Tag: the leader

Ayo Berbagi Inspirasi dan Kegiatan Sosial di @tulongaceh

Ayo Berbagi Inspirasi dan Kegiatan Sosial di @tulongaceh

PERKEMBANGAN kualitas kehidupan di Aceh yang belum merata dan kurangnya minat pemuda untuk melakukan kegiatan sosial, melahirkan inisiatif pembentukan Tulong Aceh. Tulong Aceh dibentuk untuk mewujudkan youth collaboration antar pemuda Aceh dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Aceh yang berbasis di media sosial.

Program ini dibentuk oleh mahasiswa Jurusan Pertambangan Fakultas Teknik Unsyiah, Nasrullah Andista, pada akhir April 2015 lalu. Tulong Aceh dikelola bersama oleh The Leader, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengembangan pemuda yang berbasis di Banda Aceh.

“Selain mewujudkan youth Collaboration, program ini juga bertujuan untuk menjadi wadah bagi para pekerja sosial, membentuk suatu gerakan relawan, pemetaan masalah yang terjadi di Aceh, serta pemetaan solusi apa saja yang telah dilakukan oleh pemuda dan pemudi untuk Aceh. Ruang lingkupnya adalah seluruh daerah, dan penduduk Aceh,” ujar pria yang akrab disapa Dista itu kepada portalsatu.com pekan lalu.

Lewat program ini seluruh individu atau organisasi bisa berpartisipasi dengan cara saling berdiskusi, memberi komentar di setiap foto maupun video, dan menyebarkan berbagai informasi dan edukasi di media sosial dengan tanda pagar khusus #tulongaceh dan #salamsidikjari. Lewat program ini masyarakat juga bisa merekomendasikan tokoh pekerja sosial untuk diangkat perjalanan hidupnya yang bisa dijadikan contoh. Selain itu, tim Tulong Aceh bisa juga diajak untuk berbagai kerjasama dalam kegiatan sosial dan sebagai media partner.

Beberapa bentuk kegiatan yang akan dilakukan dalam program ini adalah challenge mingguan, edukasi bertema, membuka donasi, memperkenalkan tokoh, post and repost foto yang diunggah sesuai dengan tema Tulong Aceh, dan banyak lagi kegiatan menarik yang akan dilakukan Tulong Aceh.

“Sejak kemunculannya, Alhamdulillah media ini diterima dengan baik di kalangan masyarakat. Besar harapan saya dengan adanya media Tulong Aceh ini dapat menjadikan kegiatan sosial menjadi hal yang menarik dan menjadi trend di kalangan pemuda-pemudi Aceh. Dengan banyak membuat kegiatan sosial, tentu akan ada lebih banyak orang yang peduli dan ada lebih banyak lagi daerah yang dapat dibantu tanpa harus menunggu inisiatif pemerintah. Sesuai dengan semboyan Tulong Aceh yaitu, melihat Aceh menjadi lebih baik bukan lagi mimpi kalau kita mau bersinergi,” kata Dista yang juga admin untuk Tulong Aceh.

Saat ini, media Tulong Aceh aktif di Instagram, Fanpage Facebook, dan Twitter. Rencananya Tulong Aceh juga akan membentuk tim dan membuka volunteering untuk dapat ikut serta dalam pengelolaan website, dan media sosial lainnya. Sistem volunteering ini juga berguna untuk dapat menjangkau seluruh wilayah Aceh sehingga akan ada lebih banyak orang dan daerah yang dapat dijangkau.

Program tahunan The Leader yaitu Aceh Luar Biasa akan menjadi puncak dari program Tulong Aceh ini. Yaitu saat di mana seluruh masyarakat Aceh di undang untuk hadir menyaksikan para tokoh dan lembaga inspiratif yang diundang untuk menyampaikan beberapa materi dan kisahnya mengenai program dan bidang yang digelutinya selama ini.

“Hal ini diharapkan dapat memacu semangat dan memotivasi seluruh masyarakat khusunya pemuda-pemudi Aceh untuk terus berkembang dan mampu memperbaiki Aceh menjadi lebih baik lagi,” kata Dista.

