Tag: tewas

Dua Bocah Tewas Tenggelam di Pemandian Ie Seu-um

Dua Bocah Tewas Tenggelam di Pemandian Ie Seu-um

BANDA ACEH – Musibah terjadi di lokasi wisata pemandian air panas Ie Seu-um, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Sabtu (19/9) sore. Dua bocah sepupuan, M Yunus bin Armia (11) dan Firdaus bin Zamzami (6) yang sedang mandi-mandi di kolam tersebut tenggelam dan akhirnya meninggal dunia.

Informasi yang diterima Serambi dan dibenarkan Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Zulkifli SStMk SH melalui Kapolsek Krueng Raya Iptu Ferdiansyah SH menyebutkan, musibah itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, Sabtu (19/9). Kedua bocah pergi ke lokasi wisata tersebut bersama orang tua mereka. “Kedua orang tua bocah sangat syok dan trauma hingga belum memungkinkan kita mintai keterangan,” kata Iptu Ferdiansyah.

M Yunus merupakan anak dari Armia (50), warga Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar dan Firdaus merupakan anak dari Zamzami (59), pensiunan PNS, warga Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Menurut penjelasan polisi, lokasi pemandian Ie Seu-um terdiri atas kolam anak-anak dan orang dewasa. Antara kolam anak-anak dengan kolam dewasa dibatasi pagar tembok setinggi 1,7 meter. Pada bagian kolam dewasa terbagi dua, yaitu untuk pria dewasa dan wanita dewasa. Kedalaman kolam dewasa berkisar antara 1,6 hingga 1,8 meter.

Menurut keterangan, pada awalnya kedua bocah itu mandi-mandi di kolam anak-anak. Tak lama kemudian, M Fauzan (30) yang merupakan abang dari kedua bocah itu sempat melihat kedua adiknya masuk ke kolam pria dewasa dan mencuci kaki. Selanjutnya, kedua bocah itu pergi.

Menurut keterangan Fauzan, ia sempat mengira kedua adiknya itu berbelok ke kiri kembali ke kolam anak-anak. Ternyata tanpa ia sadari kedua adik justru berbelok ke kanan mengarah ke kolam wanita dewasa. Di sinilah kedua bocah itu diperkirakan masuk ke kolam dan akhirnya tenggelam.

Suasana menjadi panik ketika kedua orang tua bocah tidak melihat lagi anak-anak mereka. Saat ditanyakan kepada Fauzan, ternyata sang abang pun tak mengetahui, karena sebelumnya mengira adiknya sudah kembali ke kolam anak-anak. Setelah dilakukan pencarian, kedua bocah itu ditemukan tenggelam di kolam wanita dewasa. Kedua korban meninggal dunia dalam perjalanan ke Puskesmas Krueng Raya. “Begitu dapat laporan, kami langsung menuju ke lokasi, melakukan olah TKP dan membawa korban ke rumah sakit untuk divisum. Beberapa saksi juga telah dimintai keterangan, termasuk pengelola yang akan kita tanyai. Hanya dari kedua orang tua korban yang belum kita mintai keterangan karena masih syok dengan kejadian ini,” kata Kapolsek Krueng Raya. | sumber: serambi indonesia

 

 

Karyawan BRI Ditemukan Tewas di Kamar Mandi Pasar Aceh

Karyawan BRI Ditemukan Tewas di Kamar Mandi Pasar Aceh

BANDA ACEH – Seorang karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) ditemukan tewas di kamar mandi Pasar Aceh Baru, Jalan Diponogoro, Banda Aceh. Korban Aprialdo Ali Akbar (26) warga Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh tewas diduga akibat terjatuh di toilet.

Informasi dihimpun Okezone, jasad Aprialdo ditemukan tergeletak di lantai kamar mandi pria lantai I Pasar Aceh Baru, Senin (17/8/2015) sekira pukul 10.15 WIB.

