Tag: rohingya

Warga Myanmar di Lhoksukon Jadi Objek Selfie Anak Sekolahan

Warga Myanmar di Lhoksukon Jadi Objek Selfie Anak Sekolahan

LHOKSUKON – Siswa usia sekolahan tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Aceh Utara mendatangi tempat penampungan sementara warga Myanmar di GOR Lhoksukon, Senin, 11 Mei 2015.

Amatan portalsatu.com di lokasi, para siswa tingkat SMA yang didominasi perempuan itu mengajak warga Myanmar untuk foto bersama atau lebih trend dengan istilah selfie bareng. Terlihat juga sejumlah siswa mencoba mengajak warga asing itu untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.

Bukan hanya para siswa, para pekerja kantor yang memakai seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga terlihat memadati lokasi. Para PNS itu datang dengan membawa makanan ringan (jajanan) yang langsung diserbu oleh anak-anak.

Di lain pihak, warga asing pendatang gelap itu juga memohon kepada masyarakat yang datang untuk meminjamkan handphone, sebagai alat komunikasi dengan sanak saudaranya di Myanmar, Burma atau Bangladesh.

Sejumlah warga Myanmar laki-laki terlihat sibuk mencukur jenggot dan kumisnya dengan alat cukur yang diberikan oleh masyarakat. Beberapa balita terlihat bermain riang di dalam GOR dengan memanfaatkan kardus bekas.

Ruangan dalam GOR terlihat kotor dengan sampah sisa makanan dan air mineral yang berserakan. Meski sudah beberapa kali disapu oleh beberapa warga Myanmar, sampah-sampah itu kembali ada dan terus berserakan.

Lantai GOR dibentang karpet biru berukuran besar oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh Utara sebagai alas untuk tidur atau pun beristirahat warga Myanmar.

Saat ini mereka mengeluhkan perihal kapasitas sarana MCK dan air bersih yang tidak mencukupi, mengingat jumlah mereka sangat ramai.[](bna)

Kisah Razu; Siapa yang Membantah Digorok dan Dibuang ke Laut

Kisah Razu; Siapa yang Membantah Digorok dan Dibuang ke Laut

RATUSAN orang berdesakan di Meunasah Sagoe, Kecamatan Seunuddon Baro, Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015. Di sinilah tempat penampungan sementara untuk ratusan warga Rohingya yang mendarat usai terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya diangkut ke Markas Polres Aceh Utara. Wajah mereka terlihat letih, baju yang dikenakan kumel dan beberapa diantaranya merintih kelaparan. Satu diantara mereka adalah Razu, 27 tahun, yang mampu berdialog dalam bahasa Melayu.

Razu yang berkulit gelap dan ceking itu kemudian bercerita tentang kisah mereka hingga terdampar di pantai Samudera Pasai. Awalnya perahu milik Thailand yang ditumpangi imigran ini kehabisan bahan bakar. Mereka akhirnya terombang ambing di laut lepas.

Menurut Razu, ratusan manusia perahu tersebut berasal dari Myanmar dan Bangladesh. Mereka adalah Muslim yang berangkat menuju Malaysia sejak tiga bulan lalu. Tujuh hari terakhir, perbekalan mereka habis. Mereka pun terpaksa menahan lapar dan hanya minum air laut.

Razu bersama teman-temannya berangkat ke Malaysia dengan menyewa boat tongkang dan ditemani agen dari Thailand serta Burma. Sejak awal mereka telah membayar biaya perjalanan ini kepada para agen dengan nilai 7.000 ringgit per jiwa.

“Namun di perbatasan Malaysia kami ditinggalkan oleh mereka. Kami ternyata ditipu oleh agen ilegal tersebut,” katanya.

Razu terpaksa meninggalkan negaranya lantaran tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintahan rezim Myanmar. Pemerintah Myanmar tidak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya karena menganggap masyarakat Muslim ini bukan kelompok etnis yang sudah ada di Myanmar, sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu ditegaskan kembali oleh Thein Sein, Presiden Myanmar  dalam laporan Al Jazeera pada 29 Juli 2012, bahwa negaranya tidak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap dan pelintas batas dari Bangladesh itu. Mereka menyebutnya orang “Bengali.”

Dalam catatan PBB, Rohingya hanya disebut sebagai penduduk Muslim yang tinggal di Arakan atau Rakhine, Myanmar. Dari sudut kebahasaan, bahasa yang diklaim sebagai bahasa Rohingya sebenarnya termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, khususnya kerabat bahasa Indo-Arya.

Parahnya lagi Muslim Rohingya di Arakan turut mengalami berbagai macam kejahatan dari kelompok Buddhis Rakhine dan aparatnya yang sudah termasuk dalam pembersihan etnis. Di negara ini, desa-desa Muslim dibakar, masyarakat Muslim dibantai, para wanita Muslim diperkosa, harta mereka dijarah, dan yang selamat terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga. Hingga saat ini, penderitaan Muslim di sana belum juga berakhir, termasuk Razu dan ratusan kerabatnya yang terdampar di Aceh Utara ini.