Ingin berbagi inspirasi dan kegiatan sosialmu di Tulong Aceh? Berbagi di akun official Tulong Aceh di Facebook www.facebook.com/tulongaceh, fanpage         www.facebook.com/pagetulongaceh, Instagram @tulongaceh, Twitter @tulongaceh.[] (ihn)

Mahasiswa FE Unsyiah Juara National Paper Competition Everest

Mahasiswa FE Unsyiah Juara National Paper Competition Everest

BANDA ACEH – Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Ichwan, berhasil keluar sebagai juara tiga dalam National Paper Competition yang menjadi rangkaian dari Event of Young Researcher and Economic Student (EVEREST) 2015 yang dibuat di kampus Universitas Sumatera Utara pada 8 – 10 Mei 2015 lalu.

Kompetisi ini diawali dengan proses seleksi 80 berkas paper yang berasal dari seluruh universitas di Indonesia. Ichwan berhasil masuk 15 besar finalis yang terdiri dari berbagai kampus top di Indonesia seperti UI, ITB, UGM dan Brawijaya. Para finalis kemudian mempresentasikan papernya di hadapan dewan juri.

EVEREST 2015 mengangkat tema “Membangun Perekonomian Indonesia yang Progresif Melalui Jendela Peluang Bonus Demografi”. Selama tiga hari tersebut kata Ichwan, para peserta mengikuti sejumlah kegiatan seperti presentasi paper, seminar nasional dan diakhiri dengan city tour keliling Kota Medan dan Brastagi.

“Pada kegiatan ini peserta dituntut untuk dapat melahirkan ide – ide dan solusi yang dapat membantu Indonesia dalam menyelesaikan masalah kependudukan dan menjadikan bonus demografi sebagai keuntungan bagi Indonesia,” kata Ichwan yang juga Duta Bahasa Provinsi Aceh ini, dalam surat elektronik yang diterima portalsatu.com.

Ia berharap kegiatan yang ia ikuti dan kemenangannya dalam kompetisi ini bisa menjadi inspirasi mahasiswa Aceh lainnya.

“Terus berkarya dan melahirkan solusi – solusi kreatif dalam menghadapi permasalahan yang Indonesia dan Aceh hadapi,” kata Ichwan yang saat ini aktif di organisasi kepemudaan The Leader dan Ikatan Mahasiswa Banda Aceh.[] (ihn)

Mengintip serunya Social Enterprise Diageo – British Council Challenge

Mengintip serunya Social Enterprise Diageo – British Council Challenge

SUATU kebanggaan tersendiri bagi The Leader yang saya wakili terpilih menjadi salah satu peserta dari program British Council Social Enterprise Challenge 2015. Dari 180-an peserta yang mendaftar, terpilihlah 44 peserta yang selanjutnya mengikuti program lokakarya dan penjurian selama empat hari di Bandung. Acara dimulai dari tanggal 27 April hingga 1 Mei 2015.

Acara lokakarya yang diadakan di sebuah hotel berbintang empat di Bandung ini dibuat sangat menarik, jadi para peserta diberikan kesempatan belajar langsung dengan para ahli social enterprise yang sudah sukses di usahanya.

Baik yang berada di Bandung, ada juga yang diterbangkan langsung dari Bali, sebut saja Kang Zaini Alief dari Komunitas Hong, Pakar Permainan Anak Indonesia yang juga pemenang British Council Challenge 2010, Mas Yudhi Soerjoatmodjo, Produser Akhir Pekan @Museum Nasional, ada Mbak Nancy Margried dari Batik Faktal, Pak Suwar dari Yayasan Wisnu, Bali.

Dan kami para peserta ditantang untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di Museum Subak Bali dan Selasar Sunaryo, Bandung. Belum lagi 44 peserta yang hebat-hebat, mulai dari Aceh hingga NTT.

Ada banyak cerita yang bisa dibagikan satu sama lain, jadi kami belajar bersama untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, baik di dalam usahanya maupun permasalahan yang kami hadapi di dalam masyarakat termasuk bagaimana caranya untuk berkerjasama dengan pemerintahan.

