Tag: Teuku Wisnu

Irwansyah: Wisnu Minta Maaf Kalau Salah Bicara

Irwansyah: Wisnu Minta Maaf Kalau Salah Bicara

JAKARTA – Pemain sinetron Irwansyah berkomentar soal hujatan yang dialamatkan kepada adik iparnya, Teuku Wisnu. Beberapa waktu lalu, Wisnu mengeluarkan pernyataan seputar surat Al-Fatihah yang memancing berbagai macam reaksi dari netizen.

“Wisnu sabar banget. Aku tahu dia nggak apa apa, biasa aja, nggak gimana-gimana. Kalau salah bicara dia minta maaf, dia nggak mau ribut gitu. Namanya juga manusia,” ujar Irwan ditemui di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, Selasa (8/9/2015).

Merasa salah dengan perkataan, Wisnu memang langsung meminta maaf lewat aku twitternya @teukuwisnu2. Wisnu juga menjelaskan kepada keluarga, termasuk Irwan di mana letak kesalahannya.

“Ya kita ngobrol banyak kemarin. Sharing terhadap bully-an atas yang dibicarakan. Dia cerita di mana letak kesalahan dia,” ungkap Irwan.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah acara televisi, Wisnu dan Zaskia Adya Mecca sebagai host menyebut jika pembacaan surat Al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal adalah perbuatan bid’ah alias tidak pernah dicontohkan oleh Rasul. Hal itu menimbulkan reaksi miring dari netizen yang memiliki pandangan berbeda atas hal tersebut.

Selain itu, tayangan tersebut juga dikabarkan mendapat teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena dianggap telah menyalahi norma Islam dan memancing perdebatan.

Dengan permintaan maaf yang telah diungkapkan Wisnu, diharapkan bisa meredakan suasana. Irwansyah juga berharap hal itu bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang termasuk juga untuk Teuku Wisnu.[] sumber: suara.com

Surat Santri Aceh Menyikapi Kelatahan Teuku Wisnu Tentang Surah Al-Fatihah

Surat Santri Aceh Menyikapi Kelatahan Teuku Wisnu Tentang Surah Al-Fatihah

BEBERAPA tahun yang lalu, wajah Teuku Wisnu sering menghiasi beberapa layar televisi Indonesia. Artis asal Aceh ini kerap membintangi beberapa sinetron “favorit” yang sangat digandrungi oleh ibu-ibu Indonesia. Padahal Sinetron yang  tidak mendidik itu telah merampas banyak waktu para ibu, yang seharusnya diluangkan untuk mendidik dan membina anak-anaknya belajar.

Setelah lama menekuni dunia keartisan, ternyata Teuku Wisnu tidak mendapat ketenangan batin dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia “maksiat” itu dan bertaubat kembali ke jalan maghfirah. Untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya, Teuku Wisnu merasa perlu untuk terjun ke dunia dakwah. Dia ingin menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat luas sebagai ganti penyebaran maksiat yang telah dilakukan. Ketika mendengar kabar itu, saya sebagai masyarakat Aceh merasa gembira dan bangga dengan Teuku Wisnu, keturunan bangsawan (Teuku) dari Aceh berdakwah di tingkat nasional, sugguh membuat bahu ini naik, bangga.

Kegembiran dan kebanggaan itu sirna sudah ketika menonton sebuah acara  di Trans TV yang berjudul “Berita Islami Masa Kini” yang  dibawakan oleh Teuku Wisnu dan Zaskia Adya Mecca. Mengapa tidak, dalam acara itu Teuku Wisnu mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah kepada orang meninggal tidak bermanfaat. Tidak sampai di situ, Teuku juga menuding pelakunya adalah bid’ah, sebuah statement yang selalu didengung-dengungkan oleh para “pengusik” ketentraman beragama Islam di negeri ini.

