Tag: sejarah Aceh

Aceh Tak Pernah Menyerah

Aceh Tak Pernah Menyerah

Aceh tak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda. Sampai kini Belanda tidak bisa menunjukkan surat penyerahan kekuasaan Sultan Aceh.

Mengenai kedaulatan Aceh dijelaskan dalam sarakata (dokumen kerajaan) yang masih tersimpan sampai sekarang. Adalah Said Abdullah Teungku Di Meulek selaku Wazir Rama Setia (Sekretaris Kerjaan) yang menyiapkan dan menyimpannya.

Sarakata tersebut diantaranya seperti sumpah dan khutbah kerajaan dalam menghadapi ancaman penyerangan Belanda. Para ulama, uleebalang dan seluruh rakyat Aceh diserukan untuk berjihat melawan agresi tersebut.

Kegigihan rakyat Aceh dalam menghadapi dan melawan agresi Belanda itu digambarkan oleh penulis Belanda HC Zentrgaaff sebagai perjuangan yang luar biasa. Ia menulis:

“…De waartheid is dad de Atjehers mannen en vrouwen in het elgemeen schitteren hebben gevochten voor wat zij zaggen als hun nationaal of religieus ideal. Er is onder die strijders cen zeer groot aantal mannen an vrouwen die den trots van elk volk zouden uitmaken.”

Maksudanya kira-kira, “Rakyat Aceh, baik pria maupun wanita berjuang secara luar biasa. Mereka merasakan sebagai satu bangsa yang bertugas membela agama, bangsa dan wilayahnya dengan perjuangan suci. Mereka terdiri dari pahlawan-pahlawan, baik pria maupun wanita yang memiliki kebanggaan atas kebenaran perjuangannya.”

Hal ini diakui oleh Panglima Perang Belanda di Aceh, Jenderal Van Pel. Dalam buku ES Klerek: History of Netherland Eas Indie ia mengakui jatuhnya mental tentara Belanda akibat perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Ia menulis:

“The proclamation of direct rule over Acheh pi proper had been a mistaken idea; there could be not question of conquest for the time being, the standing army in Acheh beingdepleted by the heavy losses suffered and the consequent large drainage of force.” (Proklamasi tentang langsung dijajah/diperintah Aceh, sesungguhnya adalah cita-cita yang amat salah. Sebenarnya soal menang tidak ada waktu itu. keadaan serdadu di Aceh sangat menyedihkan karena menderita kekalahan hebat dan akibatnya kemusnahan kekuatan yang besar).

Keterangan Pocut Meurah

Soal perjuangan mempertahankan kedaulatan Aceh itu, pernah ditulis Ali Hasjmy dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh.” Dalam buku itu pada halaman 44, mantan Gubernur Aceh tersebut menceritakan pengalamannya pada tahun 1944 ketika mengantarkan seorang pembesar Jepang menemui Pocut Meurah.

Kepada pembesar Jepang itu Pocut Meurah mengungkapkan bahwa Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah yang ditawan Belanda pada tahun 1903 tidak mau menandatangani naskah penyerahan kedaulatan Aceh kepada Belanda. Alasannya, kedaulatan Aceh telah diserahkan kembali kepada rakyat Aceh menjelang ia ditangkap/ditawan Belanda.

Meski waktu itu Belanda berjanji akan mengangkat kembali Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah sebagai raja Aceh jika mau menandatangai surat penyerahan kedaulatan Aceh kepada Belanda, sultan tetap menolak menandatanganinya.

Masih menurut Pocut Meurah, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah juga pernah mengirimkan surat kepada Kaisar Jepang, Tenno Heika dengan perantaraan Konsul Jenderal di Singapura. Dalam surat itu ia meminta bantuan senjata dan kapal perang. Keterangan yang sama juga pernah disampaikan Tuanku Raja Keumala melalui putranya Tuanku Hasyim SH kepada Ali Hasjmy.

Begitu juga dengan keterangan bekas Sultan Pontianak, Sultan Abdul Hamid. Ia memberikan keterangan tentang kedaulatan Aceh kepada Teuku Burdansyah sewaktu sama-sama dalam tahanan di penjara Cipinang, Jakarta. Sultan Abdul Hamid mengaku telah mempelajari semua dokumen penyerahan kedaulatan kerajaan-kerajaan di nusantara kepada Belanda, tapi ia tidak menemukan naskah penyerahan kedaulatan Aceh.

Pernyataan Putra Mahkota Kerajaan Aceh

Yang lebih kuat lagi tentang tidak diserahkannya kedaulatan Aceh kepada Belanda diungkapkan Tuanku Raja Ibrahim Bin Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, putra mahkota Kerajaan Aceh. Surat pernyataan itu dibuat pada 5 Mei 1975 di Banda Aceh. bunyinya:

“Pada tanggal 20 Januari 1903 dengan tergesa-gesa ayahanda Sultan dan saya sendiri dihadapkan di hadapan pembesar-pembesar pihak Belanda di Kutaraja. Kami dihadapkan dalam satu sandiwara politik kolonialnya dengan cara 4 (empat) pasal yang dibuatnya sendiri tanpa ditandatangani oleh Ayahanda Sultan dan saya sendiri, ditonjolkannya untuk menjatuhkan martabat perjuangan Aceh, seolah-oleh mereka telah berhasil. Pernyataan (penyerahan kedaulatan) yang dibuat-buat oleh pihak musuh itu otomatis bertentangan dengan prinsip Ayahanda Sultan dan saya sendiri sebagai putranya, sedangkan perjuangan rakyat terus bergolak tidak ada hentinya melawan pihak Belanda…”

Menurut Ali Hasjmy, naskah pernyataan Tuanku Raja Ibrahim tersebut saat itu disimpan dalam kumpulan dokumen-dokumen bagian museum pada Kantor Perwakilan PDK daerah istimewa Aceh, sedangkan foto kopi surat pernyataan itu tersimpan di Pustaka Ali Hasjmy, Banda Aceh.

Soal tidak pernah diserahkannya kedaulatan Aceh kepada Belanda juga ditulis oleh pengarang Belanda Dr BJ Bolland dalam bukunya, The Strunggle of Islam In Modern Indonesia. Dalam buku itu ia menulis: “…But on Januari 10th, 1903, the Sultan was captured… However, the Sultan continued to be active in secret even in captivity, and Aceh never capitulated to the colonial power…”

Penulis Belanda lainnya, Paul van’t Veer dalam buku De Atjeh Oorlog membagi babakan perang Aceh dari 1873 sampai 1942 dalam empat periode, yakni periode pertama 1873, periode kedua 1874 sampai 1880, periode ketiga 1881 sampai 1896, serta periode keempat dari tahun 1897 sampai 1942.

Dari keempat periode perang tersebut, Aceh tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Belanda. Pada periode pertama dan periode kedua merupakan periode perang total yang frontal, saat itu pemerintahan Kerajaan Aceh masih berjalan dengan baik meski pusat kerajaan (Dalam) telah dipindahkan dari Bandar Aceh Darussalam ke Indrapuri lalu dipindahkan lagi ke Keumala Dalam dan beberapa tempat lainnya.

Sementara perang pada periode ketiga merupakan perang gerilya total teratur. Saat itu pemerintahan Kerajaan Aceh sudah tidak teratur lagi karena sering berpindah-pindah tempat pusat pemerintahan. Selanjutnya pada periode keempat, merupakan periode perang gerilya kelompok/perorangan. Pada periode terakhir ini, kelompok-kelompok rakyat atau perorangan melakukan perlawanan terhadap Belanda tanpa ada komando dari pemerintah pusat kerajaan.

Paun van’t Veer malah berkesimpulan, perang Aceh berakhir pada tahun 1942 dengan kekalahan Belanda. Ia menulis. “Perang Aceh tidak berakhir pada tahun 1913, atau 1914, karena dari tahun 1914 masih memanjang benang merah yang tidak pernah putus sampai ke tahun 1942.”

