Tag: simeulue

Simeulue Tanah Harapan

Simeulue Tanah Harapan

MELIHAT Simeulue dari udara, seperti melihat untaian pinggiran lukisan tumpah warna biru. Biru laut luas kontras dengan biru pinggir pantai. Sepanjang pinggiran pantai birunya seperti tumpahan cat warna biru.

Dari udara sepanjang pandangan mata kita akan kehabisan kata untuk mengungkapkan. Ada laut dangkal biru kontras antara dua pulau. Terlihat jelas dasar laut dengan garis-garis kontras kebiruan. Ada juga sejumlah pulau karang yang menguning.

Menurut warga di sana, pulau karang itu muncul pascatsunami. Karena daratan Simeulu naik ke permukaan sehingga muncul daratan baru. Sekda Simeulue, Drs Naskah, mengatakan ada 20 lebih pulau baru muncul di daerahnya setelah tsunami melanda.

Di sepanjang pinggir pantai gerombolan kerbau amat banyak. Simeulue terkenal dengan ternak kerbaunya.

“Kerbau Simeulue termasuk jenis kerbau yang sudah diakui secara nasional,” kata Naskah.

Menurutnya sangat mungkin Simeulue dikembangkan menjadi penghasil kerbau. Pulau seluas lebih 2000 KM persegi ini termasuk jarang penduduknya. Apalagi ada sejumlah pulau lain yang kini belum berpenghuni.

Dalam pesawat yang penulis tumpangi, Senin, 14 September 2015 lalu, sejumlah bule juga ikut dalam penerbangan itu. Ternyata di sejumlah pulau dan kawasan pantai Simeulue sudah berdiri banyak resort wisata.

“Pemiliknya bule yang kadang menikah dengan warga di sini, status kepemilkan tanah atas nama warga lokal,” ujar Sekda.

Dia mengatakan pemerintah Simeulue akan segera mengantisipasi penguasaan ruang publik oleh korporat atau pribadi.

“Kita tidak mau seperti pantai Sanur di Bali yang hanya bisa diakses kaum berduit,” jelasnya.

Meskipun begitu, pariwisata Simeulue kian berdenyut yang turut meningkatkan pendapatan rakyatnya. Seperti peningkatan harga hasil laut seperti lobster.

Seperti diketahui, Simeulue merupakan negeri kedua Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti. Susi punya penangkaran lobster di sini.

“Saat ini kami juga dapat beberapa program dari kementrian buk Susi untuk nelayan di sini,” kata Sekda.

Alam Simeulue memang elok. Rumah rakyat umumnya berada sepanjang jalan besar. Indahnya rumah-rumah itu membelakangi hutan alam yang lebat. Jadi kita seperti berada di villa di tengah hutan.

Menurut warga walaupun mereka memiliki tanah hutan itu, tapi mereka tidak menebang pepohonan di sana. “Pemerintah di sini juga meminta agar masyarakat menjaga hutan,” ungkap salah satu warga Air Dingin Kemuning, Sinabang.

Bahkan warga masih menampung air di celah-celah bukit di samping rumahnya. Simeulue adalah tanah harapan, bukan hanya lobster dan isu penemuan gas bumi dalam jumlah besar. Negeri ini menjanjikan sejuta harapan. Tergantung pemerintah setempat bagaimana agar fokus mengekploitasi potensinya. Tentu saja dengan menghindari ekploitasi alam atau hutan yang berlebihan.

Banyak yang menyarankan agar Simeulue lebih baik meningkatkan potensi yang ada seperti laut, kelapa dan peternakan kerbau. Dari pada menjual alam indahnya untuk diekploitasi pemodal besar. Pemberdayaan rakyat juga diharapkan bisa sesuai dengan kearifan lokal. Bukan memaksa masuk modal yang malah membuat rakyat terpinggirkan.

Butuh kerja keras dan cerdas dari pemerintah setempat. Pimpinan di sana harus kreatif dan mau keluar dari kotak rutinitas penyelenggaraan pemerintah. Saat ini sepertinya aparatur pemerintah di sana masih perlu dididik jadi pelayan. Sebab, sepertinya reformasi pelayanan belum menjalar kemari.