Akibat dari statement “kacau” tersebut nama Teuku Wisnu menjadi heboh di media sosial. Teuku Wisnu menjadi buah bibir masyarakat Indonesia akibat “dakwah”-nya yang mem-bid’ah-kan (mengkafirkan) orang membaca Al-Fatihah kepada yang sudah meninggal. Statement itu menimbulkan kontroversi dan saling meng-hujjah. Bahkan caci maki di media sosial antara masyarakat awam dengan masyarakat awam lainnya, ada yang pro, ada yang kontra, bahkan ada sebagian awam yang saling mengancam. Hal ini menyita banyak waktu dan meguras energi untuk hal yang sudah jelas ke-sunnahan-nya.

Membaca Al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal merupakan hal yang sudah disepakati oleh mazhab yang empat. Dan ke empat mazhab menyatakan bahwa pahala Al-Fatihah yang dibacakan untuk mayat akan sampai kepada mayat dan perbuatan tersebut adalah perbuatan yang dianjurkan jika dilakukan dengan ikhlas. Bahkan guru besar–yang diikuti oleh Teuku Wisnu–yang bernama Ibnu Thaimiyah dalam kitabnya “Majmu’ Fatawa” juga menyampaikan bahwa orang yang mengingkari sampainya amalan orang yang hidup kepada orang yang meninggal adalah bid’ah. Bagaimana ini? Siapa yang harus didengar, Syaikh Ibnu Thaimiyah atau “syeikh” Teuku Wisnu. Kacau memang.

Jika mau konsisten dalam mengikuti maka mereka seharusnya mengikuti gurunya Ibnu Thaimiyah, bukan justru mengambil sana sini dari siapa saja yang tidak tahu darimana asalnya dan dimana mangkalnya, dan selanjutnya menodong siapa saja sesuka hati.

Jikapun kita katakan hal itu merupakan hal yang khilafiah (berbeda pendapat ulama), maka kenapa harus mem-bid’ah-kan, kenapa harus menuding, untuk apa harus menyalahkan orang lain, kenapa harus mengacaukan suasana. Untuk apa itu semua, kenapa tidak diam saja, kan khilafiah? Apakah memang demikian yang diajarkan oleh gurunya, atau hanya ingin mencari sensasi.

Sebagian masyarakat awam ada yang membela dengan dalih setiap orang bebas berpendapat. Kita katakan bahwa bebas berpendapat itu ada ketentuannya, harus terukur bukan berarti bebas berpendapat boleh dilakukan oleh siapa saja dan tentang apa saja. Pendapat itu harus dari seorang yang ahli, juga menurut keahliannya. Seorang ahli mesin bebas berpendapat tentang mesin, seorang ahli hukum boleh berpendapat juga tentang hukum, begitu juga dengan agama, mesti dari ahlinya yaitu dari para ulama.

Jika siapa saja bebas berpendapat tentang masalah agama, maka lahirlah kelompok-kelompok dengan pendapatnya sendiri sesuka hatinya, seperti Lia Aden, Mirza Ghulam Ahmad, Millah Abraham, dan lainnya yang sempat membuat kegaduhan di kalangan masyarakat. Jika ini terjadi mau dibawa kemana agama Islam ini.

Sesungguhnya kita butuh da’i, tapi da’i yang benar-benar da’i. Da’i yang alim, wara’, tawadu’, juga zuhud. Kita tidak butuh da’i “bajakan”, da’i jalanan yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, menjajakan hadis dan ayat secara sembarangan. Mengambil satu potong hadis dan menuding sana sini membuat kehebohan dan kekacauan dalam tatanan sosial masyarakat.

Jika tidak mengerti, maka biarlah orang yang sudah cukup syarat saja yang berdakwah. Biarlah hal ini diemban oleh para ulama-ulama. Namun jika ngotot juga ingin berdakwah maka belajarlah dengan benar, tuntut ilmu yang benar, melalui orang-orang yang benar.

