Tag: pukat

Kejaksaan Negeri Lhoksukon Musnahkan Barang Bukti Kapal Pukat Trawl

Kejaksaan Negeri Lhoksukon Musnahkan Barang Bukti Kapal Pukat Trawl

LHOKSUKON – Kejaksaan Negeri Lhoksukon memusnahkan barang bukti kapal pukat trawl KM Rezeki Nawan 2 di TPI Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Selasa, 25 Agustus 2015 pagi. Proses pembakaran kapal tersebut bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Utara.

Selain kapal, petugas turut memusnahkan satu jaring pukat trawl, satu GPS navigator, tiga tong fiber dan satu unit tas berisikan dokumen kelengkapan kapal.

Hadir di lokasi, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Lhoksukon Fahmi Jalil, SH, Kapolres Aceh Utara AKBP Anang Triarsono, Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Inf Eka Oktavian Wahyu Cahyono, perwakilan Pengadilan Negeri Lhoksukon M Zainal Hasan, SH dan sejumlah pejabat penting lainnya.

Kapal yang dimusnahkan itu merupakan milik terdakwa Jaidani alias Wak Dan bin Johan, 39 tahun, warga Julok, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

“Barang bukti kapal itu dimusnahkan setelah putusan inkrah dan adanya ketetapan hukum tetap dari Pengadilan Negeri Lhoksukon. Selain itu kami juga telah berkoordinasi dengan pihak dinas terkait,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Teuku Rahmatsyah, SH, MH, melalui Kasi Pidum Fahmi Jalil SH kepada portalsatu.com.

Ia mengatakan kapal tersebut sempat direncanakan akan dieksekusi di perairan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Namun karena kapal tidak bisa dipindahkan, makanya dieksekusi di TPI Pusong dengan cara dibakar.

“Kapal itu ditangkap pada awal Februari 2015 lalu di perairan Tanah Jambo Aye oleh tim Polisi Air dan Udara (Polairud) Polres Lhokseumawe dan Detasemen Brimob Kompi 4 Jeulikat. Dalam kasus itu, pemilik kapal sekaligus terdakwa dijatuhi hukuman pidana 2 tahun 8 bulan penjara dengan denda 1 Miliar, subside 4 bulan penjara,” ujarnya.[](bna)

Taufik Mubaraq: Saat Konflik Wartawan Dididik Nasionalis

Taufik Mubaraq: Saat Konflik Wartawan Dididik Nasionalis

BANDA ACEH – Jurnalis di masa perang dituntut memihak penguasa. Hal ini bisa dilihat dari sejarah konflik Aceh beberapa waktu lalu.

“Dulu saat konflik wartawan dididik untuk punya nilai nasionalis sehingga muncul genre jurnalistik seperti patriotik jurnalisme,” ujar salah satu blogger Aceh, Taufik Mubarak saat mengisi diskusi memperingati 10 tahun perdamaian Aceh yang digelar oleh Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT) di Gedung ACC Sultan Selim II, Banda Aceh, Selasa, 11 Agustus 2015.

Ia mengatakan saat terjadi konflik antar kedua belah pihak, media seharusnya menjadi penengah dan tidak memihak kemana pun. Menurutnya media sejatinya haruslah netral dan tidak membawa kepentingan siapa pun atau kelompok manapun.

“Tajuk rencana bisa menjadi cermin media itu memihak ke mana, padahal media massa tidak boleh memihak golongan tertentu apalagi membawa kepentingan tersembunyi,” ujarnya.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Herman RN: Menulis Itu Titah Nabi

Herman RN: Menulis Itu Titah Nabi

BANDA ACEH – Sastrawan Aceh, Herman R.N, mengatakan menulis adalah salah satu titah nabi yang harusnya dicontoh oleh umat muslim. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara di peringatan 10 tahun perdamaian Aceh yang dilaksanakan oleh PuKAT di Gedung ACC Sultan Selim II Banda Aceh, Selasa, 11 Agustus 2015.

“Menulis itu titah nabi, bahkan dalam Alquran ada surat yang bernama qalam yang artinya pena, dan ayat tersebut sangat menganjurkan umat muslim untuk menulis,” kata Herman.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini juga mengatakan tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Apalagi di era sekarang yang fasilitas untuk menulis itu sangat mudah didapatkan.