Buktinya terlihat saat penulis bertandang ke kantor Bupati Simeulue pada Kamis, 17 September 2015. Sampai pukul 09.00 WIB lebih, kantor bupati masih “mati suri”. Di lantai pertama hanya ada satu staf di Bagian Organisasi dan satu staf di Bagian Umum.

“Biasanya cepat pak, mungkin karena hujan,” ujar staf di Bagian Umum yang terlihat sedang main game di komputer. Bila begini, maka semua potensi daerah akan berkembang sendiri. Minim peran pemerintah. Maka butuh puluhan tahun lagi daerah ini untuk maju.[]

Foto: Salah satu pulau Simeulue terlihat dari udara. @Adi Gondrong

Kementerian Kelautan Tawarkan Pulau Simeulue ke Investor

Kementerian Kelautan Tawarkan Pulau Simeulue ke Investor

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan dipimpin Susi Pudjiastuti akan memberdayakan pulau-pulau terdepan Indonesia. Caranya, Susi menawarkan 31 dari 92 pulau terluar Indonesia hingga tahun 2019 ke investor.

Susi akan mengembangkan dan mempromosikan potensi industri perikanan lokal yang sangat besar di pulau terluar Indonesia. Para pengusaha dan investor dari dalam dan luar negeri diundang masuk.

“Kami undang pengusaha lokal, investor asing kedutaan negara bersahabat. Kita mempromosikan pulau-pulau terluar, bukan untuk menjual pulau. Perlu digarisbawahi bahasanya investasi di dalam pulau tertentu,” kata Sekjen Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Syarief Widjaja, usai pertemuan tertutup dengan Susi dan Pejabat Eselon I KKP di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Sabtu (5/9/2015).

Aturan mainnya, investor asing (Penanaman Modal Asing) dilarang masuk ke sektor perikanan tangkap. KKP juga akan mengawasi ketat proses kerjasama.

Proses produksi atau penangkapan ikan hanya dilakukan oleh nelayan lokal. Sedangkan pengusaha dan investor asing akan diarahkan masuk ke sektor hilir atau pengolahan perikanan hingga aktivitas ekspor.

“Sekarang kami dorong investor sektor hilir. Pemrosesan dan lain-lain. Kami akan tutup PMA (penanamanmodal asing) untuk perikanan tangkap. Biarkan yang menangkap nelayanan Indonesia tapi pengumpul, pedagang pengolah ikan boleh berpartner dengan rekan pengusaha dan investor,” ujarnya.

Tahap awal pada 2015, KKP akan menawarkan 5 pulau terluar, yakni Simeulue, Natuna, Tahuna, Saumlaki, dan Merauke. Pulau yang dikembangkan merupakan pulau yang berpenghuni.

Selain menawarkan, KKP terlebih dahulu akan membangun infrastruktur dasar sebagai pendorong untuk menarik investasi.

“Kami masuk lebih dulu dengan cara bangun infrastruktur seperti listrik, air, jalan, dan pelabuhan. Kalau ke-5 pulau itu sudah ada bandara. Kami masuk lebih dulu, jadi kami tidak jual pulau. Itu pulau punya kami,” ujarnya.

Selain bertujuan meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal, rencana pemberdayaan pulau terluar bisa menjadi benteng pertahanan yang baik.

“Karena kelautan basisnya di daerah timur. Di samping juga mempertahankan titik pulau terluar. Di luar negeri basisnya bangun di luar bukan dari dalam,” tuturnya.[] sumber: detik.com

Foto: Pulau Simeulue difoto dari udara. @Ady Gondrong

CSI Duga Ada Mafia Anggaran di Pemerintahan Simeulue

CSI Duga Ada Mafia Anggaran di Pemerintahan Simeulue

BANDA ACEH – Care Simeulue Institute (CSI) mengungkapkan dugaan adanya mafia anggaran di Pemerintahan Kabupaten Simeulue. Dugaan itu berdasarkan munculnya anggaran siluman tanpa pembahasan Tim Anggaran Pemerintah Kabupaten (TAPK) dengan Badan Anggaran DPRK setempat.

