Tag: yahudi

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Ada banyak sebab bahasa punah, seperti lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.

Asim mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun, karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. Ia menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak.

Bagaimanakah menghambat kepunahan ini? bila merujuk pada pendapat Asim tersebut, usaha menghambat kepunahan bahasa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Vitalisasi etnolinguistik ini pernah diterapkan pada bahasa Ibrani yang dipakai oleh masyarakat Yahudi. Bahasa ini pernah berada di ambang kepunahan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang Yahudi yang dibasmi oleh Hitler dalam sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama holocaust. Diperkirakan sebanyak 3 juta orang Yahudi dibunuh oleh Hitler. Jumlah ini belum termasuk orang Slav, orang Polandia non-Yahudi, orang Roma dan Sinti, kaum Freemason, kaum Komunis, pria homoseksual, dan saksi Yehowa. Jika dikelompokkan, jumlah pembasmian mencapai 60 juta jiwa (Widada, 2007:39).

Akibat pembunuhan terhadap 3 juta orang Yahudi tersebut, penutur bahasa Ibrani dengan sendirinya berkurang. Oleh karena itu, untuk menghambat kepunahan bahasanya, dilakukanlah vitalisasi etnolinguistik terhadap bahasa Ibrani sehingga bahasa tersebut sekarang menjadi bahasa nasional. Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menggiatkan penerbitan majalah berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa Aceh bagi media elektronik. Ketiga, memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional. Berkaitan dengan hal ini, sebut saja misalnya bahasa Aceh. Kosakata bahasa Aceh juga berpotensi menjadi kosakata bahasa Indonesia layaknya bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa-bahasa daerah lainnya.

Salah satu contohnya adalah timplak. Kata ini mempunyai arti mencela atau celaan (Aboe Bakar, dkk. 1985:985). Kata ini sangat cocok menjadi kosakata bahasa Indonesia. Secara kaidah bahasa, yaitu konsep peluluhan, bunyi awal kata ini memenuhi syarat peluluhan. Jika bunyi awal diluluhkan, kata timplak akan menjadi menimplak jika diimbuhkan imbuhan meN– dan dapat pula menjadi penimplakan jika diimbuhkan konfiks peN-an. Dari segi pelafalan pun, kosakata ini tidak sulit dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Kasus yang sama juga dapat diterapkan pada kata padubawa. Dari segi pelafalan, kata ini sangat mudah dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Selain itu, konsep pelafalan juga memenuhi kata ini. Jika dilekatkan imbuhan meN-, kata ini menjadi memadubawa, atau jika dilekatkan afiks peN-, kata tersebut akan menjadi pemadubawa(-an).

Keempat, menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan, bukan semata-semata hanya mata pelajaran muatan lokal dan juga dimasukkan ke uji UKBD. Jika bahasa Aceh, berarti uji UKBA, yaitu uji kemahiran bahasa Aceh.

Kelima, membentuk jurusan atau jika memungkinkan fakultas di perguruan tinggi yang khusus membidangi bahasa daerah. Lulusan-lulusan dari jurusan ini akan diterjunkan ke sekolah, media massa baik cetak maupun elektronik yang memiliki program atau jam tayang yang menggunakan bahasa daerah sebagai perantara dan tentunya diimbangi dengan insentif yang layak.[]

Komunitas Yahudi Gelar Buka Puasa Ramadhan

Komunitas Yahudi Gelar Buka Puasa Ramadhan

Komunitas Yahudi di Turki, mengundang ratusan Muslim untuk buka puasa bersama, di sinagoga bersejarah Edirne, sebagai bentuk apresiasi atas dibukanya kembali sinagoga terbesar kedua di Eropa itu.

Dikutip dari surat kabar Turki, Hurriyet Daily News, Rabu, 24 Juni 2015, pemimpin komunitas Yahudi Turki mengatakan, undangan berbuka puasa bagi 700 Muslim adalah cara yang baik untuk menyatakan terima kasih.

Sinagoga Edirne pertama kali dibangun pada 1907, mengikuti bentuk Kuil Leopoldstadter di Vienna. Proses restorasi selesai Maret lalu, sementara pelayanan untuk ibadah dibuka pada 26 Maret.

