Tag: tenggelam

Korban Tenggelam di Sungai Mukap Aceh Selatan Ditemukan

Korban Tenggelam di Sungai Mukap Aceh Selatan Ditemukan

TAPAK TUAN – Tim SAR dibantu masyarakat menemukan jenazah Muslidin (30) di Sungai Mukap, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat, yang sebelumnya tenggelam  terseret arus saat mencari ikan, Selasa (22/9).

Ketua Satgas SAR Aceh Selatan Mayfendri di Tapaktuan mengatakan, jasad korban warga Desa Koto Indarung, Kecamatan Kluet Tengah ditemukan tersangkut di batuan sekitar pinggir sungai yang berjarak sekitar 1 Km dari lokasi kejadian.

“Sebenarnya korban telah dilaporkan hilang sejak Selasa malam, tapi pihak keluarga baru memberitahukan kepada kami pada Rabu siang. Sehingga proses pencarian terhitung selama tiga hari tiga malam, sampai akhirnya ditemukan Jumat sekitar pukul 11.50 WIB,” katanya.

Dalam pencarian ini, tim SAR bersama masyarakat menerjunkan satu unit Rubber Boat (Perahu Karet) serta delapan unit perahu bermesin robin.

Dia mengatakan, sesaat setelah ditemukan, jasad korban langsung dievakuasi menggunakan perahu karet ke rumahnya di Desa Koto Indarung dengan cara menyusuri arus Sungai Mukap.

“Karena penemuan korban berada di hilir sungai, maka untuk mengevakuasi korban ke Desa Koto Indarung tim SAR bersama warga terpaksa harus melawan arus,” ucapnya.

Pantauan di lokasi, kedatangan jasad korban di rumah duka, disambut tangis histeris oleh istri dan dua anaknya serta pihak keluarga lainnya. Setelah disemayamkan di rumah duka, pada hari itu juga korban dikebumikan di perkuburan desa setempat.

Keterangan yang dihimpun menyebutkan, Muslidin dilaporkan hilang oleh pihak keluarga sudah sejak Selasa (22/9) malam, karena korban yang sehari-harinya bekerja menjala ikan di Sungai Mukap itu.

Setelah meninggalkan rumah sejak Selasa siang sampai malam harinya belum kembali ke rumahnya.

“Berdasarkan keterangan dari keluarganya, korban meninggalkan rumah sudah sejak Selasa siang. Dia menjala ikan di Sungai Mukap. Lokasi dia menjala ikan persis berada di sekitar Sungai Tapak Aulia atau dekat kuburan Pahlawan Nasional T Cut Ali,” kata salah seorang warga Manggamat, Samsul.

Setelah menerima laporan dari pihak keluarga, lanjutnya, warga melakukan proses pencarian di sekitar Sungai Tapak Aulia dan ditemukan satu buah jala ikan, senter masih menyala dan sandal yang diperkirakan milik korban.

“Penemuan senter yang dalam kondisi masih menyala, menguatkan dugaan bahwa korban terseret arus sungai kemudian hilang di Sungai Mukap pada malam hari. Keberadaan korban seorang diri menjala ikan di sungai tersebut mengakibatkan tidak ada saksi yang melihat saat korban terseret arus,” ujarnya.

Sungai Mukap tersebut merupakan sungai yang bersumber airnya dari Gunung wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Ada tiga desa di Kecamatan Kluet Tengah, yang dialiri sungai ini yakni Desa Tapak Aulia, Koto Indarung dan Si Urai-irai.

Muara Sungai ini baru menyatu dengan Krueng (Sungai) Kluet di sekitar Irigasi Gunung Pudung, Desa Ruak, Kecamatan Kluet Utara. Satu lagi aliran sungai yang ada di Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah adalah Sungai (Kreung) Kluet. Sungai ini sumber airnya berasal dari Gunung Lauser dan Gunung Kecamatan Meukek.[] sumber: antaranews.com

Jenazah Bocah Alan Kurdi Dimakamkan di Kobane

Jenazah Bocah Alan Kurdi Dimakamkan di Kobane

KOBANE – Jenazah bocah Suriah, Alan Kurdi dan keluarganya yang meninggal dunia akibat kapal yang ditumpanginya tenggelam di pantai Turki telah dimakamkan di Kobane, Suriah.

