Tag: sejarah Aceh

Mapesa Konsisten Teliti Temuan Bangunan Kuno di Ladong

Mapesa Konsisten Teliti Temuan Bangunan Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) akan terus mendalami hasil penemuan yang diduga masjid kuno di Dusun Kuta Teungku Dianjong, Gampong Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Bangunan yang diduga masjid kuno ini kerap disebut kuta oleh warga setempat.

“Kita terus dalami penemuan ini. Penelitian terus kita lakukan untuk membuktikan apa yang sebenarnya bangunan tersebut,” ujar Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Senin, 4 Mai 2015.

Mizuar belum bisa memastikan kapan penelitian akan dilakukan untuk menjawab kontroversi terkait bangunan yang diduga dibangun pada abad 16-17 masehi tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, bersama Sekjend Mapesa, Mizuar Mahdi, dan aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen berkunjung ke Dusun Kuta Teungku Dianjong. Dalam kunjungan tersebut, rombongan tidak banyak melakukan kegiatan dan terbatas melihat kondisi bangunan.

Seperti diketahui, tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[] (bna)

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

Foto: Bangunan Diduga Masjid Kuno di Ladong

BANDA ACEH – Tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

Berikut sejumlah foto yang diabadikan Afrizal, salah satu tim ekspedisi Mapesa di lokasi:masjid kuno indrapatra masjid kuno indrapatra1 masjid kuno indrapatra2 masjid kuno indrapatra6

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

Puluhan Siswa Bireuen Napak Tilas di Situs Sejarah Aceh dan Lamuri

BANDA ACEH – Masyarakat Pecinta Sejarah (Mapesa) bersama 58 siswa SMA Sukma Bireuen bakal mengunjungi situs-situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan Lamuri sejak Jumat, 1 Mai 2015. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 2 Mai 2015.

“Situs Aceh Darussalam yang akan diziarahi adalah makam Perdana Menteri Seri Udahna, Syaikh Muhammad, kompleks pemakaman kesultanan Aceh Darussalam atau Po Temeurhom Ilie, makam Sultan Manshur Syah, Kandang XII, Kherkhof dan diakhiri di Gampong Pande,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi kepada portalsatu.com, Kamis, 30 April 2015.

Ia mengatakan rombongan juga akan melaksanakan shalat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman sebelum mendatangi kompleks makam Sultan Manshur Syah.

Di hari Sabtu, rombongan akan kembali melakukan napak tilas ke situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Menurut Mizuar, lokasi pertama yang akan dikunjungi adalah makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Selanjutnya rombongan akan mendatangi makam Sultan Muhammad bin Malik Alauddin, makam Malik Alauddin yang nisannya bentuk stupa, makam Malik Muhammad Syah, makam Nina Mahajirin, makam Muziruddin.

“Kami juga akan mengunjungi makam bertarikh 866 H, makam Sultan Muhammad Syah Lamuri. Kemudian makam siang di kompleks Makam Laksamana Malahayati, pulang shalat asar di mesjid Lamprit kemudian pukul 16.30 Wib diakhiri dengan diskusi khusus di aula BPNB Banda Aceh,” ujarnya.[] (bna)

Kekejaman van Daalen di Kuta Reh

Kekejaman van Daalen di Kuta Reh

PEPERANGAN Belanda di Aceh berlangsung dalam rentang waktu yang lama. Strategi peperangan hit and run yang dilakukan pasukan Aceh mengajarkan Belanda untuk membentuk unit pasukan khusus anti gerilya. Namanya Marchaussee (marsose).

Pasukan ini bertugas menyisir seluruh hutan rimba raya yang ada di Aceh. Mereka terdiri dari orang Ambon, Minahasa dan dipimpin oleh sersan Belanda. Pemilihan Bumiputera dalam unit ini sengaja dilakukan untuk melacak jejak pasukan Aceh di dalam hutan. Pasukan ini dikenal bengis dan tidak menghormati hukum perang. Bahkan, pemimpin pasukan Aceh yang dikenal lihai dalam strategi peperangan sekelas Teuku Umar berhasil dijebak oleh satuan khusus bentukan Jenderal Van Heutz ini.

Gubernur Hindia Belanda yang berkedudukan di Aceh mengutus 10 brigade marchaussee masuk ke pedalaman hutan Bukit Barisan guna mencari sisa pasukan Aceh. Belanda mendapat kabar bahwa sisa pasukan Kerajaan Aceh Darussalam mendapat bantuan dari orang Gayo. Salah satunya yaitu Teuku Tapa yang pernah menyerang Idi pada 30 Juni 1898.

