Tanggapi “Curhat” PGRI, Cek Mad Bilang Tanpa Guru Hidup Ini Tak Berarti

LHOKSEUMAWE – Bupati Aceh Utara terpilih Muhammad Thaib alias Cek Mad menyatakan bakal memperjuangkan peningkatan penghasilan guru. Kendati Tunjangan Prestasi Kerja (TPK) guru tidak mampu diberikan Rp800 ribu per bulan, kata Cek Mad, paling tidak bertambah dari jumlah saat ini yang Rp250 ribu sebulan.

“Kita menyadari, tanpa guru hidup ini takkan berarti. Tanpa guru, saya tidak akan berdiri di sini sebagai bupati terpilih,” kata Cek Mad memulai sambutannya pada acara silaturrahmi Keluarga Besar PGRI Aceh Utara dengan Bupati-Wakil Bupati terpilih, di gedung ACC Unimal, Lhokseumawe, Sabtu, 2 Juni 2012.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa guru yang telah meninggal, Cek Mad usai dipeusijuek pada acara itu memimpin langsung pembacaan surat Al-Fatihah sebagai ummul Al-Quran.
“Sebelum saya tanggapi pertanyaan PGRI soal TPK guru, mari kita semua membaca ummul quran untuk almarhum guru yang semasa hidupnya telah berbakti kepada masyarakat dan daerah,” katanya.

Sebelumnya pada acara itu, Ketua PGRI Aceh Utara Jamaluddin menyampaikan "curahan hati" atau curhat guru berstatus pegawai negeri sipil tentang TPK yang diterima selama ini dari Pemda Aceh Utara.

“TPK kita dulunya Rp800 ribu per bulan, sekarang tinggal Rp250 ribu. Kita mohon kepada Bupati-Wakil Bupati Aceh Utara terpilih agar ke depan kalaupun TPK kami tidak dikembalikan ke Rp800 ribu, minimal ada peningkatan dari Rp250 ribu,” kata Jamaluddin disambut riuh tepuk tangan seribuan guru.

Jamaluddin juga mempertanyakan kelayakan gaji yang diterima guru honorer Rp300 ribu per bulan, padahal Upah Minimum Regional (UMR) Rp1.250.000 sebulan. “(Gaji Rp300 ribu) jauh dari standar minimal,” kata Jamaluddin yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan di Kecamatan Syamtalira Bayu Aceh Utara.

Menanggapi hal itu, Cek Mad menyatakan setelah nantinya ia bersama Wabup terpilih Muhammad Jamil resmi dilantik, pihaknya akan memperjuangkan dan memberikan hak-hak guru sesuai ketentuan berlaku. “Soal TPK guru, kalau tidak sampai Rp800 ribu, kami akan berusaha agar ada peningkatan dari Rp250 ribu,” kata Cek Mad.

Begitu juga dengan gaji guru honorer, Cek Mad melanjutkan, juga akan diupayakan penambahan yang lebih layak. Sebab itu, kata Cek Mad, penting peran semua pihak guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar pemerintah Aceh Utara mampu menyejahterakan masyarakat termasuk para guru.

“Saya tahu ada banyak honorer termasuk honorer lillahi taala (bekerja tanpa gaji-red) di lingkungan Dinas Pendendidikan dan Dinas Kesehatan. Kalau PAD tidak meningkat, apa yang mampu kita berikan kepada mereka. PAD Aceh Utara selama ini rata-rata Rp45 miliar per tahun, ini yang akan kita usahakan supaya lebih meningkat di masa mendatang,” kata Cek Mad.

Cek Mad juga bilang, jika nantinya ia sudah memberikan hak-hak guru maka guru juga harus memberikan hak kepala daerah. “Hak yang kami minta pada guru adalah bekerja sungguh-sungguh. Jangan jumlah guru saja yang banyak, tapi perjuangkanlah kualitas pendidikan,” katanya.

“Dan, kembalikan suasana pendidikan di Aceh Utara seperti era tahun 1980-an, di mana anak-anak tidak menjauhkan diri dari masjid. Setiap kali azan Dhuhur berkumandang, guru mesti mengarahkan anak didik ke masjid untuk salat berjamaah dan berdoa. Jadi berusaha saja tidak cukup tanpa berdoa kepada Allah memohon rahmat-Nya,” kata Cek Mad lagi.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply