Tag: polisi

Direktur Eksekutif NGO HAM: Penembakan Beurijuk Terindikasi Langgar HAM

Direktur Eksekutif NGO HAM: Penembakan Beurijuk Terindikasi Langgar HAM

BANDA ACEH – Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, mengatakan penembakan Beurijuk, salah satu anggota Din Minimi, terindikasi melanggar hak asasi manusia.

“Namun dalam hal ini butuh penyelidikan resmi negara, dalam hal ini Komnas HAM,” kata Zulfikar saat ditemui usai diskusi terbuka yang diadakan oleh Asian Law Student Association (ALSA) di aula Fakultas Hukum Unsyiah, Senin, 21 September 2015.

Zulfikar sebagai salah satu pemateri dalam diskusi bertema “Penertiban Kelompok Bersenjata dalam Bingkai HAM” ini mengatakan polisi seharusnya mematuhi jalur hukum saat menegakkan hukum.

“Dalam melaksanakan operasi, pasti ada rambu-rambu yang harus dipatuhi dan harus ada mekanisme pemantauan. Dan dalam kasus ini, saya harap saksi kunci dilindungi yaitu Ismuhar,” katanya.

Ia juga turut mengapresiasi kinerja kepolisian dalam menyelesaikan kasus kelompok bersenjata yang ada di Aceh.

“Saya kira kinerja kepolisian sudah lebih maju dalam mengatasi kelompok kriminal. Kita juga berharap upaya preventif dilakukan oleh pemerintahan sipil, dan ada upaya negosiasi sehinga memunculkan kinerja yang sinergis antara preventif dan represif,” lanjutnya.[](bna)

Laporan: M Fajarli Iqbal

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi?

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi?

Tahanan Kejar-Kejaran dengan Polisi. Inilah salah satu judul pada salah satu harian lokal di Aceh. Judul ini cukup “memantik” ruh kebahasaan saya dan mendorong saya untuk menuliskannya melalui media online ini.

Sepintas, tak ada yang salah dengan judul itu. Namun, jika kita meluangkan waktu dan melihat dengan saksama, kesalahan pada judul itu dapat diketahui.

Apa yang salah? Mungkin di antara pembaca bertanya demikian. Dilihat secara struktur, kalimat itu benar. Akan tetapi, mari kita lihat dari segi makna. Saya tidak akan mengupas makna setiap kata dalam judul itu. Fokus saya hanya pada kata kejar-kejaran.

Kata tersebut secara bahasa diklasifikasikan sebagai kata ulang. Kata yang juga sering diistilahkan dengan reduplikasi itu, sebagaimana halnya kata lain, memiliki makna. Penelusuran makna tentu saja berdasarkan konteks kalimat meski ada yang menentukan makna kata ulang secara terpisah, bukan dalam kalimat.

Lantas, secara konteks kalimat, apa makna kejar-kejaran pada judul di atas? Tak diragukan lagi, kata ulang tersebut bermakna ‘saling’. Karena bermakna ‘saling’, paling tidak ada dua komponen makna saling. Pertama, saling merupakan tindakan yang membutuhkan minimal dua pelaku. Kedua, tindakan yang dilakukan terjadi secara timbal balik. Artinya, pelaku pertama melakukan suatu tindakan pada pelaku kedua, begitu sebaliknya, pelaku kedua membalas tindakan itu.

Bila kita lihat pada komponen makna yang pertama, tampaknya tak ada masalah. Pada kalimat itu pelaku terdiri dari dua bagian, yaitu tahanan dan polisi. Persoalan kemudian muncul jika kejar-kejaran dikaitkan dengan komponen makna kedua. Bila dikatakan tahanan kejar-kejaran dengan polisi, hal itu berarti bahwa perbuatan kejar-kejaran itu terjadi secara timbal balik, polisi mengejar tahanan, lalu berganti tahanan mengejar polisi. Mungkin juga, tahanan mengejar polisi, lalu polisi mengajar tahanan.

