Tag: ramadhan

Taman Ramadan Meriahkan Suasana Lebaran di Air Sialang

Taman Ramadan Meriahkan Suasana Lebaran di Air Sialang

TAPAK TUAN – Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Air Sialang (HIPMAS) mengadakan perlombaan Taman Ramadan untuk memeriahkan momen lebaran 1436 Hijriyah. Kegiatan ini digelar pada Selasa, 21 Juli 2015 di Gampong Air Sialang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan.

Ketua HIPMAS, Yosa Afrizal, mengatakan kegiatan ini rutin dilakukan tiap tahunnya. Acara Taman Ramadan dilakukan pada hari kelima lebaran yang diwarnai dengan berbagai perlombaan. Para peserta kegiatan ini adalah anak-anak yang menjadi peserta Taman Ramadan yang dibuat selama bulan puasa. Untuk tahun ini tema yang diangkat adalah “Lebaran Senang, Taman Ramdhan Asyik”.

“Kegiatan ini merupakan sebuah bentuk pengabdian mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam HIPMAS kepada masyarakat Air Sialang. Salah satunya dengan mengadakan kegiatan perlombaan Taman Ramadan,” kata Yosa kepada portalsatu.com melalui surat elektronik.

Lebih lanjut Yosa menjelaskan, jenis perlombaan yang diadakan ada dua katagori yaitu wajib dan hiburan. Perlombaan wajib terdiri dari lomba salat berjamaah, azan, tahfiz, puisi, hafalan doa pendek, shalawat dan peragaan busana muslim.

Sedangkan perlombaan hiburan berupa tarik tambang, mengambil koin di dalam tepung, bermain sepak bola menggunakan kain sarung, perang badar dan memakan kerupuk.

“Kegiatan ini banyak mendapat dukungan dari masyarakat Air Sialang. Hal ini terlihat dari banyaknya para peserta yang mengikuti lomba, dan antusiasme masyarakat untuk datang menyaksikan berbagai lomba yang daiadakan. Perlombaan ini membuat anak-anak merasa senang, dan suasana lebaranpun semakin meriah,” kata alumnus UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.

Untuk pendanaan acara ini, diperoleh dari uang zakat dan sumbangan para pedagang Air Sialang.[] (ihn)

Inilah Jihad Umat Islam Usai Ramadan

Inilah Jihad Umat Islam Usai Ramadan

LHOKSUKON – Khatib salat Ied di Gampong Rheng Bluek Aceh Utara, Teungku Fitriadi, mengajak masyarakat untuk mengaja fadilah atau keutamaan Ramadan, meskipun bulan suci tersebut sudah berakhir.

Hal itu disampaikannya saat khutbah hari raya Idul Fitri 1436 Hijriyah di Gampong Rheng Bluek, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Jumat, 17 Juli 2015.

“Salah satu fadilah Ramadan adalah saat hari kiamat, dia tidak dihisab,” kata Teungku Fitriadi.

Ia juga mengatakan, yang harus dilakukan setelah berpuasa satu bulan penuh adalah mempertahankan pahala berpuasa.

“Jihad setelah lebaran adalah mempertahankan pahala selama bulan Ramadan,” ujarnya.[] (ihn)

Dua Musuh Berat Umat Islam Usai Ramadan

Dua Musuh Berat Umat Islam Usai Ramadan

LHOKSUKON – Khatib salat Jumat 1 Syawal 1436 H di Mesjid Alkhalifah Ibrahim, Kecamatan Matangkuli, Ustadz Musliadi,  dalam khutbahnya mengatakan hari ini adalah momentum saling bermaafan kepada orang tua dan sanak saudara.

“Ramadan berlalu, kapal tidak bersama lagi dengan kita.  Mudah- mudahan  kalau ada umur panjang kita jumpa pada tahun yang akan datang,” katanya di hadapan jamaah.

Kata Ustaz musliadi, jika kita tidak dengan sungguh-sungguh sebulan yang lalu mengerjakan perintah Allah, maka jangan harap dapat mengambil makna yang luar biasa di balik Ramadan.