Menghadiri acara Social Enterprise Diageo – British Council Challenge membuat kami yakin dan tambah semangat, ternyata masih banyak orang baik di Indonesia dan kami tidak sendirian untuk melancarkan misi kami ke depan.

Dari 44 peserta akhirnya dipilih 11 peserta untuk mengikuti tahap Due Dilligent yang nantinya akan disurvey lapangan oleh pihak British Council. Diantaranya yang lolos, Denpasar Film Festival, Toraja Melo, Wanderlust, Friend of National Park, Bandung Creative City Forum, Wayang Beber, Pustaka C20, Aikon, dan Ruang Rupa.

Walaupun kami tidak terpilih sebagai usaha yang lolos untuk tahap Due Dilligent, tetapi ternyata The Leader ada posisi tersendiri di mata para juri, mereka mengatakan kalau mereka tahu bagaimana sulitnya kegiatan yang sedang kami rintis ini di Aceh dan mereka berjanji untuk terus memberi dukungan terhadap semua kegiatan yang kami kerjakan selanjutnya.[]

Hijrah Saputra adalah pendiri The Leader, berasal dari Sabang dan owner Piyoh Design.

Mifta Sugesty: Senang Berbagi dengan Teman Senasib

Mifta Sugesty: Senang Berbagi dengan Teman Senasib

KETERTARIKANNYA pada dunia pendidikan membuat Mita, panggilan lekat Mifta Sugesty, enjoy menjadi salah satu juru mudi The Leader.

Melalui Dream Maker, Mita seolah punya kesempatan untuk ‘melampiaskan’ semua hal yang tak diperolehnya di pendidikan formal. Ia tak ingin anak-anak Aceh merasakan apa yang dulu pernah ia rasakan.

“Mita suka belajar, tapi nggak puas dengan keadaan di sekolah, dan merasa sekolah nggak mengerti keinginan Mita,” ujar gadis berkacamata ini saat berbincang di Craving Light, Batoh, Banda Aceh.

Gadis yang baru saja meraih gelar Sarjana Psikologi dari Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala itu sejak SMP suka membaca serial Totto Chan dan Paulo Freire. Waktu SMA, ia membaca buku Sekolah Itu Candu yang ditulis Roem Topatimasang. Perlahan, tapi pasti jiwa kritisnya pun terus terasah. Banyak hal yang menjadi pertanyaan dalam dirinya, tetapi tak ia temukan jawaban sesuai dengan yang diharapkan. “Rasanya kok ingin melakukan sesuatu, tapi nggak tahu apa,” kara relawan Bina Antarbudaya Indonesia ini lagi.

Akumulasi dari semua ketidakpuasan itu akhirnya melahirkan sebuah aksi. Saat SMA, bersama beberapa temannya, gadis kelahiran 22 Mei 1991 itu mengkritisi…(Baca selengkapnya di Majalah ATRA Edisi Perdana April 2015)

Demi Negeri Pala

Demi Negeri Pala

CITA-citanya dulu ingin menjadi ahli teknik perkapalan. Namun, pendiri The Leader ini malah menjadi seorang dokter dan berkutat dengan obat-obatan dan jarum suntik.

Ia memang pernah mengidam-idamkan dunia teknik yang keras, tapi bukan yang jurusannya sudah ada di perguruan tinggi di Aceh. Makanya, ia menjatuhkan pilihan pada Teknik Perkapalan yang hanya ada di Semarang, Jawa Tengah, atau Surabaya, Jawa Timur. “Kalau yang ada di sini sudah ramai sekali sumber daya manusianya,” kata dokter kelahiran 1988 ini.

Keinginan untuk menempuh pendidikan di luar daerah itu pun terpaksa dibiarkan berlalu begitu saja. Pasalnya, ayah dan ibunya tidak mengizinkan ia kuliah terlalu jauh di luar Aceh. Yadi pun akhirnya memantapkan hati untuk kuliah di Banda Aceh.