Itulah hakikat makna sebenarnya dari judul di atas jika digunakan kata kejar-kejaran. Sekarang kaitkan dengan logika berbahasa. Mungkinkah tahanan mengejar polisi, lalu polisi mengejar tahanan? Rasanya logika belum bisa menerima hal itu. Ini karena logika menafsirkan, bila tahanan mengejar polisi, tentu kejadian itu sangat diharapkan oleh polisi karena polisi tak perlu bersusah-payah menguras tenaga mengejar tahanan. Ia hanya menunggu tahanan saja karena tahanan mengejarnya. Jika begitu, yang diuntungkan adalah polisi, tetapi musibah bagi tahanan karena ia ditangkap kembali dan dijebloskan ke penjara.

Ketika saya membaca substansi berita, tak ada satu pun kalimat yang mengatakan tahan mengajar polisi, selain polisi yang mengejar tahanan. Dengan demikian, tampak pada judul di atas, logika berpikir yang kacau dan sudah seharusnya diperbaiki. Agar benar secara makna dan tentunya logika, kalimat itu harus ditulis menjadi “Tahanan Dikejar oleh Polisi” atau “Polisi Mengejar Tahanan”.

Mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar![]

Dua Istri Polisi Terlibat Jual-Beli Bayi, Kok Bisa?

Dua Istri Polisi Terlibat Jual-Beli Bayi, Kok Bisa?

Jakarta – Polisi masih memeriksa Latifah Monu dan Lisnawati, dua istri polisi yang diduga terlibat praktik jual-beli bayi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka terindikasi menjadi penghubung antara orang tua bayi dengan pasangan suami istri yang membeli bayi.

Menurut Kepala Polres Jakarta Utara Komisaris Besar Susetio Cahyadi, status Latifah dan Lisnawati masih saksi. “Mereka belum terbukti dapat uang dari transaksi ini,” kata Susetio, Selasa, 15 September 2015.

Orang tua bayi itu adalah Dedy Junaedi dan Rani Sutika. Dedy berusia 20 tahun dan bekerja sebagai kondektur angkutan umum. Sedangkan istrinya baru berumur 18 tahun. Pada 1 Agustus lalu Rani melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Cahaya Medika.

Pasangan itu tidak sanggup membayar biaya persalinan sebesar Rp 6,7 juta. Rani kemudian meminta bantuan Sulistiana untuk mencari pasangan suami istri yang bersedia mengadopsi bayinya. Syaratnya,  pasangan itu bersedia melunasi biaya persalinan rumah sakit.

Karena kasihan, Sulistiana menemui Latifa. Latifa kemudian meminta bantuan kepada Lisnawati. Lisnawati inilah yang mempertemukan Rani dengan pasangan Haryono-Listiawati. Pasangan ini bersedia mengadopsi bayi Rani.

Susetio mengatakan, dua dari tiga perempuan yang menjadi perantara itu adalah istri polisi. Mereka tinggal di asrama polisi RT 04 RW 07 Cilincing, Jakarta Utara.  “Meski keduanya tidak mengambil keuntugan kami akan tetap mendalami peranan mereka,” katanya.

Saat ini polisi baru menetapkan Dedy dan Rani sebagai tersangka. Pasangan muda itu dijerat Pasal 79 juncto pasal 39 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mereka diancam hukuman maksimal  lima tahun.[] Sumber: tempo.co

foto ilustrasi bayi

Oknum Polisi Ini Ditangkap Saat Pesta Sabu dengan Anak di Bawah Umur

Oknum Polisi Ini Ditangkap Saat Pesta Sabu dengan Anak di Bawah Umur

LANGSA – Alih-alih mencegah atau menangani kejahatan, Briptu Zeni (24) justru menjadi pelaku. Anggota Propam Polres Langsa, Aceh, ini dibekuk saat berpesta sabu dengan seorang pria dan anak di bawah umur. Pelanggaran!

Penangkapan dilakukan di Desa Sungai Pauh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Selasa (15/9/2015) sekitar pukul 12.00 WIB. Berdasarkan informasi dari masyarakat, ada pesta sabu di rumah di desa tersebut. Penggerebekan pun dilakukan.

“Dari tangan mereka, petugas mengamankan dua paket sabu seberat 1,90 gram,” kata Kapolres Langsa AKBP Sunarya dalam gelar perkara di Mapolres Langsa.

