Tag: semesta

Lima Planet Baru Seukuran Bumi Ditemukan

Lima Planet Baru Seukuran Bumi Ditemukan

SEBUAH sistem tata surya dengan lima planet seukuran bumi ditemukan. Para ahli meyakini penemuan ini dapat membantu menjawab misteri adanya kehidupan di planet lain.

Induk dari sistem tata surya tersebut kemudian dinamai Kepler-144. Sistem ini berjarak sekitar 117 tahun cahaya dari bumi dan diperkirakan berusia 11,2 miliar tahun.’

Pada bulan Januari, sekelompok peneliti starquake pada Universitas Birmingham, Inggris yang dipimpin Tiago Campante mengumumkan penemuan dari kelima planet ini. Menurut Campante, penemuan ini dapat menambah wawasan baru terkait keberadaan kehidupan asing.

“Sistem ini memberi kita harapan bahwa ada dunia lain yang dihuni yang belum sempat teramati lantaran kita tidak punya cukup waktu. Observasi di mana mendatang mungkin bisa mengubahnya,” ujar Campante kepada Astrobio.net.

Meski demikian, terbersit pertanyaan apakah bisa manusia hidup dalam waktu miliaran tahun. Hal itu masih murni spekulasi.

“Jika kecerdasan hidup bisa berkembang pada sistem setua ini, bisakah ini tetap ada atau justru malah hancur sendiri?” ungkap Campante.

Nama Kepler-444 diambil setelah misi pencarian planet Kepler NASA, yang pertama kali membuat penemuan tentatif. Asalnya, bintang ini diberi kode KOI-3158, tetapi belakangan diubah.

Para astronom menunjukkan diameter planet tersebut diperkirakan sebesar Mars atau Venus. Bisa juga seperti bumi atau lebih kecil.

“Ada implikasi yang luas dari penemuan ini,” kata Campante.

Menurut dia, penemuan ini menunjukkan susunan planet telah terbentuk jauh sebelum pembentukan bumi. Hal ini bisa menjadi indikasi adanya kehidupan lain.

“Pada saat Bumi terbentuk, planet-planet dalam sistem ini sudah lebih tua dari planet kita saat ini. Penemuan ini sekarang dapat membantu untuk menentukan apa yang kita sebut ‘era pembentukan planet’,” kata dia.[] sumber: dream.co.id

Radar Ungkap Misteri Planet Venus

Radar Ungkap Misteri Planet Venus

PLANET Venus selama ini terkenal sebagai planet yang panas dan tertutup. Planet ini mempunya atmosfer dengan suhu mencapai 480°C, kaya akan CO2 dan awan sulfida, sehingga menjadikannya misterius. Tapi sebuah foto radar terbaru mengungkapkan, Planet Venus ternyata kaya akan gunung, perbukitan, dan kawah.

Radar yang dimaksud adalah Green Bank Telescope (GBT) dan Arecibo Observatory, dua-duanya dikelola oleh National Science Foundation, Amerika Serikat. Gambaran Venus yang kaya anak gunung, bukit, kawah, adalah hasil pencitraan dua fasilitas mewah milik Amerika Serikat.

Meski demikian, dalam foto tersebut terbentang garis hitam yang hingga sekarang belum terpetakan alias sulit dicitrakan.

Wujud telanjang Venus itu dihasilkan dengan teknologi radar bistatik. Sinyal radar dipancarkan dari Arecibo Observatory, menembus ruang hampa dan atmosfer Venus, sampai di permukaan planet itu untuk kemudian dipantulkan kembali ke Bumi dan ditangkap GBT.

Sejatinya ini bukanlah hasil pencitraan yang pertama. Sebelumnya, dengan wahana Magellan milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada tahun 1990-an dan wahana Poineer dan Venera milik Rusia, Venus telah berhasil dicitrakan. Yang membuat ini istimewa adalah citra ini merupakan yang pertama didapatkan langsung dari Bumi.

Beberapa astronom menyebut pencitraan wajah telanjang Venus ini sangat penting, terlebih sebagai sarana untuk membandingkannya dengan citra yang diperoleh para astronom terdahulu. Salah satu yang bisa diobservasi adalah perubahan fitur geologi. Dengan begitu, aktivitas geologi Venus bisa diketahui. Selain itu, citra ini tentu saja menambah wawasan tentang planet Venus.

“Dibutuhkan ketelitian untuk mencari bukti adanya perubahan, tetapi pekerjaan itu saat ini sedang dilakukan,” kata Bruce Campbell, ilmuwan senior dari Center for Earth and Planetary Studies di National Air and Space Museum di Washington, D.C.

Sementara itu, dengan membandingkan citra yang baru saja diperoleh dengan citra yang sudah ada akan membantu menunjukkan ikhwal proses alam yang terjadi di permukaan Venus. Kabarnya, kajian tentang ini akan dipublikasikan di jurnal Icarus.[] sumber: National Geographic