Terbengkalai, Pasar Ikan jadi “Bengkel Drakula?”

Terbengkalai, Pasar Ikan jadi “Bengkel Drakula?”

DILIHAT dari kejauhan, bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan di Dusun Kuta Kareung, Desa Meunasah Mesjid, Cunda, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, itu langsung menarik perhatian. Bukan karena mewah dan megah, melainkan “keburukan” fisiknya. Atap dua bangunan itu tampak sudah “digunduli”.  Salah satu bangunan tersebut bahkan tak lagi memiliki rangka atap.

“Sekitar lima bulan lalu, saya lihat dua bangunan Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan itu masih ada atapnya dari genteng meski tidak utuh lagi. Sekarang, jangankan genteng, rangka atapnya saja hanya tersisa pada satu bangunan, habis dijarah,” ujar Armia, warga Meunasah Mesjid, kepada portalsatu.com, Senin, 6 Juli 2015.

terbengkalai 1

Akan tetapi, Armia tidak mengetahui persis kapan Pasar dan Pelelangan Ikan itu dibangun. Sebab ia bukan warga Dusun Kuta Kareung (lokasi bangunan itu), melainkan tinggal di dusun lainnya di Desa Meunasah Mesjid yang sangat luas.

Salah seorang mantan Camat Muara Dua menyebut bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan itu sudah bertahun-tahun terbengkalai. “Dibangun sekitar 2012 atau 2013. Yang jelas bukan 2014,” ujar mantan camat ini yang enggan namanya ditulis.

Menurut sumber lainnya, bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan itu merupakan proyek sumber dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2013 yang mencapai miliaran.

Armia menyebut bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan itu luput dari perhatian publik luas—walau sudah bertahun-tahun terbengkalai—lantaran lokasinya tertutup deretan toko sebelah kiri Jalan Merdeka, jalur masuk ke kawasan pusat kota Lhokseumawe.

“Saya sendiri baru tahu ada bangunan Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan itu sekitar lima bulan lalu, padahal kalau kita lihat fisiknya sudah lama dibangun. Bangunan yang terbengkalai itu akan tampak dengan jelas jika kita lihat dari jembatan Cunda jalur masuk kota. Berdiri di jembatan Cunda, menolehlah ke kiri atau arah selatan,” kata Armia.

***

Rumput tebal setinggi lutut orang dewasa, tumbuhan liar, termasuk bak reubek tampak “mengepung” bangunan itu. Ketika menoleh bagian atap dua bangunan tersebut persis seperti disebutkan Armia tadi.

Di bagian samping sebelah timur salah satu bangunan itu terdapat tulisan pada beton yang catnya sudah terkelupas, “Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan”. Belakang bangunan pasar itu ada pula satu bangunan lainnya, lebih kecil, bentuknya mirip musalla. Atapnya sudah bolong-bolong, hanya tersisa sebagian genteng.

Sebelah barat dan utara belakang bangunan pasar ikan itu terlihat areal tambak yang luas hingga berbatasan dengan kanal Krueng Cunda. Sedangkan sebelah selatannya pemukiman penduduk.

Pasar Ikan dan Pelelangan Ikan

Akan tetapi, ketika portalsatu.com berada di lokasi tersebut sekitar pukul 11.30 – 12.15 WIB, tidak ada seorang pun di seputaran bangunan Pasar dan Pelalangan Ikan yang terbengkalai itu. Belakangan muncul beberapa bocah yang membakar petasan di jalan depan bangunan itu. Ledakan petasan mengusir keheningan siang itu.

Bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan itu memiliki 44 ruangan atau pintu; 22 di bagian depan, 22 lainnya bagian belakang. Akan tetapi semua ruangan mirip toko itu tanpa daun pintu. Berlantai keramik, sebagian besar ruangan tampak berantakan. Tumbuhan liar bahkan tumbuh “mekar” merusak lantai keramik. Kotak saklar dan stop kontak listrik dalam setiap ruangan telah dijarah.

Dinding dalam ruangan “toko” itu catnya terkelupas dan penuh coretan. Dalam salah satu ruangan tampak coretan, “Bengkel 93 drakula of the cannibal”, dan di ruangan sebelahnya tertulis, “Kannibal bengkel 99 metal drakula”.

Sebagian dinding bagian luar bangunan Pasar dan Pelelanga Ikan itu, catnya juga terkelupas. Di salah satu bagian dinding bagian luar bangunan itu tertulis, “crarzy for”. Barangkali ingin ditulis “crazy (gila)….”

Tampak pula beberapa potong tapeh (serabut kelapa) tergeletak di atas meja beton berkeramik yang seharusnya untuk tempat menggelar beragam ikan.

Kondisi berantakan juga terlihat dalam bangunan mirip musalla. Ruangan bagian tengah untuk tempat wuduk, dikotori sampah, termasuk dalam sumur di sebelah kanan bangunan itu. Dalam ruangan lainnya ada sejumlah coretan.  Di antaranya, “Ini bapak budi, ibu budi, kakak budi, dan adik budi taiye”. Ada pula tulisan di dinding sebelah kiri ruangan dalam bangunan itu, “punk not dead”.[]

Baca juga:

Pasar Ikan Terbengkalai Sekda Dasni Anco That Ka Abeh Dijarah

Foto: Bangunan Pasar dan Pelelangan Ikan di Meunasah Mesjid, Cunda, Lhokseumawe. @Irman

Leave a Reply