Selain Zeni, petugas juga menangkap Muhammad Ishak (25) dan anak berumur 16 tahun. Mereka merupakan warga Kota Langsa.

“Meskipun berstatus anggota polisi, kami tetap memproses secara hukum. Ia (Zeni) juga akan terancam dipecat dari polisi,” kata Sunarya.

Menurut Sunarya, kelakuan dari oknum polisi itu tidak bisa dibiarkan. Untuk memberantas narkoba, polisi harus bersih dari narkoba. Untuk anak yang ikut pesta sabu akan dibina.

“Setelah kita bina dan rehabilitasi, nanti akan kita kembalikan kepada orangtuanya,” jelasnya.

Selain paket sabu, petugas juga menyita dua buah alat isap. Saat ini, ketiga tersangka masih diamankan di Mapolres Langsa. | Sumber: detik.com

 

Lagi, Polisi Tembak Mati Pencuri Motor

Lagi, Polisi Tembak Mati Pencuri Motor

JAKARTA – Satuan Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menembak mati seorang pencuri motor, Doni bin Kriah. Seorang pencuri lain, Suni Alamsyah, juga ditembak di bagian lutut karena mencoba melarikan diri saat hendak ditangkap. Penembakan dua pencuri motor itu terjadi di Cijantung, Jakarta Timur.

Menurut Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Eko Hadi Santoso, polisi terpaksa menembak karena kedua pencuri itu dianggap berbahaya. “Mereka berulang kali melakukan pencurian dengan sadis. Jika terdesak, mereka tak segan menembak dengan senjata api rakitan,” katanya, Jumat, 28 Agustus 2015.

Menurut Eko, salah satu bukti keganasan Doni dan Suni adalah tak ragu menembakkan senjata api rakitan. “Dia pernah menembak waktu mencuri di Kebagusan, korbannya luka di perut,” kata Eko.

Sebelumnya, pada 19 April 2015 polisi telah menembak mati dua pencuri motor di kawasan Cijantung. Korbannya adalah Juwandi dan Syarif alias Lemos. Tampaknya penembakan mati kedua maling motor itu tidak membuat jera, muncul kompolotan Doni dan Suni yang menggantikannya.

Menurut Eko, target komplotan ini adalah sepeda motor yang terparkir tanpa penjagaan. “Salah satu pelaku turun dan langsung merusak lubang kunci,” kata dia. Jika terpergok, mereka tidak segan menembak senjata api rakitan yang selalu dibawa oleh Doni.

Eko menjelaskan setelah berhasil mencuri, barang curian langsung dijual ke penadah di Bogor atau dibawa ke Lampung. Lokasi transaksi dengan penadah berada di depan Mal Graha Cijantung dan Terminal Kampung Rambutan. Dalam pemeriksaan, kata dia, dalam dua bulan ini Suni sudah menggasak 50 unit sepeda motor.[] Sumber: tempo.co

Foto ilustrasi.

Dorr…Polisi Ini Tertembak Senjata Sendiri

Dorr…Polisi Ini Tertembak Senjata Sendiri

TIGARAKSA – Brigadir Tri Martono harus mendapatkan 6 jahitan pada tumit kaki kirinya setelah tertembak pistol yang dibersihkannya. Peristiwa naas itu dialami anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Tangerang saat sedang beristirahat di pinggir jalan Kawasan AEON Mall, Kecamatan Pagedangan.

Kapolres Kota Tangerang Kombes Irman Sugema mengungkapkan, perisiwa itu terjadi pada hari Selasa (18/8) lalu. Saat itu, Tri Martono hendak berangkat untuk dinas ke Mapolres.

Namun, dalam perjalanannya ia merasa ngantuk hingga akhirnya menghentikan laju mobil Honda City bernopol B-2791-IH miliknya di pinggir Jalan Kawasan AEON Mall.

Karena iseng, Tri dengan sengaja mengeluarkan senjata api miliknya di dalam mobil untuk dibersihkan, sekaligus untuk mengilangkan rasa ngantuk. Namun pada saat dibersihkan, senjata api yang diketahui macet itu tiba-tiba meletus. Tak pelak, peluru yang keluar dari senjata inventaris kepolisian tersebut melukai tumit kaki kirinya hingga tembus ke dasar mobil.