“Tsunami itu akan jadi dongeng kalau tidak ada dokumentasinya. Sekarang dengan canggihnya peralatan sudah sangat mudah untuk menulis, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk menunda menulis,” ujar pria yang pernah menerima penghargaan cerpen terbaik dari Harian Kompas tersebut.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Akademisi Unsyiah: Media Massa Jangan Memanas-manasi Keadaan Aceh

Akademisi Unsyiah: Media Massa Jangan Memanas-manasi Keadaan Aceh

BANDA ACEH – Salah satu akademisi Universitas Syiah Kuala, Taufik Mubaraq mengatakan media massa sangat berperan dalam perdamaian dan menjaga perdamaian itu sendiri. Hal tersebut disampaikannya dalam dialog kebudayaan memperingati 10 tahun perdamaian Aceh yang digelar oleh Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) di Gedung ACC Sultan Selim II, Banda Aceh, Selasa, 11 Agustus 2015.

“Ada tiga peran media selama masa perang. Salah satunya adalah mendesak kedua belah pihak untuk berdamai,” kata Taufiq yang juga salah satu blogger Aceh ini.

Taufik juga berharap media massa tidak memperkeruh suasana damai dan memunculkan konflik baru.

“Saya harap media massa tidak memana-manasi keadaan lagi. Sudah banyak sekali kerugian yang kita derita karena perang,” ujar penulis buku Aceh Pungo ini.

Dalam acara tersebut turut hadir sastrawan dan juga penulis Herman RN, akademisi yang juga budayawan Salman S Yoga, dan akademisi Aceh Mukhlisudin Ilyas.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Eks Kombatan GAM Diminta Menuliskan Pengalamannya di Masa Perang

Eks Kombatan GAM Diminta Menuliskan Pengalamannya di Masa Perang

BANDA ACEH – Pengurus Lembaga Antarabangsa PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), Thayeb Loh Angen, mengharapkan semua mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bisa menuliskan pengalaman mereka pada masa sebelum dan sesudah damai. Menurutnya tanpa menulis, cerita perang eks kombatan akan dianggap dongeng ke depan.

“Ketahuilah, apa yang telah kita buat adalah hal paling penting bagi sejarah Aceh di masa kini dan masa depan. Abaikanlah pendapat orang tentang kita, dan tulislah apa pun yang pernah terjadi. Tulislah pengalaman dan pendapat kalian,” ujar Thayeb yang juga mantan kombatan dari D-II Pase tersebut.

Thayeb menyayangkan ketidaktahuan orang Aceh tentang pentingya menulis. Terutama, pelaku dalam perang antara GAM dan RI, yang merupakan salah satu perang gerilya terbesar di pergantian abad ini.

“Jangan biarkan orang lain menulis sejarahmu, mereka tidak mengetahui yang kita ketahui. Apa bukti kita pernah berperang? Senjata yang dipotong-potong itu ke mana? Tulislah, apa saja,” kata penulis novel Teutra Atom dan Aceh 2025 ini.

Hari ini, kata Thayeb, tidak ada seorang pun yang menyebut-nyebut, mengapa dulu Aceh berperang. Eks kombatan, kata Thayeb, harus meluruskan pendapat sebagian orang yang menganggap seakan-akan perang itu terjadi karena semata-mata kesalahan pihak Aceh.

“Tidakkah orang bertanya-tanya mengapa kita dulu pernah melawan? Tulislah sebanyak-banyaknya alasan kita berperang dan alasan kita berdamai. Katakanlah kebenaran kita. Sarungkan rencong ambil pena,” tamsil Thayeb yang mengaku bakal memandu Dialog Kebudayaan “Peran Intelektualime (Tulisan) dalam Perdamaian Aceh” pukul 14.00 WIB nanti.

Dialog ini diselenggarakan oleh PuKAT yang bekerjasama dengan manajemen Gedung Turki ACC Sultan II Selim. Dialog ini akan diisi oleh empat orang penulis.

