Tag: Suriah

Empat Rudal Penjelajah Rusia Jatuh di Iran

Empat Rudal Penjelajah Rusia Jatuh di Iran

WASHINGTON – Para pejabat di Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, rudal-rudal penjelajah Rusia yang ditembakkan dari Laut Kaspia dengan sasaran di Suriah jatuh di Iran.

Dua pejabat yang meminta namanya dirahasiakan mengatakan, belum jelas apakah ada kerusakan akibat tembakan rudal ini.

Seorang pejabat mengatakan empat rudal keluar dari jalur tembakan.

Kantor berita Iran mengutip gubernur Provinsi Takab, Iran barat, yang mengatakan benda asing jatuh di satu desa.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan semua rudal menghantam sasaran yang diinginkan di Suriah.

Para pejabat Rusia mengatakan pada Rabu (7/10/2015) telah menembakkan 26 rudal penjelajah dari kapal tempur Rusia di Laut Kaspia dengan sasaran kelompok-kelompok jihad di Suriah utara dan barat laut.

Klaim bahwa rudal-rudal Rusia jatuh ke Iran ini muncul ketika NATO kembali menegaskan bahwa mereka akan membela sekutu mereka. NATO mengatakan telah mengubah prosedur yang memungkinkan pengerahan pasukan menjadi lebih cepat.

Perkembangan ini terjadi di saat Rusia meningkatkan keterlibatan militer mereka dalam konflik Suriah. Suriah sendiri menyambut baik “bantuan dari Rusia” dengan mengatakan serangan militer Rusia telah melemahkan kekuatan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau dikenal dengan nama ISIS.[] sumber: kompas.com

F16 Turki Usir Jet Tempur Rusia di Perbatasan Syria

F16 Turki Usir Jet Tempur Rusia di Perbatasan Syria

ANKARA – Pemerintah Turki mendadak memanggil Duta Besar Rusia di Ankara, Senin (5/10), menyusul insiden pelanggaran wilayah udara yang dilakukan sebuah jet tempur Rusia akhir pekan lalu.

Turki memprotes keras insiden tersebut. Ketika itu, jet tempur Rusia masuk ke wilayah Turki di dekat perbatasan Syria. Jet Rusia itu melanggar wilayah udara Turki pada Sabtu sekitar pukul 12.08 (waktu setempat) di wilayah Yayladagi, Provinsi Hatay, Turki selatan.

Militer Turki tak tinggal diam, sejumlah jet F-16 mencegat dan memaksa jet Rusia keluar dari wilayah tersebut.

Dilansir dari AFP, Senin (5/10), Kementerian Luar Negeri Turki telah menuntut Rusia agar tidak mengulangi pelanggaran sejenis. Turki juga meminta Rusia bertanggung jawab.

“Jet Rusia itu keluar dari wilayah udara Turki menuju Syria setelah dicegat dua F-16 dari Angkatan Udara Turki (Turkish Air Force) yang berpatroli di wilayah tersebut,” bunyi pernyataan Kemenlu Turki.

Turki dikabarkan serius menyikapi pelanggaran ini. Menteri Luar Negeri Turki Feridun Sinirlioglu bahkan disebut melakukan percakapan via telepon dengan sejumlah menteri luar negeri dari sekutu-sekutu NATO, serta Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mendiskusikan insiden ini.

Rusia dan Turki memang sudah lama berseteru terkait perang di Syria. Pemerintah Rusia dikenal sebagai pendukung utama Presiden Syria Bashar al-Assad, sementara Ankara mendesak penggulingannya sebagai satu-satunya solusi perang.[] sumber: JPNN.com

Austria Bersedia Tampung Pengungsi Suriah

Austria Bersedia Tampung Pengungsi Suriah

VIENNA – Saat beberapa negara-negara di Eropa enggan menerima pengungsi asal Suriah, Austria langsung menawarkan diri untuk menampungnya. Sebanyak 15,700 pengungsi yang berdesak-desakan menaiki bus dan kereta api, telah tiba di Austria kemarin dan hari ini.

Menurut polisi Austria, lebih 11,000 pelarian memasuki negara ini kemarin, disusul 4,700 hari ini melalui perbatasan Nickelsdorf dari Hongaria.