“Kejadiannya sudah dua hari yang lalu. Jadi bukan karena tertembak oleh orang lain. Tidak sengaja pada saat itu Tri sedang membersihkan senjata miliknya,” tegas Kombes Irman Sugema dilansir Satelit News (Grup JPNN.com), Jumat (21/8).

Pada saat terluka, kata Irman, Brigadir Tri kemudian menghubungi Titi salah satu kenalannya di Polresta Tangerang. Titi merupakan pedagang pulsa yang setiap harinya berjualan di Markas Kepolisian Kota Tangerang tersebut.

Mendapat informasi tersebut Titi langsung meminta kepada salah seorang teman lainnya untuk mengantarkannya ke lokasi kejadian. Ia langsung berbegas menyusul Tri untuk memberikan pertolongan dan membawanya ke Rumah Sakit Asshobirin Serpong.

Beruntung proyektil peluru yang keluar dari senjata api miliknya tidak bersarang, sehingga bisa langsung dilakukan pengobatan. Brigadir Tri juga harus mendapat enam jahitan pada luka yang dideritanya.

“Habis kejadian langsung mendapat perawatan intensif. Sementara ini masih dalam proses penyembuhan,” jelas Irman.

Kepala Seksi Propam Polres Kota Tangerang, AKP Matias Sagala menambahkan, kasus tersebut masih dalam penanganan pihaknya. Menurutnya, kejadian itu merupakan kelalaian Brigadir Tri dalam menjaga senjata apinya sendiri.

“Untuk dugaan, sudah pasti yang bersangkutan lalai dalam menggunakan senjata,” pungkasnya.[] sumber: JPNN.com

Pakai Gerakan Maju-mundur Ala Syahrini, Pria Ini Masuk Bui

Pakai Gerakan Maju-mundur Ala Syahrini, Pria Ini Masuk Bui

Seorang pria bernama Agus alias Bedil (37) ditangkap anggota Polsek Cempaka Putih. Agus, ditangkap karena dalam tasnya ditemukan narkoba jenis shabu sebanyak 40 gram yang jika dinominalkan mencapai Rp50 juta rupiah.

Perwira unit narkoba Polsek Cempaka Putih, Insepktur satu Muhammad Rasyid, mengatakan, Agus ditangkap Selasa malam, 28 Juli 2015, tepatnya pukul 22.00 WIB.

Penangkapan terhadap Agus terjadi di Lapas Salemba, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.

“Jadi saat itu si Agus ini mau menjenguk kawannya si CH yang ada di Lapas Salemba. Namun, saat berada di depan pintu masuk Lapas, si Agus ini bertingkah aneh,” ujar Agus pada VIVA.co.id, Rabu 29 Juli 2015 di Mapolsek Cempaka Putih.

Rasyid melanjutkan, melihat tingkahnya yang aneh di depan pintu Lapas Salemba, anggota polisi yang saat itu ada di lokasi curiga dan mendatangi Agus.

“Di depan pintu Lapas Salemba, Agus terus maju-mundur, maju-mundur, mau masuk tapi tidak jadi, maju-mundur terus di depan pintu Lapas. Karena curiga, anggota kami yang ada di lokasi menegur, ‘kalau mau masuk besuk masuk saja, jangan maju mundur’,” kata Rasyid menirukan anggotanya yang menegur di lokasi.

Kemudian, kata Rasyid lagi, saat diperiksa oleh anggotanya, benar saja, dari tas kecil didapati barang haram, yaitu narkoba jenis shabu seberat 40 gram, yang diduga akan diberikan ke temannya CH yang mendekam di dalam Lapas Salemba.

“Saat ini, pelaku telah kami amankan. Dari pengakuan pelaku, ia mengaku dititipkan barang tersebut oleh RA yang tinggal di kawasan Mangga Besar. Rencananya mau dikasih ke temannya yang di Lapas Salemba si CH,” katanya.| sumber: viva.co.id

Polisi menunjukkan barang bukti sabu yang dimiliki pelaku. (foto ilustrasi) (FOTO: VIVA.co.id/ Adib Ahsani.)