Data CSI, Rp 1.380.000.000 anggaran pengadaan kendaraan dinas roda empat di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) tahun ini tanpa pembahasan di DPRK. Keterangan yang diperoleh LSM tersebut dari instansi yang bersangkutan, pengadaan mobil dinas dimaksud berdasarkan rekomendasi atasan.

Dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) DPKKD dana Rp 1.3 miliar lebih tadi untuk pengadaan 3 unit mobil dinas yakni, 1 unit mobil Toyota Avanza Velos 1.5 AT/LUX VIN/2015 senilai Rp 216 juta, 1 unit Doble Kabin Rp 614 juta dan 1 unit mobil dinas PKK Dekranasda Simeulue Rp 361 juta.

“Anggaran pengadaan 3 unit mobil ini tidak tertuang dalam Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBK Simeulue 2015. Begitu pun keterangan yang kita peroleh dari anggota Banggar DPRK, mereka mengaku tidak ada pembahasan pengadaan mobil dinas tahun ini. Kalau mendadak muncul anggarannya, tentu wajar diduga ada mafia anggaran di tubuh DPRK dan TAPK,”kata Kepala Divisi Data Base CSI, Salahuddin Utama, A.Md, Rabu 2 September 2015.

Selain itu, kata Salahuddin, masih ada anggaran siluman lain seperti penerbitan izin prinsip senilai Rp 3.8 miliar. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK 2014 di gedung DPRK, Kamis 28 Agustus 2015, beberapa anggota DPRK dengan TAPK terjadi perdebatan terkait munculnya izin prinsip yang diterbitkan Ketua DPRK tanpa sepengetahuan sebagian wakil rakyat lainnya.

Bahkan, anggota DPRK dari Gerindra, Abdul Razak mengancam dalam rapat tersebut akan melaporkan pimpinan DPRK jika terbukti mengeluarkan izin prinsip Rp 3.8 miliar. Politisi itu menyebutkan kabarnya dari jumlah dana tadi, Rp 200 juta telah digunakan untuk dana sharing Bandara Lasikin.

Menurut Abdul Razak, penerbitan izin prinsip yang diterbitkan DPRK dinilai tidak memiliki dasar hukum karena tidak ada regulasi yang mengatur tentang penerbitan izin prinsip tadi.

CSI juga  membeberkan temuan LHP BPK terkait APBK Simeulue 2014 terdapat banyaknya kesalahan penganggaran belanja. Dari anggaran belanja daerah Rp 670 miliar hanya terealisasi Rp 568 miliar lebih. Kesalahan anggaran dimaksud terdiri dari anggaran belanja pegawai yang digunakan untuk belanja barang dan jasa dan kesalahan anggaran belanja modal yang digunakan untuk belanja barang dan jasa.

Sebut Salahuddin, Pemda Simeulue menganggarkan belanja pegawai dalam bentuk uang yang diserahkan kepada masyarakat, pihak ketiga dan perorangan. Semestinya anggaran itu dianggarkan dari alokasi belanja barang dan jasa, bukan dari anggaran belanja pegawai.

“Sebaliknya, anggaran belanja pegawai digunakan untuk pembayaran insentif petugas masjid, kepala desa dan uang saku peserta sosialisasi atau bimbingan tekhnis di delapan SKPK yang angkanya Rp2.2 milyar lebih.  Dan ini jelas tidak sesuai Permendagri No 13 tahun 2006 dan Permendagri No 27 tahun 2013,” kata dia.

“Penganggaran uang yang diberikan ke masyarakat hanya pemberian hadiah yang sifatnya perlombaan atau penghargaan suatu prestasi yang alokasi dananya berasal dari anggaran belanja barang dan jasa.”

CSI menduga kesalahan penggunaan anggaran dan adanya anggaran siluman merupakan unsur kesengajaan dari Pemda setempat. Hal ini dilakukan dengan tujuan menguntungkan pihak-pihak tertentu yang akibatnya menimbulkan kerugian uang negara.

