Tag: wisata aceh

Pulau Gosong, Setumpuk Mutiara Aceh Barat Daya

Pulau Gosong, Setumpuk Mutiara Aceh Barat Daya

Dermaga Ujong Serangga hanya berjarak 5 kilometer dari kota Blangpidie atau dengan waktu tempuh sekitar 15 menit jika mengendarai sepeda motor. Tepatnya berada di Kecamatan Susoh. Selain menjadi tempat bongkar muat hasil tangkapan nelayan, juga sebagai tempat penyeberangan ke Pulau Gosong.

Segaris kecil warna putih terlihat jauh dari depan Dermaga Ujong Serangga. Di atas garis itu sejumput dedaunan hijau mengerucut menunjuk langit. Semua tampak kecil seperti seolah sengaja diletakkan di sana sebagai ornamen Samudra Hindia agar tak melulu hamparan air berwarna biru saja.

Garis putih dan kerucut hijau itu adalah pulau yang disebut warga lokal dengan Gosong. Gosong tercipta akibat tumpukan pasir yang terbawa arus dan terus menerus tertimbun akibat tertahan oleh tumpukan karang di tengah laut.

Pulau Gosong tampak kontras dengan warna laut hijau tosca dan biru gelap. Pulau ini terlihat jauh karena ukurannya yang kecil. Tapi sebenarnya jaraknya dekat sekali dengan dermaga. Bahkan tak sampai setengah jam untuk menyeberang ke pulau yang dihuni oleh banyak belalang ini. Ya, belalang hidup makmur di sini. Beberapa pohon waru juga tumbuh subur di antara cemara laut di pulau ini menjadi makanan favorit ratusan ekor belalang yang akan segera kabur jika didekati.

DCIM100GOPROG0161034.

Pulau Gosong baru-baru ini menjadi populer di kalangan anak muda. Khususnya mereka yang berdomisili di Blangpidie dan Susoh. Pada musim liburan, pulau ini ramai dikunjungi. Umumnya mereka datang berpiknik dengan membawa perlengkapan memasak dan bahan makanan untuk dimasak sebelum waktu makan siang. Sebuah pondok dibangun untuk memfasilitasi para pengunjung. Sayangnya pondok yang dibangun pemerintah ini tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Lantai papannya bolong-bolong karena dicopot untuk dijadikan kayu bakar! Nyan buet awak Aceh!

Pulau kecil ini memiliki taman bawah laut yang menarik untuk diamati. Airnya yang bening memiliki visibilitas yang memungkinkan kita untuk snorkeling dan diving. Tutupan karang pada dasar lautnya juga terbilang luas dengan aneka ragam terumbu karang dan jenis ikan. Seorang penyelam yang tergabung dalam Pusong Dive Club (PDC)menyebutkan adanya populasi ikan Napoleon di perairan Pulau Gosong. Hal ini juga diamini oleh Rikar, delegasi Aceh untuk Kapal Pemuda Nusantara Sail Tomini 2015 ini sempat menemukan seekor Napoleon yang bermain-main di perairan dangkal ketika dia sedang snorkeling.

Pulau Gosong-2@citra rahman-hananan-com

Kekayaan hayati yang terkandung di perairan Pulau Gosong terus dijaga oleh para pencinta alam bawah laut seperti PDC ini. Mereka rutin setiap bulan melakukan pembersihan pada koral-koral dan penanaman kembali untuk menggantikan terumbu karang mati akibat arus panas yang disebabkan oleh global warming. Semoga ekosistem di Pulau Gosong tetap lestari dan bersih dari sampah-sampah.

Pantai pasir putih yang melingkari daratan, kilau riak ombak dari lautan yang bening bak kristal, dan keindahan ekosistem yang berjuang melawan pemanasan global adalah potensi wisata bahari yang selayaknya mendapat perhatian pihak-pihak terkait serta kepedulian bersama untuk terus menjaganya dari kerusakan dan eksploitasi yang berlebihan.