Muhammad KhairiLayaknya seorang yang masih awam tentang ilmu agama seharusnya Teuku Wisnu harus belajar lebih banyak tentang ilmu agama. Lebih lagi jika misinya ingin menjadi seorang ustadz yang sebenarnya, bukan ustadz “pengacau” dan memantik kehebohan masyarakat yang hidup tenang dalam bimbingan para ulama dan kyai-kyai yang shalih dan zuhud. [] 

Penulis Muhammad Khairi, S.Sos,I. Dia adalah santri Ma’had Aly MUDI Masjid Raya Samalanga dan Pengurus ISAT (Ikatan Santri Aceh Timur)

 

 

Terkait Amalan Al Fatihah, KPI Tegur Teuku Wisnu

Terkait Amalan Al Fatihah, KPI Tegur Teuku Wisnu

JAKARTA – Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) mengeluarkan sanksi administratif Teguran Tertulis Kedua untuk program acara “Berita Islami Masa Kini” yang dibawakan oleh Teuku Wisnu di sebuah stasiun televisi swasta pada 1 September 2015 pukul 17.01 WIB. Program acara tersebut menyinggung soal amalan surat Al-Fatihah yang dianggap salah.

Beberapa pernyataan dalam acara itu, menurut KPI dan berpedoman pada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS), dapat menyinggung dan menimbulkan kesalahpahaman karena adanya perbedaan pandangan atau paham dalam agama Islam.

Dalam surat sanksi yang dikeluarkan KPI Pusat itu, program siaran yang berisi perbedaan pandangan atau paham dalam suatu agama wajib disajikan secara berhati-hati, berimbang, dengan narasumber yang berkompeten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jenis pelanggaran itu dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan terhadap nilai-nilai agama.

Atas dasar itu, KPI Pusat memutuskan, program tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 serta Standar Program Siaran (SPS) Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 7 huruf (a) dan (b).

Wakil Ketua KPI Pusat, Idy Muzayyad, mengatakan, sebelumnya program acara “Berita Islami Masa Kini” pernah mendapatkan Teguran Tertulis Pertama dengan surat Nomor 635/K/KPI/06/15, pada 23 Juni 2015 yang membahas tentang alasan perpindahan agama seseorang.

“Dengan munculnya dua teguran itu, KPI akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap program acara itu. Dalam pemantauan nanti, jika masih ditemukan pelanggaran KPI akan memberikan sanksi yang lebih berat yaitu penghentian sementara sesuai dengan Pasal 75 SPS KPI Tahun 2012,” kata Idy di Jakarta, Jumat, 4 September 2015.

Selain didasarkan pada temuan dan kajian tim pemantauan KPI, Idy menjelaskan, KPI banyak menerima aduan dari masyarakat setelah acara itu ditayangkan.

“Prinsipnya program siaran tidak boleh mempertentangkan ajaran dan pemahaman baik intra maupun antaragama. Apalagi, sampai mengklaim paling benar sendiri sembari menyalahkan pihak lain,” ujar Idy.

Menurut Idy, masyarakat dan umat beragama di Indonesia memiliki pemahaman dan perilaku keagamaan yang beragam sehingga perlu dijaga kerukunan dan sikap saling menghargai.

“Bila sikap suka menyalahkan itu dibiarkan berkembang, apalagi disampaikan melalui media penyiaran, itu akan sangat berbahaya bagi harmoni keindonesiaan karena berpotensi memecah belah bangsa,” kata Idy lebih lanjut.

Dia juga mengingatkan agar seluruh Lembaga Penyiaran mematuhi P3 dan SPS KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam penayangan sebuah program siaran.[] sumber: viva.co.id

Irwansyah Kian Taat Menuntut Ilmu Agama

Irwansyah Kian Taat Menuntut Ilmu Agama

Menjalani pernikahan dengan artis Zaskia Sungkar, membuat Irwansyah semakin taat beragama. Menjadi keluarga dengan sang adik iparTeuku Wisnu, sepertinya membawa pengaruh besar dalam kehidupannya.

Dalam beberapa tayangan di televisi belakangan ini, Irwansyah terlihat membatasi diri untuk bersentuhan dengan lawan jenis. Diungkapkan Zaskia, memang hal itu dilakukan suaminya agar sesuai dengan syariat agama.

Begitu pula dengan beberapa unggahan pria berusia 30 tahun ini di akun Instagram miliknya. Tampak dalam sebuah foto yang diunggah pada Senin, 31 Agustus 2015 ia sedang mempelajari Alquran bersama seorang lelaki bernama Hafiz Fatur Rakhman.

Tak ketinggalan, ia sertakan pula keterangan yang berupa kutipan dari hadist. “Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’

Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)”.