Sejarawan Belanda W.H.M. Schadee menyebutkan Teuku Tapa adalah putera Gayo dari Telong. Dia merupakan salah satu sosok pejuang dari Gayo yang dikenal gigih membantu kerajaan. Teuku Tapa sangat dihormati dan dianggap sebagai legenda hidup oleh rakyatnya.

Belanda sering direpotkan dengan keterlibatan Teuku Tapa dalam peperangan di pantai timur Aceh. Berkali-kali dirinya diburu, namun tetap lolos dari sergapan Belanda. Bahkan dirinya juga kerap diberitakan tewas, namun di kemudian hari muncul dengan pasukannya menyerang tangsi-tangsi Belanda.

Ekspedisi mencari pasukan Aceh ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Gotfried van Daalen dengan membawa 200 anggota, 12 perwira dan 450 narapidana kerja paksa, sejak 8 Februari 1904.

Kolone yang dipimpin oleh van Daalen bergerak dari Lhokseumawe di pantai utara Aceh. Bersama mereka turut serta ilmuwan seperti insinyur pertambangan, mantri Kebun Raya Buitenzorg (kini Kebun Raya Bogor), tim topografi, perwira kesehatan sekaligus sebagai fotografer HM Neeb.

Letnan van Daalen membunuh penduduk dengan kejam selama ekspedisi tersebut dilakukan di pedalaman Gayo dan Alas. Ribuan laki-laki dan perempuan serta anak-anak diberondong. Lumbung padi yang dilalui semuanya dibakar. Aksi brutal van Daalen yang paling dikenal sepanjang masa adalah pembunuhan massal terhadap 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan di Kuta Reh pada 14 Juni 1904.

Ribuan warga Gayo dan Alas yang tewas di Kuta Reh tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer HM Neeb. Fotonya masih tersimpan dengan baik hingga sekarang. Dalam foto tersebut terlihat serdadu marchaussee tanpa belas kasihan berpose di atas mayat-mayat penduduk.

Aksi van Daalen di Kuta Reh ini mendapat kecaman dari beberapa petinggi Belanda di parlemen. Salah satunya adalah Victor de Struers. Dia memberikan julukan kepada van Daalen sebagai Van-daalis yang digambarkan sebagai algojo.

“Pemerintah menamakannya sebagai atraksi darmawisata, tetapi saya menamakannya sejarah pembunuhan. Peristiwa (pembantaian ekspedisi Gayo) tak ubahnya melepaskan segerombolan anjing-anjing buas kepada warga pribumi. Betul-betul pekerjaan algojo. Marilah kita membawa peradaban tetapi janganlah dengan perantaraan anjing-anjing buas,” katanya, seperti dikutip oleh Harry Kawilarang dalam bukunya Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki.

Meskipun mendapat kritikan pedas dari parlemen, namun pembantaian yang dilakukan van Daalen dibenarkan oleh Gubernur Jenderal van Heutz di Batavia (Jakarta sekarang). Bahkan van Daalen mendapatkan bintang penghargaan Militaire Willemsorde yang akan diserahkan secara pribadi oleh Ratu Wilhelmina, jika dirinya mau cuti di Belanda. Aksi sadis yang dilakoni van Daalen juga berbuah dengan pemberian jabatan sebagai Gubernur Hindia Belanda di Kutaraja (Banda Aceh sekarang).

Hingga kini, Belanda sama sekali telah melupakan aksi pembantaian yang dilakukannya di Kuta Reh. Meskipun Indonesia telah merdeka dan telah menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda, namun tragedi pembantaian massal di dataran tinggi Gayo tersebut tidak pernah dibicarakan oleh kedua negara. Belanda hanya meminta maaf atas pembantaian yang dilakukannya di Rawa Gede, namun tidak secara khusus untuk tragedi di Kuta Reh, Aceh Tengah.[]

Abu Razak: Generasi Muda Perlu Mengetahui Sejarah Aceh

Abu Razak: Generasi Muda Perlu Mengetahui Sejarah Aceh

BANDA ACEH – Wakil Ketua DPA Partai Aceh, Kamaruddin Abubakar atau akrab disapa Abu Razak, meminta para jurnalis Aceh untuk menulis kembali sejarah Aceh. Hal ini dinilai penting sebagai identitas ke-Aceh-an.

Hal ini diungkapkan Abu Razak saat menerima silaturahmi tim redaksi portalsatu.com dan majalah Atra, Rabu 22 April 2015.

“Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah Aceh. Sejarah perlu dilestarikan untuk menentukan arah Aceh ke depan yang lebih baik. Generasi muda perlu mengetahui sejarah Aceh,” kata Abu Razak.

Abu Razak juga meminta tim redaksi portalsatu.com dan majalah Atra untuk memberikan ruang khusus terhadap penulisan sejarah Aceh.

Sebelumnya diberitakan, Abu Razak juga mengatakan saat ini masih banyak janji pemerintah pusat yang belum dipenuhi oleh pemerintah pusat. Janji ini harus diingatkan agar segera direalisasi.

“Saya sepakat majalah Atra membuat daftar janji ini. Tujuannya, agar semua pihak bisa ingat dan menagih janji ini,” kata Abu Razak kepada tim redaksi portalsatu.com dan majalah Atra, Rabu 22 April 2015. [] (mal)

Kerajaan Aceh Darussalam; Bermula dari Meukuta Alam dan Darul Kamal

Kerajaan Aceh Darussalam; Bermula dari Meukuta Alam dan Darul Kamal

KERAJAAN Aceh lahir dari penggabungan dua buah kota pemukiman besar di Aceh Besar. Hal ini ditulis dalam Hikayat Aceh, halaman 72. Kedua kota pemukiman ini yaitu Meukuta Alam dan Darul Kamal. Kedua kota ini, berdasarkan hikayat tersebut dipisahkan oleh satu aliran sungai.

Mada ada ngantarai daripada dua raja itu suatu sungai. Setengah kepada raja Makota Alam, setengah kepada raja Dar ul-Kamal,” tulis hikayat tersebut.

Kedua penguasa pemukiman selanjutnya mengawinkan anak mereka sebagai tonggak dasar penggabungan wilayah. Perkawinan itu berujung pada perluasan kedua kawasan yang kemudian dipimpin oleh seorang raja dari Meukuta Alam. Dua kerajaan yang bergabung ini kemudian dinamakan dengan Aceh Darussalam. Sayangnya tidak ada catatan sama sekali mengenai tanggal pasti penggabungan dua wilayah ini.

Meskipun begitu, kedua penduduk pemukiman ini masih belum dipastikan asal daerah mereka sebenarnya. Karena berdasarkan kesaksian Snouch Hougronje, ia pernah mendengar seorang ulama kharismatik Aceh, Teungku Kutakarang yang menyebutkan Aceh lahir dari percampuran orang Arab, Parsi dan Turki. Namun, di Pasai selaku daerah bagian Aceh didapati pada mulanya dihuni oleh orang Bengali yang jumlahnya mayoritas.

Sementara Denys Lombard berdasarkan penelitiannya mengatakan, ada pula yang menyebut asal mula Aceh itu berasal dari Campa. Runutnya berdasarkan sejarah melayu, dituliskan adanya seorang Raja dari Campa, Syah Pu Liang (Ling) diusir dari ibukotanya oleh bangsa Vietnam. Ia mencari perlindungan ke Aceh dan kemudian membentuk wangsa baru.

Walaupun mula terbentuknya Aceh sendiri belum ada kepastian namun banyak sejarawan yang sepakat mengambil patokan awal berdirinya kerajaan ujung Sumatera ini dimulai dari berkuasanya Ali Mughayat Syah. Pires menyebutkan Aceh (Achey) adalah negeri pertama di pantai pulau Sumatera yang dibatasi selat dan Lambry (Lamreh–menurut Teuku Iskandar dalam Hikayat Aceh) terletak tepat di sebelahnya yang meluas ke pedalaman.

Lambat laun tanah atau daerah sekitarnya tersebut berada di bawah kekuasaan satu raja yang memeluk agama Islam. Raja tersebut merupakan raja yang paling gagah perkasa (homen cavaleiro) dibandingkan raja-raja di sekitarnya. Raja Aceh ini pernah melancarkan perang dengan kerajaan Pedir yang menyebabkan banyaknya korban tewas di pihak lawan.

Bahkan untuk menguasai daerah perairan Raja Aceh mempunyai 30 sampai 40 perahu lancar. Raja yang biasa disebut Sultan itu berhasil menguasai pulau-pulau Gamispola (Pulau Weh dan sekitarnya).

Homen cavaleiro dari Aceh tersebut kemudian hari dikenal dengan Sultan Ali Mughayat Syah yang telah berhasil menaklukkan Deli, Daya, Pedir dan Pasai (1524). Sementara pada bulan Mei 1521, Ali Mughayat Syah juga mampu mengalahkan armada portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas.