“Hanya orang- orang yang beriman dan patuh,  merekalah yang bisa mengambil makna di balik Ramadan tersebut.”

Beliau menambahkan, ada pondasi yang telah dibangun umat muslim yang  bahan bakunya salat tarawih, memberikan makanan kepada fakirmiskin serta bersedekah.

“Maka peliharalah hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Perihalah kebaikanmu sehingga kamu suci dan terbebas dari api neraka.  Sambunglah tali silaturrahmi dengan lancar terutama dengan orang tua,” katanya.

Ia juga mengatakan, ridha Allah ada pada ridha atau kerelaan orang tua. Jika memang masih bermusuhan dengan mereka, lebih baik meminta maaf. Jika pada hari raya ini belum mengunjungi mereka, segeralah mengunjunginya. Sebab, orang tua merupakan sebuah kunci bagi seseorang untuk mendapatkan surga Allah SWT.

“Jangan pernah beri harapan kepada orang tua, jika memang tak bisa berkunjung, kabarilah sehingga mereka tidak risau. Jikapun orang tua telah tiada, doa anak sepanjang masa. Allah akan memberikan imbalan yang pantas kepada orang tua yang telah tiada ketika anaknya mau mendoakannya.”

Tak hanya kepada ia orang tua, ustaz juga mengatakan, memaafkan juga harus diberikan dan diminta kepada sanak-saudara maupun rekan-rekan sehingga habluminallah hablu minannas tetap terjaga.

“Ke depan pastinya kita akan melawan lagi dua musuh terberat yakni syaitan dan iblis. Jika puasa mereka telah dikurung oleh Allah, pada saat itu pula kita dihadapi dengan tantangan hawa nafsu. Jika memang kita sebagai umat mampu melawannya, insya Allah kita akan termasuk,” katanya.[] (ihn)

KNPI Langsa Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim

KNPI Langsa Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim

LANGSA – DPD KNPI Kota Langsa menyantuni sejumlah anak yatim dari berbagai gampong di Langsa dalam acara buka puasa bersama yang dibuat di Sekretariat DPD KNPI Langsa kemarin sore, Selasa, 7 Juli 2015.

Ketua DPD KNPI Langsa, Zulfan, kepada portalsatu.com mengatakan kehadiran sejumlah anak yatim tersebut menjadikan acara buka puasa bersama tersebut menjadi lebih istimewa dan bermakna.

“Hikmah Ramadan banyak kita dapat selain beribadah puasa, seperti momen untuk membangun silaturrahmi yang perlu ditingkatkan di masyarakat, sebab nilai-nilai sosial yang terbangun dan kuatnya silaturrahmi itu ada di bulan Ramadan,” kata Zulfan.

Sementara itu, Sekretaris DPD KNPI Kota Langsa, Muharram, berharap momen itu bisa menjadikan pengurus KNPI lebih solid lagi.

“Peran pemuda sangatlah penting apalagi di bulan suci Ramadan ini pemuda sangat dibutuhkan dari berbagai sisi positif terkait kegiatan keagamaan,” katanya.

Acara buka puasa bersama tersebut juga diisi dengan ceramah singkat oleh seorang ulama di Langsa, yaitu Teungku Murdani. Ia merupakan pimpinan Dayah Fatuhul Mu’arif Al-Aziziyah.

Buka puasa bersama itu turut dihadiri Wakil Wali Kota Langsa Marzuki Hamid, Ketua DPRK Langsa Burhansyah, perwakilan dari Kapolres Langsa, Ketua KIP Langsa dan sejumlah aktivis OKP/Ormas di Langsa.[] (ihn)

Laporan Fathorrahman di Langsa

Ratusan Orang Ikut Ramadan di Kampus Kopelma

Ratusan Orang Ikut Ramadan di Kampus Kopelma

BANDA ACEH – Ratusan masyarakat Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam mengikuti Ramadan Di Kampus (RDK) yang sudah berlangsung sejak 14 Juni lalu hingga 14 Juli 2015 mendatang.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh beberapa organisasi sekaligus yaitu LDK Fosma Unsyiah, UP3AI Unsyiah, Badan Kemakmuran Masjid Jamik Darussalam dan UIN Ar-Raniry.

