Tag: pertanian

Rakan Mualem Minta Pemerintah Aceh Libatkan Pemuda di Sektor Pertanian

Rakan Mualem Minta Pemerintah Aceh Libatkan Pemuda di Sektor Pertanian

BANDA ACEH – Ketua Rakan Mualem, Muzakir Fahlevi, menilai pentingnya  pembinaan pemuda dalam gerakan perubahan untuk meningkatkan pelayanan pemerintah terhadap masyarakat di Aceh.

“Pembinaan pemuda justru penting karena gerakan perubahan justru dimulai dari pemuda,” kata Muzakir.

Menurutnya perubahan yang diinginkan oleh kaum muda seperti pengelolaan sektor pendidikan dengan baik. Dia juga meminta pemerintah membuka akses informasi yang tepat kepada pemuda dan pemudi untuk menunjang mutu Sumber Daya Manusia di Provinsi Aceh.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk melibatkan pemuda di sektor pertanian dan perkebunan agar bisa mengelola hasil pertanian yang melimpah di Aceh. Muzakir Fahlevi juga meminta pemerintah untuk membina dan mendidik pemuda terkait pertanian dan perkebunan.

“Ini keluhan para pemuda dan pemudi setelah kami berkeliling 10 kabupaten/kota di wilayah timur Aceh. Kami siap melanjutkan masukan ini kepada pemerintah Aceh, tidak lagi mendorong, tapi kami melanjutkan kepada pemerintah untuk dijalankan oleh pemerintah Aceh demi masa depan kamu muda dan mudi Aceh,” ujar Muzakir.

Ketua Rakan Mualem ini juga menilai perlunya sosok pemimpin Aceh yang mampu melakukan perubahan untuk kepentingan masyarakat. Dia mengatakan sosok ini ada pada Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem.

“Mualem punya cita-cita yang cukup besar untuk melakukan perubahan untuk Aceh, Aceh ini harus dibangun dengan baik dan menciptakan banyak SDM untuk mendukung pemerintah dan menjelakan roda Pemerintahan Aceh,” ujar Muzakir.

Muzakir juga mengingatkan, pemuda di Aceh harus terus mengedepankan nilai perdamaian tidak mudah terpancing gejolak atau peristiwa menjelang pemilihan kepala daerah Aceh. “Serta tidak menyebarkan fitnah terhadap lawan politik,” ujarnya.[]

Sutarjo, Sarjana Berani Bertani

Sutarjo, Sarjana Berani Bertani

Tak banyak pemuda yang memilih bertani usai mengantongi gelar sarjana. Sektor pertanian bukan pilihan utama para tenaga kerja usia produktif.

Namun, tak demikian halnya Sutarjo. Pemuda 24 tahun itu memilih menjadi petani pengusaha usai menyelesaikan studinya di Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Sebenarnya menjadi petani pengusaha adalah pilihan yang tepat bila tahu peluang dan mau melakukan,” ungkapnya kepada Republika.co.id.

Pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, itu menamai usahanya “Obuyurbit STJ Farm”. Tak hanya bertani di lahan utama Cihideung dan Cijeruk, Bogor, Sutarjo juga menyediakan layanan untuk mengantarkan produk tani langsung ke kediaman pembeli.

Obuyurbit merupakan singkatan dari “Ojek Buah Sayur dan Bibit”. Dalam prosesnya, Sutarjo bekerja sama dengan para petani jambu kristal, buah naga, pepaya calina, bibit buah, dan sayur-sayuran hijau untuk menyediakan komoditas yang dijualnya.

Ia mengakui, tidak mudah memulai usaha yang baru ia jalankan beberapa bulan tersebut. Sutarjo sempat didera masalah saat dirinya sama sekali tak mengantongi penghasilan.

Namun, ia tak patah semangat. Ia yakin peluang selalu ada, dan modal mengembangkan usaha tak harus berwujud uang.[] Sumber:  republika.co.id

Foto ilustrasi

Wabup Pidie Nilai Kegiatan Badan Ketahanan Pangan Ibarat Rapat Maulid

Wabup Pidie Nilai Kegiatan Badan Ketahanan Pangan Ibarat Rapat Maulid

SIGLI – Wakil Bupati Pidie, M. Iriawan, SE, merasa kecewa dengan kegiatan rapat turun ke sawah (Aceh: rapat tron u blang) yang digelar oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) setempat di Sigli, Selasa, 15 September 2015. Dia menilai kegiatan tersebut ibarat rapat maulid atau agenda tahunan tanpa ada terobosan baru.

