Tag: sejarah Aceh

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

BANDA ACEH – Kawasan Ujung Pancu hingga Krueng Raya, Aceh Besar, sudah dipadati oleh pendatang sejak 1000 tahun lalu. Hal tersebut dapat diukur dari penemuan keramik Cina yang sudah tua di kawasan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Arkeolog Aceh lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria, saat diskusi bersama yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa, 8 September 2015 sore.

“Dari keramik cina tua yang sudah ribuan tahun inilah dapat kita prediksikan bahwa Banda Aceh diperkirakan sudah ramai sejak 1000 tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengatakan telah ditemukan jalur kapal Timur Tengah dan Cina yang melancong ke Banda Aceh. Hal ini juga terdapat tulisan yang terpahat pada nisan.

“Terdapat salah satu nisan yang terpahat bertuliskan tahun 1555 M. Namun sayangnya tidak tercantumkan lagi nama karena sudah hilang dan yang seperti ini layak untuk ditangani,” kata Deddy.

Dia kemudian mencontohkan kawasan Lampulo. Menurutnya sejak 800 tahun lalu sudah ada Cina muslim yang tinggal di sana. Di kawasan tersebut juga terdapat peninggalan belanga tanah, orang Eropa seperti Vietnam dan Thailand saat berdagang ke Aceh.

“Sekarang 60 titik lokasi pengamatan benda sejarah tersebut terdapat di Lampulo. Setengahnya terdapat keramik dan kaca rumah penduduk di lokasi makam tersebut,” ujarnya.

Kasus lain juga terdapat di Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Lamno. Dari aspek arkeologi, kata dia, ada target terdekat yang harus dicapai yaitu makam yang terdata dalam daftar emergency. Menurut Deddy, ini harus segera ditelusuri secepatnya karena takut tertimbun dengan pembangunan.

Ia juga mencontohkan di Indrapuri, masih terdapat tokoh-tokoh dari Thailand pada abad ke-16, Ayu Thayya yang hijrah dari Thailand ke Aceh. Selain itu juga ada makam Khalifah Abasiyah, tokoh dari Persia, India, dan Cina muslim yang belum terpublikasi.

“Informasi dari batu nisan sangat penting untuk diselamatkan. Kalau bisa membuat gedung ataupun meseum nisan karena dengan jumlahnya yang jutaan. India punya Taj Mahal, sementara kita di Aceh memiliki nisan,” ujarnya.[](bna)

Verbalisme Kegemilangan

Verbalisme Kegemilangan

CERITA kegemilangan masa lalu Aceh kerap kita dengar dan kita baca. Tapi apakah kita menghargainya?

Kita bangga dengan sejarah kita. Kita congkak ketika menceritakan masa lalu kita. Tapi semua itu hanya verbal. Kita hanya bercerita melalui mulut kita. Cerita itu ‘pun cuma kita dengar dari mulut orang lain. Dan itu bagi mereka yang lahir tahun 80-an ke bawah. Bagi generasi digital saat ini apakah mereka kenal Cut Meutia, Cut Nyak Dhien, Teuku Umar dan tokoh pahlawan lain?

Siapa lebih mereka kenal dengan tokoh hiburan di dunia maya. Misalnya tokoh kartun Upin Ipin. Teknologi tak mungkin kita hempang. Namun sebenarnya teknologi menyediakan kita ruang yang amat luas. Semua tergantung kita. Siapapun di dunia ini bangga dengan prestasi atau kegemilangan masa lalu. Kegemilangan keluarganya, sukunya, bangsa dan agamanya.

Namun kebanggaan itu tidaklah cukup dengan verbal saja. Ianya juga diupayakan dengan hal-hal yang konkrit. Misalnya, melestarikannya dan melanjutkan. Kenyataannya hari ini generasi baru kita hampir tidak mengenal sejarahnya.

Kita alpa melanjutkan cerita dan mengajarkan mereka. Di sekolah, mata pelajaran sejarah bukanlah mata pelajaran utama. Sehingga membutuhkan kesadaran pihak lain untuk menjejali anak-anak kita dengan sejarah. Misalnya dengan mengajak mereka mengunjungi situs-situs sejarah dan memperbanyak bahan bacaan tentang sejarah.

