Tag: tki

Jenazah Warga Aceh Timur Korban Kapal Karam Malaysia Akhirnya Dibawa Pulang

Jenazah Warga Aceh Timur Korban Kapal Karam Malaysia Akhirnya Dibawa Pulang

IDI RAYEUK- Muhammad Nandar, salah satu korban tewas dalam musibah kapal karam di Malaysia dibawa pulang dari Bandara SIM Blang Bintang ke Gampong Seuneubok Pangoe, Aceh Timur, Rabu, 7 Oktober 2015.

“Ya, Muhammad Nandar merupakan warga kita yang musibah dalam kejadian di perairan Malaysia. Untuk saat ini kami bersama warga sedang menunggu kedatangan jenazahnya. Diperkirakan jenazahnya sampai ke sini sekitar pukul 23.00 WIB,” ujar Geuchik Desa Seuneubok Pangoe, Teungku Idris, kepada portalsatu.com sekitar pukul 20.00 WIB tadi.

Sebelumnya diberitakan perahu yang dinaiki oleh WNI karam di Perairan Sabak Bernam, Selangor, Malaysia pada kedudukan 9 mil laut barat daya, Tanjung Sauh, pada Kamis, 3 September 2015.

Perahu itu dinaiki sekitar 70 orang pendatang ilegal asal Indonesia yang diduga berangkat dari Kuala Sungai Bernam menuju Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara.[](bna)

Video: Pemerintah Aceh Sambut 12 Warga Korban Kapal Karam di Bandara SIM

Video: Pemerintah Aceh Sambut 12 Warga Korban Kapal Karam di Bandara SIM

BANDA ACEH- Korban kapal karam yang selamat di Perairan Sabak Bernam Malaysia beberapa Minggu lalu dipulangkan Selasa, 22 September 2015, melalui Bandara SIM.

Korban selamat diantarkan oleh Perwakilan BNP2TKI Pusat dan diserahkan kepada Pemerintah Aceh yang akan diterima oleh Wakil Gubernur, Muzakir Manaf, Selasa, 22 September 2015.

“Dari Aceh korban yang selamat 13 orang, tetapi yang baru dibawa pulang 12 orang karena yang satu lagi ia mengetahui banyak proses kejadian kapal karam itu. Sekarang ia bersama cukong kapal dalam proses pengadilan di Malaysia, dia dimintai menjadi saksi,” kata Saifullah Abdul Gani, Humas Pemerintah Aceh saat di konfirmasi portalsatu.com.[]

12 Warga Aceh Korban Kapal Karam di Malaysia Masih Hilang

12 Warga Aceh Korban Kapal Karam di Malaysia Masih Hilang

KUALA LUMPUR – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, merilis 30 Warga Negara Indonesia yang masih dinyatakan hilang terkait musibah tenggelamnya kapal di perairan Sabak Bernam beberapa waktu lalu. Namun, pihak KBRI belum dapat mengumumkan nama-nama korban yang hilang tersebut karena masih mengumpulkan data akurat.

Hal tersebut diketahui saat wartawan portalsatu.com menyambangi Kedubes RI di Kuala Lumpur, Senin, 14 September 2015. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya diketahui adalah warga Aceh.

Hadir dalam kesempatan tersebut Tim Pemerintah Aceh dari Dinas Sosial Aceh untuk penanganan korban musibah kapal tenggelam M. Nasir dan perwakilan Humas Pemerintah Aceh, Riadi Husaini.

KBRI belum dapat menyimpulkan data pasti terkait warga Aceh yang masih hiliang di antara korban tersebut. “Mereka sedang print out data terbarunya,” kata Riadi Husaini dari Humas Aceh di KBRI.

Hingga berita ini diturunkan, pihak KBRI Kuala Lumpur telah memulangkan 56 korban ke daerah asalnya. Sebanyak 26 di antaranya adalah warga Aceh dan 13 lainnya berasal dari Medan, Sumatera Utara. Sementara korban dari Jawa Tengah, Lampung, Banten, dan Sumatera Barat masing-masing tercatat 1 orang.[](bna/*sar)

Satu Lagi Korban Kapal Tenggelam Asal Aceh Dipulangkan Hari Ini

Satu Lagi Korban Kapal Tenggelam Asal Aceh Dipulangkan Hari Ini

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh kembali memulangkan satu jenazah warga Aceh yang tenggelam di perairan Sabak Bernam, Malaysia, beberapa waktu lalu. Jenazah yang dipulangkan tersebut diketahui bernama Miswar, warga Desa Darul Aman, Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen, Sabtu, 12 September 2015.