Kebanyakan pengungsi tersebut melalui perjalanan melelahkan dari Balkan ke barat Eropa. Sedangkan Kroasia menyatakan sudah sekitar 21.000 pengungsi telah memasuki kawasan itu sejak empat hari lalu.

Palang Merah Austria menginformasikan, sekitar 2.000 pengungsi sampai ke Jerman tanpa melalui pemeriksaan perbatasan. Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, negara ini adalah yang paling banyak menerima pengungsi.

Beberapa negara telah memberlakukan hukum pengawalan perbatasan, menyusul jumlah pengungsi yang memasuki Eropa telah mencapai setengah juta orang. Uni Eropa menerima lebih seperempat juta permohonan untuk menjadi pencari suaka yang sah sejak tiga bulan lalu.[] sumber: JPNN.com

Nestapa Pengungsi Suriah

Nestapa Pengungsi Suriah

WAJAH bocah tiga tahun itu tertelungkup. Separuh wajahnya menyentuh pasir pantai. Persis seperti pose bayi yang tengah tertidur lelap. Begitu tenang dan damai.

Namun anehnya ia tak bergerak saat hempasan ombak laut berulang kali menyapu wajahnya. Dia tetap bergeming. Hanya tangannya sesekali bergerak lemah mengikut sapuan ombak. Ada yang salah di sini. Setelah didekati, bocah itu ternyata sudah tak lagi bernyawa.

Bocah itu masih mengenakan kaus merah, celana biru, dan sepatu kecil lengkap. Pertanda jasad itu baru saja tenggelam dan terbawa ombak hingga ke pantai

Bocah kecil itu adalah satu dari 12 orang yang tewas tenggelam di lepas pantai Turki. Sempat terombang-ambing di lautan, jasad mereka terhempas ke pinggiran pantai Turki.

Bocah malang dan keluarganya itu adalah warga keturunan Kurdi. Mereka adalah pengungsi Suriah yang berusaha menggapai tanah harapan di Vancouver, Britis Columbia.

Bocah malang itu bernama Aylan Kurdi.

Belakangan, diketahui tak hanya Aylan yang mesti berkalang nyawa. Kakaknya, Galip, dan ibu mereka, Rehen, ikut menemaninya menemui Sang Pencipta ketika kapal mereka pecah di laut lepas.

Foto Aylan yang terdampar sendirian dengan seorang polisi yang berdiri di dekatnya segera mendunia. Foto itu tersebar luas secara viral di dunia maya. Jagat maya geger. Twitter berhastag #KiyiyaVuranInsanlik atau Terkaparnya Kemanusian tersebar luas.

“Dunia harus malu!” cuit Burhan Akman dalam akun Twitternya.

Ia menambahkan, “Saya melihat manusia tapi tak ada kemanusian.”

***

Foto bocah malang Aylan Kurdi menghentak cepat rasa kemanusiaan penduduk dunia. Seorang bocah bersama dua anggota keluarga lainnya harus merenggang nyawa demi kehidupan lebih baik. Mereka tersingkir dari tanah kelahirannya akibat perang berkepanjangan.

Negeri asalnya, Suriah, adalah sebuah cerita kelam tentang perang sipil bersaudara yang tak berkesudahan. Dimulai pada tahun 2011, konflik tak kunjung mereda. Bahkan semakin parah. Meninggalkan kota-kota dalam kerusakan.

Ketidakpuasan terhadap pemerintah serta pertentangan aliran membuat perdamaian sulit tercapai.

Alhasil, Suriah jadi lahan subur bagi tumbuhnya kelompok radikal. Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) pun lahir di sana. Kini perang berkepanjangan terus bergejolak. Menghancurkan masa depan setiap manusia di sana.

Amnesty International menyebut konflik di Suriah telah merenggut nyawa 220 ribu orang. Sebanyak 12,8 juta lainnya membutuhkan bantuan kemanusian. Lebih dari 50 persen populasi Suriah kini mengungsi.

Organisasi pengungsi PBB, UNHCR menyebut 4.087.139 pengungsi terkena dampak dari kekerasan yang terjadi di Suriah.

Lebih dari 2,9 juta orang Suriah kini terperangkap di dalam negaranya sendiri. Tersiksa dengan ketiadaan makanan dan infrastruktur yang memadai.

Aylan Kurdi, Galip, dan Rehan hanyalah tiga dari ribuan manusia yang mesti bertarung nyawa dalam upaya pengungsiannya. Sementara antrean panjang warga Suriah terus bergerak mencari negeri harapan baru.