Kita harus belajar banyak dari bangsa lain bagaimana mereka menghargai sekecil apapun sejarah mereka. Mereka amat bangga dengan hal itu karena kegemilangan masa lalu bisa menjadi spirit besar bagi entitas itu sendiri. Untuk terus berjaya di masa kini dan masa depan.

Untuk kasus kita di Aceh apakah hal ini terjadi? Lihatlah situs-situs sejarah kita, literatur atau budaya-budaya kita. Banyak hal ini yang terabaikan. Banyak generasi kita tidak kenal budayanya. Ini menjadi tugas kita agar tidak ditelan masa. Pelestarian butuh kerja bukan bicara.

Kita perlu menjaga spirit itu. Kita perlu mendokumentasikan, agar ke depan di bumi kita lahir banyak pahlawan baru, pahlawan masa kini. Pahlawan kemakmuran dan kesejahteraan. []

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

KONON disebutkan Meulaboh dulunya dikenal dengan nama Pasir Karam. Penamaan ini kemudian berubah saat perantau asal Minangkabau tiba di daerah tersebut.

H.M Zainuddin dalam bukunya Tarich Aceh menuliskan sejarah singkat asal mula kata Meulaboh tersebut. Dalam buku itu, HM Zainuddin menukilkan penamaan Meulaboh dilakukan pada periode perang Padri di Sumatera Barat antara 1823-1837. Saat itu disebutkan perantau asal Minangkabau yang melarikan diri dari perang Padri berlayar ke Aceh. Sesampai di Teluk Pasir Karam mereka kemudian bermufakat untuk melego jangkarnya di tempat yang baik.

Salah satu di antara kepala rombongan tersebut kemudian menuju salah satu pantai yang ada di Teluk Pasir Karam. “Disikolah kito berlaboh,” katanya. Semenjak itu, tempat berlabuhnya perantau asal Minangkabau ini kemudian bersalin nama menjadi Meulaboh.

Dari sekian banyak jumlah orang yang berdatangan ke Aceh dalam rombongan tersebut, hanya ada beberapa orang yang tercatat dalam buku sejarah. Di antara mereka adalah para kepala rombongan seperti Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datok Radja Agam dari Luhak Agam dan Datok Radja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Ketiga kepala rombongan ini kemudian membuka lahan dan membuat negeri baru di kawasan Pasir Karam. Mereka membabat hutan dan membuka ladang di daerah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam tersebut. Masih menurut catatan H.M. Zainuddin, ketiga kepala rombongan ini memilih membuka lahan dan membuat pusat pemerintahan baru di daerah yang berbeda. Datok Machdum Sakti memilih daerah Merbau, Datok Radja Agam di Ranto Panjang, dan Datok Radja Alam Song Song Buluh di Ujungkala.

Datok Radja Alam kemudian juga menikah dengan anak seorang tokoh berpengaruh di di Ujungkala.

Bisnis ladang ketiga tokoh asal Minangkabau ini kian hari semakin ramai. Merbau, Ranto Panjang dan Ujungkala kemudian berubah menjadi negeri yang makmur. Daerah ini pun semakin dikenal di kawasan barat pesisir Aceh pada masa itu. Menyadari hal tersebut, ketiga tokoh dari Minangkabau ini kemudian sepakat menghadap Sultan Aceh Mahmud Syah atau dikenal Sultan Buyung (1830-1839). Ketiganya juga sepakat membawa masing-masing satu botol mas urai sebagai cinderamata untuk Sultan Aceh.

Setelah menjumpai Sultan Aceh, ketiga orang tersebut lantas meminta izin kepada sultan untuk memberikan batas wilayah kepada daerah baru yang ada di pantai barat tersebut. Sultan Buyung memenuhi permintaan ini dan mengangkat mertua Datok Radja Alam Song Song Buluh menjadi uleebalang Meulaboh. Penentuan Uleebalang Meulaboh ini harus berdasarkan keputusan sultan. Mereka juga diwajibkan untuk mengantar upeti tiap tahunnya kepada Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam. Perintah ini diterima oleh ketiga Datok tersebut.

Di perjalanan perkembangan daerah Meulaboh, ketiga Datok tersebut kemudian merasa lelah pulang pergi ke Bandar Aceh hanya untuk mengurusi hal-hal kecil. Mereka juga mulai keberatan tiap-tiap tahun mengantar upeti langsung ke Sultan Aceh. Saat itu, Sultan Aceh telah dijabat oleh Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841).