Respon positif ditunjukan para fans Irwansyah dibuktikan dengan 148.000 likes.

Ditambah dengan berbagai dukungan seperti akun @sriyuliyanti36 “Subhanallah ,keep istiqomah ka irwansyah ,semoga bisa nyusul ka wisnu ,jadi sakina mawaddah warahmah”.[] sumber: dream.co.id

Jatuh Bangun Hijrah Teuku Wisnu

Jatuh Bangun Hijrah Teuku Wisnu

Artis Teuku Wisnu butuh perjuangan panjang untuk “berhijrah”. Tak mudah. Berat. Apalagi saat awal ingin hidup sesuai ajaran Nabi. Dia bahkan mengaku beberapa kali kembali terjerembab dalam kemaksiatan.

“Itu awal-awal saya ingin berhijrah, dan kembali lagi ke lembah kemaksiatan,” kata Teuku Wisnu di Senayan City, beberapa waktu yang lalu.

Suami Shireen Sungkar itu mengatakan, upaya hijrah itu sangat dipengaruhi oleh pergaulan. Lingkungan, tambah dia, mendatangkan godaan yang sangat besar. “Ketika sudah mulai salat fardu, kembali lagi karena pengaruh pergaulan, dan itu besar sekali,” tambah dia.

Sampai-sampai, Wisnu sempat bertanya kepada seorang ustad apakah perlu dia mengajak teman-temannya ke arah kebaikan. Namun dia malah diperingatkan oleh sang ustad untuk berhati-hati dengan keinginan itu. Sebab bleh jadi malah Wisnu yang kembali terjerembab ke dalam kemaksiatan.

“Jadi ustad tersebut mengatakan Bang Inu ingin mewarnai orang, tapi hati-hati nanti terwarnai sama tanan-teman Bang Inu. Iman belum mantap tapi tiba-tiba mau mengajak teman-teman ke arah kebaikan, teman-teman di lingkungan yang nggak baik,” kata Wisnu.

Akhirnya Wisnu terus berusaha memantapkan hati untuk berhijrah. “Salah satu hal yang membuat saya benar-benar meyakinkan diri saya untuk berhijrah adalah saya takut mati dalam kondisi maksiat,” ujar dia.

“Itu satu hal yang langsung saya pikirkan, bagaimana saya ketika diambil nyawa oleh Allah dalam kondisi maksiat, bukan dalam keadaan baik, dan umur kita tidak ada yang tahu,” tambah Wisnu.

Pikiran itulah yang membuat Teuku Wisnu mantap berhjrah. “Umur kita sampai tua nggak? Mati nggak lihat umur, ini jadi pertanyaan besar yang bagi saya ini bahaya ini. Saya nggak mau nanti dipanggil Allah dalam keadaan yang kufur.”  | sumber: dream.co.id

Kesibukan Keluarga Teuku Wisnu saat Puasa

Kesibukan Keluarga Teuku Wisnu saat Puasa

Kegiatan syuting bagi pesinetron Shireen Sungkar tidaklah berhenti saat bulan puasa tiba, namun dia mengaku akan menyisihkan waktu khusus untuk dilewatkan bersama keluarga.

“Tetap kerja, tapi ada waktu khusus untuk keluarga, seperti buka puasa bareng,” ujar Shireen dalam acara jumpa media di Jakarta, 16 Juni 2016.

Shireen dan suami, Teuku Wisnu, yang disibukkan dengan acara-acara Ramadan di layar kaca memang berkomitmen untuk mengesampingkan pekerjaan di waktu tertentu.

Sebagai istri dan ibu dari batita berusia sembilan bulan, Shireen membatasi waktu syuting hanya hingga pukul sepuluh malam agar dia dapat mempersiapkan kebutuhan keluarga untuk esok hari.

“Banyak larangan sejak aku punya anak,” imbuh saudari Zaskia Sungkar itu.

Soal persiapan makanan, Shireen mengaku tidak pusing karena sang suami tidak meminta menu yang aneh-aneh.

Makanan khas yang disantap saat bulan puasa seperti kurma dan kolak adalah salah satu yang harus disiapkannya untuk suami. | sumber : msn