Secara gerografis, para pengungsi sulit masuk ke Arab Saudi. Melalui jalur darat mereka harus melewati Irak yang juga tengah bergolak. Sebagian memang ada yang berhasil lolos. Mencari kehidupan baru di tanah-tanah Negeri Pertodollar.

Kini harapan muncul dari Benua Biru, Eropa. Dengan berjalan kaki sepanjang 200 kilometer melalui daratan atau naik kapal melewati Turki, mereka bermimpi bisa tiba di daratan Eropa.

Gelombang pengungsi pun mulai terjadi. Jerman, Inggris, Perancis, dan Swedia adalah sedikit dari Negara Eropa yang mau menerima. Tapi kondisi sekarang sudah berbeda.

Banyak penduduk negara itu mulai menolak. Dan tak semua pemimpin negara Eropa berani melawan. Meski sebagian lagi bersikukuh membuka diri menampung pengungsi dengan alasan kemanusian.

Malang tak dapat dicegah, tak semua pengungsi berhasil menggapai mimpinya. Dalam setahun sudah lebih dari 2.600 orang tewas saat berusaha melintasi Mediterania menuju Eropa.

Itu menjadikan Eropa sebagai titik mematikan para pengungsi di dunia. International Organization for Migration bahkan khawatir angka itu akan terus bertambah.

Hampir tigaperempat dari kematian pengungsi di dunia pada tahun ini terjadi d Mediterania. Angka kematian kini sudah 20 persen lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

***

Kematian Aylan Kurdi bukanlah satu-satunya kisah pilu kemanusian di tanah Eropa. Bocah ini hanyalah puncak dari gunung es tragedi pengungsi Suriah. Beragam perjuangan berat mesti dilalui pengungsi Suriah untuk tiba di Negeri Harapan baru.

Simaklah perjuangan para pengungsi yang menyusuri Rute Balkan. Dimulai dari Turki, Yunani, Macedonia, Serbia dan berakhir di Hungaria, mereka berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer.

Dari ratusan mungkin ribuan pengungsi, lensa kamera sempat menangkap momen pilu yang menyesakkan dada. Tak bisa berjalan normal, seorang remaja rela menggendong adiknya yang cacat menyusuri rute Balkan.

Peluh keringat tak hanya dirasakan para pengungsi yang berusaha menggapai negeri impian. Abdul, pria paruh baya yang sudah keluar dari kecamuk perang Suriah, masih harus berjuang memulai hidup baru di Libanon.

Sambil menggendong putrinya di bahu kanan, tangan kirinya menggenggam beberapa pucuk pena. Abdullah mencari uang dengan cara itu di jalanan kota Beirut.

“Ini gambar yang emosional. Anda lihat raut wajahnya dan cara dia memegang pena yang seakan hidupnya bergantung pada pena-pena itu,” ujar seorang aktivis asal Islandia yang tinggal di Norwegia, Gissur Simonarson, seperti dikutip dari CNN.

Namun nasib baik menghampiri Abdullah. Kemurahan hati netizen yang tergugah lewat foto Simonarson menyelamatkan hidupnya. Sumbangan uang mengalir deras. Hanya 30 menit setelah foto itu tayang, sumbangan senilai Rp 70 juta dari seluruh dunia mengalir ke kantong indiegogo.com, sebuah website komunitas yang digunakan unruk mewartakan penderitaan penjual pena itu.

Aliran uang terus mengalir cepat. Ketika media ikut memberitakan perjuangan Abdul, seluruh dunia ikut tersentuh. Kini, sumbangan untuk Abdul sudah mencapai hampir US$ 190 ribu atau sekitar Rp 2,7 miliar.

Angka yang sangat fantastis bagi solidaritas para pengguna dunia maya.

Kematian bocah malang Aylan Kurdi dan perjuangan Abdul Halim Attar serta ribuan pengungsi lainnya memang telah membuka mata dunia. Kekerasan dan perang sudah pasti bukanlah jalan bagi kemanusiaan.