Malah menurut paul, setelah tahun 1942 Pemerintah Belanda tidak pernah lagi bisa masuk ke Aceh. Pada buku yang sama ia menulis. “Dari tahun 1942 sampai 1945 dan sesudahnya, Pemerintah Belanda tidak pernah dapat kembali ke Aceh. Dalam masa-masa aksi militer sekitar tahun 1946 – 1947, sewaktu sebagian besar Pulau Sumatera telah dapat diduduki kembali oleh Belanda, tidak pernah tentara Belanda berniat dan berusaha untuk menembus sampai ke Aceh. Dan Aceh adalah daerah satu-satunya di Indonesia di mana sejak tahun 1945 sampai dengan 1950, kemerdekaan sudah menjadi suatu kenyataan. Aceh adalah daerah terakhir yang dapat diduduki oleh Belanda, tetapi Aceh adalah daerah yang paling pertama membebaskan diri dari pendudukan militer Belanda, yaitu sejak 1942.”[]

Ulama Tiro di Mata Belanda

Ulama Tiro di Mata Belanda

Tiro hidup sebagai muslim yang taat dan berwibawa, kekuasaannya melebihi kekuasaan para sultan. – H C Zentrgaaff

Begitulah Teungku Chik Di Tiro di mata penulis Belanda, Zentgraaff. Ia menilai seperti itu karena titah Teungku Chik Di Tiro didengar oleh seluruh rakyat Aceh. “Dia telah mengadakan perjalanan keliling Aceh dan mengajak setiap orang untuk ikut perang sabil. Bagi yang tidak mampu memegang senjata diwajibkan memberikan sumbangan. Para petugas akan memungut uang sabil dengan mendapat kuasa dan cap jari dia,” tulis Zentgraaff.

Teungku Chik Di Tiro selain berhasil mengobarkan perang sabil bersama para ulama, juga mampu memperbesar usaha pengumpulan logistik dan dana untuk keperluan perang. Menurut taksiran Belanda waktu itu, Teungku Chik Di Tiro berhasil mengumpulkan dan mengerahkan 6.000 orang dalam pasukannya.

Pada Maret 1883, Laging Tobias diangkat menjadi Gubernur Sipil Aceh yang kedua. Ia mengakui Teungku Chik Di Tiro dengan pasukannya merupakan pasukan tangguh dengan taktik gerilya yang sangat menyulitkan Belanda.

Teungku Chik Di Tiro yang disokong oleh rakyat mempunyai mobilitas tinggi. Sewaktu-waktu dapat muncul tiba-tiba di Mukim XXII, kemudian menampakkan dirinya pula di Mukim XXV. Pada Agustus 1883 sekitar 500 pejuang dari pantai utara Aceh bergabung dengan pasukan Teungku Chik Di Tiro, mereka melakukan serangan-serangan dadakan terhadap Belanda.

Pada Juli 1884 diperkuat lagi dengan 250 pasukan dari berbagai daerah, mereka dipusatkan di Mukim XXVI. Serangan-serangan terhadap Belanda pun terus dilakukan. Sebulan sebelumnya, 16 dan 17 Juni 1884, Belanda kemudian melakukan sidang rahasia Staten Generaal. Hasilnya, untuk menghadapi pejuang Aceh Belanda kembali menerapkan sistim pertahanan lini.

Dalam Colonial Verslag 1885, Belanda mengakui bahwa perlawanan terhadap Belanda terus meningkat, sementara kekuasaan Belanda semakin surut karena banyak pasukan yang tewas. Dampak lainnya, keuangan Belanda pun bertambah parah. Sampai akhir tahun 1884, anggaran belanja perang Belanda di Aceh naik menjadi 150 juta florin.

Kobaran semangat perang juga digelorakan dengan gubahan hikayat Prang Sabi. Di antara para penggubah hikayat heroik itu adalah: Syaikh Abdul al-Samad al-Falimbany, Teungku Chik Di Tiro, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad alias Teungku Chik Kutakarang, Teungku Ahmad Ibnu Mahmud, Teungku Pante Kulu, Abdul Karim alias Dokarim.

Belanda beberapa kali mengirim surat kepada Teungku Chik Di Tiro mengajaknya untuk berdamai, tapi ia membalasnya dengan singkat. “Perdamaian baru akan tercapai jika Belanda memeluk agama Islam.” Itulah sikap Teungku Chik Di Tiro dalam suratnya kepada Belanda pada tahun 1885. Surat yang sama kembali dikirimnya pada Mei 1888.

Zentgraaff dalam buku Atjeh menulis, isi surat tersebut sebagai berikut. “Dari kami, Teungku Chik Di Tiro, semoga diterima oleh Zwel Edgest. Asisten Residen, bertempat tinggal di Kutaraja di Negeri Aceh. Dahulu ketika kami berdiam di Mukim XXVI tahun yang lampau, kami ada berkirim surat kepada tuan mengenai perjanjian perdamaian. Dan pada waktu itu telah kami ajukan syarat-syaratnya sebagai berikut: Setelah tuan mengucapkan kalimat dua syahadat, memeluk agama Islam, barulah kita dapat mengadakan perjanjian perdamaian…”

Pemerintah kolonial melalui Gubernur Jenderal van Teijn menolak hal itu. “Kerajaan Belanda tidak melakukan perang agama,” balasnya. Dalam buku The Dutch Colonial War in Aceh, edisi 2 terbitan The Documentation and Information Centre of Aceh (1990) disebutkan, surat Teungku Chik Di Tiro itu juga mendapat reaksi dari Menteri Jajahan Belanda, Ceuchenius. Melalui surat kabinet tanggal 15 Agustus 1888, surat X nomor 52, Ia meminta Van Teijn untuk menjawab surat tersebut.

Faktor Penting Perang Aceh

Bagi Belanda Teungku Chik Di Tiro merupakan faktor penting dalam perang Aceh. Malah sebelumnya, yakni pada Maret 1882, Belanda mengeluarkan intruksi yang sangat rahasia dari Gubernur Jenderal Belanda; memberikan hadiah kepada siapa pun yang sanggup menyerahkan para pemimpin Aceh hidup atau mati.

Salah satu dan yang paling utama disasar oleh Belanda adalah Teungku Chik Di Tiro. Belanda menyediakan imbalan 1.000 dolar. Teuku Umar yang kala itu menjalankan politik tipu Aceh dengan pura-pura menyerah pada Belanda juga mendapat surat dari Gubernur Belanda di Aceh untuk membunuh Teungku Chik Di Tiro.

Teungku Chik Di Tiro merupakan bernama asli Muhammad Samam. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. Mulai mengobarkan perang kepada Belanda sejak tahun 1874 sampai ia meninggal pada 25 Januari 1891.

Dalam buku Marechaussee in Atjeh, H.J. Schmidt menyebutkan Teungku Chik Di Tiro mempunyai lima orang putra yaitu: Teungku Mat Amin (wafat 1896), Teungku Syeh Mayed (wafat 5 September 1910), Teungku Di Toengkob alias Teungku Beb (wafat 1899), Teungku Lambada (wafat 1904) Teungku Di Boeket alias Teungku Moehamad Ali Zainoel Abidin (wafat 21 Mei 1910).

Mengendus Keluarga Tiro

Untuk mengendus keluarga Teungku Chik Di Tiro, Belanda mengutus Kapten H J Schidt, seorang opsir yang mahir berbahasa Aceh. Ia memimpin rencana pembunuhan keluarga Teungku Chik Di Tiro.

Berbagai usaha dilakukan Belanda untuk membunuh keluarga Teungku Chik Di Tiro. Selain lewat perang juga melalui imbalan 1.000 dolar bagi siapa saja yang dapat menawan Teungku Chik Di Tiro hidup atau mati. Peranglah yang kemudian membuat para keluarga Tiro tersebut tewas.

Menurut Zantgraaff pada Januari 1891, ketika Teungku Chik Di Tiro merasakan akhir hayatnya sudah dekat. Ia memanggil putra tertuanya Mat Amin. Kepadanya diberikan nasehat yang tegas untuk melanjutkan perang melawan Belanda. “Secara jujur harus dicatat mereka tewas sebagai pahlawan,” tulis Zentgraaff.

Setelah Teungku Chik Di Tiro tewas pada 25 Januari 1891. Teungku Mat Amin melanjutkan perjuangan. Ia memimpin pertahanan di Aneuk Galoeng, yang ditinggalkan Teuku Umar yang menjalankan politik tipu Aceh dengan pura-pura menyerah pada Belanda tahun 1896.

Belanda yang berulang kali menyerang benteng Aneuk Galoeng tidak berhasil merebutnya. “Benar-benar suatu masa yang gila. Setelah masa kesimpang siuaran yang besar itu, di mana kita kadang-kadang harus bertempur mati-matian, untuk merebut kembali apa yang kita lepaskan dengan suka rela,” tulis Zentgraaff.