Kontroversi terjadi setelah sebelumnya Gubernur Edirne, Dursun Ali Sahin, menolak sinagoga dibuka untuk ibadah, ketika restorasi selesai dikerjakan, sebagai balasan atas serangan militer Israel ke masjid Al Aqsa.

Tapi empat bulan kemudian Sahin berubah sikap, mengeluarkan pernyataan maaf dan menyebut apa yang terjadi di Yerusalem, tidak terkait dengan orang-orang Yahudi di Turki.

“Kami pikir cara paling baik untuk berterima kasih pada orang-orang di Edirne, adalah untuk berbagi makanan berbuka dengan mereka,” kata Ishak Ibrahimzadeh, pemimpin komunitas Yahudi Turki. | sumber: viva.co.id

Foto: Buka puasa bersama di Sinagoga Erdine, Turki. (Twitter)

Mengharukan, Kisah Keluarga Muslim Rawat Nenek Yahudi

Mengharukan, Kisah Keluarga Muslim Rawat Nenek Yahudi

Fenomena Islamphobia kini memang melanda sejumlah negara barat. Media di Inggris mengabarkan, hampir sepertiga dari anak-anak sekolah di sana percaya jika umat Islam hendak “mengambil alih negaranya”.

Dibalik ketakutan itu justru Helen Stone menunjukan sebuah indahnya perdamaian. Lilly, bibi dari Helen Stone, merupakan wanita tua berumur 94 tahun. Dulunya dia adalah tawanan Yahudi dari Jerman yang mengungsi ke Inggris di tahun 1939.

Lilly tinggal di Willesden Green, daerah yang terletak di sebelah barat laut London, Inggris. Suaminya, Joe, telah lama meninggal.

Sepeninggal suaminya, dia harus merawat rumahnya sendirian. Alasannya, anak satu-satunya, Regina, menikah dengan lelaki asal Amerika Serikat dan menetap di negeri Paman Sam itu.

Hubungan mereka hanya terjalin melalui jaringan telepon. Beberapa tahun sekali Regina menyambangi ibunya.

Dengan umur yang semakin menua, Lilly tetap sebatang kara. Kala usianya menginjak 94 tahun, Lilly berjumpa dengan keluarga Mohammed dan Shamin Islam. Mereka sekeluarga baru saja pindah dari Kilburn.

Mengutip laman independent.co.uk, Senin, 8 Juni 2015, Mohammed dan Shamin Islam merupakan keturunan Pakistan generasi keempat belas. Mereka memiliki dua anak perempuan. Yang tertua dan telah menikah bernama Imresh, dan adiknya bernama Taneem.

Mereka pertama kali datang ke Inggris pada tahun 1977. Mereka adalah keluarga Muslim yang taat menjalankan salat lima waktu. Keluarga itu juga memegang prinsip Islam untuk menghargai orang yang lebih tua.

Saat pertemuan pertama itu pula cucu dari Mohammed yang berusia dua tahun, Zayna, mendatangi Lilly yang sedang menyiram tanaman. Zayna adalah anak dari Imresh. Zayna mendekat dan memanggilnya: nenek. Keakraban itu pun akhirnya terjalin.

Keluarga Mohammed jadi sering berkunjung untuk sekadar membantu membersihkan kebun Lilly sembari mengobrol atau meminum teh. Tak jarang pula keluarga itu membawakan makanan dan mengabarkan keadaan Lilly kepada Regina. Keluarga Mohammed telah mendapat tempat terhormat dalam keluarga Lilly.

Lima tahun keakraban itu berjalan, kejadian tragis menimpa Lilly. Dia terjatuh dan tulang pinggulnya retak. Usia Lilly kala itu 99 tahun. Akibat kejadian itu, keluarga menyarankan Lilly masuk panti jompo. Namun Lilly menolak. Dia memilih tinggal di rumahnya sendiri.

Lilly ingin tetap melakukan semua pekerjaan rumahnya secara mandiri. Dia tetap memasak sendiri. Sesekali waktu memang keluarga Mohammed membantu, tapi Lilly ingin tetap melakukan aktivitas seperti sebelumnya.

Akan tetapi, dia akhirnya merasakan semakin melambat dari sebelum-sebelumnya. Lilly tetap melakukan semuanya secara mandiri hingga usia 105 tahun.