“Oleh agen tersebut kami tak dikasih cakap, tak dikasih makan serta minum. Siapa yang membantah langsung dipukul dan tak tanggung-tanggung digorok dibuang ke laut,” ujar Razu menceritakan pengalamannya di lautan lepas.

Ia mengatakan semula mereka berangkat menggunakan dua perahu. Namun di tengah lautan lepas, mereka disatukan dalam perahu yang sama lantaran delapan puluh lebih saudaranya tewas oleh tindakan agen. Mayat mereka dibuang ke lautan lepas.

“Ayah, ibu serta kakek saya tewas dibunuh tentara di negara sana,” kata Razu sembari meneteskan air mata. “Burma tak menginginkan kami. Jika kami masuk lagi ke sana, pasti hidup pun sampai segitu saja,” katanya lagi.

Ia mengatakan warga Rohingya di negaranya mendapat diskriminasi termasuk dalam urusan pernikahan. Menurut Razu, warga Muslim yang ingin menikah harus berusia 30 tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kelompok agama mayoritas di sana. “Umur 12 tahun pun bagi wanita dipersilahkan untuk menikah. Ini yang menjadi kami tidak tahan di sana,” kata Razu.

Ia mengatakan hendak ke Malaysia untuk mencari rezeki dan menyambung hidup.

“Saya ingin menetap di Malaysia atau di Indonesia. Di negara tersebut lebih aman, dan bisa mencari rezeki,” kata Razu.

Razu terlihat lelah. Dia belum makan sejak tiba di Meunasah Sagoe. Kondisinya memprihatinkan dan harus mendapat perawatan medis dengan segera. Pakaian-pakaian mereka yang kumal diganti oleh baju baru sumbangan warga setempat.

Sebelum menutup pembicaraan, Razu bertekad untuk bertahan di Indonesia atau Malaysia. Ia juga lebih memilih mati di dua negara ini daripada harus kembali ke tempat asalnya.

Warga setempat terus berdatangan melihat Razu dan kawan-kawan. Mereka memberikan roti, kue basah, kopi, rokok dan makanan lainnya kepada ‘manusia perahu’. Ratusan Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh ini kemudian mendapat perintah untuk bersiap-siap berangkat menuju Mapolres Aceh Utara. Sementara siang semakin terik merambat pelan menjelajahi Bumi.[](bna)

Laporan : Datuk Haris Molana

Capture: Razu berada di tengah dengan baju kemeja merah diapit oleh dua temannya.

Lagi, Kuburan Massal Imigran Rohingya Ditemukan di Hutan Thailand

Lagi, Kuburan Massal Imigran Rohingya Ditemukan di Hutan Thailand

BANGKOK – Aparat kepolisian yang tengah menyelidiki kasus penyelundupan manusia di wilayah selatan Thailand menemukan lima kuburan massal baru di kamp kedua yang juga diduga berisi jasad para imigran dari Myanmar dan Banglades. Demikian keterangan kepolisian Thailand, Selasa (5/5/2015).

Kamp yang baru ditemukan ini berjarak hanya satu kilometer dari kamp serupa yang ditemukan di lereng sebuah bukit di dalam hutan tak jauh dari perbatasan dengan Malaysia. Di tempat itu, polisi pada akhir pekan lalu menemukan 26 jasad yang dimasukkan ke dalam satu lubang kuburan yang dangkal.

“Kami menemukan kamp kedua kemarin (Senin) malam. Kami juga menemukan lima kuburan namun belum bisa memastikan apakah ada jasad di dalam kelima kuburan itu. Kami kini sedang mencari tahu,” jata juru bicara kepolisian Thailand, Prawut Thavornsiri.

Sejumlah kelompok pegiat HAM telah lama menuding pemerintah Thailand menutup mata, dan tak jarang terlibat, dalam praktik penyelundupan manusia.

Akibat tuduhan itu, pemerintah junta militer Thailand melakukan sejumlah operasi untuk memberantas penyelundupan manusia dalam beberapa bulan terakhir dan menangkap sejumlah pejabat yang terlibat dalam praktik ini.

Namun, penemuan puluhan jasad imigran ini memberikan gambaran nyata besarnya bahaya yang dihadapi para imigran yang mencoba meninggalkan penindasan atau kemiskinan di negeri asalnya.

Setiap tahun puluhan ribu orang Muslim Rohingya dari Myanmar dan Banglades melakukan perjalanan berbahaya lewat laut menuju ke Thailand selatan, sebuah wilayah yang dikenal sebagai jalur penyelundupan manusia.

Dari Thailand selatan, para imigran gelap Rohingya itu biasanya kemudian dibawa para penyelundup manusia masuk ke wilayah Malaysia dan beberapa lainnya diarahkan ke Australia. | sumber : kompas

Foto: Aparat keamanan dan tim penyelamat Thailand saat memeriksa salah satu lokasi kuburan massal yang diduga berisi jasad para imigran Rohingya dan Banglades di sebuah hutan di dekat perbatasan dengan Malaysia @STR / AFP via Kompas