Sang ayah, Abdullah Kurdi, terlibat langsung dalam proses pemakaman dua anak dan istrinya di wilayah kota Kobane, Suriah, yang dikuasai oleh kelompok Kurdi.

Dalam sambutan singkatnya, Abdullah Kurdi dengan agak terisak berkata: “Saya tidak lagi mempunyai masa depan. Masa depan saya telah sirna.”

Alan Kurdi, yang berusia tiga tahun, kakaknya Galip (berusia lima tahun) serta ibunya Rehan meninggal dunia saat kapal yang ditumpangi para migran asal Suriah tenggelam di dekat Pulau Kos, Yunani.

Menurut petugas penjaga pantai Turki, sekelompok migran meninggalkan Turki melalui Semenanjung Bodrum menuju Pulau Kos di Yunani pada Rabu dini hari (02/09), namun dua perahu yang mereka tumpangi karam tidak lama kemudian.

Dua belas jenazah, termasuk lima anak-anak, ditemukan oleh aparat keamanan Turki.

Aylan Kurdi-ibtimesKemarahan internasional

Foto jasad Alan Kurdi, dalam kondisi meninggal dan tergeletak di pinggir pantai, menjadi trending topic di seluruh dunia dan memicu kemarahan masyarakat internasional.

Kemarahan itu kemudian menjelma menjadi semacam desakan agar Uni Eropa melakukan tindakan darurat untuk menampung para migran.

Para pejabat Turki mengatakan, konvoi kendaraan yang membawa jenazah Alan Kurdi dan keluarganya menyeberang ke kota Kobane, Suriah, di dekat perbatasan Turki.

Setelah insiden kematian Alan beredar luas, polisi Turki menahan empat tersangka penyelundup manusia yang diduga menyelundupkan keluarga Kurdi dan puluhan orang lainnya.

Keempat tersangka merupakan warga negara Suriah, berusia antara 30 sampai 41 tahun, menurut kantor berita Turki, Dogan.

Ribuan orang pengungsi dan pendatang dari Timur Tengah dan Afrika tewas pada tahun ini setelah berusaha mencapai benua Eropa melalui laut.[] sumber: bbc.co.uk

14 TKI Tenggelam di Perairan Malaysia

14 TKI Tenggelam di Perairan Malaysia

JAKARTA – Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno menyampaikan bahwa sebanyak 14 warga negara Indonesia (WNI) tewas dalam peristiwa kapal yang tenggelam di wilayah perairan Sabak Berenam, Selangor, Malaysia.

“Informasi dari tim SAR yang dikerahkan ke lokasi, korban selamat 20 orang dan yang tewas 14 orang, yang terdiri dari 13 perempuan dan satu laki-laki. Korban selamat dibawa ke kantor polisi hutan melintang, sementara korban tewas disemayankan di RS Teluk Intan,” kata Dubes Herman Prayitno dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Kamis, 3 September 2015.

Herman menyebutkan bahwa kapal tersebut tenggelam di daerah Sabak Berenam, negara bagian Selangor, yaitu 10 mil dari pantai Malaysia. Kapal yang tenggelam itu adalah jenis kapal kayu dengan ukuran panjang sekitar 15 meter dengan lebar tiga meter.

Kecelakaan kapal tersebut dilaporkan oleh nelayan Malaysia pada pagi hari pukul 10.30 waktu setempat.

Berdasarkan laporan yang diterima, kata Dubes Herman, kapal itu diduga tenggelam akibat jumlah penumpang yang melebihi kapasitas kapal.

“Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas inilah yang dipercaya menjadi penyebab tenggelamnya kapal karena cuaca relatif cerah. Dipercaya kapal tenggelam pada pukul 03.00 pagi dalam perjalanan menuju Tanjung Balai Asahan,” ungkap dia.

“Menurut nelayan yang melaporkan jumlah penumpang kapal berjumlah 100 orang, tetapi menurut laksamana kapal itu maksimal 70 orang berdasarkan ukuran kapal,” lanjut Herman.

Dia juga mengatakan bahwa sampai saat ini operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung dan akan dilakukan selama tujuh hari dengan mengerahkan tujuh kapal laut dan satu helikopter.

“Satgas KBRI terus melakukan koordinasi. Saat ini satgas juga sudah mengirim tim menuju kantor polisi hutan melintang untuk bertemu dengan korban yang selamat sekaligus memperoleh keterangan langsung,” ujar Dubes Herman.

Laporan awal menyebutkan, ada 13 orang ditemukan tewas dan 13 orang lainnya selamat dalam peristiwa kapal tenggelam itu.

Kapal tersebut tenggelam di lepas pantai barat Malaysia dekat Selat Malaka. Kapal tersebut dilaporkan mengangkut para imigran gelap asal Indonesia.

Juru bicara Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA), seperti dilansir kantor berita Reuters, mengatakan bahwa insiden itu terjadi di perairan distrik Sabak Bernam, negeri bagian Selangor pada Kamis (3/9) sekitar pukul 10.30 waktu setempat.

Sumber dari MMEA mengatakan, para petugas penyelamat dari distrik maritim Klang telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan misi pencarian dan penyelamatan.[] sumber: antaranews.com

Tiga Hari Meninggalkan Rumah, Mariati Ditemukan Meninggal di Krueng Keude Peureulak

Tiga Hari Meninggalkan Rumah, Mariati Ditemukan Meninggal di Krueng Keude Peureulak

IDI RAYEUK – Warga Peureulak menemukan satu mayat wanita di sungai Desa Keude Peureulak pada Minggu, 23 Agustus 2015 sekitar pukul 11.15 WIB. Mayat wanita tersebut ditemukan oleh dua warga yang sedang mencari udang di sungai setempat.

Bahrol, 62 tahun, dan Amrizal, 36 tahun, keduanya merupakan saksi yang melihat sesosok mayat yang tersangkut di ranting kayu tersebut. Keduanya langsung melaporkan hal ini kepada keuchik setempat dan Polsek Peureulak.

Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim Aceh Timur AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Senin, 24 Agustus 2015, membenarkan adanya penemuan mayat wanita di Krueng Desa Keude Pereulak tersebut.

“Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim gabungan Polres Aceh Timur beserta anggota Polsek Peureulak Kota melakukan olah TKP,” ujar AKP Budi.

Korban diketahui bernama Mariati, 65 tahun. Dia merupakan warga Desa Blang Senibong Kecamatan Langsa Kota.

“Dari hasil visum oleh dokter Pukesmas Peureulak Kota, tidak ditemukan bekas atau tanda-tanda kekerasan terhadap korban,” kata Budi.

Berdasarkan keterangan anak kandung korban, M, Zain, 40 tahun, diketahui bahwa Mariati sudah tiga hari meninggalkan rumah. Selain itu, korban juga disebut-sebut mengalami gangguan jiwa.

Sementara itu, lanjut AKP Budi, keluarga korban tidak membuat laporan lanjutan kepada polisi. Menurutnya pihak keluarga rela dan tidak mempermasalahkan atas kematian orangtuanya.