“CSI meminta anggota DPRK yang tidak terlibat mafia anggaran diharapkan segera mengambil tindakan untuk menyikapi hal ini. Demikian juga dengan lembaga penyidik di tingkat Kabupaten Simeulue untuk menyelidiki dugaan mafia anggaran di Pemerintahan Riswan. NS ini,” kata Salahuddin.

Warga Sesalkan Kapal Cepat Labuhanhaji-Simeulue Berhenti

Warga Sesalkan Kapal Cepat Labuhanhaji-Simeulue Berhenti

TAPAKTUAN – Masyarakat merasa kecewa terhadap kebijakan dihentikannya operasional kapal cepat KM Bahari Express 3B yang selama ini melayari dari dan ke Labuhanhaji (Kabupaten Aceh Selatan)-Sinabang (Kabupaten Simeulue).

Tokoh masyarakat Aceh Selatan Azmir SH di Tapaktuan, Selasa menyatakan, berhentinya trayek kapal cepat itu merupakan isyarat semakin meredupnya prestasi Aceh di bidang perhubungan laut di wilayah pesisir barat selatan itu.

Masyarakat di daerah itu mengharapkan Pemerintah Aceh agar tidak berdiam diri, namun sudah seyogianya melakukan suatu upaya pemecahan yang akan memberikan harapan bagi dunia perhubungan laut di daerah itu.

“Terus terang saja, ini kan terkait dengan prospek daerah, seperti mobilitas perekonomian bagi daerah ini. Kita berharap ada perhatian serius demi kemajuan daerah ini dan Aceh umumnya,” kata mantan anggota DPRK Aceh Selatan itu.

Menurut Azmir, upaya tersebut bisa dilakukan dengan memberikan subsidi supaya lancarnya operasional kapal yang dikelola oleh perusahaan pelayaran PT Pelayaran Sakti Inti Makmur.

Menurut informasi, PT Pelayaran Sakti Inti Makmur menghentikan pelayaran Labuhanhaji-Sinabang akibat mengalami kerugian terus menerus karena pendapatan yang diperoleh tidak sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Hal senada diungkapkan Koordinator LSM Lembaga Independen Bersih Aceh Selatan (Libas), Mey Fendri. Ia mengatakan, jalur Labuhanhaji-Sinabang dilayari kapal cepat merupakan prestasi bagi daerah, karena setidaknya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Namun, jika operasional kapal cepat terhenti tanpa ada upaya dari Pemerintah Aceh. maka laju pengembangan daerah kembali ke awal atau merosot,” ujar dia.

Seharusnya, lanjut dia, Pemerintah Aceh tidak boleh membiarkan hal ini terjadi begitu saja melainkan segera memberikan subsidi agar kapal cepat tersebut dapat terus beroperasi untuk melayani masyarakat di dua kabupaten itu.

Penghentian pelayaran KM Bahari Express 3B itu terhitung 26 Agustus 2015, sesuai dengan surat perusahaan PT Pelayaran Sakti Inti Makmur kepada Bupati Aceh Selatan tertanggal 18 Agustus 2015, dengan alasan, sejak beroperasi 26 Maret hingga 11 Agustus tahun 2015, hanya memuat 7.613 penumpang dengan frekuensi 96 rit.

“Artinya, dalam setiap rit, hanya memuat 79 penumpang. Sedangkan untuk mencapai BEP (break event point) supaya tertutup biaya operasi, perusahan harus memperoleh rata-rata penumpang setiap ritnya minimal 178 orang atau 86 persen dari total kapasitas 208 penumpang,” kata Kurmin Halim, Direktur PT Pelayaran Sakti Inti Makmur Palembang.

Kabid Perhubungan Laut dan Udara pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Aceh Selatan, Agusman Yasri yang dikonfirmasi tentang ini membenarkan berhentinya beroperasi kapal cepat Bahari Express tersebut.

Dikatakan, penghentian tersebut disesalkan banyak pihak terutama para penumpang yang telah dimanjakan selama lima bulan dengan kehadiran kapal cepat tersebut.