“Dalam kepanitiannya agenda ini memang adanya gabungan antara dosen dan mahasiswa, bahkan pihak rektorat juga bagian dari ini,” kata Ridho Rahman, wakil ketua acara tersebut yang juga ketua LDK Fosma Unsyiah kepada portalsatu.com, Selasa, 7 Juli 2015.

Banyak aktivitas yang dilakukan selama sebulan penuh RDK, namun yang menjadi kegiatan andalan hanya tahfiz, tahsin, iktikaf, ifthar dan sahur bersama.

“Pesertanya diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan serta ratusan peserta telah terdaftar pada program ini yang berasal dari seluruh Aceh,” katanya.

Agenda ini bertujuan agar masyarakat di Kopelma Darussalam merasakan indahnya Ramadan dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

“Tentunya untuk kegiatan daurah quran dengan harapan terciptanya masyarakat yang cinta Alquran dalam kehidupannya. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini menjadi program utama dalam setiap Ramadan,” ujar Ridho.[] (ihn)

Puasa Ramadan dalam Bingkai Eksistensialisme

Puasa Ramadan dalam Bingkai Eksistensialisme

Oleh: M. Agus Muhtadi Bilhaq*

Ramadan, merupakan bulan yang teramat istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Betapa tidak, pada bulan Ramadan inilah Alquran, yang secara bertahap, pertama kali diturunkan. Selain itu, pada bulan Ramadan pula Allah Swt menganugerahkan umat muslim malam lailatul qadar, yakni malam yang kadarnya lebih baik dari seribu bulan (QS. al-Qadr : 3). Dalam sebuah hadis juga dikatakan bahwa pada bulan Ramadan Allah Swt memerintahkan malaikat untuk membuka selebar-lebarnya pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.

Membincang keistimewaan bulan Ramadan, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa Ramadan itu sendiri terambil dari akar kata yang memiliki makna “membakar” atau “mengasah”. Dinamai demikian sebab pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar karena amal salehnya. Oleh sebab itu, selain melaksanakan ibadah mahdhah wajib puasa sebulan penuh, umat muslim juga dianjurkan untuk meningkatkan amal saleh, baik itu yang sifatnya privat maupun yang sifatnya sosial. Oleh karena keagungannya, sampai-sampai para ulama mendamba-dambakan bulan Ramadan berlangsung sepanjang tahunnya.

Ibadah puasa di bulan Ramadan hendaknya tidak dipahami sebagai formalitas dalam beragama semata, yakni suatu bentuk penghayatan agama yang hanya menempatkan iman dan ibadah sebagai rutinitas ritual dan nir makna. Nilai-nilai ibadah puasa haruslah diimplementasikan dan menjadi sebuah proses transformasi diri dari kehidupan yang “serba negatif” menuju kehidupan yang “serba positif”. Alquran dalam surah al-Baqarah : 185 menyebutkan bahwa diwajibkannya puasa bagi orang-orang yang beriman memiliki tujuan agar mereka mencapai ketakwaan, laallakum tattaqun.

Puasa bertujuan untuk menciptakan individu-individu yang bertakwa, baik secara spiritual maupun sosial. Orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang serta melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt berfirman; “Semua amal putra putri Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”

Hal ini mengisyaratkan bahwa puasa merupakan ibadah yang bersifat intim antara yang berpuasa dan Allah Swt saja. Orang yang berpuasa dapat saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain, tetapi hal ini tidak dilakukan sebab dalam diri orang yang berpuasa sudah tertanam komitmen moral untuk bertakwa dan patuh terhadap perintah-Nya. Orang yang bertakwa, meminjam istilah Quraish Shihab, adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. Dengan demikian, nilai ketakwaan yang didapatkan selama berpuasa menjadikan seseorang malu untuk berperilaku destruktif, baik yang hanya berdampak bagi dirinya sendiri maupun sosial,  sebab senantiasa merasa diawasi oleh-Nya.