Mutiara Aceh Barat Daya ini akan bertahan selamanya. Atau bisa saja hancur dalam sekejap jika tak ada peraturan yang mengatur pemanfaatannya. Penangkapan ikan karang yang masif dan terus menerus, pemboman, buang jangkar sembarangan, meracun ikan, bahkan menginjak terumbu karang adalah kontribusi negatif pada kelangsungan ekosistem di Pulau Gosong.[]

Penulis adalah travel blogger. Pemangku blog www.hananan.com | Foto @Citra Rahman

[Foto]: Indahnya Pesona Pantai Lhok Keutapang

[Foto]: Indahnya Pesona Pantai Lhok Keutapang

JANTHO – Pantai Lhok Keutapang mungkin tidak terdengar asing lagi bagi para penikmat alam. Ya, pantai yang satu ini memang memiliki panorama yang sangat indah, tak heran banyak pendaki yang ingin mencicipi indahnya pantai Lhok Keutapang walau harus mendaki bukit yang terbilang terjal.

Pantai yang terletak di Aceh Besar ini memang sering menjadi destinasi para penikmat alam khususnya bagi para pendaki. Betapa tidak, untuk melihat indahnya pantai Lhok Keutapang Anda harus mendaki bukit yang dimulai dari Desa Ujong Panju Aceh Besar selama lebih dua setengah jam. Sementara letak Desa Ujong Pancu dari pusat kota Banda Aceh sekitar 20 menit jika menggunakan sepeda motor dengan laju kecepatan sedang.

Tentu saja sangat melelahkan dan menguras tenaga. Namun hal ini akan terbayar saat Anda tiba di lokasi. Hamparan pasir putih dan air laut yang jernih memang sangat indah dinikmati saat matahari terbit maupun saat matahari terbenam. Lebatnya pepohonan di sekitar menambah nilai eksotisme pantai ini. Saat malam tiba, Anda dapat menikmati taburan bintang yang sangat indah.

Berikut beberapa foto yang berhasil diabadikan oleh M Fajarli Iqbal, wartawan portalsatu.com, dan mungkin bisa menambah pilihan wisata akhir pekan Anda.[]

Lhok Keutapang1
Sunset di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang4
Pantai yang asri di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang5
Hamparan pasir putih di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang
Wisatawan lokal menikmati indahnya pantai di Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal
Lhok Keutapang3
Panorama daratan Aceh dari bukit menuju Lhok Keutapang. @M Fajarli Iqbal

 

Pulau Menawan Itu Bernama Pulo Aceh

Pulau Menawan Itu Bernama Pulo Aceh

ANDA sedang berada di Aceh Besar dan tak tahu harus berlibur kemana? Maka cobalah untuk datang ke lokasi ini. Ya, ke Pulo Aceh.

Pulo Aceh adalah sebuah  kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia. Pulo Aceh merupakan Daerah Administrasi Tingkat III yang terletak paling barat di Indonesia.

Daerah ini memiliki lokasi wisata yang masih ‘perawan’. Salah satu lokasi yang menawan adalah mercusuar.

Pulo Aceh juga  mempunyai beberapa beberapa mukim, yaitu Mukim Pulo Breueh Utara, Mukim Pulo Breueh Selatan, dan Mukim Pulau Nasi.

Mukim Pulo Breueh Selatan terdapat empat desa yaitu Desa Alue Raya, Lapeng, Meulingge, Rhinon. Dari empat desa tersebut yang paling banyak dikunjungi adalah Desa Meulingge, yang merupakan tujuan dari pengunjung.

Jika sudah berkunjung ke Pulo Aceh dan tidak mengunjungi mercusuar, maka wisata anda dianggap tidak sah, mengapa demikian? Ini karena ada beberapa peninggalan sejarah zaman Belanda. Salah satunya adalah Mercusuar Williams Torrent 1875, yang sampai dengan saat ini masih kokoh berdiri dan menjulang ke langit.

pulo aceh 3
Tempat menjadi saksi bisu superioritas perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda. Untuk ke Pulo Aceh atau ke Desa Meulingge bisa menggunakan jasa transportasi KM. Sultan Bahari atau KM. Jasa Bunda 01 melalui Pelabuhan Lampulo. Kalau menggunakan jasa KM. Sultan Bahari akan turun di Pelabuhan Lampuyang, yaitu kecatamatan atau ibu kotanya Pulo Aceh, dari sini membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan darat menuju ke Meulingge, karena letak dari Lampuyang itu sendiri di ujung kanan pulau, sedangkan Meulingge ujung paling kiri.

pulo aceh 4

Suasana disana sangat dekat dengan dengan pemukiman penduduk, orang-orang sekitar pulau tersebut juga sangat ramah-ramah. Mereka sangat mendukung bila ada warga luar yang mengunjungi lokasi ini, terutama bila para pemuda pemudi melakukan kegiatan yang bermanfaat. Mercusuar ini dijaga oleh beberapa pekerja yang sedang membuat jalan di dekat mercusuar. Medan perjalanan menuju mercusuar ini sangat menantang, harus menyiapkan fisik dan mental yang kuat.