Karo Humas Pemerintah Aceh, Saifullah Abdul Gani, mengatakan jenazah Miswar tiba di Aceh pukul 14.50 WIB melalui bandara Sultan Iskandar Muda. Dia mengatakan hampir seluruh jenazah warga Aceh, dari total keseluruhan 25 orang, telah dipulangkan ke Aceh.

Sementara satu jenazah lagi akan tiba besok atas nama Yunardi Ali asal Desa Gunong Rotan, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Sealatan.

“Besok malam pukul 20.35 WIB mendarat pesawat Garuda yang membawa korban tersebut,” kata Saifullah Abdul Gani.

Ia mengatakan Tim Pemerintah Aceh telah bekerjasama dengan Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk mempercepat proses identifikasi sisa korban dalam musibah tersebut.

Berdasarkan hasil rapat di Institut Perubatan Forensik Negara, Hospital Kuala Lumpur yang dihadiri oleh pihak Tim DVI Mabes Polri, Polisi Diraja Malaysia (PDRM), KBRI Kuala Lumpur, perwakilan Tim Pemerintah Aceh dan Hospital Kuala Lumpur, sepakat untuk mempercepat proses korban yang belum teridentifikasi termasuk dengan menggunakan tes DNA keluarga korban.

“Langkah yang akan diambil dalam rangka mempercepat proses identifikasi tersebut adalah dengan mengumpulkan sisa jenazah korban yang belum teridentifkasi di Hospital Kuala Lumpur dan mengumpulkan DNA keluarga korban di Indonesia,” katanya.

Meskipun begitu masih ada beberapa warga Aceh yang dilaporkan hilang dalam musibah ini. Data yang diterima oleh Posko Informasi di Media Center Biro Humas juga terdapat korban warga Aceh yang belum teridentifikasi.

Pantauan tim terakhir pada Jumat, 11 September 2015 pukul 17.00 WIB, masih terdapat sembilan jenazah yang belum teridentifikasi. Jenazah tersebut tersebar di beberapa titik, seperti di Hospital Kuala Lumpur sebanyak 4 jenazah (3 laki-laki, 1 perempuan), Hospital Raja Permaisuri Bainun atau Hospital Ipoh sebanyak 4 jenazah (1 laki-laki, 3 perempuan) dan Hospital Sabak Bernam (1 laki-laki).

“Untuk para keluarga dan ahli waris korban yang belum teridentifikasi, dinasihatkan untuk segera datang ke Posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Aceh di Rumah Sakit Bhayangkara Banda Aceh guna mempercepat proses identifikasi para korban,” ujarnya.[](bna)

Belasan Ribu TKI Dideportasi dari Malaysia, Termasuk Asal Aceh

Belasan Ribu TKI Dideportasi dari Malaysia, Termasuk Asal Aceh

JOHOR BAHRU – Ratusan warga negara Indonesia pendatang ilegal yang ditangkap pemerintah Malaysia dalam beberapa waktu terakhir dideportasi secara bertahap. Pada Rabu dan Kamis lalu, telah dideportasi dari Johor Bahru ke Tanjung Pinang sebanyak 433 orang, terdiri atas 306 laki-laki, 122 perempuan, dan 5 anak-anak.

“Hingga 10 September 2015, jumlah WNI yang dideportasi mencapai 14.165 orang, 256 di antaranya anak-anak,” kata Konsul Jenderal RI Johor Bahru Taufiqur Rijal lewat pesan pendek kepada Tempo, Jumat, 11 September 2015.

Menurut Taufiq, jumlah WNI yang menjadi pendatang ilegal di Malaysia sangat banyak. Belasan ribu pendatang ilegal tersebut terutama berasal dari Jawa Timur, Aceh, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah. Menurut Taufiq, mereka rata-rata tidak punya dokumen dan masuk ke Malaysia tanpa paspor melalui jalur ilegal. Selain itu, ada pula yang memiliki dokumen tapi tidak memiliki izin kerja.

“Ada yang masuk ke Malaysia dengan izin tinggal 30 hari tapi terus bekerja melebihi waktu 30 hari, dan tetap bekerja tanpa izin kerja. Ada juga yang punya paspor dan izin kerja tapi pindah kerja ke tempat lain tanpa izin kerja di tempat baru,” ujar Taufiq.

Mereka yang dideportasi tidak boleh kembali ke Malaysia selama lima tahun. Belasan ribu WNI itu tertangkap pihak keamanan melalui proses pemeriksaan selama 14 hari, lalu dihadapkan ke pengadilan dan menerima vonis.