Taufik Al Mubarak akan bicara tentang Jurnalisme Damai, Herman RN bicara Menulis Titah Nabi Berdamai Sunnatullah, Salman Yoga S tentang Efek Laten Karya Tulis dalam Merawat Perdamaian, dan Mukhlisuddin Ilyas bicara Pentingya Catatan dan Dokumentasi Konflik Aceh.[]

11 Agustus, 4 Penulis Aceh Bicara Tulisan Perdamaian

11 Agustus, 4 Penulis Aceh Bicara Tulisan Perdamaian

BANDA ACEH – Empat penulis di Aceh, yakni budayawan Salman Yoga S, sastrawan Herman RN, blogger Taufik Al Mubarak, dan penerbit Mukhlisuddin Ilyas, akan berbicara tentang peran tulisan di dalam perdamaian Aceh, Gedung Turki Sultan Selim II ACC, Banda Aceh, Selasa, 11 Agustus 2015, pukul 14.00 sampai selesai.

Keempat penulis muda yang juga akademisi ini bicara perdamaian dalam sebuah Dialog Kebudayaan bertajuk “Peran Intelektualime dalam Perdamaian Aceh”. Dialog tersebut dilaksanakan oleh Lembaga anratabangsa PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) bersama manajemen gedung Turki Sultan Selim II ACC.

Aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan acara tersebut dibuat untuk mengenali apa yang telah dihadiahkan oleh penulis dalam perdamaian dan bagaimana mereka mengisinya.

“Ada banyak buku, esai, puisi, hikayat, majalah, tabloid, surat kabar harian, yang berisi perang atau perdamaian di Aceh. Apakah peran mereka perlu dikaji dan dihargai. Saya sendiri, telah melahirkan dua buah buku setelah perdamaian. Banyak kawan-kawan lain yang telah melahirkan tulisan lebih banyak dan lebih baik,” kata Thayeb yang dijadwalkan menjadi pemandu di acara tersebut, Jumat 7 Agustus 2017.

Penulis novel Teuntra Atom dan Aceh 2025 ini mengatakan, seminar PuKAT bertekad mengkaji setiap sisi intelektual dari semua peristiwa penting di Aceh.

“Hadirilah acara yang langka ini. Jarang bisa mengumpulkan keempat tokoh tersebut. Acara ini gratis, tidak perlu tiket. Panitia pun tidak menyediakan minum dan makan pada acara. Ini acara berbagi pengetahuan. Pemateri dan hadirin tidak disediakan honorarium. Ini adalah acara suka rela. Tempat acara diberipakai free oleh manajemen Sultan II Selim ACC,” kata Thayeb. [] (mal)

PuKAT Kembali Kirim Mahasiswa ke Harman Program di Istanbul

PuKAT Kembali Kirim Mahasiswa ke Harman Program di Istanbul

BANDA ACEH – Lembaga antarabangsa PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) kembali mengirimkan seorang mahasiswa untuk mengikuti program Harman selama satu bulan di Istanbul, Turki.

Ketua PuKAT, Thayeb Loh Angen, mengatakan, Harman Internship Program merupakan sebuah kegiatan magang untuk mahasiswa seluruh dunia yang dibuat oleh sekelompok intelektual Turki di Istanbul.

“Tahun 2014 kita mengirim Ariful Azmi Usman, seorang mahasiswa komunikasi di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Unsyiah. Tahun ini kita mengirim Muhammad Iqbal, seorang mahasiswa pascasarjana jurusan pertanian berbasis budaya (aigriculture), Institut Pertanian Bogor (IPB) yang merupakan asisten dosen di Fakultas Pertanian Unsyiah,” kata Thayed, melalui siaran persnya, Rabu 5 Agustus 2015.

Thayeb mengatakan, panitia Harman dan PuKAT merupakan organisasi yang terpisah. Dalam hal peserta Harman dari Aceh, kata Thayeb, PuKAT hanya memfasilitasi peserta selama beberapa bulan sampai hari keberangkatan pada awal Agustus.

“Harman adalah program magang berdasarkan keahlian dan jurusan akademik peserta. Ariful yang merupakan mahasiswa komunikasi, diberikan kesempatan magang oleh Nazif Koca, direktur Harman di Istanbul, untuk magang di TRT (Televisi and Radio Turki), sebuah stasuin Negara Turki yang memiliki cabang di beberapa Negara, semacam CCN Australia, BBC Inggeris, dan Xinhua Cina,” kata Thayeb.