Sayangnya, jurusan yang dipilihnya sangat bertolak belakang dengan keinginannya semula. Ia lulus di Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Universitas atau USMU… (Baca selengkapnya di Majalah ATRA Edisi Perdana)

Wakili The Leader, Hijrah Saputra Lolos Program British Council

Wakili The Leader, Hijrah Saputra Lolos Program British Council

BANDA ACEH – Pengusaha muda Aceh Hijrah Saputra kembali menorehkan prestasi. Mewakili organisasi The Leader, Hijrah terpilih untuk mengikuti lokakarya Diego-British Council Social Enterprise Challenge for Arts, Creative and Tourism Organisation 2015.

Dengan begitu Hijrah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lokakarya Kewirausahaan Sosial dan mengikuti seleksi tahap berikutnya pada 26 April – 1 Mei 2015 mendatang di Bandung. Jika lolos seleksi tahap berikutnya otomatis mendapat kesempatan ke Inggris.

“Saya mendaftar mewakili The Leader, sedangkan program yang didaftarkan adalah Kelas Kreatif dan Liburan Produktif,” kata owner Piyoh Design ini kepada portasatu.com hari ini, Rabu, 15 April 2015.

Ada 44 organisasi di seluruh Indonesia yang lolos dalam program Diego-BC 2015 ini. The Leader merupakan satu-satunya organisasi yang berasal dari Provinsi Aceh. Hijrah merupakan salah satu pendiri organisasi yang terbentuk pada akhir 2012 lalu. Organisasi ini memiliki sejumlah program di antaranya Liburan Produktif, Kelas Kreatif, Dream Maker dan Ngobrol Inspiratif.

Pada 2014 lalu, Dream Maker mendapatkan penghargaan bidang pendidikan dari Millenium Development Goals (MDGs). Program ini juga lolos dalam program Jalan Pemimpin yang dibuat oleh Nutrifood Indonesia, Tempo dan GE.

Hijrah sendiri belum lama ini baru dinobatkan sebagai Marketer of the Year untuk kategori Ekonomi Kreatif. Usahanya di bawah bendera Piyoh Design dinilai memberikan kontribusi positif dalam masyarakat.

Di sela-sela mengembangkan bisnisnya ia juga membentuk Rumah Kreatif untuk menyebarkan semangat kreativitas bagi generasi muda di kota kelahirannya Sabang.

“Doain ya bisa lolos ke UK,” kata pria yang akrab disapa Heiji itu.[] (ihn)

Mahasiswa Unsyiah Kembali Wakili Aceh di Ajang United for Peace

Mahasiswa Unsyiah Kembali Wakili Aceh di Ajang United for Peace

BANDA ACEH – Untuk yang ketiga kalinya mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Syiah Kuala, Ramadhan, mewakili Aceh dalam kegiatan kepemudaan nasional Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSALI) United for Peace. Untuk tahun ini, event tersebut kembali digelar di Jakarta pada 6-9 Mei 2015 mendatang. Sebelumnya mahasiswa yang akrab disapa Roma ini berturut-turut menjadi peserta mewakili Aceh pada tahun 2013 dan 2014.

Hal ini menjadi kebanggan sendiri bagi anggota organisasi The Leader ini. Lewat ajang ini ia memiliki kesempatan besar untuk mempromosikan proses perdamaian dan toleransi yang selama ini terjadi di Aceh ke tingkat nasional.

“Setelah dilakukan seleksi secara ketat oleh panitia dari 819 pelamar melalui project essai dan wawancara, Alhamdulillah akhirnya saya terpilih menjadi 1 dari 35 peserta seluruh Indonesia untuk mewakili Provinsi Aceh,” ujar inisiator Kampung Rencong ini kepada portalsatu.com, Selasa, 14 April 2015.

YSEALI United for Peace adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh CINTA Indonesia yang bertujuan mempromosikan nilai-nilai keberagaman, toleransi budaya dan perdamaian, meskipun dari latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda.

Kegiatan ini akan dilakukan selama empat hari, terdiri dari lokakarya kreatif dan seminar pada tiga hari pertama. Mencakup topik identitas dan keragaman, hak asasi manusia, resolusi konflik dan pluralisme. Hari terakhir akan digelar Festival Perdamaian yang diakhiri dengan pelepasan lampion perdamaian.

“Jadi program ini menekankan pada pembekalan kemampuan dasar berdialog dan keterampilan dalam resolusi konflik baik lintas agama maupun lintas budaya,” kata pemuda asal Lhokseumawe ini.