Namun, kata dia, pihaknya tidak dapat berbuat banyak karena kapal cepat itu dibawah pengelolaan pihak swasta. | sumber: antara

Foto ilustrasi Kapolres sedang memantau kesiapan pihak pengelola Pelabuhan Labuhanhaji dan pihak ASDP dalam menyambut datangnya arus mudik dan arus balik lebaran tahun ini. @antara

[FOTO]: Cantiknya Simeulue Dilihat dari Udara

[FOTO]: Cantiknya Simeulue Dilihat dari Udara

SINABANG – Pulau Simeulue yang dikenal dengan motto daerahnya ‘Simeulue Ate Fulawan’ atau Simeulue Berhati Emas salah satu daerah yang memiliki potensi pariwisata menjanjikan di Aceh.

Beberapa pantai yang terkenal di pulau ini adalah Pantai Nancala dan Matanurung yang kerap dijadikan lokasi untuk berselancar. Para wisatawan juga mengagumi Pantai Busung dan Pantai Ganting. Selain itu juga terdapat beberapa wisata andalan seperti wisata air tawar.

Selain ditempuh lewat laut dengan menumpang kapal ferry, menuju ke Pulau Simeulue juga bisa dengan menumpang pesawat terbang. Ada Susi Air yang membuka rute perjalanan khusus ke pulau itu. Nilai tambah yang bisa Anda nikmati jika mengambil moda perjalanan udara adalah bisa menyaksikan kemolekan Pulau Simeulue dari ketinggian. Seperti apa keindahannya? Berikut beberapa foto-fotonya:

simeulue dari udara-2@adi gondrong

simeulue dari udara-3@adi gondrong

simeulue dari udara-4@adi gondrong

Sekretaris PA Simeulue Meninggal Dunia, Mualem Sampaikan Belasungkawa

Sekretaris PA Simeulue Meninggal Dunia, Mualem Sampaikan Belasungkawa

BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Sekretaris Partai Aceh Simeulue, Teungku Mudaris, di IGD Rumah Sakit Nagan Raya, Selasa 19 Mei 2015, pukul 11.00 WIB. Almarhum dilaporkan meninggal dalam perjalanan menuju ke RSUZA Banda Aceh. Namun di tengah perjalanan, kondisi almarhum semakin parah sehingga dilarikan ke RS Nagan Raya.

“Kita merasa kehilangan atas meninggalnya Teuku Mudaris. Beliau merupakan ujung tombak Partai Aceh di Simeulue dan juga kader terbaik kami di Simeulue,” ujar Ketua DPA Partai Aceh Muzakir Manaf melalui Juru Bicara Suadi Sulaiman kepada portalsatu.com, Selasa,19 Mei 2015.

Ia mengatakan jajaran pimpinan Partai Aceh Pusat akan segera melayat ke tempat almarhum Teuku Mudaris. Namun, sayangnya hingga kini jenazah almarhum masih berada di Nagan Raya dan tidak bisa diboyong ke Simeulue.

“Saat ini jenazah masih berada di Nagan Raya. Kami berharap rekan-rekan yang ada di Nagan Raya mencari solusi untuk membawa jenazah ke rumah duka,” katanya.

Sebelumnya dilaporkan, Sekretaris DPW Partai Aceh Simeulue, Teungku Mudaris, meninggal dunia, di IGD Rumah Sakit Nagan Raya, Selasa 19 Mei 2015, pukul 11.00 WIB.

Almarhum dilaporkan meninggal dalam perjalanan menuju ke RSUZA Banda Aceh. Namun di tengah perjalanan, kondisi almarhum semakin parah sehingga dilarikan ke RS Nagan Raya.

“Iya, meninggal dunia di IGD Nagan Raya. Kami sangat berduka,” ujar Teungku Din Sina, Ketua KPA dan PA Simeulue, kepada portalsatu.com, Selasa 19 Mei 2015.

“Penyakit donya, apa istilahnya dalam bahasa Indonesia,” katanya lagi.

Rencananya, kata Teungku Din, jenazah almarhum akan diterbangkan melalui pesawat Susi Air dari Bandara Cut Nyak Dhien ke Simeulue, Rabu 20 Mei 2015.