Thayeb mengatakan, setelah selesai mengikuti program Harman, Ariful telah menulis buku berjudul “Istanbul Warna Ibukota Dunia” yang kampanyenya berupa empat kali seminar di Banda Aceh dan Lhokseumawe. Itu adalah program PuKAT yang terpisah dari panitia Harman.

“Penerbitan buku catatan perjalanan Ariful adalah hasil kerja sama antara PuKAT dengan pihak YTB, sebuah departemen beasiswa bagi pelajar di seluruh dunia yang ditangani oleh kantor Perdana Mentri Turki, saai itu masih Tuan Recep Tayyip Erdogan. Semoga Iqbal juga bisa menulis perjalanannya dan mampu kita terbitkan sebagai buku. Hanya Allah Ta’ala penentu segala sesuatu,” kata penulis buku Aceh 2025 ini. [] (mal)

Nelayan Tradisional Ujong Blang Keluhkan Pengguna Pukat Langga

Nelayan Tradisional Ujong Blang Keluhkan Pengguna Pukat Langga

LHOKSEUMAWE – Para nelayan tradisional di kawasan Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, mengaku resah dengan maraknya pemakaian pukat langga di bawah 12 mil dari bibir pantai. Pasalnya pemakaian pukat langga ini mengakibatkan nelayan tradisional di daerah ini tidak bisa lagi mendapatkan ikan.

“Menurut aturan yang ada, pemakaian pukat langga hanya dibenarkan di atas 12 mil dari bibir pantai, tetapi mereka selama ini sudah melanggar aturan tersebut. Mereka sudah samapai ke pinggir pantai,” kata M. Husaini, 55 tahun, nelayan tradisional Ujong Blang kepada portalsatu.com, Kamis, 18 Juni 2015.

Dia mengatakan nelayan-nelayan yang menggunakan pukat langga ini kerap menyasar daerah-daerah tangkapan nelayan tradisional. Apalagi jika nelayan tradisional berhasil menangkap ikan dalam jumlah banyak di bawah 12 mil dari bibir pantai.

“Besoknya mereka langsung ke lokasi tersebut untuk memasang pukat dan lampu dekat pantai. Alhasil kami yang memakai pukat darat tidak mendapatkan ikan lagi sebab pukat langga itu habis menangkap ikan mulai yang kecil hingga besar,” katanya.

“Lawet nyo hana meu laboh le, sebab hana engkot di laot. Menye na jak pih ta kalon cuaca di laot (selama ini tidak melaut lagi, sebab tidak ikan di laut. Kalau pun ada melaut kita lihat cuaca dulu),” Kata Husaini.

Husaini dan beberapa rekannya pernah menegur pemakai pukat langga dan juga melaporkan mereka kepada panglima laot serta instansi terkait. “Oknum nelayan tersebut mengindahkannya, tapi beberapa saat sesudah itu tetap melakukannya lagi,” katanya.[] (bna)

Foto: Ilustrasi

Buku Istanbul Karya Mahasiswa FISIP Unsyiah Dibagi Gratis

Buku Istanbul Karya Mahasiswa FISIP Unsyiah Dibagi Gratis

BANDA ACEH – Buku Istanbul Warna Ibukota Dunia yang menceritakan perjalanan anak Aceh di kota dua benua telah diluncurkan hari ini di Gedung Sultan Selim II Banda Aceh, Selasa, 19 Mei 2015. Buku ini ditulis oleh Ariful Azmi Usman, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah.

Buku Istanbul resmi diluncurkan dengan penandatanganan perwakilan dari berbagai pihak yang menghadiri acara peluncuran tersebut. Perwakilan yang menandatangani secara simbolis adalah perwakilan dari Rektor Unsyiah, penyunting akhir Sulaiman Tripa, perwakilan Pimred Rakyat Aceh Rendra, dan perwakilan PuKAT.

Selain itu ada juga Irfan M. Nur sebagai layouter, Pembantu I dan III Dekan FISIP, Direktur Gedung Sultan Selim dan perwakilan dari Ketua Prodi Ilmu Komunikasi.

Ariful Azmi Usman mengatakan hari ini merupakan hari yang bersejarah baginya.

“Ini buku pertama kali yang saya tulis dan akan diluncurkan hari ini. Buku yang menceritakan perjalanan saya sendiri selama satu bulan di Istanbul,” kata Ariful.

