Tag: petani

Gagal Panen, Petani Jual Anak demi Bayar Utang

Gagal Panen, Petani Jual Anak demi Bayar Utang

INDIA- Lal Singh putus asa. Petani dari desa Mohanpura di negara bagian Madhya Pradesh India Tengah itu menyaksikan hujan lebat dan hujan batu es menghancurkan panen demi panen, sementara utangnya telah menumpuk.

Akhirnya, Agustus lalu, Singh yang tidak punya pilihan lain untuk memberi makan keluarganya, menjual dua putranya ke seorang gembala untuk bekerja selama satu tahun. Singh menerima uang US$ 500 (Rp 6,5 juta) sebagai imbalannya.

“Saya tidak punya uang untuk membayar utang. Saya membutuhkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan dan meneruskan bercocok tanam,” kata Singh dalam sebuah wawancara di Mohanpura dikutip Dream dari Daily Mail, Sabtu 23 Mei 2015.

Dia membuat keputusan, meskipun tahu itu ilegal. Anak-anaknya bisa saja diperlakukan seenaknya dan dipaksa bekerja secara kejam.

Gagal panen yang disebabkan oleh cuaca ekstrim membuat banyak petani di Madhya Pradesh putus asa. Banyak dari mereka yang akhirnya bunuh diri dan terpaksa terlibat dalam perdagangan anak, kata para pejabat.

Menurut Rajnish Shrivastava, relawan di kabupaten Harda, pemerintah telah menyelamatkan lima anak dari kerja paksa pada April. Semuanya berasal dari kabupaten Khargone dan Harda.

Ia percaya mungkin ada banyak kasus lain dari perdagangan anak-anak petani yang menjual anaknya demi uang.

“Ini sangat mengkhawatirkan bahwa petani terpaksa menjual anak-anak mereka untuk membayar utang. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak disalahgunakan dan diperdagangkan dengan cara ini,” katanya.

Delapan bulan setelah dijual ke gembala, anak-anak Singh bersama tiga anak lainnya berhasil diselamatkan, kata Shrivastava. Sumit, 12, dan Amit, 11, melarikan diri dari gembala dan dibawa ke tempat penampungan lokal.

Awalnya enggan untuk kembali ke keluarga karena takut reaksi orangtua, anak-anak tersebut sekarang telah kembali ke rumah mereka.

“Tugas kami adalah untuk menjaga domba dan hewan lainnya,” kata Amit kepada Thomson Reuters Foundation. “(Gembala) selalu menyalahkan kami karena masalah sepele. Kami bahkan tidak diberi makan dua kali sehari. Karena tidak tahan kami mengambil keberanian untuk melarikan diri.”

Pihak berwenang telah memerintahkan penyelidikan, sementara gembala yang diduga membeli lima anak yang diselamatkan itu telah didakwa melanggar hukum anak-anak dan sedang menunggu sidang, kata Shrivastava.

Menurut data pemerintah, negara bagian Madhya Pradesh adalah di antara yang paling terpukul tahun ini, dengan lebih dari 570.000 hektar tanaman rabi – gandum dan tanaman lainnya yang ditabur di musim dingin dan dipanen pada musim semi – hancur oleh hujan lebat dan hujan es.

Sekitar 40 petani melakukan bunuh diri atau meninggal karena sakit yang berhubungan dengan stres di Madhya Pradesh saja antara Februari dan Mei 2015, polisi negara bagian dan pejabat mengatakan.

Situasi sulit tersebut juga melanda beberapa negara bagian lainnya, termasuk Maharashtra, Rajasthan, dan Punjab, kata Sachin Jain, seorang aktivis pangan di India. | sumber: dream.co.id

Petani Simeulue: Produksi Padi Tahun Ini Memuaskan

Petani Simeulue: Produksi Padi Tahun Ini Memuaskan

SINABANG – Produksi gabah di wilayah Salang, Kabupaten Simeulue, mendapat hasil maksimum tahun ini.

