Tag: stroke

Flu Bisa Picu Stroke Pada Anak?

Flu Bisa Picu Stroke Pada Anak?

SAN FRANSISCO – Bila anak terserang flu, orang tua biasanya tinggal membeli obat tanpa resep di apotek, dan si kecil pun kembali riang. Namun pada kasus tertentu, flu ternyata juga bisa memicu stroke.

Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi Dr Heather Fullerton dari University of California, San Fransisco menemukan, infeksi sederhana saja dapat memicu stroke iskemik atau stroke yang diakibatkan penyumbatan pembuluh darah pada anak-anak.

Buktinya terlihat ketika peneliti membandingkan 355 anak yang mempunyai riwayat stroke, dengan 354 anak yang belum pernah mengalaminya. Sebanyak 18 persen anak dengan riwayat stroke diketahui mengalami stroke sepekan setelah terkena infeksi tertentu yang rata-rata tidak serius, seperti flu, pilek, infeksi saluran kemih, ataupun infeksi saluran pencernaan. Tak tanggung-tanggung, risikonya mencapai enam kali lipat.

“Sebenarnya kami belum tahu mengapa infeksi sederhana bisa memicu stroke. Tapi ada kemungkinan infeksi itu tadi mengakibatkan peradangan di seluruh tubuh yang kemudian berkontribusi terhadap stroke atau setidaknya memicu penyumbatan pembuluh darah,” jelas Dr Fullerton seperti dikutip dari CBS News, Senin (5/10/2015).

Ini artinya stroke yang dipicu flu pada anak-anak kemungkinan besar hanya akan dialami oleh mereka yang memiliki riwayat stroke.

Namun setelah digali lagi, rupanya ke-18 persen anak yang terkena stroke setelah sakit flu itu tidak melakukan vaksinasi secara rutin. Bahkan peneliti berani menyimpulkan, mereka yang tidak divaksin secara rutin akan berisiko tujuh kali lebih besar mengalami stroke.

Padahal setahu Dr Fullerton, vaksinasi hanya mencegah infeksi-infeksi besar seperti cacar air, campak dan tetanus. “Tapi nampaknya vaksin juga mengurangi risiko infeksi lain pada anak-anak, termasuk mencegah kerusakan yang disebabkan infeksi atau peradangan pada pembuluh darah, yang kemudian memicu stroke,” paparnya.

Meski begitu, pakar saraf dan stroke pada anak ini mengatakan stroke pada anak-anak sangatlah langka, karena hanya terjadi pada 2-13 dari 100.000 anak tiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka juga sudah dihinggapi gangguan kesehatan seperti penyakit jantung bawaan, anemia sel sabit yang bersifat turunan serta penyakit yang menyebabkan penggumpalan darah.

“Dan pada anak yang sehat, kejadiannya mungkin hanya 1 tiap 100.000 anak setiap tahunnya. Tapi yang jelas, pastikan anak Anda mendapatkan vaksin secara rutin karena upaya ini dapat melindungi mereka dari berbagai keadaan yang merugikan, salah satunya stroke,” imbuh Dr Fullerton.[] sumber: detik.com

Bekerja Lebih Dari 40 Jam Selama Sepekan Beresiko Stroke?

Bekerja Lebih Dari 40 Jam Selama Sepekan Beresiko Stroke?

SEBUAH studi terbaru yang diterbitkan di Lancet Medical Journal mungkin membuat anda berpikir dua kali untuk mengambil lembur. Para peneliti mengatakan bahwa bekerja lebih dari 40 jam seminggu dapat menyebabkan peningkatan resiko stroke dan serangan jantung.

Tim dari University College London dan UmeƄ University di Swedia mempelajari 603.838 orang, dan menemukan bahwa mereka yang bekerja antara 41-54 jam memiliki 27% peningkatan resiko stroke, demikian dilaporkan ABC News. Bahkans etelah mengendalikan resiko perilaku seperti merokok dan meminum alkohol para peneliti menemukan bahwa ada 33% peningkatan resiko stroke bagi pekerja yang mengambil lebih dari 55 jam seminggu di kantor.

Kortisol, hormon yang terkait dengan stres, dapat menyebabkan peningkatan peradangan dalam tubuh dan penyempitan dinding arteri dan pembuluh darah. Untuk memerangi stres di kantor, para ahli merekomendasikan berdiri sementara saat sedang memegang telepon, bermeditasi, dan pergi untuk jalan-jalan sebentar. Pengusaha juga perlu melakukan bagian mereka untuk memastikan kantor adalah zona bebas dari ketegangan.

“Ini tidak menghabiskan banyak jam,” ujar Dr. Roy Buchinsky yang tidak terlibat dalam penelitian ini kepada ABC News. “Ini adalah bagaimana kita menghabiskan waktu kita selama jam tersebut. Orang-orang diminta untuk berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit sumber daya.”[] sumber: National Geographic