Tag: rohingya

Puluhan Warga Rohingya Kabur dari Tempat Penampungan di Aceh

Puluhan Warga Rohingya Kabur dari Tempat Penampungan di Aceh

Sebanyak 80 orang Rohingya telah melarikan diri dari penampungan sementara di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, dalam kurun lima bulan sejak mereka pertama kali ditempatkan di lokasi tersebut.

Hal itu terungkap setelah Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan (Wasdakin) Imigrasi Lhokseumawe, Albert Djalius, menghitung ulang jumlah warga Rohingya di Blang Ado bersama pemerintah kabupaten Aceh Utara, polisi, badan PBB untuk pengungsi (UNHCR), serta Badan Internasional untuk Migrasi (IOM).

 

Menurut Albert, jumlah warga Rohingya ketika mereka pertama kali menghuni penampungan sementara Blang Ado pada Mei lalu mencapai 316 jiwa. Namun, pada 7 Oktober, jumlah warga Rohingya tinggal 236 jiwa.

Pihak UNHCR mengatakan sejumlah warga Rohingya yang ditampung di Blang Ado telah melarikan diri ke Malaysia.

“Kami tahu beberapa di antara mereka telah tiba di Malaysia. Kami telah menghubungi kantor kami di Malaysia dan mencocokkan catatan. Namun, kami tidak tahu ke mana sebagian besar lainnya,” kata Jeffrey Savage, pejabat senior perlindungan UNHCR.

Savage menambahkan, pihaknya tidak bisa menghambat pergerakan warga Rohingya karena hal itu merupakan wewenang pemerintah Indonesia.

Soal upaya pencegahan kaburnya puluhan warga Rohingya, Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Tri Harsono mengatakan polisi tidak bisa mengambil tindakan tegas karena warga Rohingya bukan tahanan.

Jenuh

Salah seorang warga Rohingya mengaku jenuh lantaran tidak diperbolehkan ke luar lokasi penampungan.

“Di Myanmar, kami tidak bisa ke luar kawasan karena kami muslim. Di sini, kami tidak boleh ke luar sedikit pun. Kalau kami bisa jalan-jalan kan senang hati. Kami sudah minta kepada UNHCR untuk membawa kami ke luar sebentar dengan satu atau dua bus berisi 30 orang,” kata Hussin, seorang warga Rohingya dalam bahasa Melayu kepada wartawan di Aceh, Syaiful MD.

Pada Mei lalu, ratusan warga Rohingya tiba di pesisir Aceh menggunakan kapal kayu. Pemerintah Indonesia dan Malaysia lalu sepakat menampung para pengungsi dan pendatang yang terapung-apung di laut dengan syarat mereka ditempatkan di negara ketiga atau dipulangkan dalam waktu satu tahun.

Sebulan kemudian, Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa sekitar 964 pengungsi Rohingya asal Myanmar akan ditempatkan di lokasi penampungan sementara di Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Utara sampai satu tahun ke depan.[] Sumber: bbcindonesia.com

Foto: Warga Rohingya ditempatkan di lokasi penampungan sementara Blang Ado, Kabupaten Aceh Utara.@bbc

UNHCR: Belum Ada Negara Khusus Tampung Rohingya

UNHCR: Belum Ada Negara Khusus Tampung Rohingya

LHOKSEUMAWE – Senior Protection Officer United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Jeffrey Savege, mengatakan hingga kini pihaknya terus berupaya mencari negara ketiga untuk para pengungsi Rohingya yang masih berada di Aceh.

“Saat ini belum ada negara khusus yang kita jajaki terkait resettlement baru kepada pengungsi Rohingya. Kita tetap akan terus mengupayakan hal ini secepat mungkin mengingat Pemerintah Indonesia telah memberikan kebijakan bahwa pengungsi tersebut hanya bisa tinggal di sini selama satu tahun,” kata Jeffrey Savage kepada wartawan di Shelter Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Rabu, 7 Oktober 2015.

Dia mengatakan sebelumnya sudah banyak negara-negara yang sempat mereka kunjungi untuk membahas masalah tersebut, Namun pihak ketiga   melihat masalah ini sangat komplet.