Bisa dikatakan Ali Mughayat Syah selaku Sultan telah berhasil memperluas daerah kekuasaan dan mempertahankan kewibawaan Aceh di dunia Internasional. Setidaknya 120 tahun kemudian bangsa Portugis dari Barat yang dikenal berasal dari negeri modern tidak mampu menaklukkan Aceh sama sekali.

Kuatnya pertahanan Aceh dalam menghadapi agresi Portugis itu selain dilatarbelakangi oleh keberanian sultan dan para ksatrianya ditambah armada laut yang kuat dan patriot, Aceh juga mempunyai peta geografis alur pantai yang begitu sulit untuk berlabuh kapal-kapal besar.

Di sepanjang garis pantai Aceh terdapat banyak karang yang bisa membuat kapal-kapal karam. Jalan satu-satunya menaklukkan Aceh pada saat itu hanya melalui laut dengan menembakkan meriam-meriam ke daerah pesisir.[]

Elemen Sipil Bahas Pentingnya Bukti Peradaban Aceh Bersama Anggota Dewan

Elemen Sipil Bahas Pentingnya Bukti Peradaban Aceh Bersama Anggota Dewan

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh diminta untuk ikut andil dalam menyempurnakan penelitian sejarah yang telah dilakukan elemen sipil di Aceh selama ini.

“Kemampuan organisasi masyarakat terbatas, hal-hal kecil yang bersifat sukarela sudah kami lakukan. Namun hal-hal yang membutuhkan biaya besar, ini di luar batas kemampuan kami. Di sinilah perlunya peran pemerintah dalam menyelamatkan dan mengenalkan kembali bukti peradaban Aceh,” ujar Ketua CISAH, Abdul Hamid yang kerap disapa Abel Pasai.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekjen CISAH Mawardi Ismail, Ketua Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) Muhajir, Duta Nisan Aceh Mizuar Mahdi dan Pengurus Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) Thayeb Loh Angen.

Hal senada disampaikan Ketua Mapesa, Muhajir. Dia mengatakan usaha yang selama ini dilakukan Mapesa dalam menyosialisasikan pentingnya pelestarian sisa peradaban Aceh sebenarnya adalah tanggung jawab pemerintah.

“Sudah saatnya pemerintah memprioritaskan program melestarikan semua bukti peradaban Aceh. Kami siap membantu pemerintah Aceh dalam melestarikan semua bukti peradaban yang tersebar di seluruh Aceh,” ujar Muhajir.

Di samping itu, pengurus PuKAT, Thayeb Loh Angen mengatakan Pemerintah Aceh saat ini terlihat masih kebingungan dalam bertindak untuk kemaslahatan Aceh, terutama dalam mencari jati diri Aceh.

“Kita bisa memahami pemerintah bingung di masa transisi dari perang ke damai. Sepuluh tahun kiranya adalah waktu yang cukup untuk menyadari diri gagal dalam mencari jati diri Aceh. Sekali lagi itu kami maklumi. Sekarang bukan lagi masa transisi. Mari kita sadari bahwa sebagian jati diri Aceh itu ada di ratusan ribu nisan-nisan tua yang tersebar dan tidak terawat di seluruh Aceh,” ujar Thayeb.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRA, Teuku Irwan Djohan mengatakan kegiatan sukarela yang dilakukan elemen sipil pecinta sejarah Aceh ini seharusnya mendapat dukungan dari APBA. Hal ini guna memperbesar dampak penelitian dan penyelematan peradaban Aceh.

“Namun sebelum itu terjadi, perlu ada pertemuan lagi untuk membuat kesepahaman di antara beberapa pihak di Pemerintahan Aceh, bahwa apa yang dilakukan oleh lembaga ini penting,” ujar Irwan Djohan.

Selain itu, Irwan Djohan juga menekankan bahwa Pemerintah Aceh perlu bekerjasama dengan pihak swasta seperti, ormas-ormas dan lembaga sipil lainnya, dalam menyelamatkan bukti peradaban Aceh.

“Saya bersedia memfasilitasi pertemuan-pertemuan selanjutnya yang diperlukan. Selain itu, saya minta lembaga-lembaga ini menyiapkan draf lengkap tentang program dan langkah yang bisa dilakukan bersama, ada Komisi VII di DPR Aceh yang membidangi ini,” kata Irwan Djohan.[]

Kuta Raja; Cara van Swieten Mengubur Kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam

Kuta Raja; Cara van Swieten Mengubur Kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam

PEPERANGAN antara Belanda dengan Kerajaan Aceh menorehkan luka lama. Apalagi saat Belanda berhasil membakar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan merebut Banda Aceh pusat Kerajaan Aceh. Peperangan ini berlangsung hingga puluhan tahun, bahkan menjadi perang terlama Belanda di Nusantara.

