Tag: tu sop

Foto: Wali Nanggroe Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunib

Foto: Wali Nanggroe Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunib

BIREUN – Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar beserta jajaran KPA/PA Pusat melayat ke rumah Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau dikenal Tu Sop Jeunieb, Pimpinan Dayah Al-Aziziyah, Bireuen, Kamis, 27 Agustus 2015. Tu Sop saat ini dalam kondisi berkabung setelah istrinya, Hj. Mardhiah binti M. Daud meninggal dunia sepekan yang lalu.

“Sangat merasakan duka juga atas musibah yang sedang Tu Sop hadapi sekarang ini. Sehingga dengan alakadar doa, tahlil, dan samadiah yang kita sumbangkan pada hari ini semoga menjadi amal tambahan bagi almarhumah,” ujar Wali Nanggroe Malik Mahmud.[] (Baca selengkapnya: Wali Nanggroe Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunib)

wn5 wn4 wn7 wn2 wn3 wn8 wn9 wn10 wn6

Wali Nanggroe Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunib

Wali Nanggroe Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunib

BIREUN – Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar beserta jajaran KPA/PA Pusat melayat ke rumah Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab atau dikenal Tusop Jeunieb, Pimpinan Dayah Al-Aziziyah, Bireuen, Kamis, 27 Agustus 2015. Tu Sop saat ini dalam kondisi berkabung setelah istrinya, Hj. Mardhiah binti M. Daud meninggal dunia sepekan yang lalu.

“Sangat merasakan duka juga atas musibah yang sedang Tu Sop hadapi sekarang ini. Sehingga dengan alakadar doa, tahlil, dan samadiah yang kita sumbangkan pada hari ini semoga menjadi amal tambahan bagi almarhumah,” ujar Wali Nanggroe Malik Mahmud.

Rombongan yang berangkat dari Banda Aceh tiba di tempat duka sekitar pukul 10.45 WIB. Ikut mendampingi Wali Nanggroe dalam layatan ini, Wakil Ketua KPA/DPA-PA Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, Juru Bicara DPA-PA Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, Katibul Wali Nanggroe Aceh Drs. Paradis, M.Si., dan segenap pengurus KPA/DPA-PA Pusat.

Di tempat duka, rombongan Wali Nanggroe disambut langsung oleh Tu Sop, Ketua KPA/DPW-PA Bireun Darwis Djeunieb, Bupati Bireun H. Ruslan, segenap SKPK Pemerintah Kabupaten Bireun, dan santri Dayah Al-Aziziyah.

Rombongan Wali Nanggroe juga mengagendakan berkunjung ke rumah duka ayahanda Ketua DPR Aceh Teungku Muharuddin di Aceh Utara.[](bna)

Mualem Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunieb

Mualem Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunieb

BANDA ACEH- Ketua Umum DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, melayat ke rumah Tu Sop Jeunieb, Minggu malam 23 Agustus 2015, pukul 19.25 WIB.

Mualem menyatakan turut berduka atas meninggalnya Hj. Mardhiyah binti Muhammad Daud, istri dari Teungku Muhammad Tusuf A. Wahab (Tu Sop), pimpinan Dayah Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen.

Kedatangan Mualem didampingi oleh Jubir PA Adi Laweung, Ketua Gerindra Aceh TA Khalid, Kadispora Aceh, anggota DPR Aceh dari Bireuen Zulfadhli, A.Md, Ibnu Sa’dan mantan kepala Kanwil Depag Aceh, Ketua PSSI Aceh Adly Tjalok, serta pengurus DPA Partai Aceh lainnya.

Di rumah Tu Sop, Mualem juga disambut oleh Teungku Darwis Jeunieb, serta pengurus DPW PA Bireuen dan pejabat kabupaten setempat lainnya.

“Mualem sangat berduka atas musibah yang menimpa Tu Sop. Dirinya menyampaikan langsung hal ini kepada Tu Sop,” kata Adi Laweung. [] (mal)

Dua Gubernur Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunieb

Dua Gubernur Melayat ke Rumah Tu Sop Jeunieb

JEUNIEB – Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardoyo, ikut berduka atas meninggalnya Hj. Mardhiyah binti Muhammad Daud, istri dari Teungku Muhammad Tusuf A. Wahab (Tu Sop), pimpinan Dayah Al-Aziziyah Jeunieb, Bireuen.

Zaini Abdullah dan Agus Martowardoyo ikut melayat ke rumah duka yang berada di komplek Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb.

Doto Zaini tiba di Jeunieb sekitar pukul 12.10 WIB, Sabtu, 23 Agusutus 2015. Kedatangan Gubernur Zaini secara mendadak, sangat mengharukan keluarga.

Tidak lama berselang, hadir Gubernur BI, Agus Martowardoyo, yang sejak kemarin melakukan kunjungan kerja ke lhokseumawe.

Kedua rombongan gubernur tersebut turut membaca Samadiah di rumah duka. Doto Zaini berpesan, agar keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan Allah SWT.

Teungku Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop) mengucapkan terimakasih atas silaturrahmi dan doa yang dipanjatkan oleh kedua rombongan tersebut.

“Almarhumah hanya membutuhkan ampunan dosa. Dengan doa kita bersama mudah-mudahan mendapat embun penyejuk dari Allah swt,” kata Tu Sop, dengan nada terbata-bata.

“Semuanya akan kembali kepada Allah, kami meyakini dibalik kehilangan Bunda (almh) ada berjuta hikmah dari Allah SWT,” katanya.

Turut menyertai Gubernur Zaini antara lain, Asisten Administrasi Umum Sekda Dr Muzakar A Gani, Kepala Bappeda Prof Abubakar Karim, Kaban PPD Bustami Usman, Karo Umum Setda Aceh T Aznal Zahri, Karo Humas Pemerintah Aceh MH Ali Alfata dan sejumlah pejabat Pemerintah Aceh.

Hj Mardiyah menghembuskan nafas yang terakhir pada Selasa, 18 Agustus 2015, sekitar pukul 10.00 waktu Malaysia. Jenazah diterbangkan  dari Malaysia dan tiba di Medan sekitar pukul 15.30 Wib. Dari Medan dipulangkan ke Jeunieb melalui Ambulance dan tiba sekitar pukul 2. 30 dini hari.

Almarhumah disemayamkan di komplek Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb pada, Kamis, 20 Agustus 2015. [] (mal)

Kisah Sayap-Sayap Patah Dua Tokoh Aceh

Kisah Sayap-Sayap Patah Dua Tokoh Aceh

KISAH cinta dua hati suami istri ibarat sepasang sayap. Jika salah satunya pergi, hidup ‘pun terasa patah. Begitulah kisah sayap-sayap patah dari dua sosok tokoh Aceh, Tengku Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tu Sop dan Sulaiman Abda yang kerap dipanggil Bang Leman.

Tu Sop adalah ulama yang memimpin dayah terkenal Babussalam Al Aziziyah. Bang Leman adalah politisi yang kini menjadi Wakil Ketua DPR Aceh. Meski mereka tokoh, keduanya tetap manusia biasa. Saat kehilangan orang yang dicintai, rasa duka tetap menggayut di jiwa.

Hari ini, Jumat, 21 Agustus 2015, keduanya saling meneteskan air mata. Tu Sop berkisah tentang almarhumah yang akrab disapa ‘Bunda’. Dan, Bang Leman menyimak dengan bersahaja. Sama, istri Bang Leman juga akrab disapa dengan panggilan ‘Bunda’.

Istri Tu Sop, Hj Mardhiah meninggal di Malaysia pada Selasa, 18 Agustus 2015. Sedangkan Hj Hausmini, istri Bang Leman, meninggal di Jakarta pada 25 Mei 2015. Bang Leman sesekali menyeka air mata ketika Tu Sop berkisah ulang dialog-dialog dengan almarhumah, atau kala Tu Sop berkisah membesarkan hati anak-anaknya. Tu Sop juga sesekali menyeka matanya dengan kain sal. Suaranya kerap bergetar saat berkisah.

“Saya harus tegar. Jika saya lemah bagaimana dengan anak-anak saya,” kisah Tu Sop kepada Bang Leman.

Tu Sop memang lebih kuat dan tegar. Kepahaman agama membimbingnya untuk tidak lemah. Semua yang hidup pasti akan mati. Sebagai ayah Tu Sop juga harus bisa membesarkan hati kelima “boh hate” yang ditinggal almarhumah Bunda Mardhiah, yaitu Muzammil, 17 tahun, Luthfiana, 15 tahun, Muhammad Kamal Fasya, 9 tahun, Suhaimi, 5 tahun, dan Syukriana, 1 bulan.

Aneuk-aneuk watee nyan meungumpoi lam kama. Hana meusikrek diteubit haba. Tapi mandum ro ie mata,” kenang Tu Sop, lalu menyeka air mata.

“Neuk, Bunda memang sudah pergi. Tapi Bunda akan tetap bersama kita bila kalian semua berdoa untuk Bunda, berbuat baiklah sebagaimana nasehat Bunda. Insya Allah, kita akan kembali bertemu Bunda,” kata Tu Sop mengenang saat membesarkan hati anak-anaknya.

Sedangkan Bang Leman, keempat anaknya sudah dewasa. Dengan bekal pendidikan agama, keempat anaknya bisa tegar.

“Malah saya kalah tegar dengan anak-anak,” kisah Bang Leman kepada Tu Sop.

Kepada Bang Leman Tu Sop juga berkisah tentang dialog-dialog dengan almarhumah yang sangat dikenangnya.

“Ayah, jika Bunda pergi duluan, itu lebih baik. Ayah jauh lebih siap. Ayah bisa memaafkan Bunda. Tapi jika Ayah yang pergi duluan, Bunda belum tentu sekuat Ayah,” kenang Tu Sop.

Kali ini, Bang Leman pula yang menyeka air matanya. Mungkin Bang Leman teringat juga dialog-dialog penuh kenangan dengan almarhumah Bunda Hausmini. Ada juga yang sangat diingat Tu Sop dari almarhumah. Saat itu Tu Sop membangun pemahaman tentang arti cinta karena Allah SWT dan bedanya cinta karena nafsu.

“Bunda mencintai ayah karena Allah. Apa yang menjadi kesenangan Ayah, itu juga yang Bunda senangi,” kenang Tu Sop kepada Sulaiman Abda.

Bang Leman yang terus menunjukkan dukungannya atas rasa kehilangan yang dialami Tu Sop sesekali menyatakan sangat bisa mengerti arti kehilangan.

Ya, lagee masen sira. Hanya yang sudah merasa, yang paling paham,” kata Tu Sop merespon sikap Bang Leman yang terus menyatakan bisa ikut merasakan kesedihan hatinya.

Bustami Usman, Kepala Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah Aceh, ikut menyimak, dan sesekali ikut membesarkan hati kedua tokoh yang sama-sama sedang kehilangan kekasih hati.

Cinta memang ibarat burung dengan dua kepak sayapnya, dan kala ada yang pergi, kehidupan terasa patah. Tapi, cinta adalah juga seperti karang di lautan. Sekuat apapun terjangan badai, hidup haruslah terus berjalan. Semua milik Allah, dan kepada-Nya lah semua kita akan kembali.[](bna)