“Untuk itu, terkait penempatan pengungsi Rohingya tidak bisa kita ambil keputusan sekarang kemana mereka akan tinggal. Kita tetap akan melindungi mereka hingga mendapatkan negara ketiga, sebab setiap individu harus kita perlakukan dengan adil, dan pastinya perlakuan sebaik mungkin akan diberikan kepada seluruh pengungsi Rohingya di Aceh,” kata Jeffrey.[](bna)

Asdep Kemenko Polhukam: Kita tidak bisa Larang Rohingya Bepergian

Asdep Kemenko Polhukam: Kita tidak bisa Larang Rohingya Bepergian

LHOKSEUMAWE – Asisten Deputi II/V Kamnas Menko Polhukam, Chairul Anwar, mengatakan pihaknya tidak bisa melarang pengungsi Rohingya jika ingin pergi ke negara lainnya. Hal ini disampaikan oleh Chairul Anwar saat mengunjungi shelter Blang Adoe di Aceh Utara, Rabu, 7 Oktober 2015.

“Setelah kita rapat koordinasi dengan IOM, UNHCR, Dirjen Imigrasi, beserta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyimpulkan, kita tidak bisa menahan dan menghalangi mereka untuk mencari negara ketiga,” ujarnya.

Hadir bersama rombongan Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian Dirjen Imigrasi Yurod Saleh, perwakilan Kemenlu RI, Chief of Mission IOM Mark Getchell, dan Senior Protecction Officer UNHCR Jeffrey Savage. Rombongan turut didampingi oleh Sekda Aceh Utara Isa Ansari dan Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono.

“Kita telah melayani mereka dengan semaksimal mungkin, apabila nanti ada yang ketahuan (kabur) maka akan berusaha mengembalikan mereka ke penampungan yang telah disiapkan,” kata Chairul.[](bna)

Asdep Kemenko Polhukam Minta Penanganan Rohingya Lebih Bersinergi

Asdep Kemenko Polhukam Minta Penanganan Rohingya Lebih Bersinergi

LHOKSEUMAWE – Asisten Deputi II/V Keamanan Nasional Kementerian Koordinator Politik Hukum dan HAM (Kemenko Polhukam), Chairul Anwar, meminta kepada seluruh elemen di Aceh Utara untuk bisa bersinergi menangani pengungsi Rohingya di Desa Blang Adoe, Rabu, 7 Oktober 2015.

Hal tersebut disampaikan Chairul saat berkunjung ke shelter Blang Adoe bersama Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian Dirjen Imigrasi Yurod Saleh, perwakilan Kemenlu RI, Chief of Mission IOM Mark Getchell, dan Senior Protection Officer UNHCR Jeffrey Savage. Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Sekda Aceh Utara Isa Ansari dan Kapolrres Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono.

Sebelum mengunjungi shelter Blang Adoe, Chairul Anwar beserta rombongan terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Aceh Utara, IOM, UNHCR dan NGO lainnya di Pendopo Bupati Aceh Utara. Berdasarkan hasil rapat tersebut, Chairul mengatakan Kemenko Polhukam beserta seluruh elemen yang ada di Aceh Utara akan terus melakukan yang terbaik untuk pengungsi Rohingya.

“Kita telah evaluasi, ke depan seluruh elemen baik Pemerintah Aceh Utara dan NGO yang ada terus berbenah semaksimal mungkin,” katanya.

Dia mengatakan para migran Rohingya akan diberdayakan nantinya sesuai dengan kearifan lokal yang ada.

“Ini semua bertujuann agar ratusan pengungsi tersebut tetap betah di shelter hingga pemerintah Indonesia mendapatkan solusi terkait resetlement negara ketiga bagi mereka,” kata Chairul.

Chairul juga mengatakan untuk kondisi shelter yang selama ini digunakan menampung migran sudah sangat layak jika dibandingkan dengan tempat lainnya. “Namun tidak menutup kemungkinan akan kita sempurnakan lagi ke depannya,” katanya.[](bna)

Kemenko Polhukam Bahas Rohingya di Pendopo Aceh Utara

Kemenko Polhukam Bahas Rohingya di Pendopo Aceh Utara

LHOKSEUMAWE- Sejumlah pejabat dari Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM Republik Indonesia dilaporkan lakukan kunjungan ke Aceh Utara, Rabu, 07 Oktober 2015.

