Tag: PT Arun

Ekses Peralihan Saham, 243 Karyawan PT Arun Di-PHK?

Ekses Peralihan Saham, 243 Karyawan PT Arun Di-PHK?

LHOKSEUMAWE – Sebanyak 243 karyawan inti PT Arun Natural Gas Liquefaction (NGL) dilaporkan kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ekses peralihan kepemilikan saham ExxonMobil kepada PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Pihak PT Arun menyebut PHK karyawan dengan istilah terminasi.

Sebagaimana diketahui, ExxonMobil memiliki 30 persen saham pada PT Arun, perusahaan operator kilang gas alam cair (LNG) yang berdiri di Lhokseumawe sejak tahun 1974 silam. Sedangkan saham Pertamina 55 persen dan 15 persen lainnya dimiliki konsorsium Japan-Indonesia LNG Company (JILCO).

Humas PT Arun NGL, Hendra Afiat menjawab portalsatu.com lewat telpon seluler, Rabu, 30 September 2015, sore, mengatakan, mulai besok (1 Oktober 2015) saham ExxonMobil dan JILCO beralih kepada PHE.

Ditanya nasib karyawan PT Arun, Hendra menyebut semua karyawan inti yaitu 243 orang diterminasi. “Semua harus diterminasi, sebagian sudah ditampung di PAG (PT Perta Arun Gas, anak perusahaan PT Pertamina Gas/Pertagas, anak perusahaan PT Pertamina). Sebagian mungkin nanti dipertahankan, tapi hak-haknya diselesaikan dulu, dan ini masih dalam proses. Jadi terminasi (karyawan PT Arun) masih berproses, hak-haknya dalam proses,” ujarnya.

Menurut dia, walau saham ExxonMobil dan JILCO beralih ke PHE mulai 1 Oktober 2015, namun PT Arun masih ada. “PT Arun masih ada sampai ada ketentuan selanjutnya. PT itu kan nggak serta merta dibubarkan, harus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), apakah dilikuidasi atau bagaimana nantinya. Cuma saham (ExxonMobil dan JILCO) di Arun diambil PHE,” kata Hendra.

Akan tetapi, Hendra melanjutkan, tugas PT Arun selama ini seperti memasok gas ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Aceh Utara dan pengolahan kondensat, beralih kepada PHE.[]

Baca juga:

 ExxonMobil “Angkat Kaki” dari Aceh, Karyawan Beralih ke Pertamina

Foto: Gedung PT Arun NGL di Lhokseumawe. @Ist

 

Hari Ini Pengiriman Pertama LNG Donggi Senoro ke Terminal Arun

Hari Ini Pengiriman Pertama LNG Donggi Senoro ke Terminal Arun

Kilang LNG (Liquified Natural Gas) atau gas alam cair Donggi Senoro di Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng) telah resmi produksi pada Juni 2015. Kegiatan pengiriman LNG perdana berlangsung hari ini ke Terminal Penerima dan Regasifikasi Gas di Arun, Aceh.

“Hari ini pengapalan pertama, akan dikirimkan ke Arun,” kata Presiden Direktur Donggo Senoro LNG Gusrizal saat berbincang di kilang DSLNG, Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (2/8/2015)

Gas yang dikirimkan‎ adalah sebanyak 125.000 meter kubik. Menggunakan kapal LNG Maleo yang punya panjang 272 meter dan lebar 47 meter, dengan bobot mati 66.892 dwt.

Menurut Gusrizal, ini adalah sebagai langkah pemenuhan kebutuhan gas untuk kebutuhan domestik khususnya industri di Aceh dan Medan.

“Volumenya 125.000 meter kubik,” sebutnya.

Kilang LNG Donggi Senoro berkapasitas 2,1 million ton per annum (MTPA) dengan investasi senilai US$2,8 miliar. Investasi kilang tersebut telah mejadi kunci bagi upaya pengembangan dan monetisasi cadangan gas yang 30 tahun belum dikembangkan di Sulawesi Tengah.

“Investasi yang kita keluarkan adalah US$ 2,8 miliar hanya untuk kilang DSLNG,”‎ imbuhnya.

Kilang LNG Donggi Senoro yang dikelola oleh PT Donggi Senoro LNG tersebut merupakan kilang LNG yang dibangun dengan model hilir pertama di Indonesia, tidak membebani negara untuk investasinya dan memberikan multiplier efek yang tinggi bagi perekonomian nasional dan setempat.

Proyek ini merupakan proyek kilang LNG pertama di Indonesia yang melibatkan perusahaan-perusahaan Asia, yaitu PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi Internasional Tbk, Mitsubishi Corporation, Korea Gas Corporation (KOGAS) tanpa melibatkan major oil and gas companies.

