Tag: tembak

Lagi, Polisi Tembak Mati Pencuri Motor

Lagi, Polisi Tembak Mati Pencuri Motor

JAKARTA – Satuan Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menembak mati seorang pencuri motor, Doni bin Kriah. Seorang pencuri lain, Suni Alamsyah, juga ditembak di bagian lutut karena mencoba melarikan diri saat hendak ditangkap. Penembakan dua pencuri motor itu terjadi di Cijantung, Jakarta Timur.

Menurut Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Eko Hadi Santoso, polisi terpaksa menembak karena kedua pencuri itu dianggap berbahaya. “Mereka berulang kali melakukan pencurian dengan sadis. Jika terdesak, mereka tak segan menembak dengan senjata api rakitan,” katanya, Jumat, 28 Agustus 2015.

Menurut Eko, salah satu bukti keganasan Doni dan Suni adalah tak ragu menembakkan senjata api rakitan. “Dia pernah menembak waktu mencuri di Kebagusan, korbannya luka di perut,” kata Eko.

Sebelumnya, pada 19 April 2015 polisi telah menembak mati dua pencuri motor di kawasan Cijantung. Korbannya adalah Juwandi dan Syarif alias Lemos. Tampaknya penembakan mati kedua maling motor itu tidak membuat jera, muncul kompolotan Doni dan Suni yang menggantikannya.

Menurut Eko, target komplotan ini adalah sepeda motor yang terparkir tanpa penjagaan. “Salah satu pelaku turun dan langsung merusak lubang kunci,” kata dia. Jika terpergok, mereka tidak segan menembak senjata api rakitan yang selalu dibawa oleh Doni.

Eko menjelaskan setelah berhasil mencuri, barang curian langsung dijual ke penadah di Bogor atau dibawa ke Lampung. Lokasi transaksi dengan penadah berada di depan Mal Graha Cijantung dan Terminal Kampung Rambutan. Dalam pemeriksaan, kata dia, dalam dua bulan ini Suni sudah menggasak 50 unit sepeda motor.[] Sumber: tempo.co

Foto ilustrasi.

Intel Itu “Anak” Mantan Pangsagoe

Intel Itu “Anak” Mantan Pangsagoe

HENDRI dan Indra dilaporkan dihadang kelompok bersenjata, kurang 10 menit setelah dua intelijen TNI itu pamit dari rumah Mukim Daud. “Oma, lôn ka hana lé kuh,” ujar Mukim Daud panik usai mendengar kabar itu. Mantan Pangsagoe ini mencemaskan nasib Hendri yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Mukim Daud merasa terpukul tatkala mengetahui Hendri ditemukan menjadi mayat. Bagaimana ceritanya?

Muhammad Daud akrab disapa Mukim Daud. Ada pula yang memanggilnya Keuchik Daud. Pasalnya, tahun 1990-an, ia merupakan Kepala Dusun Alue Mbang. Saat itu, masyarakat memanggilnya Keuchik Alue Mbang. Alue Mbang salah satu dusun di Desa Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Nisam Antara sendiri hasil pemekaran Nisam, sebuah kecamatan di kawasan pedalaman.

Masa konflik bersenjata, Muhammad Daud bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan menjabat Panglima Sagoe (Pangsagoe) Babah Krueng, Nisam. Ia kemudian menjadi Mukim GAM di kecamatan itu. Masa damai Aceh, Daud diangkat sebagai Imum Mukim Bate Pila, Kecamatan Nisam Antara. “Dari Mukim GAM ke Mukim RI, itulah Mukim Daud,” ujar warga dan aparatur desa setempat. Mukim Daud mengamini.

