Teuku Soelaiman dan mogok massal di tahun 1999

TIGA hari yang lalu. Dalam persinggahan menunggu kepastian tiket Medan-Jakarta dari calo di terminal keberangkatan dalam negeri Polonia, Medan. Di sela-sela menunggu jadwal buka puasa yang tinggal setengah jam lagi, tiba-tiba saya berpas-pasan dengan Nurdhahri Ibrahim Naim yang kebetulan duduk dibelakang saya di deretan kursi ruang tunggu luar bandara Polonia.

Saya tak mengenal lagi Nurdhahri Ibrahim Naim, kecuali perasaan penasaran seakan pernah mengenal sosok perempuan ini. Sejak Aceh dilanda konflik berat durasi tahun 2001 sampai dengan era perdamaian saya tak pernah bertemu beliau lagi. Ustadz Ilyas M. Abed, teman seperjalanan, memperkenalkan kembali saya dengannya. Kami pun seperti ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu.

Nurdhahri Ibrahim Naim. Saya memanggilnya dengan sebutan Mami. Di usia yang mungkin lebih 65 tahun masih terlihat cantik, keras, lembut dan berwibawa. Begitulah perawakan perempuan Aceh. Kewibawaannya mewakili kebesaran keluarga besar Ibrahim Naim, tokoh Aceh Besar masa DI/TII yang juga sekaligus orang tua Mami.

Nurdhahri Ibrahim Naim, mantan anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan dan aktivis Forum Peduli HAM, saat bertemu tiga hari yang lalu sedang menunggu kepulangan jenazah suami tercintanya, Teuku Soelaiman, dari Jakarta ke Banda Aceh melalui jalur transit Polonia Medan. Beliau terlihat sangat tegar. Kesedihannya tak mampu mengalahkan kecantikan dan kewibawaannya.

Seketika pikiran saya berkelebat ke tahun 1999 ketika pertama bertemu Teuku Soelaiman  di kantor Organda (Organisasi Angkutan Darat) yang bertempat di lantai dua gedung Geunta Plaza Banda Aceh. Saat itu saya dan beberapa teman dari  SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat) datang bertemu dengan pengurus Organda Aceh untuk mengklarifikasi ancaman mogok beroperasi yang dikeluarkan organisasi ini yang ditulis dalam pemberitaan ukuran kecil di Harian Serambi Indonesia dan Waspada.

Ancaman mogok dikeluarkan sebagai bentuk protes terhadap aparat keamanan negara yang melakukan pungutan liar di sepanjang jalur lintas Banda Aceh-Medan.

Organda adalah organisasi tempat berhimpun pengusaha angkutan, bukan wadah para sopir dan kondektur. Dalam terminologi organisasi perlawanan mahasiswa, Organda digolongkan dalam organisasi borjuis. Ketika organisasi ini memperlihatkan taring perlawanan terhadap negara, menunjukkan ada sesuatu yang maju. Ancaman tersebut adalah langkah politik berani melebihi keberanian para politisi partai saat itu.

Dalam diskusi itu, terlihat Teuku Soelaiman adalah sosok yang paling bersemangat. Kami berdiskusi tentang ancaman mogok yang tak boleh hanya gertak sambal saja tetapi harus menjadi kenyataan. Kami dari organisasi mahasiswa siap memberi dukungan dengan usulan supaya mogok ini dapat terjadi dalam skala yang lebih luas dengan melibatkan semua profesi lain di luar transportasi darat. Teuku Soelaiman adalah sosok yang paling setuju dan bahkan mendominasi diskusi saat itu.

Kesimpulan pertemuan, saya bertanggungjawab menggerakkan organisasi mahasiswa mempelopori tindakan mogok umum 1 hari mendukung langkah Organda dengan isu yang diperluas berkaitan tindak-tanduk aparat keamanan saat itu di Aceh. Ketika pertemuan bubar beliau memberikan sejumlah uang untuk memperbanyak selebaran seruan mogok.

Rapat-rapat elemen perjuangan mahasiswa pun kita gelar dan kesimpulannya kita akan menyerukan mogok massal satu hari rakyat Aceh sebagai dukungan terhadap Organda Aceh. Mogok massal ini diserukan kepada seluruh elemen masyarakat terkecuali pelayanan kesehatan, PLN dan telekomunkasi. Mogok ini kemudian mendapat dukungan penuh dari almarhum Abdullah Syafii—Panglima GAM sebelum Muzakir Manaf.

Mogok massal ini untuk pertama sekali terjadi di Aceh dengan tingkat keberhasilan 80 persen. Kalau ditanya kepada saya siapakah yang paling banyak andil dalam pemogokan ini? Saya akan jawab Organda dan itu adalah Teuku Soelaiman. Kini beliau telah pergi, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, melapangkan kubur dan menempatkan beliau pada tempat yang baik di surga jannatinnaim.

Pelajaran yang dapat dipetik, bahwa terlalu ramai pahlawan tak dikenal di Aceh. Teuku Soelaiman salah seorangnya.[](ma)

  • Uncategorized

Leave a Reply