Meski Istana Darud Dunia berhasil direbut Belanda, perjuangan rakyat Aceh belum selesai. Sultan Alaidin Mahmud Syah berdaulat terpaksa mengungsi dan kemudian mangkat akibat penyakit kolera yang mewabah saat perang terjadi. Pucuk pimpinan perang Aceh berada di tangan Panglima Polem. Peperangan terus berlangsung dengan taktik gerilya (hit and run).

Setelah Darud Dunia berhasil direbut, Belanda di bawah pimpinan Gubernur Van Swieten mendirikan kota baru di Banda Aceh. Upaya ini dilakukan untuk menghapus kegemilangan Kerajaan Aceh Darussalam dan ibukotanya Banda Aceh Darussalam.

Van Swieten juga mengganti nama Banda Aceh pada 16 Maret 1874 melalui proklamasinya yang berbunyi: “Bahwa Kerajaan Belanda dan Banda Aceh dinamainya dengan Kuta Raja yang kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit bertanggal 16 Maret 1874. Semenjak saat itu resmilah Banda Aceh Darussalam dikebumikan dan di atas pusaranya ditegaskan Kuta Raja sebagai lambang dari kolonialisme.”

Kebijakan Van Swieten menuai kontroversi di kalangan tentara Belanda yang pernah bertugas. Mereka menganggap Van Swieten mencari muka pada Kerajaan Belanda karena berhasil menaklukkan pusat kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Mereka juga meragukan Van Swieten berhasil merebut Aceh pada saat itu yang kemudian dibuktikan dengan adanya perang gerilya oleh pasukan kerajaan Aceh dan ulama setempat.

Setelah Indonesia merdeka dan Aceh berada di dalam wilayahnya, nama Banda Aceh dipulihkan. Kuta Raja yang dilakapkan oleh Van Swieten diubah dengan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Sejak itu, ibukota Aceh kembali disebut dengan nama Banda Aceh.[]

Taktik Teungku Puteh Menaklukkan Aceh

Taktik Teungku Puteh Menaklukkan Aceh

H C Snouck Hourgronje merupakan aktor di balik perang Aceh dengan Belanda. Hasil penelitiannya tentang Aceh dipakai oleh Belanda untuk menaklukkan Aceh. Semuanya terangkum dalam buku “De Atjeher”

Penelitian Snouck tentang Aceh sudah dimulai sejak ia berada di Mekkah. Ia tertarik terhadap Aceh ketika orang-orang Arab sering memperbincangkan sikap fanatik rakyat Aceh melawan Belanda. Sebagai orang Belanda, Snouck tergerak untuk menyumbangkan usulan ilmiah tentang Aceh kepada pemerintah Belanda, maka penelitian itu pun dilakukan.

Ia mengusulkan kepada Pemrintah Belanda untuk memisahkan Islam dan politik di Aceh. Para jamaah haji yang berangkat dari Aceh harus diawasi, karena ditakutkan ketika pulang dari Arab mereka akan membawa ide pan-islamisme yang bertentangan dengan kepentingan Belanda di Aceh.

Dari Arab, Snouck kemudian kembali ke Leiden, Belanda. Dua tahun di sana, ia menawarkan diri untuk ditugaskan ke Aceh. Snouck kemudian mengajukan proposal penelitiannya tentang Aceh kepada Gubernur Jenderal Belanda pada 9 Februari 1888. Niatnya itu didukung oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP) serta Menteri Urusan Negeri Jajahan Belanda.

Kedatangan Snouck ke Aceh sebenarnya atas perintah sangat rahasia dari pemerintah Belanda. Ia naik kapal pos di Inggris sampai ke Sumatera melalui Pelabuhan Penang. Ia sampai di Penang pada 1 April 1889, kemudian masuk ke pedalaman Aceh sampai ke istana sultan dengan cara memanfaatkan orang Aceh yang dikenalnya di Mekkah. Snouck kemudian dikenal dengan sebutan Teungku Puteh di Aceh.

Gubernur Belanda di Aceh, Van Teijn, melarangnya masuk ke Aceh. Pasalnya Snouck dinilai punya hubungan dengan kaum pelarian dan berusaha masuk ke Aceh secara gelap. Ia pun kemudian menuju Batavia (Jakarta) dan tiba di sana pada 11 Mei 1889.