Ketiga Datok ini kemudian meminta kepada Sultan Ali Iskandar Syah agar menetapkan seorang wakil Sultan di daerah Meulaboh. Permintaan ketiga Datok tersebut dikabulkan oleh Sultan Aceh yang kemudian mengirim Teuku Tjhik Purba Lela. Saat itu Teuku Tjhik Purba Lela menjabat sebagai Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Keberadaan Teuku Tjhik Purba Lela sebagai wakil Sultan Aceh di Meulaboh mendapat sambutan baik dari ketiga Datok. Namun mereka masih mengeluhkan adanya beberapa pelanggaran dalam hukum dan adat yang membutuhkan penanganan khusus oleh pejabat khusus di bidang tersebut. Mereka kemudian kembali memohon kepada Sultan agar dikirimkan lagi seorang wakilnya yang menangani bidang khusus soal adat dan hukum. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam telah diperintah oleh Sultan Mansyur Syah.

Sultan Mansyur Syah mengabulkan permintaan para Datok tersebut. Sultan kemudian mengirim Penghulu Sidik Lila Digahara ke Meulaboh sebagai wazir kerajaan. Para Datok kemudian kembali meminta seorang wakil Sultan Aceh yang mampu mengurusi hal-hal keagamaan termasuk perkara nikah, pasah dan sebagainya.

Permintaan tersebut kembali dikabulkan oleh Sultan Aceh. Dia kemudian mengirim Teuku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar ‘Almuktasimu-binlah’ menjadi kadhi Sulthan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh kemudian berkembang pesat di bawah pemerintahan Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1841-1870). Apalagi saat itu banyak perantau dari Sumatera Barat eksodus ke Meulaboh dan Tapaktuan. Mereka kemudian membuka kebun dan menanam lada di daerah ini. Akibatnya produksi lada di pesisir barat Aceh menjadi melimpah dan terdengar ke pedagang-pedagang asing, termasuk Inggris. Lada yang menjadi primadona perdagangan dunia pada saat itu sangat diburu oleh bangsa-bangsa Eropa.

Di masa kejayaannya tersebut, kepala-kepala negeri di Meulaboh kemudian menyusun tata negara berbentuk federasi uleebalang yang disebut Kawai XVI. Federasi ini diketuai oleh Uleebalang Kedjruen Tjiek Ujong Kala. Kawai XVI ini terdiri dari Meulaboh/Tandjung, Udjung Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeue, Gunung Meuëh, Kuala Meureubok, dan Ranto Pandjang.

Selain itu, daerah lainnya yang bergabung di Kawai XVI ini adalah Reudeueb, Lango Tangkadeuön, Keuntjo, Gumé/Mugo, Meuko, Tadu, dan Seuneu ‘Am.

Saat itu ada federasi lainnya terbentuk di perbatasan Meulaboh dengan Pedir selain Federasi Kaway XVI. Federasi ini disebut Kaway XII yang terdiri dari 2 uleebalang yaitu Pameuë, Ara, Lang Jene, Reungeuët, Geupho, Reuhat, Tungkup/Dulok, Tanoh Merah/Tutut, Geumpang, Tangse, Beunga, dan Keumala. Federasi Kaway XII ini diketuai oleh seorang Kedjruën yang kedudukannya berada di Geumpang.[]

Foto: Simbol Kota Meulaboh. @Diliputnews.com

Video: Tanpa Aceh, Indonesia Musnah

Video: Tanpa Aceh, Indonesia Musnah

BANDA ACEH – Salah satu sejarawan Aceh, Teungku Abdurrahman Kaoy mengatakan Aceh adalah daerah modal yang membuat keberadaan Indonesia diakui oleh Internasional. Hal ini disampaikan oleh Teungku Abdurrahman Kaoy seperti video yang diupload oleh tawar laut dalam akun youtube nya pada 31 Juli 2015 lalu.

Dalam video tersebut, Teungku Abdurrahman Kaoy mengatakan hanya tiga daerah Indonesia yang tersisa saat agresi Belanda tahun 48. Ketiga daerah tersebut adalah DKI Jakarta, DI Jogjakarta dan Aceh. Jakarta dan Jogja berhasil direbut oleh Belanda sebelum Konferensi Meja Bundar dilakukan. Satu-satunya daerah yang belum takluk adalah Aceh.

“Ini yang membuat Belanda berfikir,” kata Abdurrahman Kaoy.

Pasalnya Aceh merupakan daerah yang lama sekali ditaklukkan oleh Belanda. “Perang dengan Aceh bukan satu tahun, bukan lima tahun, tapi 69 tahun, sampai Belanda pergi dan Jepang masuk, Belanda tidak berani pergi ke Pasar Aceh berjalan kaki,” katanya. Simak selengkapnya keterangan Aceh Daerah Modal Indonesia dalam video di bawah ini:

Bidun (Pelacur)*

Bidun (Pelacur)*

JIKA Anda hanya tertarik dengan pembicaraan soal uang, maka mari bicara soal uang, dan lupakan soal ilmu pengetahuan, soal visi kebangsaan, soal moral, cita-cita luhur, dan apapun nilai yang tinggi-tinggi lainnya. Mari bicara soal uang jika menurut Anda, yang riil itu hanya uang, dan lainnya hanya omong-kosong belaka. Sebab kita pun bukan pahlawan yang berani menyumbangkan hidup di jalan keyakinan. Biarlah mereka yang sudah mati saja jadi pahlawan. Kita yang masih hidup tidak perlu ikut-ikutan. Maka mari bicara soal uang!

Umumnya yang teramati oleh saya selama ini, bicara soal uang adalah bicara soal sumber daya alam mana yang dapat kita kelola untuk menghasilkan uang dan kekayaan. Ada sumber daya alam yang wajar untuk kita kelola, bahkan agama pun menyuruh mengelolanya supaya menjadi sumber-sumber kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, dewasa ini, kita sering jadi panik sehingga yang tak wajar pun kita berdayakan. Kita jadi kalap dan lepas kendali sebab orang lain sudah punya mobil dan rumah mewah, sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya di lembaga-lembaga pendidikan bergengsi, pelesiran ke tempat yang “wow!”, “wah!”, “keren!”, dan lainnya. Kita tunggu apa lagi?! Maka kita kemudian bersedia mengubah kepribadian, dari pengelola menjadi penghancur. Yang penting uang dan kekayaan, sedangkan yang lain-lainnya itu urusan belakangan.

Baiklah, jika demikian adanya kita hari ini, uang dan kekayaan sudah menjadi kiblat ke mana selalu kita menghadapkan arah kita, maka mari kita cari sumber daya lain yang mungkin kita kelola selain alam, dan sekali lagi yang perlu diingat: mari fokus di uang!

Hakikatnya, ada sebuah potensi yang luar biasa kayanya namun masih sangat jarang dilirik sebab ambisi kita untuk memperoleh kekayaan pun tanggung-tanggung, bahkan terkadang hanya seukuran batok kepala kita, sehingga potensi yang kaya, yang sebenarnya kita miliki itu, tidak pernah mendapat perhatian. Yaitu potensi kebudayaan, atau tepatnya aset kebudayaan kita.

Memang, sebelumnya, perlu diakui bahwa kebudayaan yang kita warisi memiliki karakter yang agung dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang luhur. Tapi itu tidak jadi soal. Kita tidak perlu sensitif sekali, dan tetap fokus pada uang. Apalagi, kita sudah terlatih dan terbiasa dengan kemunafikan. Kita juga sudah lumayan terbiasa menjual apa saja asalkan bernilai ekonomis dan menghasilkan uang.

biduen2 sumber foto ini; FB Musafir Zaman

Jadi kita tidak perlu resah soal warisan kebudayaan yang berkarakter agung selama bernilai ekonomis. Bahkan, sedikit banyak kita sudah punya pengalaman dalam bisnis kebudayaan ketika membisniskan beberapa warisan kebudayaan, mulai dari saman sampai dengan timphan.

Namun ada aset kebudayaan yang dapat dikatakan sama sekali belum kita rambah. Belum kita bisniskan dengan baik dan benar. Padahal, dapat dijamin memiliki prospek yang baik, plus juga dapat memberi makan orang Aceh, menambah lapangan kerja, dan khususnya bagi kita yang sudah lihai dengan cara-cara mengeruk keuntungan sudah tentu memperoleh limpah ruah kekayaan. Malah bukan saja kekayaan, tapi juga pengakuan dan popularitas yang jika kelak kita ingin mencalonkan diri menjadi eksekutif atau legislatif, kita tentu bisa menggunakannya.

Aset kebudayaan yang dimaksud adalah warisan atau peninggalan sejarah Aceh. Alangkah luar biasa istimewa dan kayanya! Aset tersebut, andaikata kita dapat mengelolanya sesuai prosedur-prosedur dan petunjuk-petunjuk yang diarahkan oleh beberapa disiplin ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan peninggalan sejarah, sungguh akan mendatangkan keuntungan besar, selain juga akan disanjung-sanjung oleh berbagai masyarakat dunia. Dan bukankah itu yang kita mau?

Agar tidak meraba-raba, perlu diinformasikan tentang salah satu wilayah yang memiliki aset kebudayaan ini. Sepanjang garis pantai Banda Aceh, mulai Ujoeng Bate di timur sampai dengan Ujoeng Pancu di barat adalah salah satu kawasan peninggalan sejarah Aceh, mulai permukiman, kota dan pelabuhan kuno terhampar sepanjang garis pantai dan masih sangat banyak meninggalkan sisa-sisa kebudayaan. Kawasan itu ibarat lembaran-lembaran yang bersusun lapis memuat sejarah kehidupan di Aceh, mulai zaman yang sangat kuno sampai dengan permulaan abad ke-20 silam. Tidak saja sejarah raja-raja tapi juga sejarah sosial masyarakat yang hidup dalam zaman-zaman tersebut.

Lembaran-lembaran ini, demi Tuhan saya yakin, mempunyai nilai jual dan akan laris di pasar nasional maupun internasional. Dengan pemilihan trademark yang tepat, satu atau lebih, atau dapat diperbaharui dari waktu ke waktu, semisal Kota Maritim Asia Tenggara, Bandar Kebudayaan Asia Tenggara, Kota Sejuta Nisan, Tujuh Keajaiban Aceh atau lain-lainnya—mulai trademark bodoh sampai trademark cerdas, yang penting terjual—sungguh ini akan menuai hasil yang memuaskan. Dan mengenai hal ini tinggal dipulangkan saja kepada ahli pemasaran.

Selembar dari lembaran-lembaran tebal itu akan saya tunjukkan sebagai bukti dari apa yang saya katakan.

Bidun, sekarang disebut Bidoek, adalah sebuah kampung di pesisir Banda Aceh, tepi kanan Krueng Aceh. Dari mulut beberapa warga yang ditemui di sekitarannya, kampung itu dulunya disebut dengan Bidun. Ketika ditanya maksud bidun itu apa, seorang warga menjawab, lonte (perempuan jalang; wanita tunasusila; pelacur). Saat ditanya mengapa senista itu penyebutannya, dijawab karena dulu (zaman kolonial Belanda) pernah menjadi tempat lokalisasi wanita-wanita yang menjual kehormatan dirinya untuk cari uang.

Sebuah label buruk yang ditinggalkan oleh Belanda dan masih melekat dalam memori sebagian warga, dan ini jelas-jelas bukan aset kebudayaan Aceh yang dimaksudkan untuk dikelola meskipun saya tahu bahwa bagi kita yang hanya berfokus pada uang, ini termasuk suatu hal yang menarik untuk dikembangkan, namun dengan insting kemunafikan yang kita miliki, kita juga tahu bisnis seperti itu tidak akan berjalan lancar di Aceh jika kita tidak punya relasi yang kuat dengan para pembesar.

Aset kebudayaan Aceh yang sesungguhnya dimiliki oleh kawasan ini, mulai Bidoek sampai dengan Tibang, ialah permukiman kuno Bandar Aceh Darussalam yang nyata-nyata ramai dan padat. Dalam batas geografis Gampong Bidoek saja masih terdapat bekas-bekas peninggalan sejarah yang sangat menarik, dan jika dikelola dengan baik dan benar, kita bisa memperoleh uang yang kita cari.[]

*Telah sampai kabar bahwa lahan tambak di Gampong Bidoek, Banda Aceh, akan dibebaskan untuk pembangunan infrastruktur penunjang TPI Lampulo, maka mohon diperbanyak maaf, saya terpaksa menurunkan kegundahan ini.

 

Tulisan ini dikutip secara utuh dari akun Facebook Musafir Zaman | Foto: Musafir Zaman @Facebook

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

SULTHAN Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem menghentikan perlawanan terhadap Belanda setelah keluarganya ditawan pada pertengahan tahun 1903. Hal itu juga dilakukan oleh Teuku Chik Di Tunong dan Cut Nyak Meutia. Mereka turun dari tempat gerilya dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda pada 5 Oktober 1503.

Menurut catatan sejarawan Belanda, HC Zentgraaff, dalam masa tahun 1903 sampai 1905, Teuku Chik Di Tunong melakukan konsolidasi terhadap para pengikutnya Dia tetap merencanakan perlawanan kepada Belanda. Di awal tahun 1905, terjadi lagi suatu penyerangan yang amat dahsyat dan memilukan bagi Belanda. Pada 26 Januari 1905, sebuah pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh.

Vollaers sudah sangat berpengalaman dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah (surau) Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas, sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak. Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku.

Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak. Pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah pedagang makanan hilir mudik di meunasah tersebut dan menawarkan dagangannya kepada pasukan Belanda. Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong.

Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis: “Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.

Belanda kemudian menyelidiki kasus ini. Hasilnya diketahui bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong. Belanda kemudian menangkap Teuku Chik Di Tunong ketika menuju ke Lhokseumawe pada 5 Maret 1905. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan dijebloskan ke dalam penjara.

Hasil penyelidikan Belanda terhadap keterlibatan Teuku Chik Di Tunong dalam penyerangan tersebut kemudian terbukti. Pemerintah Belanda kemudian menjatuhkan hukuman gantung kepada Teuku Chik Di Tunong. Tapi karena sepanjang pemerintahan Belanda di Aceh belum pernah memberlakukan hukuman gantung, Gubernur Militer Van Daalen yang menggantikan Van Heutsz mengubahnya menjadi hukuman tembak mati. Perubahan hukuman ini sebagai penghargaan terhadap Teuku Chik Di Tunong selaku pejuang yang berhak mati secara terhormat.

Selain Zentgraaff, peristiwa itu juga ditulis H M Zainuddin dalam buku “Srikandi Aceh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, 1966. Dalam buku itu dia mengungkapkan, sebelum menjalani hukuman tersebut, Teuku Chik Di Tunong meminta kepada Belanda agar dapat bertemu untuk terakhir kalinya dengan istrinya, Cut Meutia, serta Teuku Raja Sabi, anaknya yang masih berusia lima tahun. Selain untuk melepas rindu dan salam perpisahan pada istri dan anaknya, pertemuan itu digunakan Teuku Chik Di Tunong untuk memberikan wasiat pada  Cut Meutia.

Ada tiga permintaan yang disampaikan Teuku Chik Di Tunong pada Cut  Meutia waktu itu, yaitu meminta Cut Meutia untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda, mendidik anaknya menjadi seorang pejuang yang akan meneruskan perjuangannya melawan Belanda, serta meminta Cut Meutia untuk bersedia menikah dengan Pang Nanggroe, panglima perang yang selama ini mendampinginya dalam berbagai peperangan melawan Belanda.[] (bna) 

Iskandar Norman adalah peminat sejarah dan jurnalis lokal di Aceh.

28 Ramadan, Wafatnya Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam Tun Besar Binti Meurah

28 Ramadan, Wafatnya Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam Tun Besar Binti Meurah

BANDA ACEH – Hari ini, empat ratus tujuh puluh sembilan tahun lalu, seorang bangsawan Kerajaan Aceh Darussalam menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 28 Ramadan 957 H lalu. Nama gelarnya adalah Tun Besar Binti Meurah Apang Sali. Dia kemudian dikuburkan di Gampong Blang Cut, Banda Aceh. Kini, masyarakat setempat menyebutkan kompleks makam tersebut dengan Jirat Manyang.

“Tun Besar jika diartikan secara harfiah adalah Bendahara Kerajaan. Jika merujuk pada namanya tertera “Binti” yang artinya dia adalah perempuan. Dia wafat dalam masa kepemimpinan Sultan Alauddin Inayat Syah bin Ali Mughayatsyah yang bergelar Sultan Al Kahar,” ujar Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi, kepada portalsatu.com, Rabu dinihari, 15 Juli 2015.

Mizuar mengatakan Tun Besar Binti Meurah Apang Sali juga hidup sezaman dengan Perdana Menteri Al Wazir Sri Udahna. “Di nisannya tertulis beliau wafat dengan meninggalkan bandar-bandar makmur,” kata Mizuar.