Teungku Mat Amin bersama Teungku Di Buket dan ratusan pasukannya mempertahankan benteng tersebut. Belanda kemudian membentuk korps marechaussee sebagai korp tentara pilihan untuk memerangi Aceh.

Pada tahun 1896, di bawah komando Graaflannd, benteng Aneuk Galoeng dikepung. Kapten Van Daalen sebagai kepala staff ikut dalam perang tersebut. “Orang Aceh bertarung bagai singa, mereka memilih roboh dalam nyala api yang membakar benteng dari pada menyerah ke pihak kita,” lanjut Zentgraaff.

Teungku Mat Amin tewas dalam pertempuran tersebut. Mayatnya dilarikan oleh pejuang Aceh ke Meureu, Indrapuri dan dikuburkan didekat makam ayahnya, Teungku Chik Di Tiro. Sementara putra Teungku Chik Di Tiro lainnya, Teungku Lambada tewas oleh Darling di dekat Alue Keune.

Pengikut dan keluarga Teungku Chik Di Tiro lainnya yang diburu oleh Belanda waktu itu adalah: Teungku Teupin Wan, Teungku Hasyim, Teungku Geudong, Teungku Raja Nanta, Teungku Di Buket, Teungku Mayed, dan beberapa panglima perang lainnya. “Mereka adalah para penglima perang di belantara ulama-ulama Tiro yang memiliki pasukan yang terlatih dengan baik,” tulis Zentgraaff.[]

Sumpah Wajib Jihad Ulama Aceh

Sumpah Wajib Jihad Ulama Aceh

Setelah Sultan Aceh meninggalkan pusat kerajaan (Dalam) akibat invasi Belanda, para ulama mengadakan musyawarah besar tentang wajib jihad melawan Belanda.

Peristiwa pengucapan sumpah para ulama itu digambarkan oleh Muhammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad. Pengucapan sumpah diikuti oleh sekitar 500 ulama terkemuka di Aceh waktu itu. Pembacaan ikrar sumpah dipimpin oleh Teungku Imum Lueng Bata dan Teungku Lamnga. Sumpah wajib jihad itu berisi kewajiban para ulama untuk berperan aktif menggerakkan perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Hal yang sama juga pernah ditulis oleh Teungku Ismail Yacob dalam buku Tgk Chik Di Tiro Pahlawan Besar, ia menulis tentang rapat rahasia yang diikuti oleh Teuku Panglima Polem, Teungku Chik Abdulwahab Tanoh Abey dan sejumlah ulama serta uleebalang .

Dalam rapat itu Teungku Chik Abdulwahab Tanoh Abey menegaskan bahwa tenaga perjuangan masih belum hancur, hanya saja sudah kurang kesucian batin dan kekuatan iman. Ia menutup nasehatnya dengan ucapan.

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah lebih dahulu musuh batin, yaitu hawa nafsu, harta rakyat yang sudah ada pada kita masing-masing yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkan kembali dengan segera, jangan rakyat selalu teraniaya, tegakkan keadilan di tengah-tengah kita terlebih dahulu, sebelum kita meminta keadilan pada orang lain. Dari itu tobatlah wahai teuku-teuku terlebih dahulu sebelum mengajak rakyat memerangi kompeni. Kalau tidak juga dikembalikan harta rakyat yang diambil dengan cara tidak sah, yakinlah rakyat akan membelakangi kita dan kita akan tersapu bersih dari Aceh ini, melebihi dari yang sudah-sudah. Kalau yang saya minta teuku-teuku penuhi, maka saya akan bersama teuku-teuku ke medan perang.”

Nasehat Teungku Chik Tanoh Abey ini dikuatkan oleh Teuku Panglima Polem yang menganjurkan agar semua uleebalang kembali ke jalan Allah. Kemudian dalam satu pertemuan dengan para ulama dan pemimpin rakyat di Tiro yang dipimpin oleh Teungku Chik Muhammad Amin Dayah Cut, delegasi dari Gunong Biram mengemukakan kondisi genting di Aceh Besar setela Belanda mendarat.

Rapat di Tiro itu akhirnya diputuskan untuk membantu perang ke Aceh Besar dengan mengirim sejumlah ulama di bawah pimpinan kemenakan Teungku Chik Dayah Cut sendiri yaitu Teungku Haji Muhammad Saman yang baru kembali dari Mekkah yang kemudian dikenal sebagai Teungku Chik Di Tiro.

Anthony Reid dalam The Contes for North Sumatera menulis, Teungku Haji Mumahammad Saman Di Tiro tidak saja mendapat mandat dan restu dari pamannya Teungku Chik Dayah Cut, tapi juga sultan Aceh yang saat itu sudah berkedudukan di Keumala memberikan kekuasaan padanya untuk memimpin prang sabi melawan Belanda dengan mengangkatnya sebagai Wazir (Menteri) dalam kabinet perang.

Hal yang sama juga disinggung Ali Hasjmy dalam buku Hikayat Perang Sabil Menjiwai Perang Aceh, saat Teungku Haji Muhammad Saman Di Tiro dalam perjalan dari Tiro ke Aceh Besar, ia mengadakan pertemuan dengan para ulama dan pemimpin rakyat di Garot, Padang Tiji, Gunong Biram, Tanoh Abey, Ie Alang dan Lamsie. Dalam pertemuan-pertemuan di setiap tempat tersebut Teungku Haji Muhammad Saman Di Tiro mengobarkan semangat jihad bagi penduduk setempat.

Para ulama dan pemimpin rakyat yang dijumpainya termasuk Teungku Chik Tanoh Abey dan Teuku Panglima Polem. Mereka berjanji akan membantu usaha perang Teungku Chik Di Tiro yang kemudian membangun markasnya di Muereu, Aceh Besar. Dari sanalah Teungku Chik Di Tiro mengirim utusan-utusannya ke seluruh pelosok Aceh untuk menjumpai ulama dan pemimpin rakyat setempat dan mengajaknya untuk berjihad melawan Belanda.

Dihadiahi Hikyat Prang Sabi

Selain memimpin perang bersama rakyat, para ulama juga menciptakan hikayat-hikayat heroik untuk membakar semangat rakyat dalam melawan Belanda. Hikayat-hikayat itu menceritakan tentang perjuangan di zaman para nabi dalam menegakkan agama Islam, seperti kisah Hasan Bin Sabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah.

Dalam buku Ikhtisar Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Ali Hasjmy menjelaskan bahwa dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh ada beberapa hikayat dibacakan untuk membangkitkan semangat jihad rakyat Aceh: Hikayat Prang Peringgi yang diciptakan menjelang akhir abad XIV ujntuk melawan Portugis.

Hikayat Prang Kompeni yang diciptakan oleh Abdul Karim (Do Karim) menjelang akhir abad XIX, Hikayat Prang Sabi yang ditulis menjelang akhir abad XIX oleh Teungku Chik Muhammad Pante Kulu.

Teungku Chik Di Tiro yang saat itu sibuk menyiapkan bala tentara rakyat untuk melawan Belanda. Ia didatangi oleh Teungku Chik Pante Kulu yang baru kembali dari Mekkah, kepada Teungku Chik Di Tiro kemudan dihadiahi Hikayat Prang Sabi yang diciptakannya.

Pengaruh hikayat ini memang luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad perang melawan Belanda di Aceh. Sejarawan Anthony Reid juga mengakui hal itu. Dalam The Contest for Nort Sumatra ia menulis:

“Kegiatan para ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan populer dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah yang paling mahsyur dalam membangkitkan semangat perang suci…”

Mantan Gubernur Aceh, Muzakkir Walad malah menilai heroisme dalam hikayat Prang Sabi sama dengan Illias dan Odyssea karya pujangga Homerus di zaman Epic, era Yunany sekitar tahun 900 sampai 700 sebelum masehi.

Abdullah Arif dalam buku 10 Tahun Darussalam menjelaskan bahwa Hikayat Prang Sabi dikarang oleh Teungku Chik Pante Kulu dalam kapal antara Jeddah dan Penang ketika pulang dari Mekkah dan ketiba tiba di Aceh hikayat itu dihadiahkan kepada Teungku Chik Di Tiro. Hikayat ini berisikan empat bagian cerita yakni, kisah Ainal Mardiah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Sa’id Salim, dan kisah budak mati hidup kembali.