Informasi yang diterima Portalsatu.com dari Kabag Humas Setdakab Aceh Utara, Amir Hamzah, kunjungan mereka untuk melakukan rapat koordinasi penanganan pengungsi Rohingya di pendopo Bupati Aceh Utara.

Turut hadir dalam rapat tersebut  Asisten Deputi  Kemenko Polhukam Brigen Pol Chairul Anwar,  Brigjen Pol Yurod beserta Asisten, perwakilan dari Kemterian Luar Negeri,  Chief Mission  IOM Indonesia, Kepala Representatif UNHCR serta  staf Desk P2MP2S.

Hingga berita ini diturunkan, amatan Portalsatu.com di terlihat rapat koordinasi tersebut berlangsung tertutup. Dari informasi yang didapatkan, rombongan juga akan mengunjungi Shelter Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. [] (mal)

Foto: Ilustrasi Rohingya.@ Datok

Kapolres: Hasil Visum, 4 Wanita Rohingya Tidak Terbukti Diperkosa

Kapolres: Hasil Visum, 4 Wanita Rohingya Tidak Terbukti Diperkosa

LHOKSEUMAWE – Kepala Kepolisian Resort Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono mengatakan, berdasarkan hasil visum, empat wanita etnis Rohingya tidak terbukti mengalami pemerkosaan atau pelecehan seksual.

“Kesimpulan dari visum tersebut, tidak ada indikasi pemerkosaan ataupun pelecehan seksual. Jadi ini juga sesuai dengan keterangan saksi-saksi, baik petugas maupun warga yang mengetahui sekelompok warga Rohingya yang kabur dari shelter tersebut beberapa hari lalu,” ujar Kapolres Anang kepada portalsatu.com, Jumat, 2 Oktober 2015, setelah menerima hasil visum dari Rumah Sakit Umum Cut Meutia, Lhokseumawe.

Kapolres Anang menjelaskan, muncul informasi empat wanita Rohingya diperkosa atau mengalami pelecehan seksual, setelah sekitar 10 warga asal Myanmar itu kabur dari shelter di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Minggu malam lalu. Dari 10 warga Rohingya itu, empat wanita, dua laki-laki dan sisanya anak-anak.

Menurut Anang, mereka lari ke kawasan hutan tidak jauh dari shelter. Kata dia, warga yang melihat kejadian itu kemudian mengamankan warga Rohingya dan dikembalikan ke shelter. Setelah diamankan itulah, kata Anang, muncul informasi empat wanita Rohingya diperkosa dan mengalami pelecehan seksual.

“Waktu masyarakat mengamankan, di sana berkembang isu bahwa telah terjadi tindak pidana pelecehan seksual ataupun pemerkosaan. Kemudian mereka melaporkan ke warga Rohingya lainnya, sehingga besoknya terjadi eksodus besar-besaran, sekitar 100-an lebih warga Rohingya tersebut, mau ke luar dari shelter,” ujar Anang.

Anang menyebut sekitar 500 meter pengungsi Rohingya kabur ke arah timur shelter, kemudian polisi bersama pihak Pemkab Aceh Utara membawa kembali mereka ke shelter.[]

Foto: Suasana saat pengungsi Rohingya dikembalikan ke shelter setelah mencoba kabur, belum lama ini. @Dok.portalsatu.com

Sekjen PBB Kritik Keadaan Muslim di Myanmar

Sekjen PBB Kritik Keadaan Muslim di Myanmar

Jakarta -Sekjen PBB, Ban Ki-moon, mengatakan dirinya terkejut oleh kondisi yang dialami minoritas Muslim di Myanmar yang mayoritasnya penduduknya beragama Buddha.

Dalam pidato di New York yang juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Myanmar, U Wunna Maung Lwin, sekjen PBB tersebut mengkritik pemerintah negara itu karena turut berperan menyulut sentimen anti-Muslim.

“Di Rakhine, saya terkejut oleh kondisi kemanusiaan yang dialami komunitas Rohingya dan Kaman,” kata Ban Ki-moon di New York, pada Selasa (29/09).

“Saya kecewa pihak berwenang sejauh ini belum mempunyai kemauan politik untuk mengambil tindakan tegas mengenai masalah kewarganegaraan,” katanya.

“Sangat mengganggu menyaksikan peningkatan sentimen patriotisme berlebihan di kalangan masyarakat mayoritas dan sentimen anti-Muslim yang vokal di Myanmar dan juga sikap bermusuhan terhadap organisasi-organisasi internasional, termasuk PBB.”

Kekerasan komunal meningkat di Myanmar selama beberapa tahun terakhir, dan banyak warga dari etnik Rohingya yang beragama Islam sekarang tinggal di kamp-kamp penampungan.

Sebagian lainnya melarikan diri ke luar negeri, termasuk Indonesia dan Malaysia. | sumber: detik.com

Kata KNSR Aceh Terkait Pemkab Aceh Utara Ambil Alih Shelter Rohingya

Kata KNSR Aceh Terkait Pemkab Aceh Utara Ambil Alih Shelter Rohingya

LHOKSUKON – Ketua Komite Nasional Solidaritas Rohingya (KNSR) Aceh, Mustafa Tiba menilai kebijakan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengambil alih shelter pengungsi Rohingya di Blang Adoe, Kuta Makmur, sudah tepat.

Mustafa Tiba dihubungi portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015 mengatakan, ketika seluruh pengungsi Rohingya pindah dari gedung BLK yang tidak jauh dari shelter tersebut, secara otomatis semua yang bertanggung jawab atas Rohingya harus ikut pindah.

Akan tetapi, menurut Mustafa, ketika pengungsi Rohingya pindah ke shelter hanya Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang ikut pindah. Sedangkan pihak lainnya, kata dia, pergi dan meninggalkan ACT sendiri.

“Sekarang begitu ada permaslahan maka ACT yang disalahkan. Dibilanglah ACT tidak kooperatif dan tidak membolehkan untuk organisasi lainnya. Itu sangat kita sayangkan,” ujar Mustafa.

Menurut Musfata, setelah adanya surat keputusan (SK) baru dari Bupati Aceh Utara, kini pihak terkait mempunyai Tupoksi masing-masing dalam menangani pengungsi Rohingya.

“Jadi, ke depan menurut hasil musyarawah bersama, di shelter akan ada posko bersama dengan tugas yang telah ditentukan. Nantinya juga tidak ada lagi perbedaan, tidak ada lagi saling menyalahkan, sehingga penangan Rohingya akan lebih baik lagi,” kata Mustafa.

Diberitakan sebelumnya, Pemkab Aceh Utara mengambil alih pengelolaan shelter (tempat hunian sementara) pengungsi Rohingya di Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Rabu, 30 September 2015. Pasalnya, kata Sekda Aceh Utara Isa Ansari, pengelolaan selama ini dinilai salah kaprah.

“Karena ada permasalahan yang sudah berlarut-larut yang mungkin sudah jadi kendala. Permasalahan itu berlanjut sampai dengan cerita kemarin (pengungsi Rohingya mencoba kabur dari shelter), karena kekurangan keamanan,” ujar Isa Ansari ditemui portalsatu.com di gedung DPRK Aceh Utara, Rabu siang. (Baca: Pemkab Aceh Utara Ambil Alih Shelter Rohingya).

Secara terpisah, Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Aceh Utara Amir Hamzah mengatakan sesuai SK Bupati, tim tersebut adalah “Tim Penanganan Pencari Suaka yang Ditempatkan pada Shelter Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara”.