Pada masa Tun Besar ini pula Kerajaan Aceh Darussalam mengikat kerjasama dengan Kekhalifahan Turki Utsmani. Menurutnya pada masa tersebut Kerajaan Aceh Darussalam telah mencapai puncak kejayaannya dan memiliki hubungan diplomasi dengan negara-negara luar.

“Jadi bukan masa Iskandar Muda. Aceh sudah berjaya sejak sebelum itu yaitu pada abad 16,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekjend Mapesa ini.

Meskipun begitu, Mizuar mengatakan, pihaknya tidak membuat kegiatan apa-apa memperingati momentum wafatnya bendahara kerajaan tersebut. “Kita tidak membuat kegiatan apa-apa,” ujarnya.[]

Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) kembali meuseuraya (gotong royong) di kompleks makam bersejarah “Jirat Cot Ulee Abu” Gampong Indrapuri, Aceh Besar, Minggu, 7 Juni 2015. Meuseuraya kali ini turut dihadiri warga setempat dan anak-anak yatim dari Asrama Kinder Hut Indrapuri.

Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program rutin Mapesa dalam menyosialisasikan dan menyelamatkan bukti-bukti peradaban Islam di Aceh. Menurutnya, Mapesa untuk saat ini hanya fokus di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Saat ini karena berbagai keterbatasan yang kita miliki, Mapesa belum bisa bergerak di setiap kabupaten/kota di Aceh. Dalam hal ini, kami hanya bisa berharap masyarakat khususnya generasi muda agar ikut berperan dalam melestarikan peninggalan sejarah Aceh yang ada di setiap kabupaten/kotanya masing-masing,” ujar Mizuar.

Mizuar sangat menyayangkan sikap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota di Aceh, yang kurang peduli terhadap peninggalan sejarah. Padahal menurutnya bukti sejarah itu adalah jejak Aceh di masa lampau yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Penyebaran peninggalan sejarah yang ada di setiap kabupaten/kota itu adalah bukti bahwa Aceh sudah ada ratusan tahun silam. Ini adalah identitas bagi Aceh. Ini adalah aset untuk pembangunan Aceh ke depan. Peninggalan sejarah akan menjadi sumber PAD (pendapatan asli derah) bagi Aceh, jika dikelola dengan baik oleh pemerintah hari ini,” ujar Mizuar.

Salah satu tokoh masyarakat yang turut hadir dalam meuseuraya tersebut, Muhammad Juned (80), mengatakan kompleks makam yang sering disebut “Jirat Cot Ulee Abu” oleh warga setempat, dulunya sering diziarahi untuk peulheuh kaoy (menunaikan nazar).

“Tahun 2007 jirat ini pernah didatangi dan dibersihkan oleh para peneliti dari Malaysia. Melihat kondisi makam yang terbengkalai membuat mereka bersedih hati, bahkan ada yang meneteskan air mata,” ujar Juned.

Selain itu, konselor asrama yatim Kinder Hut, Cut Farhani Rizki, mengatakan kegiatan tersebut bisa menambah wawasan bagi anak-anak asuhnya terhadap sejarah Aceh. Menurutnya, hal tersebut belum tentu bisa mereka dapatkan dari pelajaran sejarah yang diajarkan dalam kurikulum di sekolah.

“Ini adalah kegiatan yang sangat baik. Banyak hal positif yang bisa anak-anak dapatkan. Dengan melihat langsung bukti sejarah Aceh yang merupakan bukti peradaban sejarah Islam, semoga menambah semangat anak-anak dalam melaksanakan amalan ibadah dalam kesehariannya,” ujar Farhani.[](bna)

Laporan: Muhajir Marzuki, siswa Sekolah Sastra Hamzah Fansuri.

Cisah dan Siswa Lhokseumawe Meuseuraya di Kompleks Raja Pasai

Cisah dan Siswa Lhokseumawe Meuseuraya di Kompleks Raja Pasai

LHOKSUKON – Anggota Tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) memprakarsai kegiatan meuseuraya (Gotong Royong) untuk membersihkan kompleks makam bersejarah tinggalan Kerajaan Islam Samudra Pasai di Gampong Serbajaman B, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015.