Begitulah peranan ulama dalam menggelorakan jihad berperang melawan Belanda sebagai akibat dari pernyataan perang yang diproklamirkan oleh Belanda terhadap Aceh pada 26 Maret 1873.[] foto by acehkita @Chaideer Mahyuddin

Gampong Lam Ujong, Bekas “Bhom” Kuno

Gampong Lam Ujong, Bekas “Bhom” Kuno

SEKITAR 4 kilometer dari Kajhu, ibukota Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, terdapat sebuah gampong di sebelah selatan Jalan Krueng Raya-Banda Aceh, Kilometer 11. Lam Ujong, namanya. Sepintas, gampong ini tampak tidak berbeda dengan umumnya gampong-gampong lain di pesisir laut Aceh Besar. Deretan rumah-rumah bantuan pascabencana gempa dan tsunami 2004 merupakan pemandangan hunian baru setelah rekonstruksi Aceh.

Tim misykah.com berkunjung ke Lam Ujong, 26 Februari 2014. Kunjungan itu berawal dari informasi diterima dari Ketua Sejarah Indatu Lamuria Aceh (SILA), Muammar, beberapa hari sebelumnya. Muammar menyebutkan, di Gampong Lam Ujong terdapat batu-batu nisan kuno bertipologi plang-pleing (Lamuri) dan nisan Aceh Darussalam.

“Salah satu kompleks makam kuno di Lam Ujong disebut masyarakat  setempat dengan Jirat Pocut Sitti Lam Bakoi,” kata Muammar.

Ternyata benar. Sebelum sampai ke kompleks Jirat Pocut Sitti Lam Bakoi, sudah terlihat gundukan tanah, di atasnya terdapat beberapa batu nisan. Selang 20 meter kemudian, ada lagi dua kompleks makam dengan batu nisan tidak kurang dari 30 buah nisan. Sesampai ke lokasi dituju terlihat sebuah gundukan tanah di tengah-tengah kebun milik warga. Gundukan tanah seluas kira-kira 30×8 meter itu terkesan diistimewakan. Kelilingnya dipagari struktur berkonstruksi batu setinggi pinggang.

Di kompleks ini terdapat batu nisan dalam jumlah banyak, sebagiannya telah ditutupi semak-semak. Ada juga yang sudah melesak dalam tanah. Hasil hitungan sementara sesuai klasifikasi coraknya: 12 batu nisan plang-pleng, dan 46 batu nisan dari era Aceh Darussalam.

Makam seorang yang disebut dengan Pocut Sitti berada di sebelah paling timur. Ciri-ciri nisan makamnya: bagian puncak memiliki mahkota yang sisi kanan-kirinya menyerupai sayap; dan bingkai panel di bagian badan (wajah) berbentuk motif pintu Aceh. Maka secara autentik, nisan makam ini berasal dari era Kerajaan Aceh Darussalam, dan lazim diperuntukkan untuk seorang wanita.

Di samping nisan makam Pocut Sitti tampak pula satu kubur dengan batu nisan berbentuk lingga, atau lebih dikenal dengan batu nisan plang-pleing. Nisan kubur ini hanya tinggal satu, sedangkan satunya lagi tidak berhasil dijumpai di lokasi kompleks makam. Di antara sejumlah batu nisan plang-pleing dalam kompleks makam, hanya nisan ini yang memiliki inskripsi.

Adapun terjemahan dari inskripsi itu: “1. Dengan nama Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih; 2. Inilah kubur Sijalak (belum dapat dipastikan pengucapan yang benar bagi nama ini begitu pula maksudnya); 3. Dipindahkan dari dunia pada hari; 4. Senin, dua puluh delapan; 5. hari dari bulan Shafar tahun sembilan; 6. dan enam puluh dan delapan ratus (869) dari Hijrah”.

Penanggalan yang terdapat pada batu nisan, jika dikonversikan ke masehi, maka Almarhum meninggal dunia pada 29 Oktober 1464.  Ini berarti pemukiman Islam di Lam Ujong telah tumbuh sezaman dengan pemukiman Islam di Gampong Pandei, Kuta Raja, Banda Aceh.

Syukri, 45, warga Lam Ujong sekaligus pemilik lahan di mana situs kompleks makam berada, mengatakan, banyak batu-batu nisan bersejarah yang tersebar di Gampong Lam Ujong. Bahkan, katanya, dulu, sebelum tsunami, hampir di setiap tanah kebun milik warga ada batu-batu nisan itu. “Tapi sekarang sudah banyak yang hilang akibat tsunami dan karena sudah banyak didirikan bangunan baru di tempatnya,” ungkapnya.

Kendati demikian, sekarang, tidak kurang dari sepuluh kompleks makam kuno masih bisa dijumpai di Lam Ujong.

Loen yakin gampong nyoe awai na keuh bhom ureung jameun (malah saya percaya, gampong ini dulu, sebenarnya, adalah pemakaman orang-orang dahulu),” ujar Syukri dengan dialek bahasa Aceh Rayek yang khas.

Jika dilihat dari sisi letak geografisnya, pantas saja Gampong Lam Ujong menjadi wilayah yang padat penduduk di masa lalu; posisinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari aliran Krueng Angan yang bermuara ke Kuala Gigieng di Lam Bada. Bekas aliran anak sungai pun masih terlihat di beberapa tempat di dalam gampong. Inilah, barangkali, yang membuat Lam Ujong menjadi suatu pemukiman yang strategis karena terbuka akses transportasi yang mudah ke luarnya.[] Sumber: misykah.com

[FOTO]: Nisan Kuno Abad ke-17 di Aceh Besar

[FOTO]: Nisan Kuno Abad ke-17 di Aceh Besar

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) siang kemarin melakukan gotong royong atau meuseuraya di kompleks Jirat Raya di Gampong Lam Roh, Kecamatan, Kuta Baro Aceh Besar, Minggu, 5 April 2015.(Baca: Mapesa Bersihkan Kompleks Makam Abad ke-17 di Aceh Besar)

Berikut foto-fotonya:

mapesa di lam roh-1-1@istPenamaan Jirat Raya merujuk pada dua makam yang ukurannya lebih besar, dan terlihat tidak lazim dibandingkan ratusan nisan lainnya yang ada di kawasan itu.

mapesa di lam roh-3-3@istMakam dihiasi ragam ornamen serta kaligrafi. Pada bagian-bagian tertentu dilapisi oleh lak (sejenis plitur) yang berasal dari getah damar atau bahan sejenis

mapesa di lam roh-6-6@istArkeolog Dedy Satria, menjelaskan berdasarkan bentuk dan gaya, kedua nisan berbadan besar ini berasal dari periode pertengahan akhir abad ke-17-18 Masehi

mapesa di lam roh-8-8@istSumur berbentuk persegi delapan (astakona), simbol sangat khusus bagi masyarakat Asia Tenggara.

mapesa di lam roh-9-9@istKeramik Vietnam, Kamboja, dan Thai warna putih coklat. Ada juga porselen dari Cina spesifik biru putih dari Dinasti Qing periode abad ke-17-18 Masehi.[ihn]

Penghormatan Belanda untuk Panglima Aceh

Penghormatan Belanda untuk Panglima Aceh

“Comes ils tombent bien…en is er één volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren nien met diepe vereering zou schrijven in het boek zijner historie?”

“Dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tinggi di dalam buku sejarahnya?”

Pertanyaan itu diungkapkan H C Zentgraaff, mantan serdadu Belanda yang pernah berperang di Aceh, yang ketika pensiun beralih menjadi wartawan perang dengan jabatan sebgai redaktur untuk koran Java Bode terbitan Batavia (kini Jakarta-red).

Zentgraaff mengungkapkan hal itu ketika menulis tentang potret heroisme seorang pejuang Aceh, Teungku di Barat. Sejak 1903 ulama besar Aceh ini muncul secara menonjol dalam peperangan menentang Belanda. Karena itu pula Belanda memburu untuk menangkapnya hidup atau mati.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya 22 Februari 1912 ajal pula yang menjemputnya. Pasukan marsose di bawah pimpinan Letnan Behrens berhasil mengepungnya, kontak senjata pun terjadi. Lengan kanan Teungku di Barat tertembus peluru. Dengan serta merta karaben yang tak lagi mungkin dipegangnya, diserahkan kepada istrinya, sementara tangan kirinya mencabut rencong.

