Tag: planet

Wajah Planet Bumi dari Jarak 1,6 Juta Kilometer

Wajah Planet Bumi dari Jarak 1,6 Juta Kilometer

Dari luar angkasa, planet Bumi tempat kita tinggal tampak seperti “kelereng biru” yang Indah. Sebagian gambaran ini diperoleh dari foto “Blue Marble” hasil jepretan roket Apollo tahun 1972. Ketika itu foto bumi diambil dari jarak 45.000 kilometer di luar angkasa.

Kini, lembaga antariksa AS, NASA, telah mengambil foto terbaru yang diambil dari jarak 1 juta mil atau sekitar 1,6 juta kilometer.

Seperti dirangkum Nextren dari Cnet, Kamis (23/7/2015) foto anyar yang diambil pada 6 Juli lalu tersebut merupakan kombinasi dari tiga gambar yang dijepret oleh unit kamera EPIC (Earth Polychromatic Imaging Camera) yang terpasang di salah satu satelit NASA.

Hasilnya adalah foto yang dengan rinci memperlihatkan keindahan Bumi dari angkasa, dari struktur padang pasir, sistem sungai, hingga pola awan yang rumit.

“Kualitas tinggi dari gambar-gambar EPIC melebihi semua ekspektasi kami dalam hal resolusi,” ujar anggota tim proyek Dscovr NASA, Adam Szabo, dalam  sebuah posting di situs NASA.

Dscovr merupakan proyek gabungan antara NASA dengan National Oceanic and Atmospheric Admnistration serta Angkatan Udara Amerika Serikat.

Diluncurkan pada Februari tahun ini, Dscovr bertujuan memonitor angin matahari (solar wind) sehingga para ilmuwan bisa memprediksi kedatangan badai matahari yang mampu merusak sistem telekomunikasi dan listrik di Bumi.

Dalam menjalankan misi itu, kebetulan, satelit Dscovr sempat pula memotret Bumi dari jarak jauh. NASA berencana mengumpulkan gambar-gambar jepretan baru ini dalam sebuah situs internet khusus pada September mendatang. | sumber : nextren

Foto: penampakan bumi yang diambil dari jarak 1,6 juta kilometer oleh satelit NASA @NASA via nextren

Lima Planet Baru Seukuran Bumi Ditemukan

Lima Planet Baru Seukuran Bumi Ditemukan

SEBUAH sistem tata surya dengan lima planet seukuran bumi ditemukan. Para ahli meyakini penemuan ini dapat membantu menjawab misteri adanya kehidupan di planet lain.

Induk dari sistem tata surya tersebut kemudian dinamai Kepler-144. Sistem ini berjarak sekitar 117 tahun cahaya dari bumi dan diperkirakan berusia 11,2 miliar tahun.’

Pada bulan Januari, sekelompok peneliti starquake pada Universitas Birmingham, Inggris yang dipimpin Tiago Campante mengumumkan penemuan dari kelima planet ini. Menurut Campante, penemuan ini dapat menambah wawasan baru terkait keberadaan kehidupan asing.

“Sistem ini memberi kita harapan bahwa ada dunia lain yang dihuni yang belum sempat teramati lantaran kita tidak punya cukup waktu. Observasi di mana mendatang mungkin bisa mengubahnya,” ujar Campante kepada Astrobio.net.

Meski demikian, terbersit pertanyaan apakah bisa manusia hidup dalam waktu miliaran tahun. Hal itu masih murni spekulasi.

“Jika kecerdasan hidup bisa berkembang pada sistem setua ini, bisakah ini tetap ada atau justru malah hancur sendiri?” ungkap Campante.

Nama Kepler-444 diambil setelah misi pencarian planet Kepler NASA, yang pertama kali membuat penemuan tentatif. Asalnya, bintang ini diberi kode KOI-3158, tetapi belakangan diubah.

Para astronom menunjukkan diameter planet tersebut diperkirakan sebesar Mars atau Venus. Bisa juga seperti bumi atau lebih kecil.

“Ada implikasi yang luas dari penemuan ini,” kata Campante.

Menurut dia, penemuan ini menunjukkan susunan planet telah terbentuk jauh sebelum pembentukan bumi. Hal ini bisa menjadi indikasi adanya kehidupan lain.