Para pendatang ilegal di Malaysia yang tertangkap baru diizinkan pulang atau dideportasi jika telah menjalani dua pertiga masa hukuman penjara. Tidak seperti orang dewasa, anak-anak tidak dipenjara, juga wanita hamil, orang tua di atas 50 tahun, dan mereka yang sakit. | sumber: tempo.co

Foto: Para Tenaga Kerja Indonesia yang bermasalah tiba di TKI Lounge, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 19 Januari 2015. Sebanyak 481 TKI bermasalah dipulangkan oleh pemerintah Indonesia dari Arab Saudi. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

Antara Aceh dan Malaya

Antara Aceh dan Malaya

KONON katanya hubungan Aceh dengan Malaysia sudah berlangsung sejak era kesultanan masa lalu. Akibatnya banyak orang-orang Aceh yang kemudian menjadi warga Malaysia, menikah dengan orang Malaysia, dan bahkan mencari penghasilan layak di negeri jiran. Sehingga pada waktu tertentu para perantau itu pulang ke tanoh indatunya, baik secara legal maupun ilegal. Begitu juga sebaliknya. Ada warga Aceh yang datang ke Malaysia (Aceh: Malaya) melalui jalur sah atau secara sembunyi-sembunyi.

Banyak orang Aceh yang kemudian berhasil di tanah perantauan, Malaysia. Sebut saja di antaranya adalah P Ramlee, yang kemudian menjadi seniman terkenal di negara tersebut. Ada juga beberapa orang Aceh yang kemudian menjadi negarawan terkenal di tanah Melayu itu. Hal inilah yang kemudian diduga menjadi salah satu faktor bagi orang-orang Aceh datang ke sana.

Selain itu, faktor konflik yang melanda daerah ini beberapa waktu lalu juga turut menjadi pemicu warga Aceh hijrah ke Malaya. Saat itu bahkan ada beberapa kombatan yang juga berlayar ke negeri tetangga ini. Tentu saja mereka hijrah dengan memanfaatkan jalur belakang alias ilegal. Pasalnya saat itu tidak mungkin orang-orang yang sudah diburu oleh negara ini melalui bea cukai atau mengurus paspor bahkan visa untuk masuk Malaysia.

Setelah damai, masih banyak orang Aceh yang betah di Malaysia. Alasannya beragam. Namun dari sekian banyak alasan tersebut, faktor ekonomi ‘lah yang menjadi pemicu utama bagi orang-orang Aceh datang ke Malaysia.

Anehnya pekerjaan yang dilakukan selama di sana tidak jauh berbeda dengan di Aceh. Meskipun upahnya jelas jauh berbeda dengan Indonesia karena mata uang ringgit jauh lebih besar nilainya dibandingkan rupiah. Sebut saja di antara pekerjaan tersebut seperti kuli bangunan, pembantu rumah tangga dan pedagang.

Pun begitu, orang-orang Aceh tetap nekat pergi ke Malaysia. Jika tidak bisa menempuh jalur resmi maka memanfaatkan agen ilegal adalah pilihan. Dan moda transportasi yang dipakai biasanya adalah perahu, boat atau kapal nelayan. Tentu saja pilihan yang terakhir ini tidak memiliki standar keselamatan untuk para penumpang.

Mereka nekat mengarungi Selat Malaka hanya untuk bisa merasakan hidup di Malaya. Padahal bahaya kerap mengintai selama mereka berada di perairan. Teranyar adalah tenggelamnya kapal tongkang yang mengangkut puluhan WNI di perairan Sabak Bernam, Malaysia. Musibah ini membuat puluhan nyawa hilang termasuk warga Aceh.

Kejadian serupa juga pernah berlaku pada beberapa waktu lalu di masa kepemimpinan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf. Dalam musibah serupa, orang-orang Aceh juga turut menjadi korban. Sayangnya hal ini tidak menjadi pengalaman atau pelajaran bagi kita.

Kita tetap ngotot jak u Malaya. Angin surga yang menyebutkan hidup disana lebih baik di Aceh, memang terkadang sangat menggiurkan. Namun apakah itu benar adanya?