“Setelah hasil visum kemarin sekitar pukul 16.00 WIB, jenazah Mariati dibawa pulang keluarganya ke rumah duka Desa Blang Senibong Kecamatan Langsa kota,” kata Kasat Reskrim.[](bna)

Karyawan PTPN Cot Girek Tenggelam di Danau Buatan

Karyawan PTPN Cot Girek Tenggelam di Danau Buatan

LHOKSUKON – Slamet, 30 tahun, karyawan PT Perkebunan Nusantara I Cot Girek ditemukan meninggal dunia di Danau Buatan DAM V, Gampong Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, Kamis, 13 Agustus 2015 pukul 07.00 WIB. Ia tenggelam setelah sampannya terbalik di tengah danau. (Baca: Dam V Cot Girek, dari Bekas Kebun Nanas Belanda hingga Mitos Putri Hijau)

“Ia pergi menjala ikan ke danau bersama temannya yang juga karyawan PTPN, Jois Suroso, 46 tahun. Awalnya mereka hanya memarkir sampannya di tepian danau. Tiba-tiba Slamet melihat ada orang yang naik sampan lainnya di tengah danau, ia pun mengajak Jois untuk ke tengah danau,” kata salah seorang sumber di Gampong Cot Girek yang tidak ingin namanya disebutkan kepada portalsatu.com.

Ia melanjutkan, setiba di tengah danau, sampan yang dilihat tadi menghilang. Sampan mereka terbalik saat keduanya memutuskan berbalik arah dan kembali ke tepian danau.

“Saat berenang ke tepian, Jois berhasil mencapai bibir danau. Sementara Slamet kehabisan tenaga. Sebelum tenggelam Slamet sempat meminta tolong pada temannya dan mengatakan tidak sanggup lagi berenang. Namun Jois pun sudah kehabisan tenaga dan tidak mampu berenang lagi. Pasalnya jarak bibir danau dengan lokasi perahu terbalik sangatlah jauh,” ujar warga yang berprofesi sebagai guru itu.

Kejadian tersebut dibenarkan oleh Kapolsek Cot Girek, Ipda Asriadi Iswanto. Saat dihubungi via telepon seluler dia mengatakan Slamet dan Jois Suroso pergi ke danau untuk menjala ikan pada Rabu, 12 Agustus 2015 pukul 19.00 WIB. Sampan yang mereka tumpangi terbalik di tengah danau pukul 21.00 WIB. Sedangkan jasad korban baru ditemukan pukul 07.00 WIB tadi (Kamis-red).

“Sebelum pergi ke danau, Slamet sudah dilarang abang iparnya, Syamsudin, 40 tahun, satpam PTPN I Cot Girek yang juga merupakan pawang Danau Buatan DAM V. Namun Slamet tetap bersikukuh untuk pergi juga,” kata Kapolsek Cot Girek.

Menurutnya saat sampan tenggelam, Slamet dan Jois sempat berusaha membalikkannya, namun gagal. Kala itu Jois sempat mengajak Slamet untuk berenang ke tepian danau dekat hutan dengan jarak lebih dekat. Tapi Slamet menolak dengan alasan lokasi itu terlalu gelap. Slamet pun mengajak Jois berenang ke tepian tempat sampan mereka awalnya disandarkan.

“Setelah berhasil meraih tepian, Jois langsung meminta pertolongan warga setempat. Setelah melakukan pencarian sampai pagi, jasad korban baru berhasil ditemukan pukul 07.00 WIB. Abang iparnya memutuskan turun ke dalam danau. Saat hendak menyelam kakinya menyentuh tubuh Slamet, ia pun langsung menarik dan membawanya ke tepian,” katanya.

Saat ini jasad korban telah dikebumikan di TPU Gampong Cot Girek. “Kita sudah datangi lokasi dan memintai keterangan saksi. Keluarga korban telah membuat pernyataan menolak divisum karena meyakini meninggalnya Slamet murni musibah,” kata Ipda Asriadi.[](bna)

Bukan Muhrim, Ayah Larang Penjaga Pantai Selamatkan Anak Gadisnya

Bukan Muhrim, Ayah Larang Penjaga Pantai Selamatkan Anak Gadisnya

Seorang ayah yang amat protektif pada anaknya menolak pertolongan penjaga pantai untuk menyelamatkan putrinya yang sedang tenggelam. Alasannya, lantaran si penjaga pantai bukan muhrim anaknya.