Sebuah Paradoks

Sejalan dengan semangat laallakum tattaqun, fenomena yang dapat dijumpai selama bulan Ramadan adalah sepertinya terjadi peningkatan semangat keberagamaan di dalam masyarakat. Ini dapat dilihat dari banyaknya pengajian dan majlis ta’lim yang diadakan di berbagai tempat. Bahkan media televisi pun yang pada hari-hari biasa hanya menayangkan kajian-kajian keislaman selepas subuh dan saat-saat tertentu, selama bulan Ramadan tayangan yang menyajikan kajian keislaman frekuensinya meningkat secara signifikan. Fenomena ini merupakan hal yang positif dan patut diapresiasi –terlepas bahwa hal tersebut juga merupakan kebutuhan industri.

Akan tetapi, seakan menjadi sebuah paradoks, fenomena “peningkatan keberagamaan” tersebut, pada saat yang bersamaan juga dibarengi dengan peningkatan perilaku destruktif dan menyimpang. Ini menandakan bahwa ada pemahaman keterpisahan antara nilai-nilai keberagamaan yang diyakini dengan perilaku sosial. Semangat ibadah puasa Ramadan yang bertujuan untuk membentuk individu yang memiliki kesalehan spiritual dan kesalehan sosial seolah tidak memiliki pengaruh apapun. Pelaksanaan ibadah hanya menjadi rutinitas ritual dan menjadi simbol semata.

Ibadah dalam Perspektif Eksistensialisme

Menyikapi hal ini, Nabi Muhammad Saw sejak dahulu sebenarnya sudah memperingatkan umat muslim, dalam hadisnya beliau berkata bahwa “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” Jika memang demikian adanya, maka tak heran jika tindakan korupsi maupun perbuatan dzalim terhadap sesama lainnya tetap terjadi. Bahkan tak jarang hal tersebut dilakukan oleh pribadi yang dikenal taat beribadah, berpendidikan tinggi, bahkan bergelar haji.

Dalam kasus ini, seorang muslim yang dikenal taat beragama, namun masih berperilaku buruk secara sosial bahkan bertolak belakang dengan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya, dapat dikatakan sebagai “kehilangan eksistensinya” sebagai seorang muslim. Sebab, seperti yang sudah disebutkan terdahulu bahwa ibadah, khususnya puasa Ramadan, seharusnya dapat menjadi landasan transformasi diri dari yang serba negatif menjadi serba positif. Seseorang yang tindakannya berbeda dari nilai yang diyakininya, dapat dikatakan bahwa, disadari atau tidak, dia telah mengubah keyakinannya.

Soren Kierkegaard, seorang filsuf eksistensialisme, mengatakan “Anda adalah nilai-nilai Anda sebab diri Anda sendiri merupakan sumber tindakan Anda.” Bereksistensi adalah suatu bentuk berbuat. Kaitannya dengan ibadah puasa, seharusnya sesorang yang sungguh-sungguh meyakini semangat ibadah puasa dalam mentransformasikan serta membentuk individu yang tattaqun, juga dapat tercermin dalam setiap tindakannya. Oleh sebab itu, orang yang percaya terhadap nilai-nilai keislaman yang mengajarkan bahwa berperilaku destruktif dan berbuat dzalim terhadap sesama adalah dosa, maka dia akan menjauhi perbuatan-perbuatan tersebut dan lebih memilih untuk berbuat baik, menunjukkan eksistensinya sebagai muslim yang kaffah secara spiritual maupun sosial.

Seseorang yang sudah menggapai semangat suci Ramadan dan tercermin dalam setiap tindakannya, maka ia telah melakukan lompatan eksistensi. Seorang muslim yang meski telah menjalankan ibadah puasa tetapi masih mementingkan nafsu fa’ali-nya, berarti masih terjebak dalam bentuk eksistensi estetis, yakni tingkat eksistensi dalam bentuk hedonisme yang mementingkan kenikmatan fa’ali semata.

Sementara seorang muslim yang dalam puasanya telah bertransformasi menjadi individu yang tattaqun, maka ia telah sampai pada tingkat eksistensi religius dan telah menjadi “ksatria iman” yang mendasarkan setiap tindakannya atas dasar kepatuhan kepada Allah Swt. Dengan demikian, seseorang yang telah bertransformasi dalam bentuk eksistensi religius dan menjadi individu yang bertakwa dapat menjalankan fungsinya dengan baik sebagai khalifah fi al-ardl.[]

Penulis adalah pemerhati sosial, aktif sebagai asisten peneliti PSKK UGM.

