Tag: sekolah hamzah fansuri

Sekolah Hamzah Fansuri Mulai Kelas Angkatan II

Sekolah Hamzah Fansuri Mulai Kelas Angkatan II

BANDA ACEH – Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) angkatan II (Oktober-Desember 2015), akan dimulai pada 11 Oktober di Taman Hutan Kota BNI Banda Aceh.

“Sebelumnya, kelas serupa telah berlangsung dari Mei hingga September 2015. Pada angkatan pertama, dari sepuluh pendaftar yang diterima, hanya enam orang yang mengikutinya sampai akhir,” kata Thayeb Loh Angen, pengurus SHF melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Selasa, 6 Oktober 2015.

Thayeb menyebut sebagian besar pendaftar angkatan II berstatus sarjana, sisanya mahasiswa di Banda Aceh. “Pola belajar kali ini serupa angkatan lalu. Belajar di alam luas. Juga dalam ruangan pada masa mengedit tulisan,” kata penulis novel Aceh 2025 ini.

Aktivis kebudayaan itu mengatakan SHF sebuah organisasi yang sementara ini membuka dua cabang. Pertama, kelas menulis bidang sastra dan perkabaran, secara cuma-cuma (gratis). Kedua, bidang pertemuan dan perkemahan.

“Diskusi setiap akhir bulan untuk umum. Insyaallah, akan kita mulai pada akhir Oktober ini. Kemah Sastra Hamzah Fansuri akan kita laksanakan pada akhir Januari atau awal Februari 2016, untuk umum alumnus SHF, setahun sekali,” ujar Thayeb.[]

Kitab Masailal Dibicarakan di Kemah Sastra Hamzah Fansuri

Kitab Masailal Dibicarakan di Kemah Sastra Hamzah Fansuri

BANDA ACEH – Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) melaksanakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri (KSHF) dalam rangka meramaikan Kemah Seniman Aceh ke 4, di Jantho, Aceh Besar, 11-13 September 2015.

Dalam kemah tersebut, SHF mengadakan diskusi tentang kitab Masailal Muhtadi li Ikhwanil Mubtadi karangan Syekh Baba Daud Rumi. Baba merupakan ulama Aceh turunan Turki, murid Syekh Abdurrauf Syiah Kuala.

Pengurus SHF, Thayeb Loh Angen, dalam pengantar diskusi, mengatakan, kitab Masailal berisi dasar-dasar agama Islam yang gaya penulisannya unik berisi pertanyaan dan jawaban.

Kitab Masailal menjadi pelajaran wajib bagi setiap anak Aceh selama beberatus tahun, sampai kini. Dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) bersejarah, kitab Masailal banyak ditemukan.

“Di antaranya, ada 11 buah naskahnya berada di dalam koleksi Masykur. Kolektor Manusrip kelahiran 1997 ini telah menyimpannya selama setahun terakhir di museum manuskripnya ‘Pedir Museum’,” kata Thayeb.

“Pengakuan untuk kehebatan sastra kitab Masailal, datang dari para pakar di dalam dan luar Aceh. Di antaranya, dari seorang peneliti independen dari Istanbul Turki, Dr Mehmet Ozay. Ia mengatakan, kitab Masailal ikut mempengaruhi cara berpikir Aceh dan negeri lainnya, dari kecil sudah dididik menjadi kritis,” kata Thayeb.

Seorang akademisi bidang sastra, Muhammah Rain, dalam acara tersebut membicarakan tentang puisi, syair, nazam, dan hikayat.

“Puisi terikat dengan aturan dan prosa terlepas darinya namun harus memiliki tokoh. Karenanya, nazam dan syair dapat digolongkan ke dalam puisi” kata lekaki yang biasa dipanggil Muhrain dan suka menulis puisi ini. [] (mal)

Kala Siswa Sekolah Hamzah Fansuri Kunjungi Dewan Kesenian Aceh

Kala Siswa Sekolah Hamzah Fansuri Kunjungi Dewan Kesenian Aceh

Dhing dhing dhing…..!

Bum bum bum…!

Alunan musik bersahutan diiringi nyanyian ala rock terdengar riuh menggetarkan telinga Siswa SHF (sekolah Hamzah Fansuri) kala tiba di depan gedung terbuka Taman Budaya Aceh (TBA), Banda Aceh, pada Jumat 4 September 2015.

Mereka pun memarkirkan sepeda motornya di dekat tempat pergelaran musik itu. Karena baru pertama kali menapakkan kaki di sana, mereka tidak tahu di mana sekretariat DKA (Dewan Kesenian Aceh) yang dimaksudkan.

Secara kebetulan ada seseorang lalu lalang, terlihat seperti penjaga parkir. Rahmatullah, salah seorang siswa SHF pun langsung menanyakan padanya. Lalu ditunjuklah jalan lewat belakang tempat pertunjukan seni tersebut.

Dari kejauhan tampak dua orang di beranda salah satu gedung bagian belakang TBA, tengah duduk berbincang-bincang. Salah seorang di antaranya ternyata Thayeb Loh Angen (guru Sekolah Hamzah Fansuri).

Mereka pun pelan-pelan menghampirinya sembari mengucap salam. Satu persatu mereka salami. Seorang lagi ibu-ibu tampak seperti rekan Thayeb Loh Angen. Lalu mempersilakan mereka duduk. Tempat yang sederhana dengan meja dan kursi seperti warung kopi tampak sangat cocok untuk diskusi kecil.

Thayeb Loh Angen mengenalkan mereka padanya.“Ini murid SHF. Saya membawa mereka untuk belajar menulis sekalian bersilaturrahim dengan Dewan Kesenian Aceh,” jelas Thayeb kepada rekannya itu.