“Kalau sudah pergi ke Pulo Aceh, dianggap tidak sah wisata bila belum naik ke mercusuar. Walaupun medan perjalanannya sangat menantang dan butuh fisik, mental yang kuat, tapi yang pastinya bisa kok,” ujar Muhammad Fajri, mahasiswa UIN Ar-Raniry, Tarbiyah Bahasa Inggris. [] (mal)

Laporan Maisarah Kim

 

Foto-foto Objek Wisata Krueng Simpo di Bireuen

Foto-foto Objek Wisata Krueng Simpo di Bireuen

BIREUEN – Krueng Simpo yang berada di Kecamatan Juli, Bireuen ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk singgah dan menikmati panorama di sekitarnya. Letaknya yang strategis sangat mudah diakses. (Baca: Krueng Simpo, Wisata Sungai yang Memukau di Bireuen)

Berikut sejumlah foto yang memperlihatkan suasana dan keceriaan pengunjung di Krueng Simpo yang diabadikan portalsatu.com Rabu, 22 Juli 2015:

krueng simpo-2 @fajar

krueng simpo-3 @fajar

krueng simpo-4 @fajar

krueng simpo-6 @fajar

krueng simpo-7 @fajar

Laporan M. Fajarli Iqbal di Bireuen

Krueng Simpo, Wisata Sungai yang Memukau di Bireuen

Krueng Simpo, Wisata Sungai yang Memukau di Bireuen

BIREUEN – Aceh sepertinya memang menjadi surga bagi para penjelajah dan pencari objek wisata. Tanah yang dijuluki Serambi Mekkah ini memiliki beragam objek wisata, baik yang sudah dikenal hingga ke mancanegara maupun yang sama sekali belum terekspos.

Salah satu objek wisata yang tak rugi untuk dikunjungi adalah Krueng Simpo yang terletak di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Krueng atau sungai ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk singgah dan menikmati panorama di sekitarnya.

Sungai jernih yang memiliki panorama indah ini memiliki jarak tempuh sekitar 20 menit dari Kota Bireuen jika menggunakan sepeda motor.

Amatan portalsatu.com kemarin, Rabu, 22 Juli 2015, walaupun masa libur Idul Fitri sudah habis, Krueng Simpo tetap ramai dikunjungi wisatawan. Mereka umumnya adalah para pemudik dan juga warga sekitar.

Kruang Simpo terletak persis di pinggir badan jalan Takengon – Bireun. Letaknya yang strategis sangat memudahkan wisatawan untuk mengaksesnya. Di sepanjang jalan terlihat gubuk-gubuk kecil berjajar. Gubuk beratapkan daun rumbia dan berlantai papan itu digunakan pengunjung sebagai tempat singgahan melepas lelah.

Krueng Simpo memang tidak terlalu luas, namun sungai yang dipenuhi bebatuan besar ditambah dengan arus sungai yang tidak deras membuat sungai ini menjadi istimewa. Belum lagi ditambah dengan pohon sawit yang tumbuh subur di sekelilingnya, yang membuat Krueng Simpo terlihat semakin menarik.

“Selain indah tempatnya juga enak, adem dan tenang,” tutur Muhammad, salah seorang pengunjung yang ditemui portalsatu.com di lokasi tersebut.[] (ihn)

Laporan M. Fajarli Iqbal di Bireuen

HPI Gelar Pelatihan Capacity Building untuk 40 Pemandu Wisata

HPI Gelar Pelatihan Capacity Building untuk 40 Pemandu Wisata

BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Kota Banda Aceh, menggelar capacity building untuk 40 anggota baru yang berbasis bahasa Inggris dan bahasa Arab di Sekretariat DPD HPI Aceh di Keutapang, Aceh Besar pada Selasa-Rabu, 9-10 Juni 2015.

