Terombang Ambing, Pengungsi Rohingya Terpaksa Minum Urin

Terombang Ambing, Pengungsi Rohingya Terpaksa Minum Urin

JAKARTA – Pengungsi Rohingnya asal Myanmar yang ditolak tiga negara ASEAN, terpaksa meminum air kencing mereka sendiri dalam upaya bertahan hidup. “Kami melihat ada orang yang minum air kencing mereka sendiri dari botol. Kami sudah melemparkan mereka botol air, segala sesuatu yang kami punya di kapal,” kata Jonathan Head, wartawan BBC, seperti yang dilansir Inpendent, Kamis, 14 Mei 2015.

Selain itu setidaknya sepuluh orang pengungsi tewas akibat kelaparan dan kehausan di perahu nelayan yang telah tekatung-katung selama seminggu terakhir di Laut Andaman, yang terletak di antara di selatan negara Myanmar dan barat Thailand. Seorang muslim Rohingya mengatakan, mayat-mayat orang-orang yang meninggal dibuang ke laut.

Diperkirakan sebanyak 6.000 pengungsi asal Myanmar berada di tengah laut akibat ditolak untuk berlindung dari negara-negara di ASEAN. Menurut laporan, lebih dari 120 ribu warga minoritas muslim Myanmar tersebut telah naik perahu ke negara-negara lain dalam upaya untuk melarikan diri dari Myanmar.

Meski PBB dan badan-badan bantuan telah menyerukan pihak berwenang di Thailand, Indonesia, dan Malaysia untuk menyelamatkan para pengungsi itu, tapi semua tampak tidak mau mengambil para pengungsi. Sebelumnya, TNI AL memberi bantuan makanan dan air bersih, serta membiarkan perahu kayu untuk muslim Rohingya agar melanjutkan perjalanan ke Malayisa.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Wan Junaidi mengatakan sekitar 500 orang berada di kapal yang ditemukan pada Rabu, 13 Mei 2015, di lepas pantai utara negara bagian Penang. Setelah diberi beberapa perlengkapan mereka diminta meninggalkan perairan Malaysia. “Apa yang Anda harapkan untuk kami lakukan,” kata Junaidi Jafaar.

Junaidi Jafaar mengatakan, pemerintanya sudah berbaik hati terhadap para pengungsi tersebut. “Kami sudah sangat baik untuk orang-orang yang masuk ke perbatasan negara kami. Kami telah memperlakukan mereka secara manusiawi tetapi mereka tidak dapat membanjiri pantai kami dengan cara seperti ini,” tuturnya.

Perdana Menteri Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha mengatakan, “Jika kami membawa mereka semua ke dalam negara kami, maka siapa saja yang ingin datang akan datang dengan bebas. Saya menanyakan apakah Thailand mampu merawat mereka semua? lantas dari mana anggarannya?”

Matthew Smith, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia nirlaba Fortify Hak mengatakan: “Ini adalah krisis kemanusiaan serius yang menuntut tanggapan segera.”[] sumber: tempo.co

Foto: Sejumlah imigran etnis Rohingya, makan pagi bersama saat berada di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh, 11 Mei 2015. REUTERS/Tempo.co

Leave a Reply