“Pada saat Bumi terbentuk, planet-planet dalam sistem ini sudah lebih tua dari planet kita saat ini. Penemuan ini sekarang dapat membantu untuk menentukan apa yang kita sebut ‘era pembentukan planet’,” kata dia.[] sumber: dream.co.id

6 Fakta Tentang Pluto Yang Wajib Anda Ketahui

6 Fakta Tentang Pluto Yang Wajib Anda Ketahui

Pesawat antariksa New Horizons sudah menempuh jarak enam miliar kilometer dalam waktu lebih dari sembilan tahun, sebelum melayang rendah di atas permukaan planet kerdil itu pada 14 Juli esok.

Kini wahana nirawak milik badan antariksa Amerika Serikat (NASA) itu melesat dengan kecepatan 50.000 km per jam. New Horizons akan perlahan-lahan melambat saat masuk ke orbit Pluto, sebelum mengisi lintasan dengan ketinggian 12.500 km di atas permukaan Pluto.

Itu adalah titik terdekat yang pernah dicapai manusia dengan Pluto, planet kerdil di ujung tata surya kita.

Sepanjang perjalanannya New Horizons sudah mengirimkan sejumlah foto Pluto dan dua bulan yang setia menjadi satelitnya. Foto-foto itu adalah gambar-gambar pertama Pluto dalam warna dan yang lebih rinci.

“Data-data yang dikumpulkan oleh New Horizons tak hanya akan membantu kita memahami tentang Pluto, tetapi juga untuk mengerti bagaimana tata surya kita terbentuk,” kata Rob Cockcroft, astronom dari McMaster University, Kanada.

Berikut adalah enam fakta yang menurut Cockcroft perlu kita ketahui tentang Mars, sebelum New Horizons membuka tabir planet kerdil itu lebih jauh:

1. Sehari di Pluto, sepekan di Bumi
Pluto, meski ukurannya lebih kecil, butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu putaran di atas sumbunya sendiri. Akibatnya satu hari di Pluto sama dengan 6,5 hari di Bumi – hampir satu minggu di Bumi. Selain itu, karena letaknya yang berada di titik terluar tata surya, Pluto butuh waktu lebih lama untuk mengitari Matahari. Alhasil, setahun di Pluto sama dengan 248 tahun di Bumi.

2. Berlapis es
Pluto sejatinya terdiri dari batuan, yang dilapisi oleh es tipis. Permukaan planet itu ditutupi oleh nitrogen beku dan kemungkinan besar ada juga air beku yang tersimpan di sela-sela batuan dan nitrogen beku.

3. Berkeringat
Atmosfer Pluto tak seperti punya Bumi. Atmosfer Pluto 100.000 lebih tipis ketimbang Bumi, karena planet kerdil itu bisa “berkeringat”. Artinya, nitrogen beku di permukaan Pluto langsung berubah menjadi gas (tak perlu menjadi cair dulu), dan naik ke angkasa. Akibatnya Pluto punya atmosfer yang sangat tipis.

4. Orbit elips
Secara rata-rata, Pluto jaraknya 40 kali lebih jauh dari jarak Bumi ke Mahatari. Tetapi jarak itu bisa berubah-ubah, karena orbit Pluto yang berbentuk elips. Pada titik terjauh, jaraknya ke Matahari bisa setara dengan 50 kali jarak Bumi ke Matahari. Di titik terdekat jaraknya bisa hanya sama dengan 39 kali jarak Bumi ke Matahari. Jarak dari Matahari ke Pluto berkisar antara 4,4 miliar km sampai 7,4 miliar km.

5. Musim ekstrem
Musim-musim di Pluto sangat ekstrem dan periodenya panjang. Musim disebabkan oleh kemiringan planet terhadap Matahari. Sebagai pembanding, Bumi yang punya paling banyak empat musim, sudut kemiringannya sekitar 23,5 derajat terhadap Matahari. Pluto, di ujung tata surya, punya kemiringan 120 derajat terhadap Matahari.

6. Bulan yang unik
Ada yang sama tentang relasi Pluto dan bulan terbesarnya, Charon dengan Bumi dan Bulan. Karena model orbitnya, permukaan Charon yang sama yang akan selalu terlihat dari Pluto. Sama seperti permukaan Bulan dari Bumi.

Tetapi ada juga bedanya. Charon hanya tampak di satu titik yang sama di langit Pluto. Artinya, jika ada berada di wilayah lain di Pluto, Anda tak akan bisa menikmati cahaya Charon di malam hari. | sumber : suara.com

Ini Lima Skenario Dahsyat Kiamat Versi NASA

Ini Lima Skenario Dahsyat Kiamat Versi NASA

JAKARTA – Sebuah teori konspirasi telah beredar dan memprediksi sebuah peristiwa dahsyat yang berkaitan dengan iklim akan terjadi dalam waktu tiga bulan mendatang. Peristiwa kiamat itu diperkirakan terjadi sekitar 22-28 September 2015. Salah satu bentuknya adalah asteroid yang menghantam Bumi. Juru bicara Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menyangkal adanya asteroid yang menghajar Bumi.

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, deteksi keberadaan asteroid menjadi prioritas utama NASA. “Kemungkinan tabrakan kecil, NASA tak mendeteksi adanya asteroid atau komet di jalur yang akan bertabrakan dengan Bumi,” katanya seperti dilansir Mirror, Senin 8 Juni 2015.

Bukan sekali ini ada ramalan mengenai kiamat. Empat tahun lalu masyarakat dihebohkan dengan ramalan terjadinya kiamat pada Jumat, 21 Desember 2012, sesuai ramalan suku Maya. Kalender Maya kuno menetapkan siklus 400 tahun, yang disebut b’ak’tun. Siklus itu akan berakhir pada 21 Desember 2012, yang dibayangkan orang sebagai akhir dunia.

Kiamat bisa terjadi karena ulah manusia, misalnya gara-gara perang nuklir atau perusakan lingkungan yang membuat iklim berubah drastis. Tapi, kiamat juga dapat terjadi karena faktor Bumi sendiri dan campur tangan alam semesta. Ada sejumlah teori mengenai terjadinya kiamat berdasarkan ramalan Maya kuno untuk jenis kiamat kedua ini. Ini beberapa di antaranya:

1. Badai Matahari

Matahari berputar melalui periode tenang dan puncak kegiatannya kira-kira tiap 11 tahun. Periode aktif ini ditandai dengan peningkatan badai matahari dan lidah api atau flare. Dioprediksi terjadi badai matahari pada 21 Desember 2012 dan akan menghancurkan Bumi.

Tapi, menurut ilmuwan NASA, partikel maksimum matahari sangatlah kecil. Dengan kata lain, para ilmuwan tidak memiliki bahwa alasan badai matahari mampu mengganggu masyarakat di Bumi. Tapi, kiamat pasti akan terjadi bila matahari padam.

2. Kutub Magnet Bumi Bergeser

Kutub Utara dan Selatan akan serempak berubah tempat. Medan magnet bumi sebenarnya berubah tempat kadang-kadang, meski tidak dalam waktu sehari. Menurut NASA, pergantian kutub ini terjadi selama ratusan ribu tahun. Pergantian kutub magnet dapat menyebabkan sedikit peningkatan radiasi kosmik.

3. Planet X Menabrak Bumi

Planet X yang disebut-sebut sebagai Nibiru konon akan menabrak Bumi. Variasi dari teori ini adalah asteroid atau benda langit lain dalam skala raksasa.

4. Planet-planet Sejajar

Kiamat juga diramalkan akan terjadi bila planet-planet berada dalam keadaan sejajar. Entah bagaimana fenomena ini akan mempengaruhi planet kita. Menurut NASA, kesejajaran planet pernah terjadi pada 1962, 1982, dan 2000. Dan ternyata tak terjadi apa-apa pada Bumi kita.

5. Bumi Padam

Rumor ini mengklaim bahwa Bumi akan padam akibat dari matahari dan bumi sejajar dan planet kita akan masuk dalam sabuk foton. Menurut NASA, hal ini sama sekali tidak akan terjadi.[] sumber: tempo.co

Pelajar 15 Tahun Sukses Temukan Sebuah Planet Baru

Pelajar 15 Tahun Sukses Temukan Sebuah Planet Baru

LONDON — Seorang anak sekolah berusia 15 tahun berhasil mengalahkan para astronom profesional setelah menemukan sebuah planet baru ketika sedang bekerja magang di sebuah universitas.