Jasad pria berpakaian hitam putih itu mulanya ditemukan Abid, petugas kebersihan pasar, saat membersihkan kamar mandi tersebut. “Posisinya terlentang di kamar mandi,” katanya.

Abid langsung melaporkan temuan itu ke Satpam yang bertugas di sana, kemudian diteruskan ke polisi. Aparat datang ke lokasi dan mengevakuasi korban yang saat ditemukan resletingnya dalam keadaan terbuka.

Jasad korban dibawa relawan PMI bersama polisi ke RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh untuk divisum.

Sebelum ditemukan tewas Aprialdo diketahui ngopi bersama teman-teman kantornya di Lantai II Pasar Aceh. Namun tiba-tiba ia pamit untuk ke kamar mandi yang berada di lantai I.

Teman-temannya awalnya tak tahu kalau Aprialdo meninggal di kamar mandi. Setelah lama menunggu tak kunjung naik ke atas, rekannya itu menghubungi telefon genggam korban.

Handphone korban kemudian diangkat oleh seorang polisi yang sedang mengevakuasi korban, dan mengabarkan bahwa yang bersangkutan sudah meninggal. Polisi masih menyelidiki penyebab kematian korban.[] sumber: okezone.com

Video: Mengerikan, Seorang Ibu Tergilas Eskalator di Mal

Video: Mengerikan, Seorang Ibu Tergilas Eskalator di Mal

BEIJING – Eskalator atau tangga berjalan memang sepertinya nampak aman-aman saja. Tapi, insiden demi insiden yang terjadi, memberi fakta bahwa alat bantu perpindahan orang ini, sebenarnya sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa manusia sewaktu-waktu.

Yang terbaru, adalah insiden mengerikan yang dilaporkan terjadi di Shashi Anliang, sebuah departemen store yang ada di Jingzhou, Tiongkok.

Video yang diunggah oleh situs LiveLeaks di YouTube pada 25 Juli 2015 merekam detik-detik mengerikan, ketika seorang ibu, tergilas hidup-hidup oleh mesin dari eskalator di mal itu.

Ibu itu, bersama anaknya yang masih kecil, awalnya naik eskalator menuju lantai atas dengan tenangnya.

Tapi, ketika sudah sampai di ujung eskalator, petaka terjadi.

Lantai di ujung eskalator itu ambrol, sehingga ibu itu jatuh masuk ke dalam mesin pemutar anak tangga eskalator.

Ibu itu sempat mendorong anaknya hingga menjauhi eskalator, tapi nahas, ia jatuh dan tergilas mesin tersebut.

Jenazah dari ibu itu kemudian ditemukan tiga jam setelahnya.

Insiden mengerikan di eskalator memang beberapa kali dilaporkan terjadi.
Awal tahun ini, bocah enam tahun bernama Nurhayada Sofiameningal setelah ia tertarik eskalator, kemudian tubuhnya terbanting dari ketinggian lima lantai.

Tahun lalu, ibu dua anak di Montreal, Kanada, Naima Rharouity tewas di eskalator setelah bajunya tersangkut mesin, kemudian bajunya itu mencekik lehernya.

Kemudian peristiwa pada 2003, di Stasiun Roma, Italia, Professor Sally Baldwin, asal New York, tewas seperti insiden di Tiongkok ini.

Eskalator yang ia naiki di stasiun itu tiba-tiba ambrol, lalu ia tergilas mesin eskalator.[] sumber: tribunnews.com

Direskrim Polda Aceh: Menurut Komeng, Eksekutor Dua Intel TNI adalah DM

Direskrim Polda Aceh: Menurut Komeng, Eksekutor Dua Intel TNI adalah DM

BANDA ACEH – Pelaku pembunuhan dua intel Kodim Aceh Utara pada akhir Maret 2015, mulai terungkap. Kedua prajurit TNI itu diduga dieksekusi oleh Nurdin Ismail alias Din Minimi (DM), pimpinan kelompok bersenjata paling dicari aparat saat ini.