Usai Dituduh Mencuri, Siswa SMP Ini Dianiaya Polisi

Usai Dituduh Mencuri, Siswa SMP Ini Dianiaya Polisi

TUBAN – VA, 13 tahun, warga Desa Kepatihan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, mengaku dianiaya seorang anggota Kepolisian Resort Tuban, Jawa Timur. Penyebabnya, VA yang masih duduk kelas II Sekolah Menengah Pertama Negeri Widang ini dituduh mencuri sepeda motor milik Kurtubi pada Minggu, 14 Juni 2015 lalu.

Korban mengakui dianiaya oleh anggota Kepolisian Sektor Widang, Tuban, bernama Ajun Inspektur Satu Nurhadi pada pemeriksaan di Kantor Kepolisian Sektor Widang, Senin, 15 Juni 2015. Korban mengaku dianiaya, diinjak dadanya, dan kabarnya mulutnya sempat dimasuki senjata oleh polisi yang memeriksanya agar mengakui perbuatan pencurian.

Meski ditekan, VA tetap berkukuh tak mengakui perbuatannya. Anak bawah umur itu kemudian dipulangkan ke orang tuanya.

Menurut Imanul Isthofania, anggota Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) yang mendampingi kasus ini, korban mengalami trauma dan tekanan. Selain karena dituduh mencuri sepeda motor, ia juga dianiaya oleh polisi. “Korban mengaku dipukul beberapa kali, lalu mulutnya dimasuki senjata,” ujarnya pada Tempo, Minggu, 21 Juni 2015.

Dia menyebut kasus tak dihiraukan meski kemudian muncul di masyarakat beberapa hari setelah kejadian. Atas kasus ini, korban sudah melakukan pemeriksaan luar alias visum atas dampingan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Kepolisian Resort Tuban pada Kamis, 18 Juni 2015. “Jadi, kami sudah ada visum,” kata Imanul. Imanul mengatakan profil sehari-hari VA adalah anak pendiam di lingkungan rumahnya di Desa Kepatihan, Kecamatan Widang, Tuban.

Kasus ini berawal ketika muncul pengaduan Kurtubi dan Husein, pemilik sepeda motor yang hilang. Tuduhannya dialamatkan ke VA dan kemudian dilaporkan ke Kantor Kepolisian Sektor Widang. Atas laporan itu, anggota polisi Nurhadi langsung mencari dan menangkap siswa kelas II SMPN Widang pada Senin, 15 Juni 2015.

Dalam pemeriksaan, VA mengaku tidak mencuri sepeda motor. Akibatnya, korban mengaku ditempeleng dua kali hingga diinjak dadanya. Tetapi, VA berkukuh tetap tidak mau mengakui perbuatannya. Dalam kondisi kesakitan, korban akhirnya dipulangkan ke rumah orangnya.

Tidak terima atas tuduhan dan penganiayaan, Kusni, orang tua VA, melaporkan hal tersebut ke Kantor Kepolisian Resort Tuban. Kasusnya kemudian dilanjutkan dengan memeriksa luka-luka VA untuk dilakukan pemeriksaan luar di Rumah Sakit Umum Daerah Tuban dan didampingi KPPA Kepolisian Resort Tuban.

Kepala Kepolisian Resort Tuban, Ajun Komisaris Besar Polisi Guruh Arif Darmawan menyatakan harus obyektif melihat kasus ini. Pertama adalah, soal penodongan senjata. Menurut dia, anggotanya sejak 2 Januari 2014, sudah tidak memegang senjata. Kedua, tidak ada penyekapan dalam kasus ini.

“Jadi, untuk memasukkan senjata ke mulut, saya membantahnya,” ujarnya pada Tempo Minggu 21 Juni 2015.

Selain itu, dalam kasus ini, Kepolisian Resort Tuban juga tetap akan memproses atas kasus pencurian sepeda motor. Makanya, polisi tetap akan memeriksa VA, yang diduga ikut atas kasus pencurian.