Ia berharap pengalaman berharga ini menjadi pengalaman teman-teman semua.

“Buku ini untuk dibaca, bukan untuk dijual. Siapa yang ingin membacanya akan saya berikan serta 100 orang yang hadir hari ini akan memperoleh buku ini,” katanya.

Buku yang ditulis dalam waktu tiga bulan ini dicetak sebanyak 800 ekslempar dan tidak diedarkan di toko-toko buku dan diperjualbelikan. Ariful hanya meletakkannya di perpustakaan untuk dibaca oleh semua orang.

Menurut Ariful, bukunya telah diedarkan di perpustakaan Unsyiah, UIN dan Perpustakaan Wilayah.

Ia berharap generasi muda Aceh dapat menulis buku karena semua bisa melakukan hal tersebut asalkan ada kemauan. “Banyak hal yang bisa ditulis bukan hanya sejarah atau perjalanan,” katanya lagi.

Ariful juga mencontohkan seperti Rohingya selama ini di Aceh. “Hal-hal seperti itu bisa ditulis untuk diketahui oleh anak cucu kita dan generasi ke depan apa yang pernah terjadi di Aceh,” ujarnya.

Pembantu Dekan I FISIP, Dahlan juga sangat mengapresiasi atas peluncuran buku ini. “Salah satu kebanggaan bagi saya sebagai PD I FISIP. Seorang mahasiswa mampu menuliskan buku ini, kalau isi saya belum membacanya. Tetapi ini patut dicontohkan oleh teman-teman terutama teman mahasiswa lainnya,” katanya.[](bna)

Buku Pengalaman di Istanbul Karya Mahasiswa Aceh Diluncurkan 19 Mei

Buku Pengalaman di Istanbul Karya Mahasiswa Aceh Diluncurkan 19 Mei

BANDA ACEH – Salah satu mahasiswa Aceh, Ariful Azmi Usman (21) yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, sukses menulis sebuah buku karyanya dan diterbitkan langsung oleh Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) dan YTB (Yurtdışı Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanlığı).

Buku berjudul Istanbul Warna Ibukota Dunia ‘Catatan Peralanan Anak Aceh di Kota Dua Benua’ tersebut dijadwalkan akan diluncurkan di Hall Gedung ACC Sultan II Selim lantai 2, Banda Aceh, pada 19 Mei 2015 pukul 14.00 WIB.

Penulis buku, Ariful Azmi Usman dan penyunting akhir buku, Sulaiman Tripa akan menjadi pembicara dalam peluncuran tersebut. Ariful adalah seorang mahasiswa aktif jurusan Ilmu Komunikasi Unsyiah yang menjadi wakil Aceh dan Indonesia dalam HARMAN Internship Program di Istanbul Turki bersama 29 mahasiswa lainnya dari negara berbeda pada Agustus 2014 silam.

“Buku Istanbul, Warna Ibu Kota Dunia berisi tentang pengalaman saya selama sebulan di Istanbul serta perpaduan dengan budaya dan sejarah Aceh yang pernah terjalin di masa silam. Buku ini diterjemahkan dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Turki, Inggris dan Aceh,” kata Ariful.

Tidak hanya itu, sebelum peluncuran, Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKaT) dan ACC Sultan II Selim menggelar acara seminar Volunteerism & Leadership dengan mengusung tema “Menemukan Sinergi Perubahan Masyarakat Aceh” di tempat yang sama, Selasa, 19 Mei 2015.

Seminar tersebut akan diisi oleh pemateri Muhammad Fauzan Azim Syah selaku Direktur gedung ACC Sultan II Selim, Taufik selaku pemilik kedai kopi Taufik Banda Aceh, Nahar Aba Hakeem sebagai pengamat sukarelawan dan kepemimpinan. Seminar ini akan dipandu oleh Juanda Jamal.

Bagi peserta yang ingin mengikuti acara seminar Volunteerism & Leadership, serta ingin mendapatkan buku gratis “Istanbul, Warna Ibukota Dunia” bisa registrasi dengan cara: Ketik nama (spasi) Instansi kirim ke 085276374416 (Sarah) karena buku dan kursi untuk peserta terbatas. [](bna)