“Namun biaya pesawatnya sangat mahal. Untuk ini sudah dilaporkan ke Mualem (Ketua DPA PA-red). Sedangkan kapal feri baru tiba Kamis nanti,” ujarnya lagi.

“Saat ini ada anggota kita yang menjaga di RS Nagan Raya. Kami sendiri menunggu di Simeulue,” ujarnya. []

Pemerintah Diminta Jadikan Paguyuban Sebagai Mitra Pengawasan

Pemerintah Diminta Jadikan Paguyuban Sebagai Mitra Pengawasan

BANDA ACEH – Ketua Umum Paguyuban Kecamatan Salang, Kabupaten Simeulue Hasan Syahadat, mengajak pemerintah untuk memberikan ruang serta peran penuh terhadap organisasi paguyuban kabupaten sampai paguyuban kecamatan.

“Peran organisasi paguyuban dinilai sangat penting sebagai wadah silaturrahmi, pemersatu serta pengembangan potensi kader,” ujar Hasan Syahadat melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Rabu, 13 Mei 2015.

Hasan menilai organisasi paguyuban berbeda dengan organisasi intra kampus. Organisasi paguyuban memiliki peran besar dan dapat langsung bersosialisasi dengan semua pihak.

Selain membangun wadah silaturrahmi sesama di perantauan organisasi paguyuban juga bisa mengangkat nilai-nilai kebudayaan, serta mitra pengawasan roda pemerintah yang responsif. Salah satu caranya adalah melalui forum-forum diskusi, karena kader pada setiap paguyuban ini memiliki kepentingan terhadap daeranya masing-masing.

“Kita ingin setiap paguyuban kabupaten sampai paguyuban kecamatan diprioritaskan. Pemerintah harus respon serta diberi ruang. Jangan takut didemo,” kata Hasan.

Ia juga berharap agar pernyataan ini tidak dianggap sebagai candaan belaka.

Menurut Hasan, paguyuban kabupaten saat ini belum sepenuhnya berkontribusi, apalagi di lingkup organisasi paguyuban kecamatan. Di Aceh, kata dia, dari 23 kabupaten kota memiliki organisasi paguyuban kabupaten sampai kecamatan tapi hanya segelintir paguyuban kabupaten yang aktif dan respon terhadap kabupatennya.

Ini semua merupakan lemahnya support dari pemimpin-pemimpin Aceh. Sehingga organisasi paguyuban banyak berstatus jalan di tempat, di sebabkan kurangnya pengawasan. Untuk menggiring peran paguyuaban di antaranya perlu perhatian dari para pemimpin-pemimpin Aceh, jangan takut dikritik dan diminta duit.

“Banyak pemimpin enggan bersilaturrahmi dengan paguyuban. Takut diminta duit sampai-sampai ada anggota DPRK takut kepada mahasiswa,” ujar Hasan.

Hasan menambahkan, aktif dan berperan di organisasi manapun telah terbukti dapat membentuk karakter dan potensi kader, sehingga ini terbukti mampu menunjang kapasitas sumber daya manusia yang siap pakai bahkan menghadapi MEA sekalipun.

“Kebolehan pemuda atau mahasiswa perlu dibentuk melalui aktif berorganisasi. Sehingga berawal dari paguyuban inilah untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan terhadap daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, apa yang telah dilakukan oleh KNPI serta forum-forum LSM telah memiliki contoh yang baik bagi pemuda Aceh. Tetapi, menurut Hasan, tinggal bagaimana pemimpin-pemimpin Aceh juga ikut serta merespon keinginan serta harapan organisasi paguyuban ini.

“Agar lebih bersinergi,” katanya.[]

Petani Simeulue: Produksi Padi Tahun Ini Memuaskan

Petani Simeulue: Produksi Padi Tahun Ini Memuaskan

SINABANG – Produksi gabah di wilayah Salang, Kabupaten Simeulue, mendapat hasil maksimum tahun ini.

“Panen tahun ini, hasil produksi padi berkisar antara 10 sampai 20 gunca per seorang petani,” kata M Lamran, 30 tahun, warga Gampong Mutiara, Jumat, 1 Mai 2015.