Kegiatan tersebut didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh dan Banda Aceh. Program ini untuk mendukung Banda Aceh World Islamic Tourism yang telah dicanangkan beberapa waktu lalu.

Ketua panitia kegiatan, Safrizal, mengatakan para anggota HPI nantinya akan diberikan Kartu Tanda Agggota resmi yang digunakan selama bertugas di lapangan.

“Dan rencananya peserta ini akan diikutkan dalam pelatihan pemandu wisata berlisensi syari’ah yang akan diselenggarakan oleh Kkementrian Pariwisata,” katanya dalam siaran pers yang diterima portalsatu.com.[]

Delapan Destinasi Wisata Aceh yang Patut Dikunjungi

Delapan Destinasi Wisata Aceh yang Patut Dikunjungi

JAKARTA – Aceh merupakan provinsi paling barat di Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatra. Berbatasan langsung dengan Teluk Benggala, Samudra Hindia, dan Selat Malaka, Aceh terkenal dengan pesona baharinya.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Aceh, berikut rangkuman destinasi yang wajib Anda singgahi, seperti yang dikutip dari situs resmi pariwisata Indonesia, Wonderful Indonesia, Senin (8/6/2015).

1. Pulau Weh

Tidak hanya pengalaman bahari dengan terumbu karang yang indah, pulau kecil ini juga akan memberikan Anda pengalaman air terjun yang berada di dalam hutan. Menyelam tetap menjadi aktivitas paling menarik, misalnya di Taman Laut di Pulau Rubiah. Di sana Anda akan bertemu dengan hewan laut seperti pari manta, hiu, paus, lumba-lumba, dan penyu.

Di pulau ini Anda juga bisa menikmati Pantai Iboh dengan perairan yang dangkal, tenang, dan berair jernih. Selain itu, juga ada Pantai Gapang di Kota Sabang, ibu kota Pulau Weh, yang sangat terkenal di kalangan backpaker dunia.

Kemudian, ada juga Pantai Sumur Tiga. Pantai ini diberi nama Sumur Tiga karena memiliki tiga sumur air tawar yang terdapat di sepanjang pantainya. Pantai Sumur Tiga memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pantai Iboih atau pun Pantai Gapang. Pasir di Pantai Sumur Tiga lebih putih berkilau seperti kristal dan lembut meskipun airnya sedikit berombak.

Selain itu, di Pulau Weh juga terdapat Tugu Nol Kilometer RI yang merupakan sebuah penanda geografis yang unik di Indonesia. Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih.

2. Taman Nasional Gunung Leuseur

Petualangan di pelestarian alam seluas 1,09 juta hektare itu dapat Anda mulai melalui Bukit Lawang, Sumatra Utara. Hewan primata orang utan siap berinteraksi dengan Anda. TNGL memiliki puncak tertinggi 3.381 meter dan merupakan salah satu taman nasional terbesar dan paling beragam di Indonesia.

3. Masjid Agung Baiturrahman

Masjid megah tersebut pertama kali dibangun pada kepemimpinan Sultan Iskandar Muda 1621, terbuat dari kayu. Bangunan itu terletak di pusat kota Banda Aceh, ditandai oleh menara setinggi 35 meter, 7 kubah besar, dan 7 menara masjid. Pada saat tsunami menerjang Aceh 2004 lalu, masjid tersebut tetap kokoh dan menjadi tempat mengungsi ratusan orang.

4. Sungai Alas

Terletak di 165 km tenggara Takengon, Sungai Alas mengalir membelah Taman Nasional Gunung Leuser. Daerah ini sangat populer di kalangan muda dan petualang karena tikungan tajam dan arus yang menantang bagi para pengadu nyali khususnya untuk arung jeram. Selama pengarungan dari atas perahu, Anda akan melewati hutan tropis murni dengan beragam satwa liar.

5. Takengon

Takengon adalah ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Kawasan ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dan memiliki beragam tempat wisata indah di antaranya adalah Danau Laut Tawar, Puteri Pukes, dan Pantan Terong. Kota Takengon terletak berdekatan dengan Kabupaten Bener Meriah, dan sekitar 100 km dari Kota Bireun.

6. Museum Tsunami Aceh

Berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh, museum ini buka setiap hari (kecuali Jumat) pukul 10.00-12.00 dan 15.00-17.00. Bangunannya bergaya rumah panggung ini cukup unik karena apabila dipandang dari jarak jauh menyerupai kapal laut dengan cerobongnya. Arsitektur museum ini menggabungkan rumah Aceh bertipe panggung dengan konsep escape building hill berupa bukit untuk evakuasi bencana tsunami.

