pengangguran,” katanya.

Malam itu, Mualem bermalam di Subulussalam.

Esok harinya, Jumat, 28 Maret 2014, Mualem mengunjungi Masjid Tawakal Gampông Darul Aman, Kecamatan Longkib, Subulussalam. Di sana, ia memberikan bantuan alakadar kepada pengurus masjid. Mualem juga meletakkan batu pertama rumah bantuan NGO Swiss di Dusun Rahmat, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus Partai Aceh, tokoh agama, tokoh adat, imum mukim, pengurus KPA Sarbaini, dan pengurus DPW Partai Aceh (PA) Aceh Singkil.

Bantuan nyoe k?n cilèt meulisan, k?n angèn syurga. Bantuan nyoe dari luwa, k?n bantuan pemerintah, jadi han mungkén hana, ujar Wagub Mualem seraya meminta pihak yang ragu untuk melihat rumah contoh yang telah dibangun di Kandang, Lhokseumawe.

Kegiatan serupa juga dilakukan di Koto Rimo, Singkil. Bantuan rumah hibah tersebut dianggarkan sebanyak 1.500 unit untuk warga Singkil dan 2.000 unit untuk Subulussalam.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Mualem kembali melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke Makam Hamzah Fansuri menggunakan speed boat.

Sepanjang perjalanan, Mualem tak segan-segan menyapa masyarakat yang lewat. Demikian juga sebaliknya. Mualem tak canggung saat dihadang oleh warga walau hanya untuk bersalaman atau berfoto.

Beberapa warga juga sempat mengajak Mualem berdialog. Percakapan tersebut berlangsung cair dan penuh kehangatan. Tak ada kesan bahwa mantan Panglima GAM itu kini menduduki jabatan cukup strategis di Aceh.

Kepada masyarakat di lokasi makam Hamzah Fansuri, Mualem mengaku kalau dirinya akan mengupayakan serta mencari solusi-solusi tepat untuk membatasi jumlah pengangguran di Aceh, sebelum habis masa pemerintahannya bersama Doto Zaini.

“Saya hanya berharap agar semua pihak bisa saling menghargai. Mari bersama-sama membangun Aceh ke arah yang lebih baik lagi,” kata Mualem.

Usai berziarah, Mualem dan rombongan meminta izin untuk kembali ke Banda Aceh. Perjalanan dari Singkil ke Banda Aceh memakan waktu tempuh hampir sembilan jam. Rombongan cuma singgah di Tapaktuan, Aceh Selatan, untuk makan malam dan tiba kembali di Kota Banda Aceh, pukul 05.00 WIB, Sabtu dini hari.

Tiga hari bersama Mualem, terasa benar ia masih gesit, berkejaran dengan waktu. Staminanya seolah tak berbeda dengan semasa masih memimpin perang gerilya dulu.

Sumber : The Atjeh Times edisi 74

  • Uncategorized

Leave a Reply