Mukim Daud menjadi bahan perbincangan berbagai kalangan di Aceh setelah insiden penculikan hingga menewaskan dua intelijen TNI di Nisam Antara…(Baca selengkapnya di Majalah ATRA Edisi Perdana)

45 Personil Polres Bener Meriah Ditarik dari Perbatasan

45 Personil Polres Bener Meriah Ditarik dari Perbatasan

REDELONG – Sebanyak 45 personil Polres Bener Meriah telah ditarik dari operasi pengejaran kelompok bersenjata api, pembunuh dua anggota TNI di Aceh Utara, Selasa, 14 April 2015.

“Sesuai perintah, 14 April 2015 kemarin sementara waktu telah kita tarik personil Polres Bener Meriah,” kata Kapolres Bener Meriah AKBP Wawan Setiawan, kepada portalsatu.com, Kamis, 16 April 2015.

Ia mengatakan meski operasi di perbatasan Bener Meriah-Aceh Utara itu sudah ditarik, tapi razia di lintas Bireun-Takengon tetap digelar. Razia itu bahkan diperketat guna mempersempit gerak kelompok bersenjata api.

“Razia akan terus kita lakukan, sehingga ruang gerak kelompok itu semakin sempit,” katanya.

Menurutnya dalam razia itu akan diperiksa barang bawaan para pengemudi. Razia tersebut juga dilakukan pada kendaraan roda dua, roda tiga dan roda empat.

Sebelumnya dilaporkan, 45 personil di jajaran Polres Bener Meriah dikerahkan ke perbatasan kabupaten tersebut dengan Aceh Utara. Pengiriman puluhan personil polisi ini untuk melakukan operasi pengejaran kelompok bersenjata api ilegal, pembunuh dua anggota Kodim 0103 Aceh Utara beberapa waktu lalu.[](bna)

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

Darwis Jeunib: Daripada DOM, Serahkan Senjata Lagi Kepada Mantan Kombatan Untuk…

BIREUEN — Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyebutkan akan memberlakukan kembali daerah operasi militer (DOM) di Aceh jika masih terjadi penembakan terhadap TNI dikecam oleh mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Darwis Jeunib.

Ia mengaku kejadian kemarin murni kriminal terpisah dari konflik internal antara separatis dan TNI/Polri. “Daripada memberlakukan DOM lagi di Aceh, lebih baik menyerahkan senjata lagi kepada mantan kombatan untuk meringkus kawanan pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat,” ujarnya pekan ini, seperti ditulis Kompas.com.

Dia mengakui, masyarakat Aceh tak mau lagi konflik berulang hingga menyebabkan duka akibat kehilangan nyawa dan harta benda mereka. Aceh kini sudah lelah hidup dalam kungkungan konflik yang menyisakan luka.

Di samping itu, sekian lama masyarakat tak bisa melakukan aktivitas memperbaiki ekonomi untuk leluasa bekerja siang dan malam. “Jadi, tak ada alasan untuk DOM kembali berlaku di Aceh. Kami ingin Aceh damai, aman, dan tenteram sampai kapan pun juga,” kata Ketua Partai Aceh (PA) Kabupaten Bireuen itu.

Darwis mengaku perjuangan sudah usai dan ia tak ingin ada kekacauan untuk memorak-porandakan Aceh. Kalaupun ada konflik, dia berharap segala sesuatu dipikirkan dengan pikiran jernih dan musyawarah guna mendapatkan solusi terbaik yang tidak merugikan masyarakat.

“Saat ini yang terpenting adalah membangun komunikasi dan kerja sama agar Aceh tetap menjadi bagian dari kedaulatan NKRI,” kata tokoh GAM ini.[] sumber: tribunnews.com

Mahasiswa Aceh Nilai Statemen Panglima TNI Terlalu Ambigu

Mahasiswa Aceh Nilai Statemen Panglima TNI Terlalu Ambigu

BANDA ACEH – Mahasiswa dan Pemuda Peduli Perdamaian Aceh (M@PPA) menilai statemen yang disampaikan Panglima TNI terkesan ambigu dan memperkeruh suasana. Hal tersebut disampaikan Koordinator M@PPA, Azwar AG, menyikapi perintah Panglima TNI kepada jajarannya untuk mencari pelaku sampai dapat.