Setelah menerima karaben itu, istrinya berdiri di depan untuk melindungi Teungku di Barat yang luka akibat tembakan. Dalam pertempuran sengit itu, peluru marsose kemudian menerpa dada istri Teungku di Barat, keduanya pun tewas. “Beginilah berakhirnya hidup Teungku di Barat dan ulama terkemuka lainnya di Aceh yang lebih suka memilih syahid dari pada mèl (menyerah-red) kepada Belanda,” tulis Zentgraaff.

Pujian Zentgraaff terhadap para pejuang Aceh itu sangatlah beralasan, sejak menginjakkan kakinya di daratan Aceh pada 26 Maret 1873, sampai mengangkat kakinya dari Aceh karena kedatangan Jepang, ribuan penyerangan dilakukan pasukan Aceh terhadap Belanda.

Bahkan sampai tahun 1903, ketika perang dinyatakan telah diakhiri dengan suatu perdamaian resmi, puluhan bahkan ratusan serangan masih dilakukan rakyat Aceh terhadap Belanda. Menurut catatan Belanda dalam buku Gedenboek der Marechausses jumlah serangan terhadap Belanda setelah tahun 1903 tidak dapat dihitung, saking banyaknya serangan itu, baik yang dilakukan per kelompok maupun perorangan.

Menariknya, jumlah serangan perorangan terhadap Belanda menurut catatan dalam buku itu, sejak tahun 1910 sampai 1937 tercatat 161 kali. Serangan perorangan itu sangat ditakuti oleh Belanda, karena itu pula keluarga Belanda tidak pernah merasa nyaman tinggal di Aceh. Di sisi lain, selain serangan-serangan perseorangan, kelompok-kelompok pejuang Aceh juga terus melakukan gerilya.

Beberapa pimpinan gerilyawan itu antara lain: Teuku Raja Tampo. Ia bersama kelompoknya selama puluhan tahun terus melakukan serangan-serangan terhadap Belanda di Meulaboh, Seunagan, Tripa, Seunaan, Kuala Batee dan Blang Pidie, yang berlangsung sejak 1907 sampai 1940.

Di tempat lain ada Teungku Chik Mayet dan Teungku di Buket putra dari ulama terkenal Teungku Chik Saman di Tiro dan cucu Teungku Chik Maat. Pada 5 September 1910 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Alue Semie, Teungki Chik Mayet di Tiro gugur. Sementara Teungku di Buket tewas dalam perang di Gunung Meureuseu, Tangse pada 2 Desember 1911.

Habib Jureng, pimpinan gerilyawan lainnya, gugur pada Juli 1909 dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Sementara Pang Nanggroe, suami Cut Meutia yang sudah lama diincar Belanda tewas pada 26 September 1910 dekat Lhoksukon.

Ali Rojo pimpinan gerilya Bukit gugur pada 26 November 1909 di Gayo Lues. Cut Nyak Dhien ditangkap pada 4 November 1905 di Meulaboh dan dibuang ke Sumedang. Pocut Baren seorang wanita pemimpin gerilya ditangkap Belanda pada 1910 setelah kakinya ditembusi peluru dan tak sadarkan diri.

Teungku Angkasah di Tapaktuan yang mengakibatkan kerugain banyak di pihak Belanda, gugur dalam pertempuran di Ujong Padang, Tapaktuan pada tahun 1925. masih di Tapaktuan, Cut Ali bersama pengikutnya Teuku Nago dan Imum Sabi, yang sering menyerang bivak-bivak tentara Belanda, tewas di Alue Beurang, Tapaktuan pada 25 Mei 1927.

Sultan Tuanku Muhammad Dawod yang menyerah pada tahun 1903, karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya setelah menyerah, kembali melakukan aksi untuk menyerang Belanda di Kutaraja. Pada tahun 1907, aksi yang diorganisirnya itu melakukan penembakan-penembakan terhadap bivak-bivak belanda di Lhokseudu.

Dalam masa itu Sultan Dawod juga menghubungi Konsul Jenderal Jepang di Singapura meminta bantuan untuk melakukan aksi bersama melawan Belanda. Karena itu pula, Sultan Dawod kemudian ditangkap Belanda dan dibuang ke Ambon. Pada tahun 1917, Sultan Dawod diizinkan meninggalkan Ambon dan memilih tinggal di Meester Corneelis (sekarang Jatinegara) dan meninggal dunia di sana pada tahun 1939.

Belanda kemudian mengangkat tabik, kagum terhadap kepahlawanan para pejuang Aceh tersebut dalam buku “Gedenboek van het korp Marechausse van Aceh en Onderhoorighheden.” Dalam salah satu bagian buku itu Belanda menulis. ’’De heldhaftigheid van den Atjeher, welke hij gedurende den Atjehoorlog aan den om legde bij den strijd om zijn land te verdedigen, heeft de eebied van de Merechausse’s afgedwongen en tevens hun bewondering voor zijn moed, doodsverachting, zelfopoffering en uithoudingsvermogen.’’

Artinya : Kepahlawanan orang Aceh yang diperlihatkannya masa perang Aceh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan tanah airnya, telah menimbulkan rasa hormat dan kagum terhadap keberaniannya, sikap tak gentar menghadapi maut, pengorbanan diri dan daya tahannya.’’[]

Kisah Teungku Tapa Menaklukkan Belanda

Kisah Teungku Tapa Menaklukkan Belanda

Masyarakat mengibaratkannya seperti Malem Diwa, pahlawan mitologi Aceh di zaman purba.

“Dia merupakan tahanan di Aceh yang terpandang seperti wali dan seperti anak raja (pangeran).”

Demikian judul berita seseorang yang melakap namanya sebagai Pembantu Betawi, KMPB (S. Ta’iat) dalam surat kabar Pewarta Deli pada 21 Nopember 1914 silam. Pernyataan tersebut merujuk kepada sosok pejuang Aceh yang di kemudian hari dijuluki Teungku Tapa.

Masih bersandar pada tulisan tersebut, Pembantu Betawi memulai karangannya dengan mengulas secara panjang lebar kisah kematian Teungku Tapa di Keureuto (tertulis Kerti). Saat dirinya gugur, sehelai bendera beraksara Arab menutup jasadnya. Dia memakai pakaian sutera layaknya seorang hulubalang yang gagah perkasa dan mati di medan pertempuran.

“…Tetapi di antara pembaca tentu banyak yang tiada mengetahui siapa Teungku Tapa itu. Orang-orang Aceh yang kebanyakan memandang dan membenarkan bahasa ialah Sutan Malim Dewa, seorang anak raja yang sangat termashur pada zaman purbakala, dari karena gagah beraninya dan kesaktiannya, sebagaimana menurut riwayat orang-orang Aceh,” tulisnya seperti dikutip oleh H. Mohammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad Jilid II.

Kekaguman Pembantu Betawi terhadap Teungku Tapa sangat beralasan. Apalagi ketokohan Teungku Tapa bagi masyarakat Aceh dianggap setara dengan peran Teungku Nyak Makam, salah satu panglima perang Kerajaan Aceh Darussalam. Keikutsertaannya dalam perang melawan penjajahan di Aceh telah merepotkan Belanda yang ingin menguasai Simpang Ulim (Aceh Timur sekarang).

Berdasarkan tulisannya tersebut, diketahui Teungku Tapa merupakan keturunan Melayu dari orang kebanyakan. Dia petani. Namanya Abdullah Pakih. “Negerinya di kampung Tilatang dekat Bukit Tinggi (Padang Darat).”

Saat itu, Sumatera Barat dilanda peperangan melawan Belanda. Salah satu pejuang tersebut di antaranya yaitu Abdullah Pakih. Meredam perlawanan rakyat Padang, Belanda menangkap Abdullah Pakih yang diketahui terlibat dalam pemberontakan. Dia dihukum selama 20 tahun penjara dan dibuang ke Aceh.

Abdullah Pakih berhasil kabur dari tahanan Belanda, tak lama setelah dirinya berada di Aceh. Kemampuannya meramu obat dan mampu membuat ajimat membuat pasukan Aceh menerima Abdullah Pakih sebagai bagian dari prajurit yang berpusat di Keumala, Pidie.

Setelah dirinya mendapat tempat di struktur militer pasukan Aceh, Sultan kemudian mengutusnya untuk mengutip biaya perang kepada raja-raja Aceh di sepanjang pantai utara dan timur. Namun kedekatannya dengan petinggi kerajaan membuat Abdullah Pakih terlibat pertikaian dengan seorang tokoh dari istana Keumala.