Mulailah mereka berbincang-bincang dengannya. Melihat bicaranya tentang DKA (Dewan Kesenian Aceh), menunjukkan ia seperti salah seorang yang penting di lembaga itu.

Semakin penasaran, siswa SHF pun menanyakan tentang dirinya. Ternyata ia bernama Maida Januar, seorang seniman di bidang Drama/Teater yang pernah mewakili Aceh di tingkat nasional. Sejak berkarir di bidang seni itu ia telah tampil di seluruh penjuru Indonesia. Selain di bidang seni, ia juga pernah menjadi pembawa acara di radio RRI Banda Aceh. Dengan segudang prestasi yang telah diraih tak membuatnya berpuas diri. Sekarang ia sedang membangun kembali DKA yang telah lama tidak berkiprah.

Maida Januar, Ketua Umum DKA (Dewan Kesenian Aceh), sangat senang kedatangan tamunya sampai ia menawarkan tempat belajar di lantai dua gedung itu.

Dengan sangat antusias, ia menceritakan bagaimana sebenarnya keberadaan lembaga itu dan apa peran yang selama ini dijalankan. DKA adalah sebuah lembaga untuk menyatukan para seniman yang ada di Aceh.

“Selama ini Pemerintah kurang menghargai keberadaan seniman. Inilah tempat menyuarakan aspirasi untuk membangkitkan kembali marwah mereka. Wadah ini bukan pelaku seninya, tetapi berusaha melayani dan memecahkan masalah yang dihadapi seniman atau komunitas seni tertentu,” ujar Maida.

Pada 11 hingga 13 September 2015, DKA meyelenggarakan Kemah Seni se-Aceh di Jantho, ibukota Kabupaten Aceh Besar.

Maida mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan menguatkan tali silaturrahmi dengan seniman yang ada di seluruh Aceh. Setiap daerah diminta mengirimkan 7 orang peserta.

”Banyak pihak protes karena pembatasan jumlah peserta, mengingat seniman yang ada di daerah sangatlah banyak. Namun, ini diputuskan karena pertimbangan dana yang ada hanya 200 juta Rupiah,” ujar Maida.

Sesudah panjang lebar mendengarkan penjelasan Maida, Thayeb Loh Angen meminta izin memanfaatkan waktu untuk belajar menulis bagi pelajar SHF.

Tidak jauh dari meja tadi, ada teras gedung dinilai sangat cocok dijadikan tempat belajar. Ke situlah mereka dibawa Thayeb. Kali ini materi yang akan dipelajari adalah menulis prosa atau cerpen. Seperti biasa, mula-mula Thayeb menjelaskan unsur-unsur penting cerpen seperti karakter tokoh, alur cerita, dan lain-lain.

“Cerpen yang bagus memenuhi semua unsur dan mudah diserap pembaca sekali duduk. Pembaca akan mudah menyerap isi cerpen apabila tulisannya dapat mempengaruhi panca indra seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan untuk larut dalam cerita itu,” ujar Thayeb dengan gaya khasnya.

Di sela-sela belajar, Thayeb Loh Angen menawarkan kepada pelajar SHF untuk ikut perkemahan ke Jantho bersama rombongan DKA (Dewan Kesenian Aceh). Semua siswa mengiyakan tawaran tersebut. Rencananya perkemahan itu dimanfaatkan untuk penutupan Kelas Sastra Dan Perkabaran Siswa Sekolah Hamzah Fanshuri. Sebab, materi tulisan jurnalistik yang diajarkan dinilai sudah memadai.

Dilaporkan oleh Nazarullah, peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri (SHF). Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.

Sekolah Hamzah Fansuri Diluncurkan

Sekolah Hamzah Fansuri Diluncurkan

BANDA ACEH – Sembilan orang dari berbagai kalangan mengikuti Sekolah Hamzah Fansuri (SHF), Kelas Sastra dan Perkabaran yang pertemuan perdananya diadakan di ruang tertutup kantin SMEA, Lampineung, Banda Aceh,  Selasa 5 Mei 2015. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenalkan Aceh kepada dunia melalui tulisan.

Pendiri SHF, Thayeb Loh Angen, mengatakan kegiatan menulis tersebut awalnya diadakan pada tahun 2013 yang waktu itu bernama Institut Sastra Hamzah Fansuri yang dikoordinir kelasnya dikoordinir oleh Mirza Putra dengan pesertanya waktu itu mencapai 50 orang.

Menurut penulis novel Teuntra Atom dan novel Aceh 2025 ini, tujuan dari kegitan menulis tersebut untuk mengenalkan dunia menulis, terutama sastra dan perkabaran secara mudah kepada masyarakat yang berminat.

Koordinator Kelas Sastra dan Perkabaran SHF, Muhajir mengatakan kegiatan menulis tersebut akan berlangsung selama 5 Minggu dengan 5 mata pelajaran.

“Kegiatan ini Insya Allah akan kita adakan selama 10 kali pertemuan. Tiap satu Minggu akan ada 1 mata pelajaran dengan 2 kali pertemuan,” ujar Muhajir.

Di samping itu, Muhajir berharap lulusan Sekolah Hamzah Fansuri tersebut kelak bisa memperkenalkan Aceh melalui tulisan ke pentas dunia.

“Salah satu cara yang paling ampuh dalam mempromosikan sesuatu adalah melalui tulisan. Karena itu lulusan sekolah ini ke depannya diharapkan menjadi penulis yang akan menulis tentang Aceh dari semua sisi kehidupan,” kata Muhajir. [] (mal)