Dunia Dalam Telepon Genggam

Dunia Dalam Telepon Genggam

Oleh: Ustaz Erick Yusuf

BANDUNG —  “Bulan Ramadhan yang di dalamnya–mulai–diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang hak dan yang batil.” (QS al-Baqarah: 185)

Dulu waktu saya kecil, ketika menjelang sore pada bulan Ramadhan, semua anak-anak ngabuburit dengan mendatangi surau atau masjid. Ngabuburit itu berasal dari kata bahasa Sunda, yaitu burit, yang artinya sore.

Jadi, kurang lebih diartikan menghabiskan waktu sore, menunggu azan Maghrib dengan program-program yang ada di masjid. Setelah siangnya bermain bola, lalu seusai azan Ashar mandi dan langsung pergi ke masjid.

Tentu, program-programnya beragam dan bergantian setiap harinya dari mulai tadarusan, muraja’ah hafalan, kisah para nabi, sampai marawis. Seru, kita bersama anak-anak tetangga lainnya juga mengadakan lomba-lomba, seperti pukul beduk, azan, dan sebagainya.

Namun, tentu lain dulu lain sekarang. Anak-anak sekarang lebih banyak memiliki alternatif daripada anak zaman dulu. Hiburan sekarang banyak sekali, dari mulai yang dihadirkan di televisi, gelaran di mal, atau pameran-pameran pada bulan Ramadhan.

Walhasil, program-program masjid terpinggirkan. Apalagi dengan adanya smartphone, dunia ada di dalam genggaman, dalam artian dunianya dalam telepon genggam tersebut. Jadi, bukan kita yang menggenggam dunia.

Kita seakan-akan menggenggam dunia, padahal kitalah yang dikontrol oleh telepon genggam. Terbalik dari seharusnya, seperti doa yang dipanjatkan para sahabat. Doa Abu Bakar, “Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.”

Sedangkan, doa sahabat Umar bin Khattab: “Ya Allah, tempatkanlah dunia dalam genggaman tangan kami dan jangan kau tempatkan dia di lubuk hati kami.” Lihatlah, apa dunia dalam genggaman kita atau di dalam hati kita?

Jika dihitung dalam satu hari, berapa lama kita menggenggam telepon genggam? Bahkan, tidur pun kita ditemani telepon genggam kita itu. Tidak salah juga memang sekarang seluruh urusan ada dalam satu genggaman. Hanya hati-hati, jangan sampai masuk dalam hati kita.

Lalu, membuat kita diperbudak oleh urusan-urusan dunia. Ingatlah, Ramadhan merupakan bulan investasi akhirat. Ada di antara sepuluh hari terakhir, terdapat malam Lailatul Qadar. Kita iktikaf sejenak untuk meninggalkan urusan dunia.

Bagaimana pula interaksi kita dengan Alquran dalam bulan Ramadhan ini? Untuk hal ini, di telepon genggam kita, hendaknya  kita mengunduh Alquran digital, doa-doa pendek, dan sebagainya.

Memang godaannya ketika baca Alquran di telepon genggam itu adalah pop up (tiba-tiba muncul) notifikasi atau pemberitahuan dari program-program media sosial, seperti Whattsapp, Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Itu sering kali membuat kita keluar dulu melihat berita dan kembali ke Alquran, itu pun yang bisa kembali. Namun kebanyakan, “tersesat” di dalam rimba raya informasi-informasi dunia maya tersebut. Karena itu, mari kita pakai mushaf Alquran yang kecil dan enak dibawa.

Jadi, sisihkan dulu beberapa saat telepon genggamnya. Satu hari satu juz, insya Allah selama Ramadhan kita khatam Alquran. Dan yang membahagiakan pada tahun ini, program Ramadhan semarak lagi di masjid-masjid, walau memang masih kalah dari program di mal.