7. Benteng Indra Patra

Benteng yang terletak di Teluk Krueng Raya merupakan peninggalan kerajaan Hindu pertama di Aceh. Benteng tersebut merupakan bagian dari Trail Aceh lhee Sagoe jika disambung dengan Indrapuri dan Indrapurwa.

8. Tapaktuan

Tapaktuan adalah ibu kota dari Kabupaten Aceh Selatan. Berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut membuat kota tersebut beriklim tropis basah dengan keindahan alam, gugusan pantai berkarang, dan teluk yang mempesona. Wisata bahari dapat dilakukan di sini, seperti di Pantai Teluk Tapaktuan dan Pantau Labuhan Haji. Ada pula tujuan wisata menarik lainnya, yaitu Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ie Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.[] sumber: bisnis.com

Kapal Pariwisata Terbengkalai di Dermaga Takengon

Kapal Pariwisata Terbengkalai di Dermaga Takengon

TAKENGON – Kapal Pariwisata hibah dari Dishubkomintel Aceh kepada Pemerintah Aceh Tengah, telah dua tahun terpajang di Dermaga Kampung Boom, Kecamatan Laut Tawar. Kapal ini tak difungsikan sehingga terbengkalai.

Kepala Dishubkominfo Aceh Tengah, Syahrial Afri, mengatakan kapal itu karena kondisi mesinnya saat ini telah rusak. Disinggung mengenai perbaikan, ia mengaku biaya yang harus sikelaurkan cukup tinggi.

Disamping itu, kata Syahrial, mesin yang sekarang ini digunakan juga boros bahan bakar. Sehingga biaya pendapatan dan pengeluaran operasional kapal tidak sepadan.

“Pernah kami gunakan waktu penaburan benih ikan di danau sama Dandim tahun lalu. untuk bahan bakar menghabiskan dua drum minyak. Boros minyak mesin sekarang,” katanya kepada portalsatu.com, Sabtu 6 Juni 2015.

Syahrial mengaku, pihaknya sudah berencana untuk menggantikan mesin kapal tersebut ke mesin yang lebih ekonomis, sehingga dapat digunakan untuk peningkatan pendapatan asli daerah melalui angkutan penyeberangan sungai maupun pariwisata Danau Laut Tawar.

“Ini masih kita analisis berapa biaya dan potensi pengunjung Danau Laut Tawar,” ujar Syahrial.

Ia juga mengaku sejak beroperasinya kapal pariwisata itu juga ikut menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari segi transport pariwisata tersebut meski dalam jumlah kecil.

Syahrial bertekad untuk kembali mengaktifkan kapal untuk mengelilingi sungai itu meski pendapatan yang dihasilkan minim.

Katanya, tujuan lain dari beroperasinya kapal itu juga untuk jalan promosi Danau Laut Tawar kepada wisatwan.

“Ini malah yang jauh lebih penting, agar Takengon menjadi salah satu tujuan wisatawan. Dengan ini pula kita nilai salah satu potensi untuk menaikkan taraf pendapatan ekonomi masyarakat,” katanya. []

Ulee Kareng Ternyata Punya Pantai, Lho!

Ulee Kareng Ternyata Punya Pantai, Lho!