“Kan itu ranah kepolisian. Aceh ini negeri hukum, serahkan kepada polisi sebagai penegak hukum. Moeldoko (Panglima TNI) tidak boleh gegabah,” kata Azwar, Selasa, 31 Maret 2015.

Menurutnya Panglima TNI dan Menteri Pertahanan seharusnya saling berkomunikasi dalam kasus ini. Selain itu, Azwar juga mempertanyakan pernyataan Panglima TNI yang mengaitkan penembakan dua intel TNI dengan mantan kombatan GAM serta pernyataan Menhan yang mengatakan DOM akan terulang lagi di Aceh.

It’s not fair dan ini sangat bertentangan dengan semangat perdamaian. Apa di zaman modern ini Panglima TNI mau bawa Aceh lagi ke ladang konflik? Kapan Aceh akan maju kalau terus perang selalu,” ujar Azwar.

Dia juga berharap Panglima TNI untuk membaca kembali butir-butir MoU Helsinki. Menurutnya berdasarkan kesepakatan damai seharusnya TNI bertugas sebagai eksternal defense. Selain itu, kata Azwar, berdasarkan sapta marga prajurit TNI membela kedaulatan serta pertahanan keamana negara ini.

“Jika Wapres RI sudah bicara itu terkait narkoba, berarti itu pelaku kriminal narkoba. Jangan interpretasi dengan asumsi liar, bisa buat kegaduhan di lapangan (Aceh). Bisa-bisa TNI bertindak ekstra ordinary dan ini saya ingatkan, membahayakan NKRI serta mengancam perdamaian Aceh,” kata Azwar.

Dia juga meminta TNI tetap waspada dan mawas diri dan melaksanakan tugas di Aceh berdasarkan undang-undang. “Bukan berdasarkan interpretasi dan asumai liar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penuh dedikasi dalam bertugas,” katanya.

M@PPA meminta Panglima TNI untuk memerintahkan Pangdam IM agar segera menarik semua prajuritnya yang masih berada di Nisam. Menurutnya tidak ada alasan TNI akan melakukan latihan di sana. “Ini bisa mengganggu kenyamanan masyarakat yang belum sembuh dari trauma masa konflik,” ujarnya.[](bna)

Kadispen TNI AD: Pelaku Diduga Sembunyi di Rumah Warga

Kadispen TNI AD: Pelaku Diduga Sembunyi di Rumah Warga

JAKARTA – Hingga kini, para pelaku penculik dan pembunuh 2 anggota intelijen Kodim 0103 Aceh Utara Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36) belum tertangkap. Dugaan baru muncul, para pelaku bersembunyi atau disembunyikan di rumah-rumah warga.

“Para pelaku belum ditemukan. Mereka pasti bersembunyi. Dugaan utamanya, para pelaku ini bersembunyi di rumah masyarakat, atau ada masyarakat yang mendukung. Karena kalau lari ke hutan akan lebih mudah ditangkap,” kata Kadispen TNI AD Brigjen Wuryanto saat dihubungi lewat telepon, Selasa, 31 Maret 2015.

Karena itu, kata Wuryanto, masyarakat diimbau untuk membantu sepenuhnya aparat kepolisian dan TNI dalam mengungkap kasus pembunuhan ini. Kondisi keamanan di Aceh jangan sampai rusak karena segelintir orang.

“Bantu sepenuhnya aparat TNI dan polisi mengungkap kasus pembunuhan ini. Jaga kepercayaan TNI dan aparat dengan masyarakat memberikan informasi seluas-luasnya, sehingga akan terungkap siapa sebetulnya para pelaku yang meresahkan ini,” imbuh Wuryanto.

TNI dan polisi terus mencari para pelaku dengan saling tukar menukar informasi. “Segala kemungkinan kita jaga. Di wilayah perbatasan juga penjagaan makin kita perketat,” jelas perwira bintang 1 ini.