Lamran mengatakan Kecamatan Salang merupakan daerah penghasil padi terbesar di Kabupaten Simeulue. Menurutnya hasil panen padi tahun lalu di daerah ini mencapai 30 gunca.

Namun ia menyayangkan di Simeulue tidak ada pembeli gabah. Selain itu, kata dia, harga gabah juga tidak menentu sehingga banyak masyarakat menyimpannya di gudang hingga setahun lamanya.

“Masyarakat berharap adanya penampungan dan ketetapan harga padi Simeulue agar hasil pertanian yang tergolong fantastis tersebut dapat diuangkan oleh petani,” katanya.

Di sisi lain, areal persawahan di wilayah Kecamatan Salang juga belum memiliki irigasi. Akibatnya, petani hanya membajak sawahnya saat musim hujan dan panen padi hanya sekali setiap tahunnya.[](bna)

Laporan: Murdian Adi Sastro dari Simeulue

Sumber foto ilustrasi: antaranews.com

Nelayan Simeulue Digigit “Nenek”

Nelayan Simeulue Digigit “Nenek”

SINABANG – Salah seorang nelayan, Jaini, 28 tahun, warga Desa Along, Kecamatan Salang, Kabupaten Simeulue, mengaku digigit seekor “nenek” di rawa-rawa Bawa Aminin, Simeulue, Senin, 6 April 2015. Nenek adalah sebutan warga Simeulue untuk buaya atau ular.

Kejadian tersebut bermula saat Jaini melempar jaring ikan di Bawa Aminin sekitar pukul 16.00 Wib. Berselang satu jam, Jaini kemudian memeriksa jaring dengan memasuki rawa tersebut. Namun saat itu, kaki Jaini tiba-tiba digigit oleh seekor binatang yang diduga buaya.

Jaini terkejut dan berusaha melepaskan gigitan binatang tersebut. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Upaya Jaini melepaskan diri berhasil setelah korban menendang punggung binatang tersebut. Jaini langsung meninggalkan rawa Bawa Aminin dan menuju puskesmas setempat bersama rekannya untuk mendapatkan perawatan medis.

“Saya yakin kaki saya digigit buaya. Hanya saja mungkin buayanya masih kecil sehingga saya masih dapat selamat,” ujar Jaini kepada portalsatu.com.

Ia mengatakan Bawa Aminin dulunya menjadi habitat buaya. Namun reptil ganas ini sudah lama tidak terlihat di lokasi ini. “Warga agar waspada dan berhati-hati di lokasi rawa tersebut,” ujar Jaini.

Hingga berita ini dipublish, portalsatu.com belum mendapat keterangan resmi dari otorita setempat terkait serangan buaya kepada salah satu warga Simeulue tersebut.[](bna)

Laporan: Murdian Adi Sastro

Terbentur Karang, Wisman Asal Inggris Dilarikan ke RSUD Simeulue

Terbentur Karang, Wisman Asal Inggris Dilarikan ke RSUD Simeulue

SINABANG – Seorang pelancong atau wisatawan mancanegara (wisman) asal Inggris yang tengah berlibur di Simeulue, Christian, dilaporkan mengalami kecelakaan di laut saat tengah bermain selancar bersama rekan-rekannya di kawasan pantai Matanurung, Teupah Tengah, Simeulue, Kamis, 2 April 2015.

Petugas Pos SAR Simeulue yang mendapat laporan sekitar pukul 09:30 WIB langsung menuju ke lokasi dan mengevakuasi korban ke RSUD Simeulue untuk mendapat perawatan. Korban yang masih ditemani rekannya yang juga sesama pelancong, langsung ditangani di bagian Unit Gawat Darurat rumah sakit tersebut.

“Main selancar di Matanurung, digulung ombak lalu terbentur di karang. Tidak ada luka luar, tapi pada bagian kiri pinggang korban terasa sakit kalau digerakkan. Ini menurut pengakuan korban langsung,” kata Dan Pos SAR Simeulue Dwi Retno Iswara, melalui Humas Pos SAR Simeulue Yudha, kepada Serambinews.com di Sinabang.[] sumber: tribunnews.com