Menurut Amir Hamzah, tim itu diketuai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara. Sedangkan Wakil Ketua: ACT, Imigrasi, UNHCR, dan IOM. Sekretaris: Kepala Dinas Sosial Aceh Utara, Wakil Sekretaris: Kepala Bagian (Kabag) Organisasi dan Kabag Hukum Setda Aceh Utara. “Dan dibantu para anggota,” tulis Amir melalui layanan pesan singkat (SMS). (Baca: Ini Struktur Tim Baru Penanganan Rohingya di Aceh Utara).[] (idg)

Foto: Shelter pengungsi Rohingya di Aceh Utara

Polres Lhokseumawe Masih Selidiki Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Rohingya

Polres Lhokseumawe Masih Selidiki Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Rohingya

LHOKSUKON – Kepala Kepolisian Resort Kota Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono, melalui Kapolsek Kuta Makmur, Iptu Sarimin, mengatakan hingga kini kasus terkait dugaan pelecehan seksual yang dialami empat wanita Rohingya masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi. Polisi juga telah membawa ke empat wanita tersebut ke Rumah Sakit Cut Meutia, Lhokseumawe, untuk menjalani visum.

“Awalnya kemarin hanya satu yang bisa dibawa ke RS Cut Mutia. Tiga lainnya siang tadi baru bisa kita bawa. Itupun hasil bujukan kita agar mereka mau menjalani proses visum untuk membuktikan dugaan tersebut,” ujar Iptu Sarimin Rabu, 30 September 2015, sekitar pukul 20.00 WIB kepada portalsatu.com.

Dia mengatakan untuk bukti-bukti lainnya polisi juga sudah memeriksa beberapa saksi. Namun, untuk sementara waktu pihaknya belum berhasil menemukan bukti yang mengarah kepada perlakuan pelecehan seksual kepada para pengungsi wanita Rohingya.

Hasil penyelidikan sementara diketahui sejumlah Rohingya kabur meninggalkan shelter Blang Adoe pada Senin, 28 September 2015 sekitar pukul 03.00 WIB. Aksi mereka diketahui oleh seorang pria warga setempat yang sedang melihat kebunnya di kawasan Kuta Makmur, dekat jalan line pipa.

Pria tersebut kemudian menggiring para pengungsi itu ke jalan dan menghubungi petugas jaga malam. Para pengungsi kemudian dijemput dengan mobil untuk dibawa kembali ke barak penampungan di Blang Adoe.

“Saat tiba di penampungan tiba-tiba sejumlah pengungsi Rohingya menyebutkan ada yang memperkosa pengungsi yang kabur tersebut, lalu mereka melaporkan kepada pihak penggelola shleter. Dengan raut kekesalan, puncaknya malam itu mereka menggembok pintu pagar dan mencoba mengusir petugas yang sedang berjaga pada saat itu,” kata Iptu Sarimin.

“Agar kita tidak menduga-duga, sebaiknya kita menunggu hasil visum yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Cut Mutia, Lhokseumawe, terkait adanya dugaan pelecehan seksual tersebut,” kata Iptu Sarimin.[] (bna)

Ini Struktur Tim Baru Penanganan Rohingya di Aceh Utara

Ini Struktur Tim Baru Penanganan Rohingya di Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib telah mengeluarkan keputusan tentang penanganan pengungsi Rohingya yang ditempatkan pada shelter Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur.

Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Aceh Utara Amir Hamzah kepada portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015, mengatakan, sesuai surat keputusan (SK) Bupati, tim tersebut adalah “Tim Penanganan Pencari Suaka yang Ditempatkan pada Shelter Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara”.

Menurut Amir Hamzah, tim itu diketuai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara. Sedangkan Wakil Ketua: ACT, Imigrasi, UNHCR, dan IOM. Sekretaris: Kepala Dinas Sosial Aceh Utara, Wakil Sekretaris: Kepala Bagian (Kabag) Organisasi dan Kabag Hukum Setda Aceh Utara. “Dan dibantu para anggota,” tulis Amir melalui layanan pesan singkat (SMS).

Diberitakan sebelumnya, Pemkab Aceh Utara mengambil alih pengelolaan shelter (tempat hunian sementara) pengungsi Rohingya di Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Rabu, 30 September 2015. Pasalnya, kata Sekda Aceh Utara Isa Ansari, pengelolaan selama ini dinilai salah kaprah. (Baca: Pemkab Aceh Utara Ambil Alih Shelter Rohingya).[] (idg)

Foto: Shelter pengungsi Rohingya di Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara