Tertawa itu (Memang) Menyehatkan

Anda pernah dengar kalimat "banyak tertawa biar panjang umur"? Efek langsungnya mungkin tak akan terlihat. Akan tetapi, semakin banyak penelitian yang menguatkan bahwa tawa tak hanya dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik, tapi juga dapat menyembuhkan penyakit.

Dialah Dr. A.K. Shapiro, seorang peneliti ilmu kedokteran yang menyimpulkan bahwa gelak tawa dapat memberikan pengaruh yang positif bagi penyakit-penyakit organik, termasuk penyakit- penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi.

Sementara itu, Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University di California menyatakan bahwa dalam penelitiannya, gelak tawa dapat mengurangi peredaran dua buah hormon dalam tubuh yang menekan proses kesembuhan, yaitu epinefrin dan kortisol. Tak hanya itu, getaran yang muncul saat kita tertawa seolah-olah memijat seluruh organ tubuh, terlebih jika Anda tertawa lepas.

Tertawa itu memberikan kesenangan, sekaligus kesehatan. Walaupun mekanisme penyembuhan melalui gelak tawa belum diketahui sepenuhnya, tapi di negara maju telah banyak rumah sakit yang menyediakan ruangan khusus bagi pasien "terapi tawa". Bahkan, di Indonesia pun sudah mulai bermunculan penyedia jasa terapi tawa. Riset yang dilakukan Dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menunjukkan bahwa rasa sakit atau nyeri pun akan berkurang setelah tertawa, tak hanya sekadar mengalihkan perhatian dari rasa sakit.

Tertawa itu sendiri merupakan penggerakkan otot- otot perut, dada, dan bahu, serta meningkatkan denyut jantung dan pernapasan. Dengan begitu, akan membuat tubuh seolah-olah sedang joging di tempat. Setelah tertawa, tubuh akan terasa lebih rileks dan tenang, layaknya seperti usai berolahraga.

Namun, perlu diingat, jangan pula tertawa berlebihan!

Pemandangan yang sering terjadi adalah ketika kita tumbuh dewasa, dan semakin dewasa, intensitas tawa kita seakan berkurang. Kita lihat anak-anak kecil di luar sana yang selalu riang gembira, tertawa, tanpa beban. Kemudian, kita lihat orang-orang dewasa di sisi seberangnya.

Semakin beratnya beban hidup, seperti pekerjaan, keluarga, dan pikiran-pikiran lainnya membuat orang dewasa lupa akan "kesenangan" tawa. Riset membuktikan bahwa rata-rata anak tertawa kurang lebih 400 kali dalam sehari, sedangkan orang dewasa hanya 15 kali.

Pemicu rasa tawa itu pun bisa disebabkan oleh faktor pesimis-optimis seseorang. Seseorang yang optimis nyatanya memiliki rasa humor yang tinggi sehingga bisa membuat mereka sering tertawa.

Tertawa juga tak hanya menguntungkan kesehatan diri sendiri. Selain membuat orang lain ikut tertawa dan tentu membuat mereka lebih rileks, tertawa juga bisa menjadi ajang silaturahmi antarsesama. Maka, tertawalah demi semangat hidup Anda! Hahahahaha.|Sumber: intisari-online

  • Uncategorized

Leave a Reply