Melalui kegiatan YSEALI United for Peace ini, diharapan para peserta mampu menjadi agent of peace dengan mempromosikan perdamaian di provinsi masing-masing melalui post project.

“Semoga materi dan pengalaman yang saya dapatkan nantinya bisa saya kembangkan untuk mengestafetkan perdamaian di Aceh khususnya bagi kaum muda lintas suku dan lintas agama melalui Project Sport Peace for Youth,” katanya.[] (ihn)

The Leader Hadirkan Pembicara Inspiratif di Forum AcehLuarBiasa

The Leader Hadirkan Pembicara Inspiratif di Forum AcehLuarBiasa

BANDA ACEH – Peserta Dream Maker mengikuti Forum AcehLuarBiasa yang digelar di ACC Sultan Selim, Banda Aceh, Minggu, 5 April 2015. Forum AcehLuarBiasa ini terbagi ke dalam beberapa sesi dan menghadirkan pembicara-pembicara inspiratif.

Adapun sesi yang digelar dalam Forum AcehLuarbiasa ini adalah sesi wisata dan budaya, media dan publikasi, perdamaian dan pemberdayaan perempuan, edukasi dan kreativitas, serta sesi kewirausahaan.

Sesi pertama menghadirkan pembicara inspiratif yaitu Reza Mustafa dari Komunitas Kanot Bu, Tharik Mubarak inisiator Kampong Rencong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Reza Pahlevi, serta Muhazir Ibnu Marzuki pendiri Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa).

Sesi selanjutnya menghadirkan Direktur Aceh Documentary Faisal Ilyas, founder @iLoveAceh Aulia Fitri, salah satu founder media online yang juga Direktur Utama portalsatu.com Irma Hanif atau kerap disapa Ihan Nurdin, dan General Manager Oz Radio Banda Aceh Wan Windi Lestari.

Pada sesi ketiga diisi oleh founder sekaligus Direktur Majalah Potret Tabrani Yunis, Koordinator Yayasan Pulih Aceh Taufik Riswan serta founder Flower Aceh Suraiya Kamaruzzaman.

Para peserta mengaku sangat berkesan mengikuti kegiatan Dreammaker kali ini. Selain itu mereka juga mengaku mendapat banyak pengalaman.

“Sangat banyak kegiatan yang kami lakukan pada program dreammaker sebelumnya dan kami mendapatkan ilmu yang luar biasa dan pada acara AcehLuarBiasa ini, kami bertemu narasumber yang luar biasa, jadi kami merasa sangat wah juga dan insya Allah kami akan mengimplementasikannya dalam bentuk nyata,” ujar Yelli Sustarina, salah satu peserta Dreammaker kepada portalsatu.com.

Program ini tidak hanya diikuti oleh pemuda-pemuda Aceh, tapi juga diikuti oleh pemuda luar Aceh seperti Jakarta, Kalimantan, dan daerah lainnya. Dreammaker merupakan program yang sederhana tapi bermakna, seperti yang dikatakan oleh Nurdianto, peserta Dreammaker dari Kalimantan.

“Mimpi itu adalah awal mula kita membangun hal-hal yang baik di masa depan, dan saya temukan jawabannya yang luar biasa di sini. Di Acara Dreammaker ini sebenarnya sederhana, tapi dalam prosesnya saya temukan pelajaran yang sangat dalam,” katanya.

Pembicara inspiratif dalam forum AcehLuarBiasa juga dianggap sangat menginspirasi. “Acara di sini mendatangkan tokoh-tokoh inspiratif dan membakar semangat anak muda, dan kita sebagai anak muda merupakan estafetnya,” ujarnya.

Nurdianto berharap Dreammaker dapat diadakan di berbagai daerah di Indonesia untuk mengubah keadaan anak bangsa.