Peperangan hanya bisa memproduksi kematian baru yang tak perlu. Tak terkecuali kematian seorang bocah pengungsi tiga tahun yang terdampar di pantai seperti Aylan.[] sumber: dream.co.id

Pengungsi Suriah Ini Tidak Bisa Lupakan Perbuatan Wartawati Hungaria

Pengungsi Suriah Ini Tidak Bisa Lupakan Perbuatan Wartawati Hungaria

OSAMA Abdel-Muhsen Alghadab mengaku tak akan melupakan perbuatan tak terpuji seorang juru kamera wanita Hungaria. Ya, beberapa hari lalu, Osama dan anaknya sengaja disandung oleh Petra Lazlo di perbatasan Hungaria-Serbia.

Kini, Osama bersama anak-anaknya sudah berada di Jerman.

“Saya tak mungkim memaafkan wartawan itu. Bagaimana bisa saya memaafkannya,” kata Osama, seperti dikutip dari Metro, Senin (14/9).

Dalam kejadian yang tak akan dilupakan Osama itu, saat itu dia memegang Zaid, putranya berusia tujuh tahun. Dia menceritakan, ketika itu suasana sudah sangat tegang.

Osama yang mengungungsi bersama ribuan warga Syria lainnya, tertahan oleh aparat keamanan di perbatasan. “Itu daerah yang sangat kecil dengan kerumunan besar. Orang-orang mulai kehilangan kesabaran dan ingin berjalan. Polisi berdiri di sana untuk menghentikan kami,” kenangnya.

Suasana saat itu, imbuh Osama, mendadak menjadi ricuh. “Kacau. Orang-orang mulai saling mendorong. Saya tidak melihat dari mana asalnya, saya tidak tahu apakah itu kamerawati atau polisi. Saya kemudian jatuh ke tanah. Bagaimana bisa saya memaafkannya,” tandas Osama.

Kini, keluarga Osama di Jerman menunggu nasib mereka selanjutnya. “Kami tinggal untuk sementara, dan menunggu. Hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang,” tuturnya.[] sumber: JPNN.com

Baca juga:

Video: Wartawati Hungaria Tendang Pengungsi Suriah Saat Liputan

Tendang Pengungsi, Juru Kamera NT1 Kini Hadapi Penyelidikan Pidana

Juru Kamera Wanita Penjegal Pengungsi Suriah Minta Maaf

Petinju Asal Inggris Akan Bantu Pengungsi dari Suriah

Petinju Asal Inggris Akan Bantu Pengungsi dari Suriah

LONDON – Petinju asal Inggris, Amir Khan, akan memberikan bantuan untuk pengungsi dari Suriah. Hal itu diungkapkan petinju tersebut melalui video yang diposting di akun Instragram.

“Ini memilukan hati melihat gambar anak-anak kehilangan nyawa mereka dan mereka yang melarikan diri dari konflik yang menghancurkan,” kata Khan seperti dikutip Mirror, Senin, 14 September 2015.

Khan mengatakan bantuan tersebut akan langsung di kirim ke Pulau Lesbos, Yunani, tempat para pengungsi saat ini tinggal. Konvoi bantuan sendiri akan berangkat dari Bolton, kota asal Khan, dengan tujuan pulau Lesbos di mana petinju berusia 28 tahun itu akan membagikan bantuan secara lansung.

Menurut dia, jika bantuan tidak segera diberikan maka akan lebih banyak nyawa yang hilang. “Kami melihat negara seperti Jerman banyak membantu dan saya tahu orang Inggris murah hati dan bijaksana,” katanya.

Ini bukan pertama kali khan memberikan bantuan. Pada Desember tahun lalu, dia menyumbangkan celana yang dibagian pinggangnya terbuat dari emas senilai 30 ribu pound sterling ke sekolah Peshawar di Pakistan, tempat 132 anak tewas oleh kelompok bersenjata Taliban.

Khan saat itu mengenakan celana pendek, menampilkan pinggangnya yang dibalut emas 24 karat hasil dari kemenengan atas petinju Amerika, Devon Alexander di Las Vegas. Dia mengatakan bantuan tersebut untuk membangun kembali sekolah dan memperkuat keamanan.