“Kasus ini kita kembangkan terus. Informasi yang masuk makin banyak, tapi kadang ada info-info yang menyesatkan. Makanya kita saring betul, dianalisis tim di lapangan, baru ditindaklanjuti,” ucap Wuryanto.

Kemarin Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyebut, kasus ini terkait penemuan 3 ladang ganja di Aceh oleh prajurit TNI. Ia menduga para pemilik ladang barang haram tersebut merasa terusik dengan keberadaan anggota TNI.

“Semua kasus ini dalam konteks pidana. Prajurit saya temukan tiga ladang ganja dan juga menemukan sabu. Mungkin mereka (para pelaku penembakan) terganggu dengan itu,” kata Moeldoko saat diwawancarai wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin 30 Maret 2015. Tiga Ladang ganja itu masing-masing seluas 15 hektare, 8 hektare, dan 1,5 hektare.[] sumber: detik.com

Siapa Penanggung Jawab Pengejaran Kelompok Pembunuh Intel TNI?

Siapa Penanggung Jawab Pengejaran Kelompok Pembunuh Intel TNI?

LHOKSEUMAWE – Koalisi NGO HAM dan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mempertanyakan penanggung jawab operasi pengejaran kelompok bersenjata api yang membunuh dua Intel TNI di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Publik berhak tahu siapa penanggung jawab operasi ini, jika terjadi sesuatu terhadap masyarakat tidak berdosa siapa penanggungjawabnya. Dan status dari operasi ini apa. Jadi penting kejelasan dan kepastian dari sisi akuntabel operasi ini,” kata Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad didampingi Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra kepada portalsatu.com, di Nisam Antara, Senin, 30 Maret 2015.

Zulfikar dan Hendra menilai penting pula kepastian tenggat waktu operasi yang dilancarkan aparat keamanan di Nisam Antara dan kecamatan sekitarnya. Pasalnya, menurut keduanya, operasi pengejaran kelompok bersenjata itu telah berdampak buruk terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

“Masyarakat yang hampir pulih dari trauma konflik bersenjata, sekarang kembali merasa takut karena melihat banyak tentara bersenjata lengkap yang keluar masuk kawasan perkebunan dan hutan. Ibarat luka yang hampir pulih, kini luka itu kembali terkoyak. Itu yang dirasakan masyarakat di Nisam Antara saat ini,” ujar Zulfikar diamini Hendra.

Itu sebabnya, Koalisi NGO HAM dan KontraS Aceh mendesak agar pasukan TNI segera ditarik dari operasi pengejaran kelompok bersenjata di Aceh Utara. Mestinya, kata Zulfikar dan Hendra, TNI hanya diturunkan jika Polri tidak mampu melaksanakan tugas pengejaran tersangka kriminal dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Tarik TNI, kalau polisi tidak sanggup baru diturunkan tentara sebagai tenaga
perbantuan. Tentara jadi pasukan tambahan jika kemudian
polisi tidak mampu lagi di lapangan,” kata Zulfikar. “Dan jumlah polisi harus lebih banyak dari tentara,” Hendra menambahkan.

Hendra turut mempertanyakan target operasi aparat keamanan yang terkesan berubah-ubah dalam hampir sepekan ini. Penilaian itu, kata dia, terlihat dari pernyataan petinggi aparat keamanan lewat media massa.

Sebenarnya aparat keamanan targetnya apa, ini kok sepertinya berubah-ubah. Awalnya targetnya (kelompok bersenjata) Din Minimi, terakhir kit baca di media sudah terkait operasi ladang ganja,” ujar Hendra.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad dan Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra memantau kondisi di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin, 30 Maret 2015.