“Saya berharap Dreammaker ini tidak hanya berkembang di Aceh saja, tapi untuk tahun yang akan datang dapat diadakan di seluruh Indonesia dan bisa saling memberikan motivasi serta sharing dengan daerah konflik lainnya seperti Ambon, dan daerah lain,” katanya.[]

dr. Maulida: Biar Kecil Asal Bermakna

dr. Maulida: Biar Kecil Asal Bermakna

Dokter internship di RS Datu Beru Takengon Nurul Fadhliati Maulida, Februari lalu baru pulang dari Myanmar sebagai delegasi Indonesia dalam the 6th ASEAN Young Professionals Volunteer Corps.

“Awalnya teman dari Aceh Global Health Youth Forum yang kasih info. Coba iseng-iseng daftar, alhamdulillah lulus. Rahmat Allah di awal 2015,” ujar perempuan kelahiran Banda Aceh, 12 Oktober 1988 ini kepada portalsatu.com beberapa waktu lalu.

Acara di Myanmar tersebut hanya mengirim dua delegasi dari Indonesia, selain Maulida juga seorang utusan bernama Gigih Rizki Septiano dari Jawa Barat.

Sebelum menjadi klinisi di rumah sakit Datu Beru, Maulida sebelumnya juga pernah bekerja di Cilincing Health Care Center, Jakarta Utara terhitung sejak Januari 2014 hingga Maret 2014. Setelah itu ia juga pernah bekerja di Jagong Jeget Health Care Center, Aceh Tengah sejak April hingga Agustus 2014.

Menjadi dokter memang impiannya. Cita-citanya tak hanya menjadi klinisi tapi juga menjadi seorang ilmuwan dan bisa berkarir di organisasi kesehatan dunia di bawah PBB yaitu WHO. Ia ingin membantu banyak orang dan berkontribusi untuk dunia.

Ia ingin banyak anak-anak Indonesia yang bisa meraih prestasi tinggi agar bisa mengharumkan negeri. Selama ini menurutnya banyak anak-anak Indonesia yang tinggal di daerah terisolir dan berasal dari keluarga kurang mampu terhambat pendidikannya karena latar belakang mereka.

“Mutiara pasti akan tetap bersinar. Jangan pernah merasa minder untuk berprestasi karena alasan background. Setiap orang pasti bisa berprestasi dan berkontribusi, tidak peduli dari mana kita berasal. Tapi semangat untuk berkarya nggak akan pernah bisa dihambat karena itu,” kata Maulida mengutip pesan seorang pembicara di acara Aceh Global Helath Forum dr. Gamal Albinsaid.

“Saya juga berharap semoga bertambah banyak putra-putri Indonesia terutama anak Aceh yang berprestasi serta bisa mendedikasikan diri untuk sesama melalui kegiatan berbasis komunitas, sekecil apapun kontribusi yang kamu berikan asalkan bermakna,” ujar alumni SMA MOSA Blang Bintang ini.

Dokter yang pernah menjadi mahasiswa terbaik Universitas Syiah Kuala pada 2010 silam ini telah  mengantongi banyak prestasi. Di antaranya terpilih sebagai satu dari 30 pemuda untuk Aceh Global Health Youth Forum 2014. Ia juga pernah masuk lima besar finalis di Liga Medika Literature Review Competition Asia-Pacific Region, yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2009.

Maulida juga pernah menjadi runner up pertama pada kompetisi debat mahasiswa kedokteran Indonesia yang diadakan  Asian Medical Students Association-Indonesian Branch di Banda Aceh pada 2008. Masuk 10 finalis terbaik pada Liga Medika Literature Review Competition, yang diadakan Fakultas Kedokteran UI 2008.

Saat masih SMA ia pernah menjadi juara pertama lomba cerdas cermat matematika dan IPA se-Banda Aceh pada 2006 dan 2007. Ia juga pernah dikirim mewakili Aceh ke Jakarta pada 2006 sebagai pelajar terbaik yang dibuat Honda.

Maulida yang lulus cumlaude pada Januari 2014 lalu ini juga banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Antara lain Medical Officer for the 6th ASEAN Young Professional Volunteer Corps,  Myanmar, sejak 8-21 Februri 2015. Ia juga pernah menjadi tim relawan dari FK Unsyiah di Aceh Tengah pada 2014. Kini ia juga tercatat sebagai salah satu anggota The Leader, organisasi kepemudaan yang fokus pada pengembangan bakat minat anak muda.[ihn]