Taman Sari, Tempat Rekreasi di Tengah Kota

BANDA ACEH – Sebagai ruang terbuka hijau, Taman Sari kerap dijadikan tempat tetirah warga kota Banda Aceh di akhir pekan. Di taman ini juga sering diadakan aneka festival dan hiburan rakyat.

Pada 25 November 2011 lalu misalnya, sebuah festival yang baru pertama kali di Aceh digelar di sana: Festival Kupi Aceh 2011. Kegiatan ini untuk memeriahkan tahun kunjungan Aceh 2011 atau Visit Banda Aceh Year 2011. Festival dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal.

Taman Sari sendiri sudah sejak lama menjadi ikon Banda Aceh. Letaknya persis di depan kantor Wali Kota Banda Aceh, atau sebelah kiri Masjid Raya Baiturrahman.

Taman Sari berada di tengah kota. Luasnya sekitar 300 hektare. Taman ini bisa disebut multifungsi: tempat rekreasi dan simbol dari pembaruan serta harapan.

Dalam foto lama dari dokumentasi Museum Tropen, Belanda, terlihat ada sebuah tugu kecil berdiri di taman itu. Judul foto itu sendiri menyebut Taman Sari ialah taman perdamaian. Kini, tugu itu tidak ada lagi.

Menurut referensi, setelah tsunami menghantam Aceh pada 24 Desember 2004, Taman Sari menjadi kolam penampungan air laut. Lalu taman ini direnovasi dan dibuka kembali atas bantuan dana dari negara asing melalui lembaga kemanusiaan yang masuk ke Aceh.

Kala itu, program pertama yang dilakukan dengan membersihkan sampah dan lumpur tsunami yang mengenangi areal taman. Setelah areal taman dibersihkan, komponen ruang taman mulai direkonstruksi kembali ke tempatnya semula.

Areal taman juga diperluas dengan menambahkan bangunan serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pameran, ruang pertemuan serta dilengkapi dengan sarana bermain anak, mushala, dapur, serta toilet umum.

Sejak dibuka kembali, selain sebagai tempat rekreasi keluarga juga sering difungsikan untuk kegiatan publik. Termasuk konser musik panggung terbuka.

Sementara itu, di Taman Sari sedang dibangun sebuah fasilitas hiburan yang antara lain terdiri dari restoran. Dulu, sebelum tsunami, juga ada sebuah restoran di taman tersebut.

Di ujung taman ini, beberapa meter dari pekarangan Masjid Raya Baiturrahman, dulunya berdiri sebuah hotel. Namanya Hotel Atjeh.

Hotel ini pernah didatangi Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno. Di hotel itu, Bung Karno bertemu dengan para pengusaha Aceh.

Dengan berjas lengkap khasnya, Bung Karno ditemani para rombongan yang berpakaian tidak senecis dirinya. Para pengusaha Aceh segera menyuruh para penjahit membuatkan pakaian yang lebih pantas untuk mereka semua.

Hotel bersejarah ini sudah tidak ada. Sebelum tsunami, pernah ada rencana membangun sebuah hotel lain sebagai pengganti Hotel Atjeh. Namun, entah kenapa, sampai sekarang yang terlihat hanya  tiang-tiang pancang yang di cat warna-warni di ujung Utara taman.

  • Uncategorized

Leave a Reply