Tom Wagg (15) tengah memeriksa data yang dikumpulkan sejumlah teleskop di Afrika Selatan saat sedang bekerja magang di Universitas Keele, Staffordshire, Inggris.

Saat itulah, Wagg melihat sebuah titik kecil di depan cahaya sebuah bintang yang berjarak 1.000 tahun cahaya dari Bumi. Setelah penelitian saksama selama dua tahun, para ilmuwan menetapkan bahwa titik itu adalah sebuah planet yang tengah melintasi sebuah bintang sehingga menghalangi cahaya bintang itu.

“Saya sangat senang telah menemukan sebuah planet dan saya sangat terkesan karena planet itu berjarak sangat jauh dari Bumi,” kata Tom Wagg yang kini berusia 17 tahun.

Planet baru ini diyakini berukuran sebesar Jupiter, planet terbesar dalam galaksi Bima Sakti, dan mengelilingi mataharinya hanya dalam waktu dua hari. Sebagai pembanding, Jupiter membutuhkan 12 tahun Bumi atau 4.272 hari untuk mengitari Matahari.

Planet baru ini mengorbit sebuah bintang di konstelasi Hydra atau ular air, di sisi selatan angkasa. Suhu di planet baru ini diperkirakan bisa mencapai 1.000 derajat celsius.

Kamera teleskop di Afrika Selatan adalah bagian dari sebuah proyek bernama Wide Angle Search for Planets (WASP). Sebuah teleskop sejenis juga beroperasi di La Palma, Kepulauan Canary, untuk memantau sisi utara langit.

Lebih dari 1.000 eksoplanet atau planet yang mengorbit sebuah bintang selain Matahari telah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar ditemukan oleh teleskop pemburu planet milik NASA, Kepler. | sumber: kompas.com

Foto: Tom Wagg (17), dua tahun lalu menemukan sebuah planet baru berukuran sebesar Jupiter dan berjarak 1.000 tahun cahaya dari Bumi

Warga Bumi Diajak Namakan 20 Dunia Baru Ini

Warga Bumi Diajak Namakan 20 Dunia Baru Ini

Tahun 2014 International Astronomical Union dan Zooniverse meluncurkan kontes penamaan dunia asing yang diberi nama kontes NameExoWorlds. Kontes tersebut saat ini sudah memasuki tahap berikutnya dimana 20 dunia baru sudah dipilih untuk dinamai oleh klub maupun organisasi non profit yang sudah terdaftar di direktori IAU.

Di masa lalu, benda-benda langit diberi nama oleh masyarakat dan pada umumnya setiap negara dan budaya memiliki penamaan yang berbeda. Bagi para astronom, sistem keplanetan baru yang ditemukan sejak tahun 1995 memiliki nama ilmiah yang mungkin bagi masyarakat terdengar aneh. Karena itulah IAU memutuskan untuk mengajak masyarakat terllibat dalam memberi nama populer bagi 20 sistem keplanetan yang sudah dikonfirmasi keberadaannya dan sudah dipelajari selama 20 tahun ini.

Ke-20 sistem yang dipilih berasal dari 20 sistem yang ditemukan sampai dengan 31 Desember 2008. Salah satu syarat penentuan ke-20 sistem ini adalah, mereka sudah ditemukan lebih dari 5 tahun. sistem yang bisa dinamai ini dipilih dari sistem exoplanet yang ditemukan lewat berbagai metode antara lain metode kecepatan radial, transit, lensamikro, dan pemotretan secara langsung. Kontes NameExoWorlds memberikan kesempatan kepada masyarakat global untuk turut serta ambil bagian dalam penamaan dunia baru yang ditemukan para astronom. Penamaan ini tidak hanya untuk menamakan exoplanet melainkan juga bintang yang menjadi induk sistemnya.

Ke-20 sistem yang bisa dinamai tersebut tidak hanya terdiri dari sistem tunggal dengan satu planet melainkan juga sistem multipel dengan beberapa planet. Setiap organisasi diperkenankan untuk mengajukan 1 nama untuk 1 ExoWorld. Jumlah nama yang bisa diajukan akan disesuaikan dengan sistem yang dipilih. Untuk sistem tinggal maupun multipel, nama yang diajukan disesuaikan dengan jumlah planet ditambah dengan nama bintang induknya.