Hal itu diketahui dari pengakuan anggota kelompok itu yang sudah ditangkap, diantaranya Amiruddin alias Si Pong, juru masak Din Minimi, dan Faisal Rani alias Komeng (35) menjabat Kepala Operasional kelompok Din Minimi.

“Menurut Komeng, eksekutor utama adalah DM. Jajaran reserse Polda Aceh dan Bareskrim Polri akan terus kejar DM sampai kapan pun,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh, Kombes Nurfallah kepada wartawan, Sabtu, 11 Juli 2015.

Seperti diketahui dua intel Kodim Aceh Utara, Sertu Hendrianto dan Serda Indra Irawan ditemukan tewas di pedalaman Nisam Antara, Aceh Utara, pada pada 24 Maret lalu. Keduanya diculik pria bersenjata sebelum ditemukan jadi mayat.

Amiruddin alias Si Pong yang ditangkap di Keurto, Lapang, Aceh Utara 26 Juni lalu, juga mengaku ikut menyaksikan eksekusi terhadap kedua TNI. Menurutnya eksekusi pertama dilakukan Din Minimi dengan menggunakan pistol milik korban.

Setelah dia menembak dalam jarak dekat, kata dia, anggota lainnya ikut melepaskan tembakan kearah dua prajurit hingga tak berkutik dan bersimbah darah. Pong mengaku dirinya tak ikut menembak.

Sejak kasus itu aparat polisi dibantu TNI terus memburu kelompok Din Minimi, dan sempat beberapa kali terjadi penyergapan diwarnai kontak senjata.

Nurfallah mengatakan pihaknya terus memburu Din Minimi cs, kelompok yang diduga terlibat sejumlah aksi kejahatan dan kriminal di Aceh. Polda Aceh mencatat masih ada 23 orang lagi yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

“DPO yang belum menyerahkan diri, alangkah baiknya segera menyerahkan diri. Dengan tangan terbuka akan menerima yang bersangkutan dan memperlakukan mereka dengan baik,” ujarnya.[] sumber: okezone.com

Bek Asal Nigeria Tewas Saat Laga Baru Berjalan Tiga Menit

Bek Asal Nigeria Tewas Saat Laga Baru Berjalan Tiga Menit

KUALA LUMPUR – Bek asal Nigeria David Faramola Oniya meninggal dunia pada Sabtu setelah tidak sadarkan diri di lapangan pada pertandingan persahabatan antara tim Malaysia-nya, T-Team, dan Kelantan.

Media setempat mengatakan kapten T-Team itu roboh saat pertandingan baru berlangsung tiga menit, pada laga yang digelar di Kota Bharu dan dibawa ke rumah sakit. Ketua T-Team Syahrizan Mohd Zain mengatakan Oniya (30) tidak cukup cepat mendapatkan perawatan medis.

“Ia mengalami serangan jantung namun itu dapat menjadi cerita yang berbeda jika pengemudi ambulans lebih sigap,” ucapnya pada The News Strait Times.

“Sang pengemudi hanya berdiri menyaksikan pertandingan ketika Oniya tiba-tiba roboh dan bek kami mendapat oksigen selama beberapa menit.”

Syahrizan mengatakan pertandingan itu dihentikan setelah 60 menit berlangsung sesudah mereka diinformasikan dari rumah sakit bahwa Oniya telah meninggal dunia.

“Ia diumumkan meninggal dunia di rumah sakit 30 menit kemudian,” ucapnya kepada surat kabar Star.

Seperti dikabarkan Reuters Oniya baru bergabung dengan klub Malaysia itu pada musim ini setelah sebelumnya bermain di Uzbekistan dan Azerbaijan.[] sumber: tribunnews.com

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

BIREUEN — Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyebutkan akan memberlakukan kembali daerah operasi militer (DOM) di Aceh jika masih terjadi penembakan terhadap TNI dikecam oleh mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Darwis Jeunib.