“Kita ingin melihat langsung situasi terakhir di Nisam Antara (sepekan paska kejadian penculikan dan penembakan yang menewaskan dua Intel TNI),” kata Zulfikar Muhammad didampingi Hendra Saputra. (Baca: Koalisi NGO Ham dan Kontras Pantau Nisam Antara).[]

TNI Cari Pistol P-I Pindad Milik Intel yang Tewas di Aceh

TNI Cari Pistol P-I Pindad Milik Intel yang Tewas di Aceh

BANDA ACEH – Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mencari keberadaan satu senjata api jenis pistol buatan Pindad yang hilang saat dua personel Kodim 0103 ditemukan meninggal dunia setelah diculik kelompok bersenjata.

Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Agus Kriswanto, mengatakan, jenis senjata yang hilang adalah Pistol P-I Pindad.

“Senjata yang hilang memang cuma satu pucuk saja, tapi itu harus dicari karena itu harus dipertanggungjawabkan. Ya kita masih melakukan pencarian di sekitar tempat kejadian perkara, karena di situ hilangnya dan di situ anggota kita ditemukan, dan kemungkinan besar memang pelakunya belum menjauh dari lokasi kejadian,” ujar Agus usai melakukan pertemuan dengan Komisi III DPR-RI di Markas Polda Aceh, Senin, 30 Maret 2015.

Saat ini, lanjutnya, sudah tidak ada pengerahan personel TNI secara intensif ke kawasan Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

“Namun proses mencari ya masih tetap ada dan itu dilakukan oleh personil TNI di jajaran Korem dan Kodim dan tentunya bersama polisi yang terus melakukan upaya pemburuan pelaku tindak kejahatan tersebut,” ujarnya.

Agus menuturkan, saat ini kondisi Kecamatan Nisam Antara justru sudah sangat kondusif. Personel TNI dan polisi diturunkan di kawasan ini untuk menjamin keamanan warga.

Dalam pertemuan dengan Komisi III DPR RI, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, juga menegaskan bahwa saat ini polisi masih terus melakukan pengejaran terhadap pelaku penculikan dan pembunuhan terhadap dua personil TNI di jajaran Kodim 0103 Aceh Utara.

“Kita ketahui ada tiga kelompok bersenjata yang kini diburu oleh polisi, masing-masing kelompok Din Minimi kelompok Raja Rimba dan kelompok yang membuat keresahan di Nisam, dan beberapa anggota dari kelompok-kelompok ini ada yang sudah ditangkap polisi, misalnya Raja Rimba. Namun kemudian nama Raja Rimba digunakan lagi oleh kelompok lainnya,” ungkap Husein.

Dia pun mensinyalir penggunaan senjata api bekas konflik masih beredar luas secara ilegal.

“Oleh karenanya, kita terus mengimbau agar warga yang memiliki senjata bisa menyerahkannya termasuk warga yang mengetahui keberadaan senjata api di kalangan warga untuk bisa memberitahukan kepada aparat yang berwajib,” tegasnya.[] sumber: kompas.com

Koalisi NGO HAM dan KontraS Pantau Nisam Antara

Koalisi NGO HAM dan KontraS Pantau Nisam Antara

LHOKSUKON – Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad dan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Hendra Saputra memantau kondisi di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin, 30 Maret 2015.

“Kita ingin melihat langsung situasi terakhir di Nisam Antara (sepekan paska kejadian penculikan dan penembakan yang menewaskan dua Intel TNI),” kata Zulfikar Muhammad didampingi Hendra Saputra kepada portalsatu.com, Senin jelang sore.

Selain mengelilingi desa-desa di kawasan pedalaman itu, Zulfikar dan Hendra turut menjumpai sejumlah warga termasuk Keuchik Alue Papeun, Nisam Antara, Syawaluddin. Keduanya pun sempat ngopi bareng bersama warga dan keuchik di warung milik M. Nur yang disinggahi Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto, Kamis lalu. (Baca: Pangdam Ngopi Bareng Warga Nisam Antara: Black Jade hingga Pinang).