Di Batavia Snouck bekerja sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Di sana ia terus membangun lobi untuk bisa masuk kembali ke Aceh. Karena kepiawaiannya dan pengetahuan tentang Islam yang cukup, Direktur Pendidikan Agama dan perindustrian kemudian mendesak Gubernur Jenderal C Pijnacker Hordijk untuk mengabulkan penelitian Snouck soal Aceh.

Lima hari kemudian, 16 Mei 1889, Snouck mendapat izin untuk melakukan penelitian. Izin itu kemudian diperkuat oleh Raja Belanda pada 22 Juli 1889. Bukan itu saja, pada 15 Maret 1891, Snouck diangkat menjadi penasihat urusan bahasa-bahasa timur dan hukum Islam. Snouck pun kemudian beralih dari seorang ilmuan menjadi politikus.

Snouck masuk ke Aceh dan menetap di Kutaraja pada 9 Juli 1891. Ia menjadi orang kepercayaan Van Huetz, seorang jenderal yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Aceh (1904-1909). Setelah melakukan penelitian di Aceh, Snouck kemudian menulis Atjeh Verslag yang berisi laporan kepada Belanda tentang alasan perang Aceh. Tujuh bulan kemudian ia kembali ke Batavia menjadi penasihat urusan pribumi dan Arab.

Sebagai penasihat, Snouck sangat berperan dalam memberikan berbagai usulan mengenai perang Aceh. Salah satunya adalah strategi menaklukkan rakyat Aceh yang diberikannya kepada Gubernur Militer Belanda, Johannes Benedictus van Huetsz.

Strategi tersebut adalah mengenyampingkan golongan sultan yang berkedudukan di Keumala, Pidie, setelah kraton dikuasai Belanda. Sebaliknya, Belanda dianjurkan terus memerangi kaum ulama. Snouck juga menyarankan untuk tidak mau berunding dengan panglima-panglima Aceh pemimpin gerilya.

Selain itu, ia menyarankan untuk mendirikan pangkalan militer Belanda di Aceh, serta membangun masjid dan merperbaiki jalan serta irigasi untuk meraup simpati rakyat Aceh. Siasat Snouck itu pun diterima Van Huetzs dan ia mengangkat Snouck sebagai penasehatnya.

Van Huetsz juga meniru taktik perang gerilya Aceh dengan membentuk pasukan marsose yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macan yang menjelajah gunung-gunung seantore Aceh untuk mengejar para gerilyawan.

Taktik lain yang diberikan Snouck adalah menculik anggota keluarga gerilyawan Aceh. Taktik ini berjalan mulus, seperti pada tahun 1902, Christoffel menculik permaisuri Sultan Aceh dan Teuku Putroe di Geulumpang Payong, Pidie.

Sementara pasukan pimpinan Van Der Maaten menawan Putra Sultan Tuanku Ibrahim dan memaksa Tuanku Ibrahim untuk menyerah. Ia pun menyerah dan berdamai dengan Belanda di Sigli pada 5 Januari 1902.

Setelah itu Van Der Maaten juga menyerang Tangse untuk menyergap kelompok Panglima Polim. Tapi Panglima Polem berhasil meloloskan diri. Sebagai gantinya Belanda menangkap putra Panglima Polim, Cut Po Radeu, saudara perempuannya dan beberapa keluarga dekatnya. Akibatnya, Panglima Polim pun menyerah di Lhokseumawe pada Desember 1903. setelah itu banyak para ulee balang yang menyerah karena keluarganya ditawan.

Van Huetsz kemudian menulis Korte Verklaring, yaitu surat pendek yang harus ditandatangi oleh para ulee balang dan pemimpin Aceh yang menyerah. Surat tersebut berisi tentang pengakuan para pemimpin Aceh sebagai daerah jajajhan Belanda. Selain itu, surat tersebut juga meminta para pemimpin Aceh agar berjanji untuk tidak mengadakan hubungan dengan luar negeri, serta patuh terhadap perintah-perintah yang ditetapkan Belanda.

Meski beberapa pimpinan wilayah telah menyerah akibat keluarganya ditahan, perlawanan sengit rakyat Aceh terus berlangsung dalam perang baik frontal maupun gerilya. Menghadapi hal itu, Snouck kemudian mengusulkan pembersihan dengan taktik membunuh rakyat Aceh.

Taktik ini dilakukan oleh Van Daalen yang menggantikan Van Huetzs. Salah satunya adalah pembunuhan yang terjadi di Kuta Reh pada 14 Juni 1904. Hari itu sebanyak 2.922 orang dibunuh, yang terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Namun taktik itu juga tak juga membuat perang Aceh berakhir. Perlawanan pecah dimana-mana, sampai akhirnya Snouck kembali ke Belanda pada 1906.