Kita mengapresiasi sikap pemerintah yang bersedia menggelontorkan sejumlah dana untuk membawa orang-orang Aceh kembali ke kampung kelahirannya usai kejadian tersebut. Kita juga bersyukur pemerintah mau menyingsingkan lengan untuk membantu memulangkan korban yang tewas, termasuk menyediakan asuransi untuk para korban ini. Kita mengapresiasi sikap tanggap bencana pemerintah yang meski terkadang telat terjaga itu. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana agar orang-orang Aceh bisa hidup dan mencari makan bahkan menjadi tuan di rumahnya sendiri? Bukan malah menjadi ‘babu’ di negara orang.

Hal ini adalah salah satu solusi yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Aceh di masa mendatang. Pasalnya jika tidak dicari solusi bagaimana agar perekonomian Aceh membaik, maka ditakutkan kejadian seperti Sabak Bernam akan kembali terulang di masa depan. Tentu saja kita sangat berharap musibah seperti itu tidak lagi menimpa orang-orang Aceh.

Kita berharap hubungan Aceh dengan Malaya tidak sebatas evakuasi korban kapal tenggelam di masa mendatang. Harus ada yang lebih daripada itu. Termasuk di antaranya mengundang toke-toke Aceh yang ada di Malaya untuk membuka lapangan kerja di daerah asalnya. Atau mengundang orang-orang Melayu untuk berinvestasi di Bumi Iskandar Muda. Dan ini tentu saja membutuhkan kerja keras kita semua. []

Begini Suasana Pemakaman Jenazah Shakila

Begini Suasana Pemakaman Jenazah Shakila

LHOKSEUMAWE – Pemakaman jenazah Shakila binti Zulfikar, korban kapal karam di perairan Sabah Bernam, Malaysia, berlangsung dalam keadaan hujan. Bocah berusia 2 tahun ini dimakamkan di kampung halaman orangtuanya, di Gampong Teungoh, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Rabu, 9 September 2015.

Warga berbondong-bondong menghadir pemakaman yang berlangsung sekitar pukul 08.30 WIB tadi. Meski kondisi hujan, mereka sama sekali tidak meninggalkan prosesi pemakaman hingga selesai.

Salah satu warga Gampong Teungoh, Muhammad Saleh, mengaku sedih dengan meninggalnya Zulfikar dan Shakila dalam musibah kapal tenggelam tersebut. Padahal almarhum berniat hendak lebaran di kampung halamannya seraya memperkenalkan Shakila kepada keluarga besar. Namun yang terjadi malah Shakila dan Zulfikar tewas dalam musibah di perairan Sabak Bernam.

Saleh berharap agar keluarga yang ditinggalkan selalu tabah dan berbesar diri atas kejadian tersebut. Dia juga meminta agar Pemerintah Aceh berupaya semaksimal mungkin memberikan informasi dan penanganan terhadap korban meninggal maupun masih hidup, agar bisa dibawa pulang langsung ke Aceh untuk kembali ke keluarganya.[](bna)

Pemerintah Aceh Minta Malaysia Tidak Menghukum Korban yang Selamat

Pemerintah Aceh Minta Malaysia Tidak Menghukum Korban yang Selamat

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh berjanji akan menanggung semua biaya administrasi pemulangan korban selamat dan meninggal dari musibah kapal karam di Malaysia. Hal itu dikatakan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, melalui Sekda Aceh, Dermawan, di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) saat menyambut korban kapal karam tersebut, Selasa, 8 September 2015 malam.

“Bagi keluarga korban yang belum menemukan keluarganya harap segera melapor ke Humas Aceh dan biaya pemulangan jenazah dan korban selamat semua ditanggung pemerintah Aceh,” kata Sekda membaca pidato Gubernur Aceh.

Sampai sekarang masih ada 33 jenazah yang belum teridentifikasi dan masih dalam penyelidikan pemerintah Malaysia. Pemerintah Aceh juga mengharapkan pihak jiran tidak memberikan sanksi hukum bagi warga Aceh yang selamat.

“Atas nama kemanusiaan kita minta pemerintah Malaysia untuk tidak menghukum korban selamat dari kapal karam tersebut,” katanya.

Penyebab tenggelamnya kapal tersebut sampai sekarang masih menjadi misteri. Kasus itu pun masih diselidiki oleh pemerintah Malaysia. Ditemui terpisah, pihak Humas Aceh, Saifullah Abdulgani, mengatakan musibah tersebut bisa saja terjadi karena kapal yang dinaiki kelebihan muatan.