Rencananya pengiriman perdana ini akan diresmikan ‎langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bersamaan dengan peresmian beberapa proyek Pertamina terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Pertama, Join Operating Body (JOB)‎ Pertamina Medco Tomori Sulawesi Tengah (PTMS) yang mengelola satu Central Procesing Plant (CPP) dengan. Kapasitas produksi total 310 MMSCFD.

Kedua, kilang LNG (Liquified Natural Gas) Donggi Senoro dengan kapasitas 2,1 MTPA‎ yang akan menerima pasokan dari JOB PMTS 250 mmscfd dan dari Matindok pengembangan proyek 85 MMCFD. Dari kilang ini akan berlangsung pengapalan perdana ke terminal regasifikasi Arun.

Ketiga, adalah pabrik ammonia yang dikelola oleh PT Panca Amara Utama (PAU). Kapasitasnya mencapai 0,7 MTPA. Peletakan batu pertama atau groundbreaking akan langsung dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Keempat, adalah lapangan GG berkapasitas produksi 31 MMCFD dan 150 barrel kondensat per hari dikelola oleh Pertamina Hulu Energi Offshore North Swest Java (PHE-ONWJ). | sumber : detik

Foto: kapal pengangkut gas alam cair @detik

‘Cucu’ Usaha Pertamina Harap Pemkot Lhoksemawe Bangun Kawasan Industri

‘Cucu’ Usaha Pertamina Harap Pemkot Lhoksemawe Bangun Kawasan Industri

PT. Pertamina (Persero) melalui ‘cucu’ usahanya, PT. Perta Arun Gas (PAG) mengharapkan Pemerintah Kota Lhoksemauwe, Nanggroe Aceh Darussalam, dapat membangun sebuah kawasan industri seperti yang ada di Medan, Sumatera Utara.

Direktur Utama PAG Teuku Khaidir mengatakan, sejauh ini, meski beroperasi di wilayah Aceh, namun pasokan gas yang diberikan justru berada di wilayah Balawan, Sumatera Utara.

“Sejak kargo LNG pertama, yang manfaatkan baru PLN untuk Belawan, sedangkan Aceh belum,” ujarnya di Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun, Lhoksemauwe, Aceh, Jumat (26/6).

Seperti diketahui, PAG sendiri merupakan anak usaha dari PT. Pertamina Gas (Pertagas) yang fokus utama bisnisnya ialah regasifikasi LNG.

Sementara itu, Presiden Direktur PT. Pertamina Gas (Pertagas) Hendra Jaya mengatakan, fasilitas di Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun sedang disiapkan untuk melayani kebutuhan gas bagi berbagai industri di Aceh seperti Pupuk Iskandar Muda, menghidupkan kembali Asian Aceh Fertilizer, Kertas Kraf Aceh, dan Independent Power Producer.

“Termasuk industri manufaktur potensial dan kawasan industri yang juga berpotensi dikembangkan di Aceh,” ungkap Hendra. | sumber : republika

Pasca-LNG Arun, Kilang BBM Menjanjikan untuk Aceh?

Pasca-LNG Arun, Kilang BBM Menjanjikan untuk Aceh?

LHOKSEUMAWE – PT Arun masih menunggu keputusan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (DJKN Kemenkeu) tentang batas akhir beroperasinya perusahaan ini. Managemen PT Arun menilai jika pemerintah membangun Kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan memanfaatkan aset eks-perusahaan ini maka akan membuka lapangan kerja lebih luas untuk masyarakat Aceh ke depan.

“Perkembangan PT Arun masih seperti biasa, kita masih menunggu apalagi keputusan DJKN setelah 30 Juni nanti. Jadi (setelah berakhirnya kontrak ekspor LNG/gas alam cair pada Oktober 2014) sampai saat ini kita masih menangani suplai gas ke PIM (PT Pupuk Iskandar Muda) dan (produksi) kondensat,” ujar Wakil Presiden Direktur PT Arun Delyuzar menjawab portalsatu.com seusai kegiatan sunatan massal untuk anak-anak desa lingkungan perusahaan itu, Sabtu, 6 Juni 2015.

Disinggung mengapa masa operasional PT Arun hanya diperpanjang per bulan setelah berakhirnya produksi LNG pada Oktober 2014, Delyuzar mengatakan, “PT Arun ada pemiliknya, jadi kita ikut sajalah apa yang dikehendaki oleh pemilik”.