Empat tahun kemudian, Snouck menikah dengan Ida Maria, seorang putri pensiunan pendeta di Zutphan, Dr AJ Gort. Tiga tahun setelah menikah ia dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Leiden, Belanda, dan menekuni profesi sebagai Penasihat Menteri Urusan Koloni sampai meninggal pada 16 Juli 1936.[] (bna)

Saat Jurnal Prancis Menggambarkan Kejayaan Armada Laut Aceh

Saat Jurnal Prancis Menggambarkan Kejayaan Armada Laut Aceh

SEBUAH jurnal Prancis yang terbit sejak tahun 1605 pernah mencatat kegagahan armada laut Kerajaan Aceh kala mengepung Malaka. Raja Malaka bahkan harus meminta pertolongan bangsa Eropa untuk menghalau serangan 300 kapal layar dan 30 galias bangsa Aceh.

Saat itu jurnal yang kerap mengulas strategi militer di Eropa atau kehidupan-kehidupan istana ini dipimpin oleh Jean Richer (1635), yang kemudian diganti Theophraste Renaudot (1644).

Jurnal berbahasa Prancis ini menceritakan kisah pengepungan Malaka lewat artikelnya berjudul: Siege de Malaca par les Dachinois (Pengepungan Malaka oleh orang Aceh) tahun 1629 hingga 1630.

Berikut kisah pengepungan ini dinukilkan Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda:

“Voyone ensuitte une relation publice par les Espagnols de ce que les Portugais ont fait ceste année aux Indes. L’ évesque de Cochin estant mort en la ville de Goa, Sa Majesté Catholique envoya ordre pour establir trios chefs au gouvernement des Indes Orientales. Ses despesches estans ouvertes au conseil on cogneut que la volonté de ladite Majesté estoit d’admettre audit government les trios chefs qu’il nommoit, pour ester a l’advenir les Indes régies par un Triumvirat, ce qui n’avoit esté pratiqué jusques alors en ces pays-la depuis que les Portugais y sont establish.

D. Nugna, Alvares de Boteillo, l’un de ces trios gouverneurs, ne fut si tost en la possession du gouvernement, que le Roy d’Aliena luy envoya une ambassade, pour le prier de le secourir et ayder a faire lever le siege de la ville de Malaca, assiégé par les Dachinois, s’offrant d’aller par après assiégér la Xitera (ou nouvelle Cour Belgique des Hollandais, ou ils tenoient leur Gouvernement) avec une puissante arméé. Xitera est une isle proche de Malaca ou les Hollandais ont fait bator une puissante forteresse.

Sur les offers de ce Roy, Nugna Alvares estant choisi pour conduire le secours a Malaca, fut bien aise de ceste charge, pour avoir autrefois esté employé aux gueres faictes contre les Hollandais. Pour l’exécution de ce dessein il fit équiper et armer trente navires et qulques galéres pour porter des vivres et munitions, laissant la charge du gouvernement aux deux gouverneurs ses collegues. Il partit de Goa avec cette armée, et suivant sa route arriva a la veue de Malaca, ou il trouva la ville assiégée par mer et par terre, par les Dachinois grands ennemis des Chrestiens, qui avoient leur armée navale plus de trios cens voiles et trente galeres Royales.

Apres que Dom Nugna eut recogneu le camp des enemis, il les alla investir de nuict; Durant laquelle il les assaillit, les défit et mit en route; et poursuivant sa victoire, descend en terre avec ses forces, et alla attaquer le gros de l’armée des Dachinois, plus grande beaucoup en nombre d’hommes que la sienne; néant moins se confiant au courage des siens, la combatit et la défit, emmenant grand nombre de prissonniers, le reste estant contraint de se sauvér a la fuite; et ainsi la ville de Malaca fut délivree du siege qu’elle avoit soustenu l’espace de cinq mois, estant alors réduite a une grande disette de vivres et d’autres necessite sans pour cela perdre courage, ayan résisté puissamment contre les attaques des ennemis.

Le general Nugna Alvares estoit a la teste de son armée et surmonta en cette expedition les lieux et endroicts plus périlleux. Il asseura tallement le courage des siens que la gloire luy demeura d’avoir libéré Malaca de ce long siege, et gaigna sur les ennemis quatre cens pieces d’artillerie, entre lesquelles il y en avoit cent de quarante livres de caliber avec lesquelles il remis sur son armée navale, et alors la ville de Apres cela Nugna avec son armée navale s’achemina vers Xisera, ou le ioint avec luy se rendirent masitres de la forteresse.”