“Sangat sedih melihat anak-anak tak bersalah dibunuh. Saya hanya bisa membayangkan apa yang orang tua mereka lalui,” katanya.[] sumber: tempo.co

Tendang Pengungsi, Juru Kamera NT1 Kini Hadapi Penyelidikan Pidana

Tendang Pengungsi, Juru Kamera NT1 Kini Hadapi Penyelidikan Pidana

ROESZKE – Perempuan juru kamera Hongaria, Petra Laszlo, yang Rabu (9/9/2015) kemarin diberitakan dengan sengaja menjegal seorang pengungsi yang sedang melarikan diri dari kejaran polisi sambil mengendong anaknya sehingga membuat si pengungsi terjungkal ternyata juga menendang seorang gadis kecil. Dua aksi tak terpuji Laszlo itu terekam kamera dan menjadi berita di seluruh dunia. (Lihat video: Wartawati Hungaria Tendang Pengungsi Suriah Saat Liputan)

Perempuan itu kini menghadapi investigasi pidana terkait serangan tersebut, yang dia dilakukan ketika mengambil gambar para pengungsi Suriah saat mereka melarikan diri dari kejaran polisi di sebuah ladang di perbatasan Hongaria-Serbia.

Laszlo telah dipecat dari pekerjaannya di situs berita Hongaria, N1TV, yang dikelola Partai Jabbik yang berhaluan kanan dan anti-imigrasi.

Rekaman pertama yang muncul kemarin pagi menunjukkan dia dengan sengaja memasang kakinya saat seorang pria yang membawa anak kecil yang sedang menangis berlari melewatinya di daerah Roszke. Rekaman tersebut menunjukkan, pengungsi itu jatuh ke tanah bersama anaknya sebelum kemudian berbalik meneriaki perempuan tersebut.

Kemarin sore, sebuah rekaman lain dari sudut yang lain menunjukkan Laszo menendang seorang gadis kecil tepat di pahanya saat gadis itu mencoba melarikan diri dari polisi.

Laszlo sudah langsung dipecat setelah stasiun TV tempatnya bekerja melihat adegan itu di dunia maya. Sebuah pernyataan dipasang di situs stasiun itu, Selasa sore. “Hari ini, perilaku seorang rekan N1TV di pusat penerimaan (pengungsi) di Roeszke tidak dapat diterima. Sebagai akibatnya, juru kamera itu langsung diberhentikan.”

Para pengguna media sosial yang marah kemudian menggunakan Twitter untuk mengecam tindakan perempuan tersebut. Mereka menjulukinya sebagai orang yang “menyedihkan” dan “memalukan”.

Pria yang dijegal itu merupakan salah satu dari beberapa ratus migran yang melarikan diri setelah mereka marah pada perlakuan polisi Hongaria. Para migran itu merupakan bagian dari kelompok 1.500 orang yang telah menunggu selama berjam-jam di suatu titik pengumpulan pengungsi di dekat persimpangan Roeszke.

Sejumlah foto menunjukkan, beberapa orang membawa anak-anak kecil saat mereka berlari melalui sebuah ladang, kemudian mengikuti rel kereta api menuju kota Szeged dalam upaya untuk terus bergerak. Polisi terlihat mengikuti para migran itu, yang berharap untuk mencapai negara-negara lain yang menyambut mereka di Eropa barat. Para petugas tidak berusaha untuk menghentikan mereka.

Hongaria telah melakukan sejumlah upaya yang memperlihatkan kepanikan dan kebingungan dalam mengontrol gelombang besar migran yang transit ke negara itu. Banyak pengungsi terjebak selama berhari-hari di luar perbatasan. Sekitar 167.000 migran telah memasuki Hongaria secara ilegal sepanjang tahun ini. Sebagian besar melintasi perbatasan di sekitar area Roeszke.[] sumber: kompas.com

Israel Tolak Tampung Pengungsi Suriah

Israel Tolak Tampung Pengungsi Suriah

TEL AVIV – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Minggu, menolak permintaan pemimpin oposisi Israel untuk menampung pengungsi Suriah dengan alasan negaranya terlalu kecil untuk menerima mereka.

Berbagai foto selama beberapa hari belakangan ini, yang menunjukkan ribuan pengungsi secara bergerombol, menaiki dan turun dari kereta di Eropa untuk mencari tempat berlindung dari konflik Timur Tengah, telah mengusik perasaan di Israel, negara yang terbentuk tiga tahun setelah Pembantaian Nazi –yang menewaskan enam juta warga Yahudi itu.

Isaac Herzog, pemimpin oposisi utama Partai Serikat Zionis, meminta para pemimpin Israel untuk “menyerap para pengungsi dari pertempuran di Suriah”, negara tetangga di utara yang dianggap Israel sebagai negara musuh.