Akibatnya, sang anak yang berusia 20 tahun itu meninggal lantaran tenggelam di pantai. Hal ini terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab, seperti dilansir dari metro.co.uk, Senin (10/8).

“Ini merupakan salah satu insiden mengerikan yang terjadi sepanjang sejarah karir saya,” ujar Wakil Direktur Kepolisian Dubai Letnan Kolonel Ahmed Burqibah.

Ahmed mengatakan kejadian tak terlupakan ini amat menyedihkan. Sang ayah terlalu protektif pada anak gadisnya.

Dia menyebutkan, untuk masalah pertolongan pada orang yang tenggelam, tak seharusnya memikirkan muhrim atau tidak.

“Yang seharusnya kita utamakan adalah keselamatan,” kata dia.

Gadis 20 tahun malang ini terbawa ombak pantai yang membesar. Dia sudah berteriak minta tolong, sang ayah hanya tertegun melihat anaknya tenggelam.

Sementara itu, seorang penjaga pantai bergegas untuk menolong si gadis, namun dihadang dan dilarang oleh ayahnya.

‘Dia berkata, ‘jangan sentuh dia, kamu bukan muhrimnya’,” ujar Ahmed. | sumber : merdeka

Tarmizi Panyang Harapkan Korban Tenggelam di Sawang Segera Ditemukan

Tarmizi Panyang Harapkan Korban Tenggelam di Sawang Segera Ditemukan

BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) asal Sawang, Tarmizi atau kerap disapa Panyang, ikut simpati dengan musibah tenggelamnya Harmaini, warga Desa Krueng Baroe, Kecamatan Sawang Aceh Utara. Hal ini disampaikannya kepada portalsatu.com melalui sambungan telepon di Banda Aceh, Kamis, 29 Juli 2015.

“Sebagai putra Sawang, saya jelas berduka dengan musibah ini. Kita berharap korban segera ditemukan,” katanya.

Tarmizi juga turut mengapresiasi seluruh relawan yang hingga kini masih di lapangan mencari korban. Baik itu Tim Search and Rescue (SAR), personil polisi maupun masyarakat setempat.

Dia mengatakan bakal mengunjungi rumah korban dalam waktu dekat. “Saya sudah menjadwalkan berkunjung ke rumah korban nantinya,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Harmaini, anak di bawah umur dari  Desa Krueng Baroe, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, dilaporkan hanyut di aliran Krueng (Sungai) Paya Raboe, Sawang, Rabu, 29 Juli 2015, sekitar pukul 08.30 WIB.

Informasi dihimpun portalsatu.com di lokasi kejadian, korban yang masih berusia 16 tahun itu, pagi tadi menyebrang sungai dari desanya menuju Paya Raboe.

“Dia mencoba menerobos air sungai yang sedang tinggi,” kata Jalaluddin, warga setempat.

Sepengetahuan Jalaluddin, korban ingin bekerja sebagai buruh angkut pasir  di Sungai  Paya Raboe, tetangga Desa Krueng Baroe. Kata dia, korban menyebarng sungai bersama sejumlah rekannya. “Korban yang tidak bisa berenang  melihat rekannya semua sudah menyebrang, dia pun langsung menerobos air sungai yang sedang tinggi dan keruh itu,” ujar Jalaluddin.

Menurut Jalaluddin, korban sempat berteriak minta pertolongan pada rekan-rekannya. “Mendengar suaranya, rekan-rekannya pun sempat menolong, namun arus yang deras membuat mereka tidak bisa membantu maksimal dan akhirnya Harmaini hanyut,” katanya.

Kapolsek Sawang Iptu Bukhari di lokasi kejadian mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan tim SAR Aceh Utara, masyarakat sekitar dan Polsek Muara Batu untuk menyisir aliran Sungai Paya Raboe hingga ke Krueng Mane, Muara Batu.

