Tag: pki

Kisah Tujuh Gubernur yang Dituduh Terlibat Gerakan PKI Dibukukan

Kisah Tujuh Gubernur yang Dituduh Terlibat Gerakan PKI Dibukukan

JAKARTA – Gubernur Bali saat itu, Anak Agung Bagus Sutedja dianggap meninggal dunia setelah dijemput empat pria berseragam lengkap Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dari kediamannya di Kompleks Senayan, Jakarta, pada 29 Juli 1966.

Keluarga Besar Puri Negara Djembrana dari Kabupaten Djembrana Bali menyebut Anak Agung Bagus Sutedja meninggal dunia sebagai korban konspirasi penculikan politik. Empat pria berseragam TNI-AD itu datang menjemput Gubernur Bagus Sutedja dengan bersikap sangat hormat.

Mereka berdalih menjemput sang gubernur, yang ketika itu berusia 43 tahun, untuk berkoordinasi dengan Kapten (Inf) Teddy di Markas Komando Staf Garnizu, Medan Merdeka Jakarta.

Pihak keluarga tak menaruh curiga. Bagus Sutedja bahkan sempat berpamitan dengan istri dan anak-anaknya sebelum pergi. Namun setelah itu, nasib Bagus Sutedja tak pernah diketahui lagi.

Selama tiga dasawarsa, Keluarga Besar Puri Agung Negara Djembrana terpaksa menanggung stigma terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sepenggal kisah mengenai Gubernur Bagus Sutedja ini merupakan cuplikan dari buku berjudul “Nasib Para Soekarnois : Kisah Penculikan Gubernur Bali, Sutedja 1966”.

Buku yang ditulis wartawan senior Harian Sore Sinar Harapan, Aju, tersebut mencoba menceritakan kisah para gubernur yang dituduh terlibat PKI.

Selain Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja, buku ini juga menceritakan kisah enam kepala daerah lainnya. Keenam gubernur tersebut adalah Gubernur Sumatera Utara Brigjen TNI Oeloeng Sitepu, Gubernur Sumatera Selatan Pagar Alam, Gubernur Kalimantan Tengah Tjilik Riwut, Gubernur Jakarta Henk Ngantung, Gubernur Kalimantan Barat Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray, serta Gubernur Jawa Tengah Mochtar.

“Gubernur Soekarnois ini kemudian melalui berbagai cara dituduh sepihak terlibat PKI,” kata Aju dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Kamis (1/10/2015).

Aju menyebut, para gubernur tersebut adalah pendukung setia Presiden RI pertama, Soekarno. Menurut Aju, penculikan terhadap gubernur dan pembunuhan massal terhadap pihak yang dituduh anggota PKI pada 1965 sedianya menjadi pelajaran bagi generasi penerus bangsa. Gerakan G30 SPKI membawa banyak implikasi dalam sejarah bangsa Indonesia. | sumber: kompas.com

Foto Peluncuran buku berjudul “Nasib Para Soekarnois: Kisah Penculikan Gubernur Bali, Sutedja 1966”. @Icha Rastika/KOMPAS.com

Pendam Iskandar Muda Gelar Nobar Film G 30-S/PKI

Pendam Iskandar Muda Gelar Nobar Film G 30-S/PKI

BANDA ACEH – Penerangan Kodam Iskandar Muda (Pendam IM) menggelar acara nonton bareng film pengkhianatan G 30 S/PKI di Media Center Kodam Iskandar Muda Neuseu Jaya, Kecamatan Baiturahman, Banda Aceh, Selasa, 29 September 2015 sekira pukul 20:00 WIB.

Sekitar 45 personil Pendam dan keluarga serta beberapa masyarakat sekitar pun tampak hadir dalam pemutaran film bersejarah tersebut.

Nonton bareng digelar guna memantapkan pemahaman tentang isu berkembangnya kegiatan komunisme di berbagai daerah di Indonesia. Isu ini cukup menjadi perhatian serius bagi segenap aparat, baik TNI maupun pemerintah juga masyarakat yang menentang paham komunis itu.

Di sela-sela acara nonton bareng, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) IM, Kolonel Inf Machfud mengatakan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu bertujuan untuk melaksanakan pengkhianatan terhadap pemerintahan Indonesia dengan menculik dan membunuh 7 pahlawan revolusi.

“Dengan digelarnya nonton film G30S/PKI secara bersama sama, nantinya keluarga Pendam dan masyarakat dapat mengerti cerita sejarah G30S/PKI yang benar. Selain itu, bisa memberikan pencerahan dan memompa mental pada generasi bangsa dalam membela negara,” ujar Kapendam IM, Kolonel Inf Machfud.[](bna)

PKI Pernah Kuasai Parlemen Aceh, Ini Sepenggal Sejarahnya

PKI Pernah Kuasai Parlemen Aceh, Ini Sepenggal Sejarahnya

KEBERADAAN Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh medio 1960-an silam, nyaris tak berbekas dalam literatur dan ingatan masyarakat Aceh. Padahal mereka pernah eksis dan berkembang hingga mempunyai basis organisasi yang kuat.