Dari 20 sistem yang bisa dinamai, ada 5 bintang yang sudah memiliki nama populer dan tidak diperkenankan untuk diberi nama baru. Kelima bintang itu adalah Fomalhaut (alpha Piscis Austrini) yang merupakan satu dari empat bintang kerajaan Persia kuno bersama Aldebaran, Antares dan Regulus. Bintang kedua adalah Pollux (beta Geminorum), saudara kembar dari Castor. Pollux dan Castor adalah putra Zeus (Jupiter) dan Leda dari mitologi Yunani dan Romawi. Rasi Gemini diberi nama berdasarkan kisah si kembar ini. Tiga bintang lainnya yang sudah memiliki nama populer adalah gamma Cephei (Errai, yang artinya gembala dalam bahasa Arab), epsilon Tauri (Ain, mata kerbau dalam bahasa Arab), dan iota Draconis (Edasich, dari bahasa Arab). Bintang-bintang ini juga memiliki nama populer lain dalam berbagai budaya.

Secara keseluruhan ada 15 bintang dan 32 planet (47 Obyek) yang dapat diberi nama populer. Penjelasan terkait ke-20 bintang dan juga pesan dari para penemunya bisa dibaca di laman ExoWorlds.

Untuk dapat berpartisipasi, klub dan organisasi non profit harus terdaftar di Directory of World Astronomy selambat-lambatnya tanggal 1 Juni 2015. Setelah terdaftar, pengajuan nama sistem baru dapat didaftarkan di laman NameExoWorlds selambat-lambatnya tanggal 15 Juni jam 23:59 UTC. Pengajuan nama harus memenuhi persyaratan yang diberikan yakni:

  • Penamaan tidak lebih dari 16 karakter
  • Dalam satu suku kata
  • Mudah diucapkan dalam berbagai bahasa
  • Tidak menyinggung jika diadaptasi dalam semua bahasa dan budaya
  • Tidak mirip dengan nama obyek astronomi yang sudah ada.

    Sebagai Tambahan:

  • Nama hewan tidak diperkenankan.
  • Nama yang secara prinsip maupun yang murni memiliki keterkaitan komersil tidak diperkenankan.
  • Nama perorangan, tempat dan kejadian yang memiliki keterkaitan dengan politik dan militer tidak diperbolehkan dan tidak cocok untuk digunakan.

    Proses penamaan maupun penamaan benda langit harus memenuhi hak intelektual:

  • Harus mendapat persetujuan dari penemu, yang juga berpartisipasi dalam proses penamaan.
  • Nama yang akan digunakan saat diajukan harus bebas digunakan oleh publik ( tidak terdaftar memiliki copyright dan memiliki royalti seperti nama yang diciptakan dalam fiksi, buku, permainan, film dll)

    Setelah tahap ini selesai, masyarakat global akan dapat melakukan voting untuk memilih nama favorit mereka dari nama populer yang sudah diajukan. Hasil dari kontes ini akan diumumkan dalam  IAU XXIX General Assembly di Honolulu, USA, tanggal 3–14 Agustus 2015.[] sumber: National Geographic

Radar Ungkap Misteri Planet Venus

Radar Ungkap Misteri Planet Venus

PLANET Venus selama ini terkenal sebagai planet yang panas dan tertutup. Planet ini mempunya atmosfer dengan suhu mencapai 480°C, kaya akan CO2 dan awan sulfida, sehingga menjadikannya misterius. Tapi sebuah foto radar terbaru mengungkapkan, Planet Venus ternyata kaya akan gunung, perbukitan, dan kawah.

Radar yang dimaksud adalah Green Bank Telescope (GBT) dan Arecibo Observatory, dua-duanya dikelola oleh National Science Foundation, Amerika Serikat. Gambaran Venus yang kaya anak gunung, bukit, kawah, adalah hasil pencitraan dua fasilitas mewah milik Amerika Serikat.

Meski demikian, dalam foto tersebut terbentang garis hitam yang hingga sekarang belum terpetakan alias sulit dicitrakan.

Wujud telanjang Venus itu dihasilkan dengan teknologi radar bistatik. Sinyal radar dipancarkan dari Arecibo Observatory, menembus ruang hampa dan atmosfer Venus, sampai di permukaan planet itu untuk kemudian dipantulkan kembali ke Bumi dan ditangkap GBT.