Dalam perbincangan di warung kopi itu, sejumlah warga menyampaikan kepada Zulfikar dan Hendra bahwa sejak Selasa lalu hingga kini masyarakat belum berani beraktivitas di kebun. Padahal, menurut warga, saat ini tengah musim panen pinang di lahan kebun yang sangat luas.

“Dari rumah, kami hanya ke warung kopi, belum berani ke kebun, karena banyak tentara (mengejar kelompok bersenjata), takut terjadi seperti masa konflik (kontak tembak), kami masih trauma,” kata seorang warga Dusun Bate Pila Desa Alue Papeun.

Menurut warga setempat, aparat keamanan memang tidak tampak di pemukiman penduduk, tetapi masih menyisir kawasan perkebunan dan hutan. Itu sebabnya para petani belum berani ke kebun untuk memanen pinangnya. Sementara Keuchik Syawaluddin menyebut aparat keamanan tidak melarang masyarakat beraktivitas di kebun. Kata dia, pihak kepolisian hanya menyarankan jika ke kebun agar warga tetap mengantongi KTP atau mengajak istri sebagai teman.

“Tapi masyarakat masih merasa was-was, karena teringat masa konflik, makanya belum berani ke kebun,” ujarnya.

Menurut Syawaluddin, sejauh ini tidak terjadi kekerasan atau perlakuan buruk dari aparat keamanan terhadap warga setempat.

“Aktivitas sekolah siang hari dan pengajian malam hari tetap normal. Aparat (keamanan) juga tidak melarang jika masyarakat menggelar rapat malam hari, misalnya rapat persiapan kenduri. Jadi hanya aktivitas di kebun saja yang belum berani dilakukan masyarakat,” katanya.

Setelah berdialog dengan warga dan keuchik setempat, Zulkifar dan Hendra menyimpulkan salah satu ekses operasi aparat keamanan mengejar kelompok bersenjata paska tewasnya dua Intel Kodim Aceh Utara, telah berdampak buruk pada aktivitas ekonomi masyarakat Nisam Antara dan sekitarnya.[]

Terkait Dua Intel Tewas di Aceh, Panglima TNI: Itu Pesan yang Jelas. Saya Juga Akan…

Terkait Dua Intel Tewas di Aceh, Panglima TNI: Itu Pesan yang Jelas. Saya Juga Akan…

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, pelaku penembakan terhadap dua anggota TNI di Aceh, diduga adalah mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Moeldoko menduga, penembakan itu terkait temuan tiga ladang ganja di Aceh oleh prajurit TNI.

“Penembakan itu sporadis. Informasi sementara, pelaku itu mantan anggota GAM,” ujar Moeldoko saat ditemui di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 30 Maret 2015.

Menurut Moeldoko, diduga penembakan tersebut terkait dengan penemuan tiga ladang ganja oleh prajurit TNI. Masing-masing ladang seluas 15 hektare, 8 hektare, dan 1,5 hektare. Ia menduga, para pemilik ladang ganja tersebut merasa tidak nyaman dengan keberadaan anggota TNI di wilayahnya.

Dua anggota Kodim 0103 Lhokseumawe bernama Serda Indra Irawan (41) dan Sertu Hendrianto (36), ditemukan tewas pada Senin, 23 Maret 2015, di dekat Kampung Alu Papan, Desa Alumbang, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Saat ditemukan, keduanya diketahui dalam keadaan tangan terikat ke belakang, tubuh penuh luka tembak, dan hanya mengenakan celana dalam. Selain itu, ada 12 selongsong peluru AK-47 dan tiga selongsong peluru M-16 ditemukan di sekitar jenazah.

“Perlakuan itu sangat jelas. Mereka ditembak dan ditelanjangi. Itu pesan yang jelas. Saya juga akan beri pesan yang jelas,” kata Moeldoko.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa aparat telah mendapatkan identitas masing-masing pelaku dari informasi yang diberikan warga setempat. Hingga saat ini TNI beserta kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku.[] sumber: kompas.com