BIREUEN – Ulee Kareng merupakan salah satu kawasan yang sangat terkenal di Banda Aceh karena kopinya. Bagaimana jika Ulee Kareng ternyata juga memiliki pantai yang indah? Ya, tapi pantai yang ini berada di Ulee Kareng, Tambu, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen.
Pantai ini bisa menjadi pilihan bagi Anda yang sedang berkunjung ke Bireuen. Laut ini langsung menghubungkan dengan lautan Cina. Pantai ini masih alami dan umumnya hanya ada para nelayan saja di sini. Pemerintah setempat memang belum mempromosikan hingga pantai Ulee Kareng belum dikenal secara luas. Meski begitu sesekali ada juga pengunjung yang datang, mereka umumnya berasal dari Bireuen.
Ada beberapa titik pemandian yang diminati pengunjung yang memiliki keindahan bukit karang ini. Tapi sedikit yang tahu pantai ini menjadi lokasi yang strategis untuk melihat matahari tenggelam ketika senja. Pengunjung bisa sambil menyaksikan ‘atraksi’ tarik pukat para nelayan.
Desa Ulee Kareng ini juga dikenal sebagai daerah penghasil ikan teri. Sepanjang pantai terlihat gubuk-gubuk untuk menjemur ikan teri kering. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini memang berpencarian sebagai nelayan.
Panjang bibir pantainya diperkirakan mencapai dua kilometer. Berjarak sekitar tiga kilometer dari jalan Banda Aceh – Medan. Akses jalan sudah beraspal hotmix. Daerah ini juga memiliki banyak benteng peninggalan Jepang, sehingga juga cocok untuk wisata sejarah.
Di sini juga terdapat makam delapan pahlawan Aceh yang berhasil menghalau Belanda ketika menyerang daerah Samalanga. Ada 24 Belanda tewas kala itu. Dan di daerah ini pula terbunuh Jendral pertama Belanda yang masuk ke Aceh,  di daerah Blang Kuta, Mamplam.
Lautan Cina di Samalanga dikenal sebagai teempat mendaratnya banyak serdadu Belanda dan Jepang di masa silam. Pantai ini layak dikunjungi meski pemerintah setempat belum mempromosikannya sebagai aset wisata yang menjanjikan.[]
Lhok Mata Ie, Pantai Tersembunyi yang Menawan

Lhok Mata Ie, Pantai Tersembunyi yang Menawan

Pantai Lhok Mata Ie. Lokasinya tersembunyi di balik bukit. Secara geografis, Lhok Mata Ie  terletak di balik bukit Ujong Pancu Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar. Dari pusat Kota Banda Aceh, perjalanan dapat ditempuh selama 45 menit dengan sepeda motor atau satu jam dengan sepeda.

Pantai Lhok Mata Ie merupakan salah satu panorama di kawasan Aceh Besar yang begitu memanjakan mata.

Untuk menuju Pantai Lhok Mata Ie ini, dari Banda Aceh menuju Desa Lampageu melewati jalan Blangpadang-Ulhee Lheue, belok kiri menuju ke arah Peukan Bada, lalu belok kanan ke arah Ujong Pancu.

Lhok Mata Ie merupakan tempat yang asyik untuk bersantai, nyaman, dengan suasana yang alami. Di sini Anda dapat berenang, berkemah, dan melakukan perjalanan yang memacu adrenalin.

Di ujung jalan juga terdapat beberapa rumah warga yang di belakangnya terdapat kandang ayam potong. Di situ anda dapat memarkirkan kendaraan dengan hanya membayar lima ribu rupiah. Selanjutnya berjalan kaki menuju rute pantai tersembunyi di balik bukit Ujong Pancu. Ada pamflet kecil yang menegaskan bahwa perempuan dilarang pergi ke pantai tersebut, kecuali sudah mendapat izin dari geuchik atau kepala desa setempat.

Setiap harinya tempat ini selalu dikunjungi oleh wisatawan lokal. Bila akhir pekan, tempat ini dijadikan sebagai salah satu tempat untuk melakukan camping bersama sahabat. Hal ini bisa dilihat bila Anda datang ke tempat ini pada hari Minggu. Banyak tenda pengunjung yang menginap sejak hari sebelumnya.

Sampai di Lhok Mata Ie, akan terlihat pantai dengan garis pantainya yang relatif pendek tetapi tidak akan mengecewakan. Selain laut yang jenih, Lhok Mata Ie juga dihuni berbagai jenis ikan-ikan dan terumbu karang yang menawan.

Para pemancing akan sangat menikmati tempat ini yang merupakan salah satu hotspot para pemancing mania. Keindahan bawah lautnya juga sangat cantik seperti kanvas yang terpadu dalam berbagai gradasi warna eksostis menjadikan pantai ini salah satu tempat snorkeling yang patut dicoba.

Kelebihan terakhir dari pantai ini, bila berkemah pengunjung akan dimanjakan dengan panorama yang dihiasi dengan terbentangnya Pulau Bunta di hadapan kemah, Samudera Hindia, hamparan bintang-bintang di langit dan embusan angin sepoi-sepoi akan melengkapkan hari dan malam pendaki di pantai Lhok Mata Ie yang luar biasa.[]