Di saat ia menginjak usia 105 tahun itulah ada kejadian yang menyentuh hati. Mohammed sekeluarga mempersiapkan bingkisan spesial. Bingkisan itu berupa sebuah foto bergambar wajah Lilly yang dicetak berukuran besar dan di sekeliling foto Lilly itu terdapat wajah dari masing-masing anggota keluarga Mohammed. Di dalamnya tertulis: Untuk Nenek. Kami Mencintaimu.

Saat keadaan Lilly semakin memburuk, Regina datang dan tinggal untuk menjaganya. Tapi, Regina tak dapat sendiri. Pekerjaan merawat Lilly butuh lebih dari satu orang.

Alhasil, Shamin dan putrinya bergantian untuk membantu Regina merawat Lilly dua kali sehari, seperti yang mereka lakukan sebelumnya.

Lilly akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 26 Maret 2015. Lilly meninggal dengan damai di tepat disamping Regina. Sesuai kepercayaannya, jenazah Lilly dikremasi sehari setelah meninggalnya di Bushey, Hertfordshire, Inggris.

Menantu dan kedua cucunya datang di pemakaman itu. Mereka dijemput di bandara oleh supir taksi langganan Lilly, seorang keturunan Pakistan bernama Iqbal. Iqbal mendatangi prosesi pemakaman dan menolak untuk dibayar.

Cinta, perawatan dan penghormatan mereka untuk Lilly menghapus semua gagasan dari penghalang antara kelompok usia, agama atau ras.

Hanya mereka yang terbaik dari tetangga yang baik, yang telah menjadi teman dekat dan sangat dihargai. Regina tahu bahwa dia berutang pada mereka, utang yang tidak mungkin bisa dia membayar, dan bahwa mereka akan tetap berhubungan selama sisa hidup mereka. | sumber: dream.co.id

Foto Nenek Yahudi dan Keluarga Muslim (independent.co.uk)

Tunawisma Muslim Dipuji Setelah Selamatkan Wanita Israel

Tunawisma Muslim Dipuji Setelah Selamatkan Wanita Israel

ITALIA – Seorang tunawisma Muslim di Roma, Italia, menyelamatkan wanita Israel yang berusaha bunuh diri, dengan melompat ke sungai. Otoritas Italia memujinya sebagai pahlawan, serta memberinya izin tinggal dan kerja di Italia.

“Saya bukan pahlawan. Tuhan ingin kita menolong semua orang,” kata Sobuj Khalifa, pria berusia 32 tahun asal Bangladesh, yang menjadi imigran gelap di Italia, dikutip laman Al Arabiya, Minggu, 17 Mei 2015.

Berdasarkan rekaman video yang diambil seorang warga Italia, Khalifa terlihat melompat ke tengah sungai, lalu menarik tubuh seorang wanita ke tepi sungai, sebelum regu penyelamat tiba.

“Saya melihatnya jatuh dari jembatan. Saya kira dia tewas. Tapi, saat saya berada dekat, saya lihat matanya bergerak dan berpikir dia masih bisa diselamatkan,” ucap Khalifa.

Atas jasanya, Khalifa yang telah tinggal selama delapan tahun di Italia, menjadi tunawisama dalam empat tahun terakhir, memperoleh izin tinggal dan bekerja di Uni Eropa dari otoritas Italia.

Wali Kota Roma, Ignazio Marino, menulis di laman Facebook-nya, bahwa dia telah berbicara dengan Khalifa, menyampaikan terima kasih atas tindakan heroiknya.

Komunitas Yahudi di Roma juga telah mencarikan rumah untuk Khalifa, serta memberinya pekerjaan. Pemimpin komunitas Yahudi, Riccardo Pacifici, mengatakan warga Yahudi ingin berterimakasih atas keberanian Khalifa. | Sumber: viva.co.id

Blower, Yahudi dan Aceh

Blower, Yahudi dan Aceh

Pengaruh budaya asing di Aceh sejak sebelum perang melawan Belanda masih kental hingga kini seperti penamaan nama-nama gampong. Sebut saja salah satunya gampong Sukaramai di Banda Aceh.