“Panen tahun ini, hasil produksi padi berkisar antara 10 sampai 20 gunca per seorang petani,” kata M Lamran, 30 tahun, warga Gampong Mutiara, Jumat, 1 Mai 2015.

Lamran mengatakan Kecamatan Salang merupakan daerah penghasil padi terbesar di Kabupaten Simeulue. Menurutnya hasil panen padi tahun lalu di daerah ini mencapai 30 gunca.

Namun ia menyayangkan di Simeulue tidak ada pembeli gabah. Selain itu, kata dia, harga gabah juga tidak menentu sehingga banyak masyarakat menyimpannya di gudang hingga setahun lamanya.

“Masyarakat berharap adanya penampungan dan ketetapan harga padi Simeulue agar hasil pertanian yang tergolong fantastis tersebut dapat diuangkan oleh petani,” katanya.

Di sisi lain, areal persawahan di wilayah Kecamatan Salang juga belum memiliki irigasi. Akibatnya, petani hanya membajak sawahnya saat musim hujan dan panen padi hanya sekali setiap tahunnya.[](bna)

Laporan: Murdian Adi Sastro dari Simeulue

Sumber foto ilustrasi: antaranews.com

Harga Gabah Turun di Aceh Timur

Harga Gabah Turun di Aceh Timur

IDI – Harga penjualan gabah turun di Aceh Timur dari Rp 4.700 menjadi Rp 4.300 sejak awal April 2015.

“Dengan penurunan harga gabah membuat penghasilan masyarakat Kabupaten Aceh Timur menurun,” ujar Nasrul, pengusaha penggilingan gabah dari Kecamatan Simpang Ulim, Jumat, 1 Mai 2015.

Ia mengatakan penjualan gabah hasil panen masyarakat setempat dipasarkan di luar Aceh. Sementara harga gabah di luar Aceh menurun. “Inilah yang menyebabkan harga gabah di Kabupaten Aceh Timur menurun,” katanya.

Hal senada disampaikan Yusrizal, petani di Kecamatan Simpang Ulim. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan turunnya harga gabah, meskipun sadar harga gabah yang dijualnya sangat murah.

“Salah satu penyebab petani terpaksa menjual gabah dengan harga murah yang telah ditentukan pedagang karena mereka dililit utang pada penanaman gabah sampai akhir panen,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk mencari solusi terkait hal ini. Selain itu, Yusrizal juga mengharapkan ada yang menampung hasil panen warga. “Dengan harga yang sesuai tidak sesuka suka hati para pedagang,” kata Yusrizal.[](bna)

Laporan: Maulana Amri dari Aceh Timur

Lem Cahi: Laba Saja

Lem Cahi: Laba Saja

SAYA ingin kembali melanjutkan kisah orang kampung saya: Lem Cahi. Sedikit saya tambahkan, di masa mudanya beliau adalah salah seorang cahi seudati. Maksudnya adalah orang yang bersyair mengiringi pemain seudati.

Dia amat pandai membuat syair. Setiap dia tampil tak butuh buku atau hafalan. Dia mengarang dan menciptakan sendiri irama sesuai konteks acara. Nah, ini mungkin mengasah kreativitasnya. Bahkan kreativitas itu dijadikan berbagai kemudahan dalam mencari rezeki.

Alkisah di kampung kami di masa sawah masih tadah hujan. Hanya “musem keunong sa” sawah diolah dan ditanami. Arti setahun hanya sekali turun ke sawah. Masa panennya juga lama. Belum ada “pade P” seperti saat ini. Umur padi dari mulai disemai sampai panen hampir setengah tahun. Tinggi padi “santeuet dong“.

Karena masa tanam yang panjang. Mereka yang tanahnya luas biasanya menanam agak cepat. Tentu saja panen juga tidak begitu serentak. Peralatan pertanian juga sederhana sehingga umumnya masyarakat saling tolong menolong yang disebut “meu uroe“.

Meu uroe adalah di saat orang lain membantu anda di sawah kemudian anda membayar dengan membantu dia. Misalnya si A menbantu si B “si uroe“. Maka nanti giliran si B bekerja satu hari di sawah si A. Begitu seterusnya.