“(Soal belum adanya kepastian batas akhir PT Arun beroperasi) ada banyak faktor, saya kira memang suatu saat PT Arun harus berakhir dengan berakhirnya kontrak bagi hasil ExxonMobil di Aceh. Menunggu ke sana mungkin bisa lebih cepat atau juga sampai kontrak bagi hasil berakhir. Paling lambat tahun 2018 PT Arun sudah harus berakhir, itu paling lambat,” kata Delyuzar.

Terkait kemungkinan karyawan dialihkan ke PT Perta Arun Gas (PAG), anak perusahaan PT Pertamina Gas (Pertagas) yang kini mengoperasikan Terminal dan Regasifikasi LNG, Delyuzar mengatakan hal itu baru dapat dilakukan jika PT Arun sudah dinyatakan berakhir secara total.

“Peralihan (karyawan ) ke PAG baru bisa dilakukan kalau PT Arun sudah betul-betul berakhir. Tapi sementara ini juga ada kita perbantukan sebagai tenaga perbantuan ke PAG,” ujarnya.

Menurut Delyuzar, pemerintah dapat memanfaatkan aset-aset eks-PT Arun nantinya untuk mengembangkan kawasan industri baru di Lhokseumawe. Managemen PT Arun sudah beberapa kali menyampaikan masukan menyangkut hal itu, termasuk melakukan presentasi terkait potensi sektor industri pasca-era LNG Arun.

“Sudah lama kita sampaikan bahwa banyak aset-aset (PT Arun) yang bisa dimanfaatkan untuk kawasan industri. Apalagi dulu sempat mencuat keinginan untuk melaksanakan pembangunan Kilang BBM di Aceh. Kalau itu di-follow up terus oleh pemerintah daerah, saya kira itu satu yang sangat menjanjikan untuk Aceh ke depan,” kata Delyuzar.[]

Foto Wakil Presiden Direktur PT Arun Delyuzar melayani wawancara wartawan.

BDI Khitan 260 Anak Desa Lingkungan PT Arun

BDI Khitan 260 Anak Desa Lingkungan PT Arun

LHOKSEUMAWE – Panitia Ramadan Badan Dakwah Islam (BDI) PT Arun menggelar sunatan massal untuk 260 anak dari berbagai desa di lingkungan perusahaan itu. Khitanan dilaksanakan di Rumah Sakit PT Arun, Desa Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Sabtu, 6 Juni 2015.

Informasi dari Panitia Ramadan BDI PT Arun menyebutkan, 260 anak yang dikhitan gratis itu berasal dari Kemukiman Cunda, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Airport Malikussaleh, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, dan Desa Blang Mee Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Wakil Presiden Direktur PT Arun Delyuzar dalam sambutannya pada kegiatan itu mengatakan sunatan massal yang dikoordinir Panitia Ramadan BDI rutin diadakan setiap tahun menyambut bulan Ramadan yang menandai dimulainya kegiatan sosial selama bulan puasa.

”Kegiatan dilakukan BDI ini adalah suatu bentuk nyata dari kebersamaan perusahaan dan keluarga besar PT Arun untuk bersinergi melakukan kegiatan membantu masyarakat lingkungan yang juga merupakan wujud nyata pelaksanaan dari salah satu elemen keterlibatan pekerja dalam program corporate social responsibility (CSR) perusahaan, yang diorganisasikan di dalam wadah BDI,” ujar Delyuzar.

Delyuzar menyebut BDI juga mengajak para pekerja untuk berbagi dan peduli terhadap anak-anak fakir miskin dengan cara menyiapkan paket bantuan yang pada hari ini diberikan kepada setiap anak peserta sunat massal.

Keikutsertaan keluarga besar PT Arun, Delyuzar menambahkan, baik yang dikoordinir melalui BDI, PWP, maupun Yakesna adalah salah satu jawaban dari perusahaan ini untuk lebih memaksimalkan potensi internal dalam membantu masyarakat lingkungan.

”Kami menyadari bahwa PT Arun tidak akan pernah dapat merespon dan berbuat sebagaimana yang diharapkan masyarakat. Tapi, kami yakin, dengan keikhlasan kami berbuat, sekecil apapun sumbangsih perusahaan dan keluarga PT Arun, kiranya dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara,” kata Delyuzar yang turut mengucapkan “Marhaban ya Ramadan”.

Turut hadir pada kegiatan sunatan massal tersebut Kepala Dinas Kesehatan Lhokseumawe dokter Said Alam Zulfikar, Direktur Rumah Sakit PT Arun dokter Syahruddin Ibrahim, dan sejumlah keuchik desa lingkungan PT Arun.[]

Foto Wakil Presiden Direktur PT Arun Delyuzar memegang tangan salah seorang anak yang dikhitan di Rumah Sakit PT Arun. @Bagian Humas PT Arun.