Sejatinya ini bukanlah hasil pencitraan yang pertama. Sebelumnya, dengan wahana Magellan milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada tahun 1990-an dan wahana Poineer dan Venera milik Rusia, Venus telah berhasil dicitrakan. Yang membuat ini istimewa adalah citra ini merupakan yang pertama didapatkan langsung dari Bumi.

Beberapa astronom menyebut pencitraan wajah telanjang Venus ini sangat penting, terlebih sebagai sarana untuk membandingkannya dengan citra yang diperoleh para astronom terdahulu. Salah satu yang bisa diobservasi adalah perubahan fitur geologi. Dengan begitu, aktivitas geologi Venus bisa diketahui. Selain itu, citra ini tentu saja menambah wawasan tentang planet Venus.

“Dibutuhkan ketelitian untuk mencari bukti adanya perubahan, tetapi pekerjaan itu saat ini sedang dilakukan,” kata Bruce Campbell, ilmuwan senior dari Center for Earth and Planetary Studies di National Air and Space Museum di Washington, D.C.

Sementara itu, dengan membandingkan citra yang baru saja diperoleh dengan citra yang sudah ada akan membantu menunjukkan ikhwal proses alam yang terjadi di permukaan Venus. Kabarnya, kajian tentang ini akan dipublikasikan di jurnal Icarus.[] sumber: National Geographic

[RISET]: Bumi Pernah ‘Makan’ Benda seperti Merkurius

[RISET]: Bumi Pernah ‘Makan’ Benda seperti Merkurius

BUMI telah dilengkapi dengan berbagai pelindung dari ancaman luar angkasa. Bumi memiliki atmosfer untuk membakar asteroid sebelum sampai ke permukaan.

Pelindung lain yang sangat penting yaitu medan magnet, yang berfungsi untuk melindungi dari serangan radiasi yang memborbardir Bumi dari luar angkasa.

Dikutip dari Phys.org, Kamis 16 April 2015, peneliti kimia Universitas Oxford, Inggris mengungkap bagaimana asal usul medan magnet Bumi.

Medan magnet Bumi awalnya dipicu oleh tabrakan benda seperti Merkurius yang menghantam Bumi muda. Tabrakan benda ini membuat inti planet Bumi mendapat elemen radioaktif yang diperlukan untuk menghasilkan medan magnet.

“Ini adalah pekerjaan yang susah. Salah satunya adalah sumber energi apa yang mendorong medan magnet Bumi?” ujar Bernard Wood, seorang pakar kimia Universitas Oxford, yang merupakan salah satu penulis studi. Ia dibantu koleganya sesama di universitas, Anke Wohlers.

Disebutkan, untuk mendorong medan magnet Bumi, diperlukan unsur radioaktif sepeti kalium, torium, atau urabium. Elemen tersebut mengeluarkan panas saat membusuk. Elemen ini disebutkan berputar pada inti Bumi.

Wood menambahkan, elemen itu banyak berinteraksi dengan oksigen dan tak mau bercampur dengan logam. Kondisi itu menjadikan elemen tersebut tetap berada di inti Bumi.

Namun, pertanyaannya adalah kenapa uranium bisa bertahan dalam inti Bumi. Kedua peneliti itu menduga pada awal sejarahnya, Bumi melahap tubuh seperti Merkurius. Kondisi itu membuat sulfida mengurung uranium tetap di inti Bumi.

Teori dua peneliti itu diakui oleh peneliti lain dari Carnegie Institution for Science, Washington, AS.

“Sebelum hasil keduanya, bukti masih kontroversial yaitu uranium dan kalium dapat dimasukkan dalam logam besi pada suhu tinggi dan tekanan formasi inti,” ujar Richard Carlson, peneliti Carnegie Institution for Science.

Meski mengakui temuan kedua peneliti itu, Carlson meminta pengujian lebih dalam apakah uranium berhasil masuk ke inti Bumi dengan cara tersebut.

Terkait dengan benda yang menabrak Bumi, Carlson meyakini itu berukuran setara dengan massa Mars. Tapi, secara komposisi berbeda dengan Merkurius.[] sumber: viva.co.id