Tetapi, ujar Guruh, kasus ini juga dianggap tidak main-main. Soal tuduhan penganiayaan, ia sudah meminta Nurhadi diperiksa di bagian Profesi dan Pengamanan Resort Tuban dan Kepolisian Daerah Jawa Timur. Jika terbuti melakukan penganiayaan, maka anggotanya akan diproses secara pidana.

“Saya akan profesional. Kalau salah, ya anggota diproses secara pidana,” ucapnya.[] sumber: tempo.co

Video: Aksi Polisi Melawan Aturan Hukum

Video: Aksi Polisi Melawan Aturan Hukum

Polisi yang seharusnya menjadi panutan masyarakat dalam penegakkan hukum, di beberapa situasi justru melanggarnya. Perbuatan tercela anggota korps Bhayangkara tersebut terbukti setelah sejumlah warga merekam perbuatan mereka dan mengunggahnya ke YouTube.

Baru-baru ini, kasus yang paling menarik perhatian adalah saat kernet kopaja menyetor uang kepada anggota polisi di Bundaran Hotel Indonesia . Menyikapi kasus tersebut, Polda Metro Jaya menjatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis kepada anggota yang terekam di video tersebut.

Selain menerima pungli, beberapa anggota polisi berlaku arogan di jalan raya. Hal ini terlihat dari video Satuan Patroli dan Pengawalan (Sat-Patwal) saat mengawal sebuah bus. Dengan menggunakan mobil patroli, petugas Patwal membuka jalan dengan cara membahayakan pengguna jalan lainnya.

Dua kasus di atas, merupakan sedikit dari beberapa tindakan polisi yang terbukti melanggar aturan. Berikut video aksi polisi melanggar hukum yang menuai kecaman masyarakat.

Polantas langgar hukum dengan lawan arah dan melewati trotoar

Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang seharusnya menjadi panutan dalam penegakan hukum di jalan raya, justru memberi contoh yang tidak baik. Dengan mengendarai sepeda motor matic, mereka melaju di atas trotoar dan menyeberang saat lampu lalu lintas dari arah berlawanan tengah hijau.

Aksi personel Polantas tidak terpuji itu terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial. Salah satunya seperti yang diunggah oleh channel YouTube Novo dalam video berjudul ‘Polisi Persetan Aturan’.

Video berdurasi 1 menit 34 detik tersebut diperlihatkan, seorang personel Polantas melintas dari arah Jalan R.A. Kartini, Jakarta Selatan menuju Jalan Metro Pondok Indah. Saat akan berbelok ke arah Jalan Metro Pondok Indah, anggota Polantas pria ini berjalan di atas trotoar dan menerobos perempatan saat lampu lalu lintas berwarna merah.

Dalam video tersebut dituliskan, ada dua cara untuk dapat melintas lancar di Jakarta, salah satu caranya adalah dengan menaiki sepeda dan menjadi personel polisi. Hingga Kamis (26/3), video yang diunggah pada 24 Maret 2015 tersebut telah ditonton sebanyak 1.923 kali.

Aksi arogan mobil Patwal buka jalan

Aksi ugal-ugalan ditunjukkan petugas Satuan Patroli dan Pengawalan (Sat-Patwal) saat mengawal sebuah bus. Dengan menggunakan mobil patroli, petugas Patwal membuka jalan dengan cara membahayakan pengguna jalan lainnya.

Aksi membahayakan tersebut terekam dalam video yang kemudian diunggah ke Youtube. Dalam video berjudul ‘Atraksi Mendebarkan Polisi Patwal Asal Cianjur Bang Dika @ Berita Paling Dahsyat 24 Oktober 2014’ terlihat bagaimana cara petugas membuka jalan dengan cara meminta kendaraan dari arah sebelahnya untuk menepikan kendaraan.

Selain menyalakan sirine, mobil Patwal merek Hyundai Elantra itu sesekali berusaha memepet kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Tindakan berbahaya tersebut dilakukan lebih dari sekali.