Lem Cahi punya sawah yang lumayan luas. Dia biasa menanam lebih awal. Di samping mengejar musim hujan dia punya maksud lain. Di sinilah kecerdikan Lem Cahi. Di kampung kami, musim setelah masa tanam adalah musim “deuk deuk troe“. Musim begini hampir semua orang susah. Semua sumberdaya yang ada telah ditanam di sawah.

Menunggu musim panen masyarakat hampir tidak punya apa apa. Mereka biasanya merantau atau mengusahakan apa saja di kebun. Karena selama turun ke sawah mereka tidak sempat mencari rezeki dari sumber lain. Ketika padi “dara” saat paling “meuseupet” bagi petani. Sehari-harinya mereka bekerja apa saja untuk menyambung hidup. Menjelang musim panen, biasanya harapan mulai terkuak. Ada yang mengutang beras atau duit ke tengkulak. Ada juga yang melirik-lirik sawah orang lain. Mana tahu ada yang mulai menguning.

Nah biasanya sawah Lem Cahi duluan menguning. Ini karena dia duluan menanam. Bila sudah begini beliau akan selalu di rumah. Di bawah rumah Acehnya selalu ada “panteu” yang luas. Panteu ini menjadi tempat rehat Lem Cahi saban harinya. Kadang dia juga menganyam daun rumbia untuk atap. Bila padi menguning maka rumahnya bakal didatangi orang.

Suatu ketika orang pertama datang adalah si Don Ranub. Pria miskin ini dikenal sebagai penjual sirih, makanya kelak dikenal sebagai Don Ranub. Miskin, sedikit malas dan punya banyak anak. Tiap tahun asal dekat musim panen dia mendatangi Lem Cahi. Kira-kira beginilah dialog mereka siang itu.

“Assalamualaikum Cut Bang,” sapa Don Ranub sembari masuk ke bawah rumah Lem Cahi.

Dia memanggil Cutbang sebagai perhormatan.

Kom salam, puena ban beungoh keunoe?” Sahut Lem Cahi ketus dan tajam.

Ini kebiasaan Lem Cahi pasang wibawa.

Biasalah Cut Bang, lon nak meu utang pade meu lhee naleh, aneukmiet karab deuek,” hiba Don ranub.

Cit sabe nyan haba keuh, sang ayah keuh keulon,” umpat Lem Cahi.

Begitulah sikap Lem cahi. Biasa sedikit congkak dan merasa dibutuhkan.

Padahal dia amat senang bila ramai yang datang mengutang padi. Jangan salah, dia tidak membungakan atau minta lebih setelah mengutang padi. Kepada yang diberikan utang padi nanti membayar padi juga sebanyak yang mereka pinjam. Nah dimana Lem Cahi mita laba?

Ketika orang datang dia tidak memberi padi siap panen. Tapi menujukkan sawahnya yang sudah siap panen. Si peminjam “koh keudroe, lho keudroe, krui keudroe” sampai mereka bawa pulang sendiri. Makin ramai yang meu utang makin luas lah padi Lem Cahi dipanen. Nah keuntungannya saat dibayar.

Usai musim panen biasanya mereka membayar kembali padi Lem Cahi. Dibayar dengan padi selesai panen. Diantar ke rumah dalam eumpang iboh. Disukat kembali dengan aree trieng. Intinya Lem Cahi tidak mengeluarkan tenaga dan biaya untuk memanen padi padinya. Semua biaya dan tenaga sudah dilakukan oleh pengutang padi.

Peu utang pade di cong bak, bayue pulang ngon pade lam eumpang.”

Bisa anda bayangkan bagaimana Lem Cahi ambil untung. Setiap tahunnya hampir setengah luas sawahnya dipanen oleh orang-orang miskin di kampung kami. Di sinilah model Lem Cahi mita laba.

Kalau dalam konteks sekarang, barangkali model penguasa yang hanya tahu ambil untung atau orang-orang yang memanfaatkan kedekatan dengan penguasa untuk ambil untung. Intinya “pajoh tulueng gob sajalah.”[]