Pertikaian tersebut berakhir dengan duel. Abdullah Pakih berhasil membunuh lawannya dalam perkelahian dan menjadikannya sebagai buronan istana. Setelah konflik tersebut, Abdullah Pakih memilih tempat tinggal baru di Gayo yang jauh dari kekuasaan sultan. Di Bulu Biang, Gayo, Abdullah Pakih kemudian menjauhkan diri dari urusan duniawi (bertapa).

Lama kelamaan, Abdullah Pakih dihormati oleh warga sekitar karena dianggap keramat. Bahkan dirinya dijuluki sebagai Teungku Tapa oleh mereka. Saat itu, Biang dipimpin oleh Teungku Husein yang dianggap zalim oleh penduduknya. Penduduk yang gerah dengan kepemimpinannya meminta bantuan Teungku Tapa. Dari pemberontakan tersebut, Teungku Husein terbunuh. Sejak itu, Teungku Tapa menjadi panutan penduduk Gayo.

Masyarakat kemudian menyejajarkan ketokohan Teungku Tapa dengan sosok Malim Diwa, seorang pahlawan dalam mitologi Aceh. Hal tersebut disebabkan peranan Teungku Tapa yang memerangi Belanda.

Keikutsertaan Teungku Tapa dalam perang di Aceh telah banyak merugikan Belanda. Akhirnya, Jenderal Belanda di Banda Aceh mengutus pasukannya di bawah komando Jendral J.B. van Heutsz ke Idi pada 6 Juli 1898 hingga 24 Juli 1898. Sandi operasi tersebut adalah Het bedwingen van Teungkoe Tapa beweging (Memukul gerakan Teungku Tapa).

Teungkoe Tapa, de bedriegelijke herrijzen Malim Dewa, de z.g. onkwetsbare held uit de Atjehsche hikayat, had zich een enorme aanhang weten te verschaffen door den heiligen oorlog te prediken.” Demikian catatan resmi militer Belanda menyebut ketokohan Teungku Tapa yang sangat membahayakan kedudukannya di Aceh.

Saat itu, Abdullah Pakih alias Teungku Tapa disebut-sebut oleh rakyat sebagai jelmaan Malim Dewa yang mempunyai kesaktian dan mampu mengalahkan Belanda. Dirinya muncul sebagai pahlawan bagi masyarakat Aceh. Untuk mengantisipasi Teungku Tapa, Belanda kemudian mengutus pahlawan perangnya, van Heutsz dalam ekspedisi Idi. Bagi Belanda, membunuh Teungku Tapa lebih penting dibandingkan mengatasi perlawanan Panglima Polem dan Teuku Umar.

Berdasarkan referensi lainnya sejarah perang Aceh menyebutkan, Teungku Tapa berasal dari daerah Telong Redelong Tue yang berjarak kira-kira 25 kilometer dari Takengon Gayo Lut. Dalam perjuangannya, Teungku Tapa dibantu oleh Pang Pren dari Munte Kala kampung Kung Pegasing, dan Pang Ramung dari Kebayakan.

Pang Pren dan Pang Ramung sering berada di Aceh Timur dan Aceh Utara bersama Tengku Tapa. Pang Pren ditugaskan oleh Tengku Tapa di daerah Bebesan-Pegasing, sementara Pang Ramung mendapat tugas memimpin daerah Bukit kebayakan di Gayo Lut.

Pasukan Tengku Tapa merupakan gabungan antara pasukan dari Dataran Tinggi Gayo dan pasukan dari Aceh. Mereka beroperasi di sekitar Aceh Timur dan Aceh Utara sekitar tahun 1898 dan 1900.

Pasukan ini dikenal sangat tangguh, berani dan fanatik oleh pasukan Belanda. Namun, karena pasukan Van Heutsz yang sangat besar dalam jumlah dan persenjataannya membuat pasukan Panglima Tengku Tapa harus mengundurkan diri ke Dataran Tinggi Gayo yang berjarak kira-kira 40 sampai 50 kilometer dari Idi.

Snouck Hurgronje yang menulis tentang Aceh menyebutkan bahwa Panglima Tengku Tapa adalah “orang ajaib” atau “orang keramat” yang dalam istilahnya sendiri menyebut wonder man yang berasal dari Gayo Telong. Menurut Snouck, Tengku Tapa sangat banyak pengikutnya pada tahun 1898 hingga tahun 1900, terutama di daerah Aceh Timur dan daerah Pasee, Aceh Utara.

Menurut Snouck, awalnya Tengku Tapa merupakan seorang pecandu dan penjudi. Dia kemudian mendapat ilham setelah bertapa selama tujuh tahun di Gunung Geureudong dekat Telong, Takengon. Sekembalinya dari pertapaan, dia insyaf dan memiliki kekuatan ghaib.

Perubahannya secara fisik sangat kentara sehingga ia tidak dikenali lagi oleh seorangpun. Demi berbakti dalam perang sabil atau perang suci melawan Belanda, ia lebih memilih berjuang di wilayah pesisir timur Aceh karena berpikir akan mendapat pengikut yang lebih banyak dibandingkan bila berjuang di daerahnya sendiri.

Hal ini mengakibatkan ia tampil dalam peperangan di pesisir timur Aceh bersama-sama dengan para pengikutnya. Belanda yang mengutus van Heutsz dengan pasukan artilerinya sama sekali tidak mematahkan semangat Teungku Tapa. Bersama pengikutnya, Teungku Tapa menyerang pasukan meriam dan infanteri Van Heutsz, sehingga banyak di antara mereka yang menjadi syahid. Pasukan Van Heutsz memperoleh kemenangan dalam serbuan itu, dan mereka terus mengejar sisa-sisa pasukan Tengku Tapa hingga ke Seuneubok.

Setelah diburu sekian lama, Tengku Tapa tetap melakukan perlawanan bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Gayo dan orang-orang Aceh. Dia syahid di daerah Pasee (Aceh Utara) pada tahun 1900.[]

Referensi:

Aceh Sepanjang Abad Jilid II karangan H. Mohammad Said.

Teuku Umar dan Tjut Nja Din Sepasang Pahlawan Perang Atjeh karangan Hazil.

Het Gajoland en zijne bewoners, Batavia: Pemerintah Hindia Belanda karangan C. Snouck Hurgronje.

Blower, Yahudi dan Aceh

Blower, Yahudi dan Aceh

Pengaruh budaya asing di Aceh sejak sebelum perang melawan Belanda masih kental hingga kini seperti penamaan nama-nama gampong. Sebut saja salah satunya gampong Sukaramai di Banda Aceh.

Secara umum, warga asli Banda Aceh akan kebingungan jika mendengar nama gampong Sukaramai. Padahal gampong ini terletak tepat di belakang Museum Tsunami Aceh dan komplek perkuburan Kherkof Belanda. Gampong ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Gampong Sukaramai berbatasan dengan gampong Punge Blang Cut, Punge Jurong, Seutui, serta Neusu.

Bagi penduduk asli Banda Aceh atau Aceh Besar, gampong ini kerap disebut dengan Blower meski di catatan administrasi pemerintahannya sering menabalkan Desa Sukaramai. Penyebutan Blower tidak terlepas dari sejarah sebelum Belanda menyerang Aceh.

“Sejarah Blower memiliki kaitan dengan seorang Yahudi, pemilik lahan di daerah tersebut. Namanya Bolchover,” ujar sejarawan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kepada penulis beberapa waktu lalu.

Dulunya, kata dia, Bolchover merupakan tuan tanah pemilik lahan yang menjadi perkampungan Sukaramai saat ini. Dia merupakan seorang pedagang yang masuk tepat sebelum peperangan Aceh melawan Belanda.

Catatan mengenai Blower juga ditulis dalam buku panduan komplek makam militer Belanda, Kerkhoff alias Peutjut. Saat itu, seorang pedagang Yahudi yang berasal dari Eropa Timur datang ke sebuah tempat di pinggir kota Banda Aceh. Namanya Bolchover.

Bolchover kemudian membeli sebidang tanah dan membuka usaha perumahan di tempat tersebut yang kemudian dikenal sebagai Blower. “Karena masyarakat Aceh kesulitan menyebut lahan tersebut sesuai nama pemiliknya Bolchover, akhirnya penyebutan daerah itu menjadi Blower,” katanya.