Polisi terima pungli di Bundaran HI

Beberapa waktu lalu heboh video kernet kopaja menyetor uang kepada anggota polisi di Bundaran Hotel Indonesia. Saat video mereka beredar luas di media sosial Youtube, Polda Metro langsung menyelidiki siapa anggota penerima pungli tersebut. Kini lima polisi tersebut telah diproses hukum dan dikenakan sanksi.

Dari penyelidikan tersebut, kelima polisi itu mengaku tidak ada upaya meminta uang dari kernet kopaja P19. “Kenek Kopaja sendiri yang memberikan setoran sebelum memutar arah ke jalur yang sebenarnya dilarang,” ujar Wadirlantas PMJ AKBP Bakharuddin Muhammad Syah dikutip laman resmi Facebook Polda Metro Jaya, Kamis (9/4).

Anehnya, menurut Bakharuddin, lima polisi yang melihat pelanggaran Kopaja P19 tersebut tidak menindak, padahal di daerah Bundaran HI dilarang memutar. Mereka malah menerima uang dari kernet tersebut. Kelima polisi tersebut pun ditindak dan disidang kode etik untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Polisi yang berpangkat perwira dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis sedangkan untuk tiga orang yang berpangkat bintara ditempatkan di tempat khusus selama 21 hari dan dimutasi dari lingkungan Ditlantas PMJ. Klik tautan ini untuk melihat videonya.

Polisi terima setoran dari sopir truk

Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah anggota polisi yang menerima setoran yang diduga pungli dari sejumlah sopir truk menghebohkan media sosial. Aksi tidak terpuji tersebut dilakukan secara terang-terangan di siang bolong, saat arus lalu lintas tengah ramai.

Video tersebut kemudian menjadi viral di media sosial, salah satunya seperti diunggah oleh akun Facebook Rudy Santosa Tan. Sejak diunggah pada Rabu (27/5), video berdurasi 58 detik tersebut telah ditonton sebanyak 227.507 kali.

Dalam video tersebut, tampak sopir mobil bak dan truk yang sebagian besar berplat nomor Sumatera Utara (BK) memberikan uang setoran kepada sejumlah anggota polisi yang berdiri di pinggir jalan. Mereka memberikan langsung kepada polisi, maupun melemparkan uang di jalan yang kemudian dipungut oleh polisi.

Perbuatan tercela polisi tersebut kemudian menuai kecaman dari netizen. Banyak yang menyebut ulah segelintir anggota polisi tersebut dapat mencoreng instansi korps Bhayangkara.[] sumber: merdeka.com

Polisi Ditemukan Tewas di Lampeuneurut, Kapolresta: Analisa Sementara karena Sakit

Polisi Ditemukan Tewas di Lampeuneurut, Kapolresta: Analisa Sementara karena Sakit

BANDA ACEH – Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli mengatakan Brigadir Warsidi Anggota Subdit 1 Dit Reskrim Polda Aceh yang ditemukan tewas di ruko diduga sementara karena sakit. Korban ditemukan pada hari Sabtu, 16 Mei 2015 sekitar pukul 12.00 WIB.

“Penyebab kematian analisa sementara karena sakit,” kata Kombes Pol Zulkifli kepada portalsatu.com melalui pesan singkat (SMS) yang diterima pada pukul 16.26 WIB tadi.

Ia mengatakan saksi yang pertama mengetahui hal tersebut adalah Briptu Khairi, anggota Dit Reskrim Polda Aceh. Dia dihubungi oleh istri almarhum, Hartini (28) yang khawatir terhadap kondisi Brigadir Warsidi. Pasalnya, Hartini tidak bisa menghubungi almarhum dan melaporkannya ke Polsek Ingin Jaya, Aceh Besar.

Hasil olah Tempat Kejadian Perkata (TKP) oleh Unit Iden Sat Reskrim Polresta Banda Aceh ditemukan kondisi mayat dalam posisi terlentang di atas tempat tidur, mengeluarkan darah dan busa dari mulut.

“Sementara tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan baik pada tubuh korban maupun di sekitar TKP,” ujarnya.

Dikatakannya lagi, pada pukul 12.50 WIB, korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk dilakukan visum. Rencana mayat akan dikebumikan di kampungnya di Takengon.[](bna)