Secara umum, warga asli Banda Aceh akan kebingungan jika mendengar nama gampong Sukaramai. Padahal gampong ini terletak tepat di belakang Museum Tsunami Aceh dan komplek perkuburan Kherkof Belanda. Gampong ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Gampong Sukaramai berbatasan dengan gampong Punge Blang Cut, Punge Jurong, Seutui, serta Neusu.

Bagi penduduk asli Banda Aceh atau Aceh Besar, gampong ini kerap disebut dengan Blower meski di catatan administrasi pemerintahannya sering menabalkan Desa Sukaramai. Penyebutan Blower tidak terlepas dari sejarah sebelum Belanda menyerang Aceh.

“Sejarah Blower memiliki kaitan dengan seorang Yahudi, pemilik lahan di daerah tersebut. Namanya Bolchover,” ujar sejarawan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kepada penulis beberapa waktu lalu.

Dulunya, kata dia, Bolchover merupakan tuan tanah pemilik lahan yang menjadi perkampungan Sukaramai saat ini. Dia merupakan seorang pedagang yang masuk tepat sebelum peperangan Aceh melawan Belanda.

Catatan mengenai Blower juga ditulis dalam buku panduan komplek makam militer Belanda, Kerkhoff alias Peutjut. Saat itu, seorang pedagang Yahudi yang berasal dari Eropa Timur datang ke sebuah tempat di pinggir kota Banda Aceh. Namanya Bolchover.

Bolchover kemudian membeli sebidang tanah dan membuka usaha perumahan di tempat tersebut yang kemudian dikenal sebagai Blower. “Karena masyarakat Aceh kesulitan menyebut lahan tersebut sesuai nama pemiliknya Bolchover, akhirnya penyebutan daerah itu menjadi Blower,” katanya.

“Selain Blower, ada juga tanah milik Yahudi di kawasan Dinas Sosial Banda Aceh atau kantor perbendaharaan negara kota Banda Aceh. Dulunya disebut tanah tersebut milik Tuan Besar,” kata Rusdi Sufi.

Menurut Rusdi Sufi, tanah-tanah milik Yahudi tersebut kemudian dialihstatuskan menjadi milik daerah Aceh setelah kemerdekaan. “Tanah milik Bolchover itu sekarang berubah menjadi pemukiman penduduk dan disebut Desa Sukaramai setelah Indonesia merdeka. Namun warga masih sering menyebutnya Blower,” katanya.

Pernyataan Rusdi Sufi ini juga pernah dikemukakan oleh Tjoetje dalam bukunya “Peutjoet, Membuka Tabir Sedjarah Kepahlawanan Rakjat Atjeh”. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Deppen Perwakilan Aceh tahun 1972.

Tjoetje dalam bukunya menuliskan Blower adalah nama seorang Yahudi yaitu Bolchover. “Tadinya kompleks ini merupakan padang naleung lakoe (alang-alang) yang ketika Belanda datang dijadikan lapangan pemeliharaan atau perawatan kuda-kuda perang,” tulis Tjoetje.

Lokasi ini lantas ditinggalkan Belanda dan kemudian diambil alih oleh Tuan Bolchover yang menjadikannya sebagai kompleks perkebunan. Namun Tjoetje tidak mengetahui apa yang ditanam Bolchover di perkebunan tersebut sehingga namanya sangat populis hingga sekarang.

“Saya masih samar-samar perkebunan apakah gerangan yang kini telah meninggalkan nama dengan sebutan yang popuier “Belowor” atau “Belower” hingga nama seperti itu sampai pula menjalar ke Meulaboh, Aceh Barat, karena di sanapun terdapat apa yang dinamakan Kebon Belowor untuk tempat yang tadinya disebut kebun Sam Su Lo,” tulis Tjoetje.

Menurut Tjoetje, di masa lalu nama perkebunan ini merujuk ke hal-hal negatif. “Bila orang menyebutnya, orang langsung menghubungan sebutan itu dengan soal-soal seks liar, tetapi syukurlah dewasa ini di Belowor (Blower) itu telah terdapat meunasah atau langgar sebagai pusat pertemuan dan keagamaan masyarakat perkampungan tersebut yang pesat majunya dan patut dibanggakan,” tulis Tjoetje.[]