Saat ini, sejarah PKI di Aceh hanya terdengar dari mulut ke mulut orang tua di pelosok-pelosok Aceh. Merasa penasaran, akhirnya penulis mencoba menelusuri sejarah komunis di Tanah Rencong.

Dalam penelusuran tersebut, ditemukan sebuah salinan berjudul; Atjeh Mendakwa yang ditulis oleh Thaib Adamy dan dibukukan oleh Comite PKI Atjeh 1964. Buku ini berkisah tentang pembelaan Thaib Adamy di hadapan sidang Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963. Saat itu, Thaib Adamy dibekuk petugas keamanan karena terlibat kegiatan revolusioner di bawah payung Komunis Indonesia.

Menurut Muhammad Samikidin, Sekretaris Pertama Comitee PKI Atjeh dan Anggota CCPKI dalam buku Atjeh Mendakwa tersebut mengatakan, belum pernah perkara politik di Atjeh yang mendapat perhatian begitu besar dari rakyat seperti yang terjadi pada masa persidangan Thaib Adamy.

Sejak pengumuman penangkapan pentolan PKI tersebut hingga masa persidangan, kata Muhammad Samikidin dalam pengantarnya, hampir 5 ribu dan bahkan pernah mencapai 10 ribu warga Aceh ikut serta dalam persidangan tersebut.

Teristimewa pada waktu kawan Thaib Adamy membatjakan pembelaannya selama 5,5 jam,” tulis Samikidin dalam buku tersebut.

Saat itu, kata Samikidin, banyak rakyat yang mendukung pembelaan Thaib Adamy di Pengadilan Negeri Sigli dengan memberikan wesel serta petisi-petisi penolakan penahanan pentolan komunis tersebut.

Dalam pembelaannya, Thaib Adamy yang saat itu menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama Committee PKI Atjeh sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari Fraksi PKI mengatakan, dirinya tidak bersalah.

Kalau pemimpin PRRI, Permesta dan DI/TII yang sudah terang melawan pemerintah RI dengan kekerasan, merusak bangunan-bangunan dan sebagainya bahkan sampai berakibat hilangnya puluhan ribu nyawa rakyat tidak dihukum, apakah adil kalau saya dipersalahkan dan dihukum karena melakukan aktivitas revolusioner, membela rakyat dan revolusi memperkuat Manipol dengan mengganjang kontra revolusi kapitalis, birokrat, pencoleng harta negara?” kata dia yang disambut dengan tepuk tangan massa yang menghadiri persidangan.

Pembelaan Thaib Adamy tersebut berlangsung hingga lima jam lebih. Dia membacakan pledoi setebal 122 halaman dengan berbagai pertimbangan politik seraya membenarkan perjuangan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh.

Meskipun begitu, berdasarkan literature Atjeh Mendakwa tersebut, pembelaan Thaib Adamy sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Pengadilan Negeri Sigli. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan dan diwajibkan membayar denda perkara sidang.

Thaib Adamy saat itu didakwa atas tindakan melakukan aksi propaganda yang menyebabkan terjadi kerusuhan. Dakwaan tersebut didasarkan pada pidato Thaib Adamy dalam rapat umum PKI di Sigli pada 3 Maret 1963.[]

Heboh Penemuan Tengkorak Korban G 30 S/PKI

Heboh Penemuan Tengkorak Korban G 30 S/PKI

DENPASAR – Warga Desa Baluk, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali digegerkan dengan penemuan lima tengkorak manusia di sebuah sumur tua. Tulang belulang itu ditemukan di dalam sumur tua di kebun milik Wayan Nantrem (60).

Kasat Reskrim Polres Jembrana Ajun Komisaris Gusti Made Sudarma Putra menerangkan, sumur tua yang tak terpakai lama itu sedianya hendak diperdalam untuk digunakan pada musim kemarau.

Dua orang disewa untuk menggali. Kala kedalaman mencapai 12 meter dua penggali sumur tua itu menemukan keganjilan. Mereka menemukan kerangka manusia.

Penemuan tengkorak manusia ini kemudian dilaporkan kepada kepolisian. Menurut Sudarma, keterangan sementara diduga tengkorak tersebut merupakan korban peristiwa G30S/PKI.

“Dari informasi yang kami kumpulkan dari warga dan pemilik kebun, memang di sekitar areal tersebut merupakan tempat kuburan massal pada peristiwa 1965,” kata Sudarma kepada wartawan, Sabtu 4 Juli 2015.

Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut soal temuan lima kerangka tengkorak tersebut.[] sumber: viva.co.id