Ia mengaku kejadian kemarin murni kriminal terpisah dari konflik internal antara separatis dan TNI/Polri. “Daripada memberlakukan DOM lagi di Aceh, lebih baik menyerahkan senjata lagi kepada mantan kombatan untuk meringkus kawanan pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat,” ujarnya pekan ini, seperti ditulis Kompas.com.

Dia mengakui, masyarakat Aceh tak mau lagi konflik berulang hingga menyebabkan duka akibat kehilangan nyawa dan harta benda mereka. Aceh kini sudah lelah hidup dalam kungkungan konflik yang menyisakan luka.

Di samping itu, sekian lama masyarakat tak bisa melakukan aktivitas memperbaiki ekonomi untuk leluasa bekerja siang dan malam. “Jadi, tak ada alasan untuk DOM kembali berlaku di Aceh. Kami ingin Aceh damai, aman, dan tenteram sampai kapan pun juga,” kata Ketua Partai Aceh (PA) Kabupaten Bireuen itu.

Darwis mengaku perjuangan sudah usai dan ia tak ingin ada kekacauan untuk memorak-porandakan Aceh. Kalaupun ada konflik, dia berharap segala sesuatu dipikirkan dengan pikiran jernih dan musyawarah guna mendapatkan solusi terbaik yang tidak merugikan masyarakat.

“Saat ini yang terpenting adalah membangun komunikasi dan kerja sama agar Aceh tetap menjadi bagian dari kedaulatan NKRI,” kata tokoh GAM ini.[] sumber: tribunnews.com

Kadispen TNI AD: Pelaku Diduga Sembunyi di Rumah Warga

Kadispen TNI AD: Pelaku Diduga Sembunyi di Rumah Warga

JAKARTA – Hingga kini, para pelaku penculik dan pembunuh 2 anggota intelijen Kodim 0103 Aceh Utara Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36) belum tertangkap. Dugaan baru muncul, para pelaku bersembunyi atau disembunyikan di rumah-rumah warga.

“Para pelaku belum ditemukan. Mereka pasti bersembunyi. Dugaan utamanya, para pelaku ini bersembunyi di rumah masyarakat, atau ada masyarakat yang mendukung. Karena kalau lari ke hutan akan lebih mudah ditangkap,” kata Kadispen TNI AD Brigjen Wuryanto saat dihubungi lewat telepon, Selasa, 31 Maret 2015.

Karena itu, kata Wuryanto, masyarakat diimbau untuk membantu sepenuhnya aparat kepolisian dan TNI dalam mengungkap kasus pembunuhan ini. Kondisi keamanan di Aceh jangan sampai rusak karena segelintir orang.

“Bantu sepenuhnya aparat TNI dan polisi mengungkap kasus pembunuhan ini. Jaga kepercayaan TNI dan aparat dengan masyarakat memberikan informasi seluas-luasnya, sehingga akan terungkap siapa sebetulnya para pelaku yang meresahkan ini,” imbuh Wuryanto.

TNI dan polisi terus mencari para pelaku dengan saling tukar menukar informasi. “Segala kemungkinan kita jaga. Di wilayah perbatasan juga penjagaan makin kita perketat,” jelas perwira bintang 1 ini.

“Kasus ini kita kembangkan terus. Informasi yang masuk makin banyak, tapi kadang ada info-info yang menyesatkan. Makanya kita saring betul, dianalisis tim di lapangan, baru ditindaklanjuti,” ucap Wuryanto.

Kemarin Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyebut, kasus ini terkait penemuan 3 ladang ganja di Aceh oleh prajurit TNI. Ia menduga para pemilik ladang barang haram tersebut merasa terusik dengan keberadaan anggota TNI.

“Semua kasus ini dalam konteks pidana. Prajurit saya temukan tiga ladang ganja dan juga menemukan sabu. Mungkin mereka (para pelaku penembakan) terganggu dengan itu,” kata Moeldoko saat diwawancarai wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin 30 Maret 2015. Tiga Ladang ganja itu masing-masing seluas 15 hektare, 8 hektare, dan 1,5 hektare.[] sumber: detik.com

Kapolda Ungkap Tiga Kelompok Bersenjata Api yang Eksis di Aceh

Kapolda Ungkap Tiga Kelompok Bersenjata Api yang Eksis di Aceh

BANDA ACEH – Setelah sepekan terjadinya pembunuhan dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara, Kepolisian Daerah Aceh masih belum dapat mengungkap dan menangkap pelakunya. Kepolisian menduga kelompok tersebut berjumlah 15-20 orang.