“Penyebab pastinya kita belum tahu tapi ada kemungkinan kapal yang dinaiki kelebihan muatan dan ombak saat itu pun sangat tinggi,” kata Saifullah saat ditemui portalsatu.com di kantornya.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Keluarga Tunggu Kedatangan Jenazah Korban Kapal Tenggelam di Malaysia

Keluarga Tunggu Kedatangan Jenazah Korban Kapal Tenggelam di Malaysia

LHOKSUKON – Asmi, warga Desa Drien Puntong, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, mengaku belum menerima informasi secara jelas terkait pemulangan jenazah Juharen dari Malaysia. Juharen binti Kamaruddin, 50 tahun, adalah salah satu penumpang kapal karam perairan Sabak Bernam, Malaysia.

Asmi mengaku hingga kini, Selasa, 8 September 2015, belum mengetahui keberadaan jenazah kakaknya tersebut. Kerabatnya yang ada di Malaysia juga belum mengetahui dimana keberadaan Juharen.

Asmi berharap kepada Pemerintah Aceh agar terus berupaya memberikan informasi terbaru terkait seluruh korban kapal karam tersebut dan proses pemulangannya juga.

Ditemui secara terpisah, Azhar warga Gampong Tengoh, Aceh Utara, mengaku sedang menunggu jenazah keluarganya yang dipulangkan hari ini via Bandara Sultan Iskandar Muda. Keluarga Azhar yang menjadi korban kapal nahas itu adalah abang kandungnya, Zulfikar bin Rasyadan, dan Shakila, 2 tahun.

“Informasi yang kami terima, jenazah tiba di Banda Aceh sekitar pukul 15.00 WIB sore nanti. Namun ini belum jelas. Kami sudah mendapat kabar bahwa ayah kandung Shakila (Zulfikar bin Rasyadan) juga ditemukan meninggal namun pemulangannya sedang diproses,” kata Azhar.[](bna)

Warga Aceh Korban Kapal Tenggelam Dibawa Pulang Hari Ini

Warga Aceh Korban Kapal Tenggelam Dibawa Pulang Hari Ini

BANDA ACEH – Sebanyak enam warga Aceh yang menjadi korban kapal tenggelam di Bernam Selangor, Malaysia, akan dipulangkan ke Aceh, Selasa, 8 September 2015. Kepastian pemulangan jenazah ke enam korban disampaikan oleh Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Drs Ali Alfata seperti dilansir beritasatu.com, pagi ini.

“Berdasarkan laporan dari tim pemerintah Aceh yang sengaja ditugaskan oleh Gubernur dr. Zaini Abdullah yang terdiri dari kepala Dinas Sosial Al-Khudri, Kepala BPBA Said Rasul serta perwakilan humas yang mendata korban di sejumlah RS tempat korban ditempatkan. Enam korban ini akan dipulangkan ke Aceh pada hari ini,” kata Ali.

Pemulangan jenazah korban telah disetujui oleh pemerintah Malaysia dan Wakil Duta Besar RI di Malaysia, Hermono serta Koordinator Urusan Konsuler KBRI Kuala Lumpur, Dino Nurwahyudi. Dalam pembicaraan dengan petinggi kedutaan Gubernur Aceh akan memfasilitasi dan menanggung seluruh biaya pemulangan jenazah-jenazah yang berasal dari Aceh sampai ke rumah duka secepatnya setelah proses identifikasi selesai.

Untuk sementara ini, enam orang jenazah asal Aceh telah teridentifikasi dan akan dipulangkan pada Selasa (8/9) dan dibawa oleh tim Pemerintah Aceh. Para korban yang telah terindetifikasi adalah:
1. Syakila binti Zulfikar asal Lhokseumawe
2. Nurlaila binti Abdul Wahab asal Aceh Besar
3. M. Rizal bin M. Nur asal Gampong Labu Kecamatan Peusangan Selatan Bireuen
4. Zuraida binti Abdurrahman asal Gampong Labu Kecamatan Peusangan Selatan Bireuen
5. Mawardi Anwar asal Jeulanga Barat, Ulee Gle, Pidie Jaya
6. Azhar bin Yusuf asal Bireuen

Untuk pemulangan ke enam jenazah tersebut, tim Pemerintah Aceh telah mempersiapkan enam buah ambulans di Bandara Sultan Iskandar Muda. Semua jenazah akan dipulangkan dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan rute Kuala Lumpur- Jakarta-Banda Aceh, dan diprediksi akan tiba di Banda Aceh sekitar sore harinya. Sementara untuk korban yang selamat asal Aceh untuk sementara ini masih ditempatkan di Kantor APMM Port Klang akan diajukan proses pengampunan yang difasilitasi oleh KBRI Kuala Lumpur dan Tim Pemerintah Aceh.[] sumber: beritasatu.com