Hal terpenting, ada alternatif. Selain program utama seperti saat saya waktu kecil dulu, ada jaz Ramadhan dan program hiburan lainnya. Jadi lengkap, bukan cuma Iqra, tadarusan, tausiyah, dan sebagainya malah ada program kilat pelatihan motivasi sampai pengajaran bahasa Arab.

Karena itu, ayo kembali ke masjid dan pada bulan Ramadhan ini saatnya kita juga membumikan Alquran. | sumber : republika

Tiga Kelompok Manusia yang Doanya Ditolak Allah

Tiga Kelompok Manusia yang Doanya Ditolak Allah

TAKENGON – Alumni pesantren Al-Madiinatuddiniyah Babussalam, Blang Blahdeh Bireuen, Teungku Faisal Hadi, dalam ceramahnya pada peringatan Nuzulul Quran pada Jumat malam, di Takengon menjelaskan, setidaknya ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak diterima oleh Allah. Meskipun mereka berdoa pada waktu-waktu mustajabah atau waktu dikabulkannya doa oleh Allah SWT.
Tiga kelompok itu adalah manusia yang mengekalkan dirinya dalam arak atau barang yang memabukkan, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan orang yang memutuskan tali silaturrahmi.
“Kita tahu bersama bahwa malam Nisfu 10 Sya’ban, Lailatul Qadar, malam hari raya (Idul Fitri-Qurban) dan hari Jum’at itu merupakan tempat mustajabah doa. Tapi ke empat waktu itu tidak berlaku bagi tiga kelompok manusia tersebut,” kata Teungku Faisal Hadi di hadapan jamaah.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk menjauhkan diri dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki dan dendam, agar doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah dan menjadi orang yang bertakwa.
Teungku Faisal Hadi juga memaparkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan dengan menjabarkan beberapa hadis Rasulullah, seperti hadis yang berbunyi: “Barang siapa yang senang hatinya datangnya bulan Ramadan dengan niat hendak memanfaatkannnya untuk beribadah, maka diharamkan tubuhnya dari api neraka.”
Di hadist lain Rasul mengatakan; “Sekiranya umatnya mengetahui seperti Ia (Nabi-red) ketahui tentang fadhilah Ramadan, maka seluruh umat manusia ingin Ramadhan tersebut berlangsung selama satu tahun.”
Hadis lain Rasul juga bersabda; “Tidur orang puasa yang menjaga salatnya dan dijadikan ibadah dan diam orang puasa dari pada berbicara hal yang tidak membawa hikmah untuk akhirat dijadikan tasbih oleh Allah.”
Di bulan Ramadan juga terdapat malam Lailatur Qadar. Pada malam itu Allah melipatgandakan amal ibadah setiap insan yang beribadah pada malam itu.
“Lima ribu rupiah kita bersedekat di malam Qadar, Allah melipatgandakan pahalanya bagaikan kita bersedekah lima ribu rupiah selama 1000 bulan. Itu semua kita dapatkan hanya di bulan Ramadan. Dan khusus untuk umat Nabi Muhammad. Umat Nabi lain tidak ada,” ujarnya.
Dengan segala keutamaan itu kata Teungku Faisal, membuat seluruh malaikat yang ada di ‘Aras dan langit menangis ketika Ramadhan telah berakhir.[] (ihn)
Pasar Rakyat di Halaman Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng Ramai Pembeli

Pasar Rakyat di Halaman Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng Ramai Pembeli

BANDA ACEH – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Banda Aceh berkomitmen menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri, dengan menggelar pasar rakyat.

Amatan portalsatu.com, pasar rakyat yang digelar di halaman Masjid Baitusshalihin Ule Kareng ramai dikunjungi warga untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari, terutama minyak goreng.

“Selagi ada pasar rakyat seperti ini, akan sedikit membantu masyarakat menjelang lebaran,” ujar salah seorang warga, Mariani, 32 tahun, saat dijumpai di lokasi pasar rakyat.

Selain minyak goreng, gula pasir dan tepung terigu juga banyak dibeli oleh warga setempat. Warga mengaku ingin menyiapkan bahan baku untuk membuat kue lebaran nantinya.[]

Foto ilustrasi.