“Apakah bersenjata semua, belum diketahui. Yang jelas bersenjata, karena melakukan pembunuhan dengan menggunakan senjata api,” kata Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Husein Hamidi dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin siang, 30 Maret 2015.

Menurut Husein, belum diketahui pasti apakah sebelumnya kelompok yang melakukan pembunuhan tersebut terlibat aksi-aksi kriminal lain di Aceh. Sejauh ini, polisi hanya mendeteksi ada tiga kelompok bersenjata di Aceh yang kerap melakukan aksi kriminal. Mereka adalah kelompok Din Minimi, Raja Rimba, dan Gambit.

Pemimpin kelompok Raja Rimba sudah tertangkap di Aceh Timur beberapa bulan lalu. Tapi nama Raja Rimba tetap dipakai oleh orang lain dalam melakukan aksi kriminal. “Seakan-akan belum tertangkap,” ujar Husein.

Husein menuturkan aksi kriminal dengan menggunakan senjata sebagian telah terungkap. Salah satunya pelakunya baru ditangkap, yakni Doyok dari kelompok Din Minimi, 23 Maret lalu.

Dalam penangkapan Doyok, polisi menyita 384 butir peluru. Saat ini Doyok sedang diproses di Polres Aceh Utara. “Belum diketahui keterlibatannya dalam kasus pembunuhan TNI. Tapi dia diduga melakukan aksi-aksi kriminal sebelumnya,” kata Husein.

Polisi terus mengejar kelompok yang membunuh anggota TNI dari Kodim Aceh Utara pada Senin lalu. TNI juga dilibatkan secara bersama-sama untuk menjaga stabilitas di Aceh.[] sumber: tempo.co

Terkait Dua Intel Tewas di Aceh, Panglima TNI: Itu Pesan yang Jelas. Saya Juga Akan…

Terkait Dua Intel Tewas di Aceh, Panglima TNI: Itu Pesan yang Jelas. Saya Juga Akan…

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, pelaku penembakan terhadap dua anggota TNI di Aceh, diduga adalah mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Moeldoko menduga, penembakan itu terkait temuan tiga ladang ganja di Aceh oleh prajurit TNI.

“Penembakan itu sporadis. Informasi sementara, pelaku itu mantan anggota GAM,” ujar Moeldoko saat ditemui di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 30 Maret 2015.

Menurut Moeldoko, diduga penembakan tersebut terkait dengan penemuan tiga ladang ganja oleh prajurit TNI. Masing-masing ladang seluas 15 hektare, 8 hektare, dan 1,5 hektare. Ia menduga, para pemilik ladang ganja tersebut merasa tidak nyaman dengan keberadaan anggota TNI di wilayahnya.

Dua anggota Kodim 0103 Lhokseumawe bernama Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36), ditemukan tewas pada Senin, 23 Maret 2015, di dekat Kampung Alu Papan, Desa Alumbang, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Saat ditemukan, keduanya diketahui dalam keadaan tangan terikat ke belakang, tubuh penuh luka tembak, dan hanya mengenakan celana dalam. Selain itu, ada 12 selongsong peluru AK-47 dan tiga selongsong peluru M-16 ditemukan di sekitar jenazah.

“Perlakuan itu sangat jelas. Mereka ditembak dan ditelanjangi. Itu pesan yang jelas. Saya juga akan beri pesan yang jelas,” kata Moeldoko.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa aparat telah mendapatkan identitas masing-masing pelaku dari informasi yang diberikan warga setempat. Hingga saat ini TNI beserta kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku.[] sumber: kompas.com