Saat memberikan pernyataan terbuka dalam sidang kabinet, Netanyahu mengatakan Israel “tidak bersikap masa bodoh dengan tragedi kemanusiaan” para pengungsi Suriah. Ia menyatakan bahwa rumah-rumah sakit Israel telah memberikan perawatan bagi orang-orang yang mengalami luka-luka sejak zaman perang saudara.

“Tapi, Israel adalah negara kecil, tidak memiliki wilayah dan kependudukan yang luas,” kata perdana menteri berhaluan sayap-kanan itu.

Menurut dia, menampung para pengungsi Arab akan merusak keseimbangan demografi di negara dengan mayoritas penduduk beragama Yahudi itu, yang seperlima dari total jumlah penduduk 8,3 juta di antaranya merupakan warga negara keturunan Arab.

Kendati tidak ada imbauan dunia internasional agar Israel membuka perbatasannya bagi para warga Suriah, Herzog mengatakan Netanyahu memiliki kewajiban moral untuk menerima pengungsi.

“Perdana menteri rakyat Yahudi (seharusnya) tidak menutup hatinya dan pintu-pintu gerbang di saat orang-orang lari menyelamatkan diri, dengan menggendong bayi, dari penganiayaan,” kata Herzog.

Dengan menyebut bahaya yang dihadapi para pengungsi Palestina, yang telah lama tinggal di kamp-kamp Suriah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan mereka perlu diizinkan masuk ke Tepi Barat –yang diduduki Israel.

Israel mengatakan masalah keseluruhan menyangkut hak para pengungsi Palestina untuk kembali akan diselesaikan hanya sebagai bagian dari perjanjian perdamaian final. Perundingan antara Israel dan Palestina terputus pada 2014.

Dalam sidang kabinet, Netanyahu mengaitkan pernyataan soal pengungsi Suriah dengan mengatakan bahwa Israel lebih lanjut harus mengamankan perbatasan-perbatasannya dari para migran Afrika dan gerilyawan Islam.

Ia mengumumkan dimulainya pembangunan pagar yang baru sepanjang 30 kilometer di perbatasan dengan Jordania. Israel dan Jordania menandatangani perjanjian perdamaian pada 1994.

Israel telah menyelesaikan pagar sepanjang 230 kilometer di perbatasan dengan Mesir pada 2013. Kedua negara menandatangani kesepakatan damai pada 1979.

Israel juga mematok pagar-pagar di perbatasan dengan Lebanon serta di garis antara Dataran Tinggi Golan yang didudukinya dan di Suriah.

Banyak wilayah Tepi Barat yang juga dibelah dengan tembok-tembok yang dibangun Israel, sementara Jalur Gaza yang dikendalikan gerilyawan Islamis Hamas saat ini tertutup pagar-pagar dan tembok tinggi.[] sumber: antaranews.com

Mengapa Warga Suriah Memilih Eksodus ke Eropa?

Mengapa Warga Suriah Memilih Eksodus ke Eropa?

MUENCHEN – Ada tanda tanya besar saat ratusan ribu warga Suriah melakukan eksodus menuju negara-negara Eropa, seperti Hungaria, Austria, Jerman, dan Inggris. Mengapa Eropa? Mengapa tidak pergi ke negara-negara Arab yang kaya minyak?

Menurut International Business Times, ada beberapa faktor Eropa menjadi magnet besar bagi warga Suriah. Salah satu magnet itu adalah niat baik dari negara seperti Jerman. Selain ekonominya yang kuat, pemerintahan Kanselir Angela Merkel juga berjanji tidak akan menepatkan batasan soal jumlah aplikasi suaka.

“Tidak akan ada batas atas yang ditetapkan pada penerimaan orang-orang yang melarikan diri penganiayaan dan membutuhkan perlindungan,” kata Manfred Schmidt, Kepala Migrasi Jerman, pekan lalu.

Ini berbeda dengan negara-negara Teluk yang cenderung diam terhadap pengungsi. Secara geografis, para pengungsi Suriah memang lebih mudah menuju Eropa ketimbang ke Arab Saudi, misalnya. Untuk ke Arab, warga Suriah harus melewati negeri konflik lain, seperti Libanon dan Irak. Sedangkan untuk ke Eropa, mereka tinggal menyeberang ke Turki atau Yunani. Lalu dengan naik bus, berjalan kaki atau naik kereta menuju Hungaria, Austria, dan Jerman. Menurut The Guardian, rute favorit mereka adalah Istanbul (Turki)-Athena (Yunani)-Subotica/Rozke/Kanjiza-Budapest (Hungaria).

Jumlah pengungsi dari daerah konflik Timur Tengah setidaknya 350 ribu yang mencapai perbatasan Uni Eropa. Sabtu lalu, ribuan pengungsi yang sebagian besar lari dari perang di Suriah itu pergi dari Hungaria setelah mendapatkan perlakuan keras dari pemerintah. Mereka melintasi Austria dengan tujuan Jerman. “Perang telah merampok impian kami, mencuri rumah-rumah kami,” kata Ahmad Yusuf, 62 tahun, pengungsi asal Suriah.

Di antara negara Uni Eropa, Jerman muncul sebagai tujuan favorit para pencari suaka dan imigran. Lebih dari 3.000 pengungsi yang Sabtu lalu tiba di Kota Muenchen pada tengah hari dan secara keseluruhan akan ada sekitar 7.000 yang akan datang pada hari itu.

Reaksi orang Jerman untuk pendatang baru memang belum sepenuhnya positif. Pegida, kelompok anti-Islam yang memproklamasikan diri sebagai neo-Nazi, telah berusaha mencegah para pengungsi memasuki negara itu dengan melakukan protes keras dan bahkan menyerang kamp-kamp pengungsi. Freital dan Heidenau, dua kota kecil di tenggara Jerman, dikenal sebagai tempat subur bagi kekerasan terhadap pengungsi.

Namun banyak juga penduduk setempat yang menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka seperti yang ditunjukkan di stasiun Muenchen, Sabtu lalu. Sekelompok warga berkumpul di sana menyambut para pengungsi, membagi-bagikan permen dan air. Pengungsi, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tersenyum saat orang bertepuk tangan dan berteriak, “Selamat datang di Jerman!” ketika mereka tiba di stasiun kereta api.

“Pada kenyataannya, kehidupan seperti yang kita alami di sini sudah jauh lebih beragam,” kata Presiden Jerman Joachim Gauck soal sikap warganya itu.

Pihak berwenang mengatakan Jerman diperkirakan menerima 800.000 aplikasi suaka pada akhir tahun. “Biaya untuk menangani ratusan ribu pengungsi itu bisa US$ 2-3,6 juta,” kata Menteri Tenaga Kerja Jerman Andrea Nahles.[] sumber: tempo.co

Israel Serang Suriah, Empat Orang Tewas

Israel Serang Suriah, Empat Orang Tewas

DAMASKUS – Militer Israel menyatakan telah melakukan sebuah serangan udara pada wilayah Suriah dan menewaskan paling tidak empat orang yang sedang mengendarai sebuah kendaraan.

Sejumlah sumber Suriah mengatakan para korban adalah warga sipil.

Stasiun televisi pemerintah Suriah melaporkan pasukan Israel melakukan serangan pesawat tidak berawak di Suriah selatan, menewaskan lima warga sipil. Sementara seorang tentara tewas dan tujuh orang lainnya terluka karena serangan udara semalam.

Pesawat tersebut menargetkan “kendaraan sipil” di desa Kom lewat sebuah serangan yang terjadi di dekat pasar yang ramai.

Tetapi pihak Israel mengatakan mereka adalah milisi yang bertanggung jawab atas peluncuran roket ke arah Israel pada hari Kamis (20 Agustus).

Israel memandang gerakan Jihad Islamis melakukan serangan itu, tetapi juga menganggap pemerintah Suriah terlibat.

Militer Suriah menyatakan salah satu tentaranya tewas pada permulaan serangkaian serangan Israel yang dimulai hari Kamis malam.

Ini bukanlah pertama kalinya sejak perang Timur Tengah tahun 1973, sejumlah roket dari wilayah Suriah ditembakkan ke Israel.

Israel dan Suriah adalah musuh bebuyutan. Israel berusaha tidak berpihak dalam perang saudara Suriah antara pemerintahan Presiden Bashar Assad melawan sejumlah kelompok milisi, termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.[] sumber: bbc.co.uk

Foto: Pasukan PBB sedang mengamati dataran tinggi Golan. @reuters/bbc.co.uk