Bukhari menambahkan, hasil pencarian sejauh ini baru ditemukan topi rimba milik korban. Tim SAR dibantu petugas kepolisian dan warga setempat saat ini sedang menyelam dan menyisir aliran sungai tersebut.[]

Mayat Remaja Asal Pidie Ditemukan Terapung di Perairan Pulau Bunta

Mayat Remaja Asal Pidie Ditemukan Terapung di Perairan Pulau Bunta

JANTHO- M. Ahyar, 17 tahun, remaja yang tenggelam di pantai Lhoknga, Aceh Besar, Kamis 23 Juli 2015 lalu, akhirnya ditemukan. Mayat remaja ini ditemukan terapung di perairan Pulau Bunta, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Hal ini dibenarkan AKP Zainuddin, Kapolsek Lhoknga saat dihubungi portalsatu.com sore tadi.

“Iya benar telah ditemukan jenazah Ahyar yang dicari empat hari yang lalu di Pulau Bunta oleh nelayan. Pukul 18.00 WIB tadi sudah dibawa pulang ke rumah duka,” katanya.

“Ciri-ciri di tubuh jenazah masih lengkap baju merah dan celana jeans sebagaimana pakaian yang dikenakan korban saat menghilang,” katanya lagi.

Perangkat Desa Pulo Panjo, Kecamatan Gelumpang Baru, Kabupaten Pidie, Salahuddin, 29 tahun, juga mengatakan Ahyar sudah ditemukan sekitar pukul 12.00 WIB siang tadi.

“Tadi siang ditemukan oleh nelayan, dari perairan Pulau Bunta 3 jam didaratkan ke pantai Pulo Kapuk Lhoknga. Ciri-cirinya benar warga kami yang hilang di pantai Lhoknga empat hari yang lalu, karena disana ada Cek nya korban yang mengenal tubuhnya korban,” kata Salahuddin saat dihubungi portalsatu.com sore tadi.

“Sekarang mayatnya sedang diperjalanan pulang ke Pidie. Di dalam ambulance korban bersama ceknya,” katanya lagi.

Kata Salahuddin, ayah korban bernama Abu Bakar Zakaria, 46 tahun, siang tadi atas inisiatif aparat desa juga sudah dibawa pulang karena mengalami stres tinggi akibat Ahyar yang sudah beberapa hari belum ditemukan.

“Pas kami tiba di Pidie, langsung dapat kabar bahwa mayat Ahyar telah ditemukan, sekarang kami sedang menunggu tiba ambulance di sini,” kata Salahuddin.

Sebelumnya diberitakan seorang remaja bernama Ahyar, 17 tahun warga Pulo Panjo Kecamatan Gelumpang Baru Kabupaten Pidie terseret arus saat mandi di pantai Lhoknga, Kamis, 23 Juli 2015. [] (mal)

Remaja Pidie yang Tenggelam di Lhoknga Belum Ditemukan

Remaja Pidie yang Tenggelam di Lhoknga Belum Ditemukan

JANTHO – Muhammad Ahyar, 17 tahun, warga Puloe Panjoe, Kecamatan Gelumpang Baru Kabupaten Pidie yang tenggelam di pantai Lhoknga hingga hari ini belum ditemukan, Jumat, 24 Juli 2015.

“Waktu tahu kabar Ahyar tenggelam, kami langsung berangkat ke sini dan Ahyar belum ditemukan sampai sekarang ini,” kata ayah korban, Abu Bakar Zakaria, 46 tahun, saat dijumpai portalsatu.com siang tadi.

Berdasarkan informasi dari rekan-rekan korban menyebutkan, Muhammad Ahyar terseret arus di ujung batu gunung laut Lhoknga. Korban sempat ditolong oleh rekan-rekannya namun tidak berhasil.

“Kawan-kawannya juga menyelamatkan diri. Kami berharap Ahyar segera ditemukan karena orang di kampung semuanya cemas,” kata Salahudin, 21 tahun, perangkat Desa Pulo Panjoe saat dijumpai di lokasi.