Jurnal ini bisa diterjemahkan, “Marilah kita lihat sekarang sebuah cerita yang diterbitkan oleh orang Spanyol mengenai apa yang dilakukan bangsa Portugis tahun ini di Hindia. Karena Uskup Cochin, telah wafat di Kota Goa, Paduka Katolik mengirim perintah supaya ditempatkan tiga pemimpin dalam Pemerintahan Hindia Timur. Setelah pesannya dibuka di Dewan, maka diketahui bahwa menurut keinginan Seri Paduka hendaknya ketiga pemimpin yang disebutnya dimasukkan ke dalam pemerintahan, supaya Hindia untuk selanjutnya diperintah oleh sebuah Triumvirat. (Ketiga gubernur itu ialah Nuno Alvares Botelho, kapten jenderal “Armada Alto-bordo” , Dom Lourenco dan Cunha, kapten kota Goa dan Goncalo Pinto da Fonseca), suatu hal yang sejak bangsa Portugis menetap di sana belum pernah dilakukan di negeri-negeri itu sampai saat itu.

Baru saja D. Nugna, Alvares de Boteillo, salah satu dari ketiga gubernur itu memegang jabatannya, maka Raja Aliena mengirim utusan minta pertolongan dan bantuan untuk membebaskan Kota Malaka yang sedang dikepung oleh bangsa Aceh, disertai dengan tawaran; sesudahnya akan mengepung Xitera (atau Istana Belgia baru kepunyaan Belanda, tempat pemerintahan mereka) dengan tentara yang kuat sekali. Xitera adalah pulau dekat dengan Malaka tempat sebuah benteng yang kuat didirikan oleh bangsa Belanda.

Atas tawaran raja ini, Nugna Alvares yang dipilih untuk memimpin bantuan bagi Malaka, senang dengan tugas ini karena dahulu sudah pernah ikut serta dalam perang-perang melawan bangsa Belanda. Untuk melaksanakan rencana itu, ia memperlengkapi dan mempersenjatai tiga puluh kapal dan beberapa galias (dua puluh delapan kapal_menurut teks Portugis) yang harus mengangkut makanan dan amunisi, sedangkan tugas pemerintahan diserahkannya kepada kedua gubernur lainnya, rekan-rekannya.

Ia berangkat dari Goa bersama tentara itu, lalu menempuh jalan sampai tiba di depan Malaka; di sana ditemukannya kota itu dikepung dari laut dan dari darat oleh bangsa Aceh, musuh besar orang Eropa, yang mempunyai lebih dari tiga ratus kapal layar dan tiga puluh galias kerajaan dalam angkatan lautnya. Setelah sempat tinggal musuh diketahui oleh Dom Nugna, malam hari dikepungnya; sementara itu ia menyerang, mengalahkan dan mengusir musuh itu; dan untuk melanjutkan kemenangannya, ia mendarat bersama angkatan bersenjatanya dan menyerang bagian pokok tentara Aceh yang jauh lebih besar jumlahnya dari tentaranya sendiri; meskipun begitu ia mengandalkan keberanian orang-orangnya, dan tentara itu diserbunya dan dikalahkannya, dan dibawanya sejumlah besar tawanan, sedangkan sisanya terpaksa lari untuk menyelamatkan nyawanya; maka demikianlah kota Malaka dibebaskan dari pengepungan yang sudah lima bulan lamanya dideritanya, bersama kekurangan akan makanan dan keperluan lain, tetapi keberaniannya tak luntur dan serbuan-serbuan musuh dilawannya dengan kuat.

Jenderal Nugna Alvares memimpin tentaranya dan, selama serangan ini, berhasil melintasi tempat-tempat yang paling berbahaya. Keberanian anak buahnya diandalkannya sedemikian kukuhnya hingga ia tetap jaya karena telah membebaskan Malaka dari pengepungan yang lama, dan dari musuhnya direbutnya empat ratus alat artileri, di antaranya yang berbobot seratus empat puluh pon caliber yang dibawanya ke armada lautnya, maka kemudian Kota Malaka yang mulai menjadi kunci perniagaan Hindia Timur. Sesudah itu Nugna bersama angkatan lautnya menuju Xisera; di sana Raja Aliena sudah menggantung banyak orang Belanda, dan setelah mereka bergabung dengannya, mereka merebut bentengnya.”[]