“Selain Blower, ada juga tanah milik Yahudi di kawasan Dinas Sosial Banda Aceh atau kantor perbendaharaan negara kota Banda Aceh. Dulunya disebut tanah tersebut milik Tuan Besar,” kata Rusdi Sufi.

Menurut Rusdi Sufi, tanah-tanah milik Yahudi tersebut kemudian dialihstatuskan menjadi milik daerah Aceh setelah kemerdekaan. “Tanah milik Bolchover itu sekarang berubah menjadi pemukiman penduduk dan disebut Desa Sukaramai setelah Indonesia merdeka. Namun warga masih sering menyebutnya Blower,” katanya.

Pernyataan Rusdi Sufi ini juga pernah dikemukakan oleh Tjoetje dalam bukunya “Peutjoet, Membuka Tabir Sedjarah Kepahlawanan Rakjat Atjeh”. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Deppen Perwakilan Aceh tahun 1972.

Tjoetje dalam bukunya menuliskan Blower adalah nama seorang Yahudi yaitu Bolchover. “Tadinya kompleks ini merupakan padang naleung lakoe (alang-alang) yang ketika Belanda datang dijadikan lapangan pemeliharaan atau perawatan kuda-kuda perang,” tulis Tjoetje.

Lokasi ini lantas ditinggalkan Belanda dan kemudian diambil alih oleh Tuan Bolchover yang menjadikannya sebagai kompleks perkebunan. Namun Tjoetje tidak mengetahui apa yang ditanam Bolchover di perkebunan tersebut sehingga namanya sangat populis hingga sekarang.

“Saya masih samar-samar perkebunan apakah gerangan yang kini telah meninggalkan nama dengan sebutan yang popuier “Belowor” atau “Belower” hingga nama seperti itu sampai pula menjalar ke Meulaboh, Aceh Barat, karena di sanapun terdapat apa yang dinamakan Kebon Belowor untuk tempat yang tadinya disebut kebun Sam Su Lo,” tulis Tjoetje.

Menurut Tjoetje, di masa lalu nama perkebunan ini merujuk ke hal-hal negatif. “Bila orang menyebutnya, orang langsung menghubungan sebutan itu dengan soal-soal seks liar, tetapi syukurlah dewasa ini di Belowor (Blower) itu telah terdapat meunasah atau langgar sebagai pusat pertemuan dan keagamaan masyarakat perkampungan tersebut yang pesat majunya dan patut dibanggakan,” tulis Tjoetje.[]

Sejarah Unik Penamaan Gampong di Aceh

Sejarah Unik Penamaan Gampong di Aceh

Masyarakat Aceh memiliki budaya penyebutan nama daerah sesuai dengan kejadian atau peristiwa-peristiwa besar dan ketokohan seseorang. Nama daerah tersebut kemudian ditabalkan untuk gampong yang baru saja didiami dan tidak jarang masih dipakai hingga sekarang.

Nama-nama daerah atau gampong di Aceh tersebut terkadang terdengar unik, baik bagi pendatang maupun warga setempat. Lantas seperti apa nama-nama gampong tersebut?

Samahani

Samahani merupakan daerah kelahiran Bupati Aceh Besar Mukhlis A Basyah alias Aduen Mukhlis. Samahani merupakan salah satu kemukiman yang ada di Aceh Besar dan terkenal dengan roti selai rasa srikaya. Pertanyaannya, kenapa daerah tersebut dinamakan Samahani?

“Dulunya di daerah ini ada pedagang keturunan India bernama Ghani. Dia sering berjualan di daerah tersebut dengan mengusung barang dagangan di atas kepalanya,” ujar dosen Sejarah FKIP Unsyiah, Teuku Abdullah Sakti beberapa waktu lalu kepada penulis.

Menurutnya, berdasarkan cerita rakyat, Ghani yang kerap melewati daerah ini sering dikerubungi elang yang ingin memakan barang dagangannya.

“Jadi elang sama-sama (terbang berkeliling) di atas kepala si Ghani ini. Lama kelamaan, masyarakat setempat kemudian menyebut daerah ini dengan Sama si Ghani yang kemudian menjadi Samahani,” ujar pecinta hikayat Aceh ini.

Tokoh budaya Aceh ini mengaku banyak sekali nama-nama gampong yang memiliki latar belakang sejarah unik di Aceh. Dia pun merasa terpanggil untuk membukukan nama-nama unik gampong di seputar daerah Aceh tersebut meski hingga saat ini belum memiliki dana.

“Sudah pernah saya susun dan ringkas. Termasuk ringkasan dari sejumlah paper mahasiswa yang mengikuti kuliah sejarah Daerah Aceh yang saya asuh di FKIP Unsyiah. Tapi banyak pihak yang tidak berminat untuk menjadikannya buku,” kata Teuku Abdullah.

Alue Leuhob

Selain Samahani, nama gampong unik lainnya seperti Alue Leuhob, Aceh Utara. Teuku Abdullah mengatakan daerah ini merupakan sebuah desa di kawasan transmigrasi Buket Hagu Cot Girek, Aceh Utara.

Sejak tahun 1984, Desa Alue Leuhob sudah termasuk desa mandiri atau lepas dari pengelolaan Departemen Transmigrasi. Dengan demikian Alue Leuhob merupakan desa ke -100 di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

“Nama Alue Leuhob berasal dari dua kata, yaitu Alue dan Leuhob. Alue, artinya sungai kecil, sedangkan leuhob berarti lumpur. Secara sederhana Alue Leuhob berarti sungai kecil yang berlumpur,” katanya.

Dari pengertian nama gampong tersebut, tentunya kita dapat membayangkan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah berawa dan dipenuhi lumpur. Sementara realita yang bisa ditemui di lapangan, desa ini “amat bersih” dari jebakan lumpur.

Lama Inong

Contoh unik nama gampong lainnya seperti Gampong Lama Inong di Aceh Barat Daya. Berdasarkan sejarah gampong tersebut diketahui pada zaman dulu, tiga orang dari Pidie merantau ke daerah ini. Salah satu di antaranya adalah Teuku Karim dari Desa Ujong Rimba, Pidie.

“Pada mulanya mereka menetap di daerah Nagan (Jeuram) dan mulai membuka seuneubok lada atau tempat bercocok tanam lada keumeukok (lada berekor),” kata Teuku Abdullah.

Ketiga anak muda itu memiliki bakat pergaulan yang baik. Di siang hari mereka bekerja di kebun lada, sedang pada malam hari mengajar anak-anak mengaji Alquran dan mengajar kitab-kitab kepada orang dewasa. Pengaruhnya semakin besar di kalangan rakyat daerah Seunagan

Melihat gelagat yang kurang menguntungkan dirinya, Raja Jeuram mulai gelisah. Dicarilah cara agar ketiga anak muda itu mau pindah ke tempat lain. Akhirnya, raja berhasil membujuk mereka berangkat ke Aceh Selatan karena di sanalah yang paling cocok untuk membuka seuneubok lada.

“Setelah diberi perbekalan oleh raja, berangkatlah Teuku Karim bersama dua kawannya ke Aceh Barat Daya (yang waktu itu masih disebut Aceh Barat Leupah),” katanya.

Ketika berada di Aceh Selatan, mereka menumpang tinggal di rumah seorang perempuan di suatu desa yang belum punya nama. Dengan diantar perempuan tua itu sebagai penunjuk jalan, barangkatlah mereka menjumpai raja Teuku Sarullah ke daerah Kuala Batee.

Kedatangan ketiga pemuda asal Pidie ini disambut baik oleh raja Teuku Sarullah. Kemudian, ketiganya menjadi tokoh-tokoh penggerak kemajuan rakyat di Kerajaan Kuala Batee. Teuku Karim, sesudah jadi tokoh masyarakat bergelar Teuku Syik Karim.

Peristiwa menumpangnya tiga pemuda perantau di rumah seorang perempuan tua itu, akhirnya menjadi sejarah yang dikenang oleh rakyat kerajaan Kuala Batee. Penyebabnya, ketiga anak muda tersebut telah mengukir sejarah yang indah bagi masyarakat di daerah itu.

“Mungkin untuk mengenang peristiwa itu, maka daerah tempat menginap atau menumpang beberapa hari pemuda perantau itu, diberi nama Lama lnong, artinya perempuan lama atau perempuan tua,” ujar Teuku Abdullah.