Kapolsek Lhoknga, AKP Zainuddin mengatakan kebanyakan korban tenggelam di daerah Lhoknga keseringan tamu dan pendatang.

“Karena kalau warga di sini memang sudah tahu dimana daerah rawan untuk mandi laut. Sementara tamu tidak tahu apa-apa. Kami sudah memasang tanda daerah rawan dilarang mandi di kawasan tertentu, tetapi ada yang memindahkan,” ujar Kapolsek Zainuddin saat ditemui di ruang kerjanya.

Sebelumnya diberitakan, seorang remaja asal Gampong Pulo Panjo, Kecamatan Glumpang Baro, Pidie bernama M Akhyar, tenggelam saat mandi-mandi di laut Lhoknga, Aceh Besar. Kejadian tersebut tepat di depan PT Lafarge Cement Indonesia sekitar pukul 17.00 WIB, Kamis, 23 Juli 2015.[](bna)

Foto: Keluarga korban berada di pantai Lhoknga untuk mencari Muhammad Akhyar. @Zahratil Ainiah/portalsatu.com

Lima Orang Tenggelam di Aceh Tamiang, Dua Selamat Tiga Hilang

Lima Orang Tenggelam di Aceh Tamiang, Dua Selamat Tiga Hilang

KARANG BARU – Lima warga Dusun Porwo Sari Desa Tanjoeng Mancang, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, hanyut terbawa arus sungai di desa setempat, Sabtu, 18 Juli 2015 sekitar pukul 20.30 WIB. Kelima korban yang masih satu keluarga ini dilaporkan hendak mencari ikan.

Dua dari lima korban dilaporkan selamat. Mereka adalah Syaiful Hamdani, 19 tahun, dan Faris Zulhap, 16 tahun. Sementara tiga korban lainnya hingga kini belum ditemukan.

Mereka yang hilang adalah Saiful Hamidi, 23 tahun, Mahmuddin, 30 tahun, dan Abdurrahman, 14 tahun.

“Mereka itu satu keluarga, termasuk abang ipar mereka Mahmuddin. Mereka hendak memancing untuk bakar-bakar ikan malam itu,” kata Wakil Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Jemi, kepada portalsatu.com melalui seluler, Minggu sore, 19 Juli 2015.

Menurut Jemi, kejadian naas itu disebabkan karena sampan yang ditumpangi korban terbalik. Mereka kala itu hendak memancing di sungai itu. Awalnya sampan itu ditumpangi oleh Saiful Hamidi, Abdurrahman dan Faris Zulhap.

Jemi mengatakan sampan itu terbalik saat posisi sudah di tengah sungai. Ketiganya dilaporkan juga tidak bisa berenang. Namun beruntung, Faris Zulhap berhasil menggapai sampan untuk dijadikan pelampung. Sementara Saiful Hamidi dan Abdurrahman hanyut dalam derasnya aliran sungai.

“Syaiful Hamdani dan Mahmuddin kala itu menunggu di daratan,” kata Jemi.

Melihat kondisi tersebut, Mahmuddin mencoba menolong ketiga korban yang tenggelam. Namun naas, Mahmuddin juga ikut tenggelam dibawa arus karena dua korban yang hendak dia tolong terlalu panik.

“Mahmuddin katanya bisa berenang. Tapi karena dua korban terlalu panik, akhirnya Mahmuddin pun ikut menjadi korban,” ujarnya.

Faris Zulhap berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki sampan. Dia kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada warga setempat.

“Mereka yang lapor ke warga dan akhirnya kita sisir aliran sungai. Kita mulai melakukan pencarian pada Sabtu malam itu juga hingga hari ini,” kata Jemi.

Petugas SAR Aceh Tamiang dibantu Basarnas Pos Langsa masih mencari ketiga korban hingga berita ini dikirimkan ke redaksi pukul 18.00 WIB tadi.[](bna)