Kegiatan meuseuraya dilakukan bersama 15 anggota CISAH dan disertai 20 siswa siswi yang berasal dari Grup Pecinta Sejarah SMAN 5 Kota Lhokseumawe. Kompleks ini telah didata oleh CISAH bersama tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh Sumut pada 2014 lalu.

Ketua Rombongan dari Grup Pecinta Sejarah SMAN 5 Lhokseumawe, Muhammad Rifai Febri, mengatakan kegiatan serupa sudah pernah dilakukan bersama tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di kompleks makam Kesultanan Aceh Darussalam di Banda Aceh.

“Ini kali ketiga kita melakukan gotong royong membersihkan makam dan mencari jejak sejarah Aceh. Sebelumnya kami telah melakukan kegiatan meuseuraya di kompleks pemakaman inti tinggalan Samudra Pasai di Kutakrueng Samudera dan satu kali lagi di Banda Aceh, tepatnya di kompleks makam Teungku Bak Leumbee dan melakukan tinjauan ke kompleks makam Kandang XII,” ujarnya seperti rilis yang dikirimkan Cisah kepada portalsatu.com, Senin, 11 Mei 2015.

Menurut Febri selama ini pihaknya berangkat menggunakan dana sekolah (OSIS). Sementara dana yang kurang dikutip dari siswa yang ingin ikut berpartisipasi. “Siswa siswi yang ikut begitu senang, dan berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan,” katanya.

Siswa yang aktif  melakukan kegiatan sosial ini juga mengatakan bahwa situs-situs di Aceh kondisinya amat memprihatinkan.

“Kita sangat menyayangkan orang-orang tua kita yang kurang peduli. Kita telah mencoba untuk belajar banyak dari sejarah, tapi jika peran dari orang tua kami, juga pemerintah tidak ada, jangan salahkan generasi nantinya apabila mereka buta sejarah,” ujarnya.

Sementara itu, Ramlan Yusuf, Asisten Peneliti dari CISAH mengatakan tokoh-tokoh yang kini jasadnya dikubur di Kompleks Raja Pasai ini diperkirakan hidup pada masa Sultanah Nahrasyiah memerintah. Hal ini dilihat dari jenis ornamen pada makamnya.

“Pada kompleks sebelahnya, sudah diketahui satu nama tokoh pemilik makam, yakni Syaikh Ali bin Saman. Tapi disayangkan karena tidak terdapat tarikh wafat pada prasasti tersebut,” ujar Ramlan.[](bna)

Laporan: Mawardi Ismail

DPR Aceh: Para Pihak Harus Mendorong Kurikulum Sekolah Berisi Sejarah Aceh

DPR Aceh: Para Pihak Harus Mendorong Kurikulum Sekolah Berisi Sejarah Aceh

BANDA ACEH – Anggota Komisi VII Bidang Agama dan Budaya DPR Aceh, Nurzahri, meminta para pihak untuk mendorong penyelamatan sejarah Aceh. Salah satunya menciptakan kurikulum muatan lokal yang berisi sejarah Aceh.

Hal ini disampaikan Nurzahri dalam Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) yang dilaksanakan oleh portalsatu.com di kantor redaksi hari ini, Jumat, 8 Mei 2015.

“Jangan sampai buku sejarah di sekolah dominan dari Jakarta. Sejarah lokal juga harus sebanding. Artinya ini pekerjaan bersama yang melibatkan banyak pihak,” kata Nurzahri.

Selain itu, Nurzahri juga mengaku sangat menghargai kemauan keras para pemerhati sejarah dan situs di Aceh.

“Tapi ini butuh kerja keras menyadarkan semua pihak. Lihat saja mana ada caleg yang kampanye isyu sejarah atau bupati, wali kota dan gubernur, bahkan kampanye presiden sekalipun. Ini kendala yang harus diterobos,” katanya.

Demikian juga soal anggaran atau qanun. Kata Nurzahri, anggaran yang terbatas sehingga kemudian kasus ini kalah secara prioritas dalam ukuran kebutuhan.

“Jadi butuh kerja bersama agar penyelematan sejarah menjadi kesadaran kolektif. Sehingga status kegiatan ini menjadi prioritas. Sehingga bisa ada anggaran penelitian atau anggaran kegiatan yang sifat mendorong pada penyelamatan sejarah,” katanya. [] (mal)