Jeurat Manyang

Di Pidie, juga terdapat nama gampong yang unik: Jeurat Manyang. Gampong ini terletak di Kecamatan Mutiara, Pidie. “Dalam bahasa Indonesia arti harfiah dari Jeurat Manyang, yaitu kuburan tinggi,” katanya.

Teuku Abdullah berkisah, pada zaman periode awal kedatangan Islam di Aceh telah datang ke desa (yang sekarang bernama Jeurat Manyang) seorang ulama dari negeri Pasai (Kerajaan Samudra Pasai). Ulama tersebut mengendarai seekor gajah.

“Menurut sumber cerita orang-orang tua, ulama itu berasal dari suatu daerah bernama Jeurat Manyang (Rhang Manyang) di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh Utara. Masyarakat menyebut ulama itu dengan gelar Teungku Jeurat Manyang,” katanya.

Setelah tinggal menetap di situ, Teungku Jeurat Manyang lalu mendirikan dayah (pesantren). Banyak sekali santri yang belajar ke dayah tersebut sehingga dikenal oleh masyarakat luas. Saat Teungku Jeurat Manyang meninggal, dayahnya terus dikembangkan oleh murid-muridnya.

“Akhirnya untuk mengenang dan menghormati ulama ini, maka tempat daerah lokasi dayah didirikan sekaligus tempat beliau dikuburkan dinamakan Kampung Jeurat Manyang. Jeurat Manyang berarti di situ pernah berjasa Teungku Jeurat Manyang asal Pasai, Aceh Utara,” kata Teuku Abdullah.

Selain itu, kata dia, ada juga yang berpendapat penyebutan Gampong Jeurat Manyang disebabkan adanya makam tinggi (jeurat manyang) di daerah tersebut. “Kalau diperhatikan, letak kuburan itu memang pada tanah yang agak tinggi kalau dalam bahasa Aceh disebut manyang. Sementara jeurat artinya kuburan. Jeurat Manyang makna harfiahnya kubur yang tinggi,” katanya.

Kandang Cut

Kampung Kandang Cut termasuk dalam Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Menurut cerita seorang sesepuh desa, zaman dulu di desa ini berdiri sebuah kerajaan yang besar dan megah. Kerajaan itu memiliki sebuah benteng terletak di Cot Kuta. Setelah berdiri sekian lama kerajaan itu pun runtuh.

Sesudah kerajaan lebur maka yang tinggal hanya kuburan raja-raja dan keturunannya. Sebagai penghormatan kepada para raja yang dikebumikan di situ, kuburan inilah dinamakan Kandang.

“Mungkin karena ada Kandang Rayeuk besar di tempat lain, maka makam raja ini dinamakan Kandang Cut artinya perkuburan kecil. Seterusnya, nama desa itupun digelar orang Kampung Kandang Cut; artinya Cut atau Pocut (orang bangsawan) dikuburkan,” kata Teuku Abdullah Sakti.

Dia turut merujuk catatan sejarah Aceh yang menyebutkan perkuburan “Kandang Cut” adalah makam-makam keturunan raja dari Kerajaan Aceh Darussalam. “Jadi bukan kuburan keturunan raja kerajaan yang berdiri di desa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan sesepuh Desa Kandang Cut tersebut,” katanya.

Alue Peudeueng

Desa Alue Peudeueng terletak di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Menurut kisah, dulu nama kampung ini adalah Kuntirek yang kemudian diubah setelah terjadinya perang antar daerah.

Wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar datuk. Pemimpin pertama bernama Datuk Raja Bujang. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mulai Alue Gantung sampai ke Pasi Megat.

Merujuk catatan Teuku Abdullah Sakti, secara berurutan datuk-datuk yang pernah memerintah di daerah ini adalah Datuk Raja Bujang, Datuk Teungku Meuko Cumeh, Datuk Keucik Padang, Datuk Keucik Kuta Baro, Datuk Genta Ali, Datuk Gadong, Datuk Jali, Datuk Bali, Datuk Sampe, dan Datuk Kaoy yang merupakan pemimpin yang bergelar datuk paling akhir.

Setelah terjadi pembagian wilayah pada masa berkuasa datuk-datuk, maka desa itu dinamakan Alue Peudeueng. Berdasarkan arti kata, alue berarti alur atau aliran sungai kecil. Sedangkan peudeueng berarti pedang atau senjata tajam.

“Jadi Alue Peudeung artinya aliran sungai yang ada pedangnya. Menurut cerita, pada suatu peristiwa perebutan kekuasaan zaman dulu, jatuhlah ke sungai sebilah pedang dari salah satu pihak. Karena air sungai sangat curam deras, maka pedang itu tak dapat diambil lagi,” kata Teuku Abdullah.

Blang Panjo

Di Bireuen juga terdapat gampong bernama Blang Panjo. Jika merujuk kata-kata blang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sawah, sementara panjo berarti batang kapuk. “Dulunya di gampong tersebut hanya ada persawahan dan bak panjo. Makanya dinamakan Blang Panjo,” ujar salah satu warga Blang Panjo, Iqbal Redha.

Saat ini, kata dia, gampong tersebut dihuni oleh 100 kepala keluarga dan telah dihuni sejak Belanda masuk ke Aceh.

Asan Bideuen

Gampong Asan Bideun merupakan salah satu desa yang ada di Bireuen. Penamaan gampong ini sangat menarik karena terkait erat dengan cerita gaib penduduk setempat.

Menurut sejarah penduduk setempat, penamaan gampong ini berasal dari cerita adanya kuntilanak yang sering bernyanyi di batang angsana atau sonokembang. Pohon ini adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae. Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan sebagai narra atau rosewood.

“Pohon asan (angsana) itu besar dan berhantu. Sering terdengar hantu perempuan bernyanyi (biduan) di pohon tersebut. Kemudian daerah ini disebut sebagai Gampog Asan Bideun,” ujar Iqbal.

“Kini pohon tersebut sudah ditebang meski gampong itu masih disebut sebagai Asan Bideuen,” katanya.

Meureudu

Meureudu merupakan ibukota Pidie Jaya usai pemekaran dari Pidie. Kota ini terletak di pesisir timur Kabupaten Pidie Jaya. Daerah ini terkenal dengan aneka masakan khas India yang lezat, seperti martabak kari dan nasi briani yang tidak berbeda jauh dengan negara asalnya, karena mayoritas penduduk Meureudu merupakan keturunan Hindi (India).

Penamaan nama Meurudu terkait dengan sejarah meluasnya wilayah Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Banda Aceh. Berdasarkan cerita turun temurun penduduk Pidie Jaya, Meureudu berasal dari kata meurah du yang artinya gajah duduk.

Konon dikisahkan pada saat Sultan Aceh melakukan perjalanan ke daerah-daerah dia menumpang seekor gajah. Namun saat tiba di Meureudu, gajah tersebut kelelahan dan beristirahat. Akibatnya, lokasi armada gajah milik Kerajaan Aceh beristirahat ini kemudian disebut sebagai Meurah Du yang kemudian menjadi Meureudu. Lokasi gajah duduk milik Sultan Aceh tersebut berada di Gampong Meunasah Raya, Meureudu. Di sana terdapat sebuah monumen yang menceritakan asal mula penamaan Meureudu, yang bisa ditemui hingga sekarang.

Di catatan sejarah lainnya yang ditulis Ali Hasjmy mengungkapkan bahwa penamaan Meureudu berasal dari nama salah satu putera Makdum Malik Mansur dari kerajaan Peureulak. Ia terkenal dengan gelar Meurah Meria atau Tue Mersa.

Makdum Malik Mansur memiliki tujuh orang anak laki-laki, yaitu Meurah Jernang, Meurah Bacang, Meurah Itam, Meurah Puteh, Meurah Silu dan Meurah Mege. Ketujuh anaknya tersebut ditugaskan menyebarkan dakwah ke daerah-daerah lainnya di luar Peureulak seperti ke Seunagan, Barus, Beuracan, Kiran, Jeumpa Syahir Tanwi, dan Daya.

Nama Meureudu sendiri berasal dari Meurah dua, yakni Meurah Itam dan Meurah Puteh yang kemudian diberi nama oleh Sultan Malik Saleh (Meurah Silu) menjadi Meureudu.

Demikian beberapa catatan portalsatu.com mengenai sejarah penamaan beberapa gampong di Aceh. Bagaimana dengan gampong Anda?[]

activate javascript