Tag: zikir akbar

Foto: Mualem Tandatangani Tuntutan Jamaah Aswaja

Foto: Mualem Tandatangani Tuntutan Jamaah Aswaja

BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau kerap disapa Mualem akhirnya menandatangani 13 tuntutan jamaah ahlussunnah wal jamaah pada Kamis, 1 Oktober 2015. Tuntutan tersebut sama dengan beberapa tuntutan lainnya yang pernah disampaikan oleh jamaah dalam parade Aswaja awal September 2015 lalu. (Baca: Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah)

Namun ada satu poin yang berbeda dalam tuntutan kali ini. Pada poin 13, mereka meminta apabila tuntutan tersebut tidak dijalankan maka Gubernur Aceh didesak untuk lengser. Berikut beberapa foto yang berhasil diabadikan oleh Tim portalsatu.com di lokasi zikir akbar jamaah Aswaja:

tandatangan tuntutan-adi9
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi7
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi6
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi4
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi5
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi1
@Adi Gondrong
tandatangan tuntutan-adi
@Adi Gondrong
Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah

Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah

BANDA ACEH – Jamaah zikir akbar dari barisan ahlussunnah wal jamaah mengeluarkan beberapa tuntutan agar dipenuhi oleh Pemerintah Aceh. Tuntutan tersebut pernah disuarakan dalam parade akbar Aswaja pada Kamis, 10 September 2015 lalu di Kantor Gubernur Aceh. Salah satu tuntutannya adalah mencegah berkembangnya paham Wahabi, Syiah, komunis dan aliran sesat lainnya di Aceh.

Tuntutan ini kembali disampaikan oleh jamaah zikir akbar Aswaja dalam kegiatan zikir akbar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Kamis, 1 Oktober 2015. Namun, kali ini tuntutan tersebut didengar langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf yang mendatangi lokasi kegiatan zikir akbar.

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Mualem ini meminta janji dari para ulama Aswaja jika ingin tuntutannya ditandatangani oleh Pemerintah Aceh. “Neutem meu janji ngon lon? Meuhan han lon teken? (mau berjanji dengan saya? Kalau tidak, saya tidak mau menandatangani),” kata Mualem.

Neu meujanji bak tip-tip meunasah na jamaah, bek yang tuha-tuha mantong bak meunasah, tapi awak dron muda-muda yang mantong kong teuot. Nyan neu meujanji ngon lon. Ta kalon singoh, lon man saboh Aceh lon rawon, akan ta kalon u keu (berjanjilah di tiap-tiap meunasah terdapat jamaah, jangan sekadar yang tua-tua di meunasah, tapi Anda yang muda-muda yang masih kuat. Berjanjilah itu kepada saya. Kita lihat nanti, saya akan keliling seluruh Aceh, kita lihat nanti),” kata Mualem.

Apa yang diminta oleh Mualem tersebut mendapat sambutan gembira dari para jamaah. Mereka berjanji memenuhi permintaan tersebut.

Sebelum menandatangani tuntutan jamaah Aswaja, 15 perwakilan ulama bersama Mualem menuju ke makam Syiah Kuala. Mereka bertawasul di kuburan ulama besar Aceh masa kerajaan tersebut dan mengharapkan apa yang dilakukan ini lebih aman. Sementara para jamaah zikir berada di luar sambil bershalawat.

Berikut ini beberapa butir rekomendasi dan tuntutan dari masyarakat Aswaja Aceh:

1. Mendesak pemerintah Aceh untuk menghentikan seluruh aktivitas salafi Wahhabi, Syiah, Komunis, dan aliran-aliran sesat lainnya di seluruh wilayah Aceh.
2. Mendesak pemerintah Aceh agar setiap keramaian dan kegiatan keagamaan wajib mendapat rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPUA).
3. Tidak mengangkat kepala SKPA dan Ketua Badan pemerintahan Aceh yang tidak berpaham Aswaja.
4. Mendesak pemerintah pusat untuk mempercepat realisasi turunan butir-butir MOU Helsinski dan UUPA.
5. Mendesak pemerintah Aceh untuk menjalankan Qanun Aceh no.8 tahun 2012 tentang Lembaga Wali Nangroe.
6. Menolak intervensi pemerintah Aceh terhadap MPU Aceh.
7. Pemerintah Aceh Wajib menjalankan setiap fatwa yang dikeluarkan MPU Aceh.
8. Mendesak Pemerintah Aceh untuk menjalankan Qanun Jianayat dan Qanun Acara Jinayat.
9. Apabila tuntutan tidak diindahkan dan tidak dilaksanakan, akan ada gerakan lebih besar lagi.[] (bna)

Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala, Ulama Aswaja Sampaikan Tuntutan Kepada Pemerintah Aceh

Zikir Akbar di Makam Syiah Kuala, Ulama Aswaja Sampaikan Tuntutan Kepada Pemerintah Aceh

BANDA ACEH – Massa dari berbagai kalangan memadati kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 1 Oktober 2015, sejak pukul 07.50 WIB. Kedatangan mereka untuk mengikuti zikir akbar yang digelar oleh sejumlah ulama Aceh dalam barisan ahlussunnah wal jammaah.

Massa tersebut datang dari berbagai pelosok Aceh seperti Aceh Barat Daya, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh dan Aceh Besar tersebut. Hal ini diketahui dari plat kendaraan sejumlah angkutan roda empat yang mereka tumpangi dan berbaris rapi di badan jalan.

Kegiatan zikir akbar dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Rencananya, usai zikir massa akan bergerak ke kantor Gubernur Aceh untuk menuntut 12 poin seperti pada kegiatan sebelumnya.

Namun hal tersebut urung dilaksanakan. Pasalnya, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, hari ini menjumpai massa di lokasi pelaksanaan zikir akbar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh.

“Insya Allah akan hadir dari pemerintahan, nyo aksi yang kedua,” kata salah satu panitia kegiatan, Teungku Muslim.

Dia mengatakan akan membawa massa lebih banyak jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh Pemerintah Aceh. Teungku Muslim mengatakan banyak jamaahnya yang tidak bisa hadir lantaran ada yang menghalangi mereka. Di sisi lain, kata dia, ada juga massa dari dayah yang masih berada di kampung halaman masing-masing karena sedang liburan Idul Adha.

Pantauan portalsatu.com di lokasi terlihat beberapa ulama dayah di Aceh, pimpinan dayah dari pelosok Aceh dan utusan Kapolda.

Insya Allah pemerintah uroe nyoe hadir, nyo hana geujak, tanyo ta jak keudeh ta preh pemerintah tanyoe, meunyo hana gob nyan, ta preh pajan-pajan yang na,” ujar Teungku Muslim.

Dia juga mengungkapkan kenapa parade Aswaja dimulai dari Kompleks Makam Syiah Kuala. “Karena beu berkat, supaya tidak ada provokator,” katanya.

Amatan portalsatu.com, Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, baru tiba di lokasi sekitar pukul 09.45 WIB. Dia langsung naik ke atas panggung utama bersama para ulama dayah seperti Teungku Muslim dan Tu Bulqaini Tanjungan untuk mendengarkan tuntutan massa.[]

“Islam Masuk ke Indonesia Melalui Aceh”

“Islam Masuk ke Indonesia Melalui Aceh”

BANDA ACEH – Islam masuk ke Indonesia melalui Aceh. Karena itu, sampai sekarang para ulama di Jawa dan daerah lain di Indonesia, jika ditelusuri dasar orangnya, adalah orang Aceh.

Hal tersebut disampaikan oleh K.H. Muhammad Idrus Ramli saat memberikan tausiyah pada pawai dan zikir akbar Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) di Kompleks Makam Syiah Kuala Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015.

Dalam catatan sejarah, katanya, Islam ini masuk ke nusantara pada abad pertama Hijriah, yaitu pada masa khalifah yang ketiga, Usman bin Affan.

“Saat itu sudah ada utusan yang dikirim ke Aceh untuk mengajak bangsa kita masuk Islam dan pada saat itu pula sudah terdapat mazhab kita Ahli Sunnah Wal Jamah,” katanya.

Pada abad ke-19 Masehi, Islam tersebar luas dan diikuti oleh mayoritas masyarakat di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan sekitarnya.

Pada abad yang sama atau 600 tahun lalu, kemudian para ulama dari Aceh banyak dikirim ke daerah-daerah lain di seluruh nusantara. “Karenanya, kalau di Jawa sana dipanggil kiai, kiai-kiai itu jika ditelusuri nasab (keturunan)-nya banyak dari Aceh,” ujar Ustaz Idrus.

Mengapa demikian? Ini karena mereka adalah keturunan para ulama yang menyebarkan Islam, misalnya Wali Songo yang juga asalnya dari Aceh. Ia mencontohkan wali pertama bernama Maulana Malek Ibrahim diundang oleh Kerajaan Majapahit. Saat itu Kerajaan Majapahit telah rusak dan Maulana Malek Ibrahim diangkat sebagai qadhi (suatu pangkat yang amat tinggi dalam Islam) untuk mengubah akhlak. Maulana Malek Ibrahim merupakan seorang ulama yang terkenal di Kerajaan Pasai, yaitu Aceh Utara.

Kemudian, lanjutnya, sunan-sunan yang lain juga berasal dari Aceh. Karena itu, sampai sekarang bangsa Indonesia menyebut Aceh dengan Serambi Mekah. “Karena memang pintu masuknya Islam ke Indonesia,” kata Ustaz Idrus.[](bna/*sar)

Ketua HMI Langsa: Isu Munculnya Aliran Sesat Berpengaruh Besar di Aceh

Ketua HMI Langsa: Isu Munculnya Aliran Sesat Berpengaruh Besar di Aceh

LANGSA – Ketua Umum HMI Cabang Langsa, Khairulrizal Alatif, meminta Pemerintah Aceh lebih tegas menyikapi dugaan aliran sesat di Aceh.

“Isu munculnya ada aliran sesat ini membuat pengaruh besar dalam hal kenyamanan ibadah masyarakat Aceh sendiri. Sangat kita takutkan jika ajaran tersebut menguasai seluruh wilayah Aceh dengan misi pendangkalan akidah,” kata Khairul kepada portalsatu.com, Jumat, 11 Septermber 2015.

Dia juga meminta masyarakat Aceh agar tidak terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman di luar sunnah.

“Dasar kita adalah menganut aturan Ahlus Sunnah Waljamaah, jadi jangan sampai masyarakat Aceh terpengaruh dengan yang lain,” katanya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Pemerintah Aceh juga harus bertindak dengan tegas jika ada hal-hal yang menyimpang mengenai ajaran Islam yang ada di Aceh.

“Ini semua bertujuan menghindari perpecahan dalam agama Islam, khususnya di Aceh. Jadi, pemerintah harus juga berperan di situ,” katanya.

“Kita berharap Islam di Aceh hanya berkiblat pada ajaran ahlus sunnah, dan tetap selalu menjaga kekompakan demi akidah anak bangsa di masa yang akan datang,” ujarnya.[](bna/*sar)

Aryos Nivada: Ulama Jangan Mau Dipolitisi

Aryos Nivada: Ulama Jangan Mau Dipolitisi

BANDA ACEH – Pengamat Politik dan Kemanan Aceh, Aryos Nivada, mengapresiasi antusiasme orang-orang dayah menyampaikan aspirasinya yang ingin menegakkan ahlussunnah wal jamaah di Aceh. Namun dia berharap demonstrasi tersebut harus murni keinginan ke arah tersebut dan tidak sarat kepentingan politik.

“Masyarakat Aceh berharap sekali, bahwa demo ini benar-benar murni menegakkan ahlussunnah wal jamaah. Tetapi hasil amatan dan berbagai informasi yang terhimpun, terindikasi kuat telah dipolitisir dan terkesan di mata publik ada pesan sponsor,” kata Aryos melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Kamis, 10 September 2015.

Aryos menyayangkan jika umpamanya para pendemo dimanfaatkan oleh kelompok atau personal orang yang memiliki akses kekuasaan, ataupun yang sedang berkuasa saat ini. Dia berharap jangan sampai publik menafsirkan keberadaan ulama dapat dipolitisir oleh elit berkuasa.

“Sehingga dikhawatirkan akan dapat menurunkan kredibilitas ulama sebagai warasatul ambiya. Ini yang perlu diperhatikan sebenarnya,” kata Peneliti Jaringan Survei Inisiatif tersebut. [] (bna)

Foto: Massa Zikir Akbar Sambangi Kantor Gubernur Aceh

Foto: Massa Zikir Akbar Sambangi Kantor Gubernur Aceh

BANDA ACEH – Jamaah zikir akbar dari barisan ahlussunnah wal jamaah mengadakan konvoi dari Kompleks Makam Syiah Kuala menuju Kantor Gubernur Aceh. Pergerakan massa dari lokasi zikir menuju pusat Pemerintahan Aceh berlangsung selama 30 menit dan mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian, Kamis, 10 September 2015.

Polisi turut menutup jalan Teungku Daud Beureueh saat konvoi tersebut mendatangi Kantor Gubernur Aceh. Pantauan portalsatu.com, parade jamaah ini berlangsung tertib. Sementara di Setda Provinsi Aceh telah siaga puluhan personil polisi dibantu Satpol PP.[]

Tuntut Gub5
Massa memenuhi halaman kantor Gubernur Aceh. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Tuntut Gub4
Massa memenuhi halaman kantor Gubernur Aceh. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Tuntut Gub2
Polisi siaga di Kantor Gubernur Aceh. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Tuntut Gub3
Polisi siaga di Kantor Gubernur Aceh. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
tuntut Gub6
Massa memenuhi halaman depan Kantor Gubernur Aceh. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com
Jamaah Ahlussunnah Wal Jammaah Konvoi ke Kantor Gubernur Aceh

Jamaah Ahlussunnah Wal Jammaah Konvoi ke Kantor Gubernur Aceh

BANDA ACEH – Jamaah zikir akbar dari barisan ahlussunnah wal jamaah mengadakan konvoi dari Kompleks Makam Syiah Kuala menuju Kantor Gubernur Aceh. Pergerakan massa dari lokasi zikir menuju pusat Pemerintahan Aceh berlangsung selama 30 menit dan mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian, Kamis, 10 September 2015.

Polisi turut menutup jalan Teungku Daud Beureueh saat konvoi tersebut mendatangi Kantor Gubernur Aceh. Pantauan portalsatu.com, parade jamaah ini berlangsung tertib. Sementara di Setda Provinsi Aceh telah siaga puluhan personil polisi dibantu Satpol PP. Hingga berita ini diturunkan belum terlihat pejabat daerah di lokasi seperti Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, Sekda Aceh Dermawan maupun para asisten pemerintah Aceh lainnya.

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan kedatangan ribuan jamaah ini ke Kantor Gubernur Aceh untuk menyerahkan 13 tuntutan yang disepakati oleh seluruh ulama di bawah payung ahlussunnah wal jamaah. Salah satunya adalah menertibkan lembaga pendidikan Islam di Aceh yang bertentangan dengan mazhab Syafii, dan bertentangan dengan akidah ahlussunah wal jammaah.

Para jamaah aswaja juga meminta Pemerintah Aceh untuk menghentikan seluruh aktivitas salafi wahabi, syiah, komunis dan aliran-aliran sesat lainnya di seluruh Aceh.

Sebelumnya diberitakan, warga Banda Aceh dan Aceh Besar mengikuti zikir akbar yang digelar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dan dipimpin oleh Habib Haris Al Idrus.[] (bna)

Peserta Zikir Akbar Kian Menyemut di Kompleks Makam Syiah Kuala

Peserta Zikir Akbar Kian Menyemut di Kompleks Makam Syiah Kuala

BANDA ACEH – Kompleks makam Syiah Kuala di Banda Aceh terus dipadati oleh jamaah zikir akbar sejak pukul 08.00 WIB tadi, Kamis, 10 September 2015. Jamaah dari segala penjuru kota bahkan terus berdatangan meski kegiatan zikir telah berlangsung lama.

Pantauan portalsatu.com di lokasi, jalan di depan kompleks makam juga macet. Peserta terpaksa berjalan kaki menuju ke makam Syiah Kuala. Peserta zikir diperkirakan berasal dari berbagai kalangan, baik dari majelis zikir, dayah seluruh Aceh dan bahkan masyarakat umum.

peserta zikir akbarIkut hadir dalam kegiatan tersebut beberapa ulama dari seluruh dayah di Aceh, anggota FPI Aceh, anggota Majelis Ulama Nanggroe Aceh atau MUNA, anggota Himpunan Ulama Dayah Aceh atau Huda, anggota DPR Aceh dan DPRK dan unsur kepolisian.

Sebelumnya diberitakan, warga Banda Aceh dan Aceh Besar mengikuti zikir akbar yang digelar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis, 10 September 2015. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dan dipimpin oleh Habib Haris Al Idrus.[] (bna)