“Saya melihat rapat ini tidak ada perubahan jadwal dari tahun lalu tanpa ada terobosan untuk membantu petani meningkatkan hasil produksi padi,” ujar Iriawan.

Dia juga menyebutkan agenda rapat tersebut seperti di-copy paste dari tahun-tahun sebelumnya. Agenda rapat ini juga tidak memuat strategi bagaimana memajukan dunia pertanian di masa depan dan belum menawarkan terobosan baru metoda pola tanam yang menguntungkan petani.

“Setiap tahun rapat terus. Sedangkan hasil dari rapat turun ke sawah tidak pernah tercapai secara maksimal,” kata Wabup Pidie.

Dia juga mengkritisi kinerja BKPP Pidie yang tidak maksimal dalam memberikan informasi kepada petani. Baik mengenai pola tanam maupun metoda yang sesuai dengan topografi daerah masing-masing.

“Terobosan dan konsep tidak tergambarkan secara meyakinkan, bahkan implementasinya tidak sesuai dengan konsep yang dipaparkan dalam rapat ini,” kata Iriawan.

Sementara itu, Kepala BKPP Pidie, Teuku Sabirin, mengatakan rapat koordinasi turun ke sawah MT Rendengan 2015/2016 telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012, tentang ketahanan pangan yang berlandaskan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan.

“Untuk itu Pemkab Pidie lebih mendahulukan program pembangunan ketahanan pangan sebagai pondasi awal dan sesuai dengan motto dari daerah Aceh, pang ulee buet ibadah, pang ulee hareukat meugoe (pekerjaan paling utama ibadah, dan mencari rezeki dengan cara membajak sawah),” katanya.[](bna)

Laporan: Zamah Sari

Apa Permasalahan Pertanian Aceh? Ini Kata Dekan FP Unsyiah

Apa Permasalahan Pertanian Aceh? Ini Kata Dekan FP Unsyiah

BANDA ACEH – Dekan Fakultas Pertanian Unsyiah, Dr. Ir. Agussabti, M.Si., menilai permasalahan pertanian di Aceh saat ini terletak pada sistem irigasi yang belum mumpuni.

“Sekarang masalah pertanian itu ada pada irigasi. Saat hujan tidak ada, sawah kering, saat musim penghujan datang, sawah malah banjir karena sistem irigasi yang belum mumpuni,” ujar Agussabti menjawab portalsatu.com di kantornya, Rabu, 2 September 2015.

Agussabti menyebut persoalan fundamental dalam membangun pertanian di Aceh adalah dengan memperbaiki irigasi. “Berbicara masalah pertanian tidak terlepas dari permasalahan air, dalam hal ini sistem irigasi, dan itu sangat fundamental untuk membangun sistem pertanian yang modern,” katanya.

Menurut Agussabti, tanpa irigasi yang memadai maka sulit membangun pertanian yang modern. Sebab irigasi menjadi masalah pokok dalam dunia pertanian. Itu sebabnya, ia menyarankan pemerintah membangun sistem irigasi yang benar-benar memadai untuk mengairi lahan pertanian yang ada di Aceh.

“Pak gubernur harus punya program irigasi prioritas. Kita tidak mungkin sekaligus membangun, namun harus ada prioritas, dan itu menjadi program jangka panjang Pemerintah Aceh,” ujar Agussabti.

Selain itu, menurut Agussabti, benih pertanian juga menjadi hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan sistem pertanian di Aceh agar lebih berkembang.

“Setelah ada air dan benih yang berkualitas, baru kita berbicara tentang teknologi, baik itu teknologi pertanian maupun teknologi pengolahan hasil pertanian,” kata Agussabti.

Ia berharap pemerintah memperhatikan segala aspek untuk memajukan pertanian yang ada di Aceh.

Modern dan Merata

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dalam hasil kajiannya tentang Ekonomi dan Keuangan Provinsi Aceh Triwulan III-2014 lalu, telah merekomendasikan kepada Pemerintah Aceh agar “Pembangunan sistem irigasi yang terpadu dan modern serta merata di seluruh daerah produksi pertanian hendaknya perlu diprioritaskan untuk membuat kinerja sektor pertanian menjadi lebih baik”.

Dalam hasil kajian tersebut yang dipublikasikan lewat laman resmi BI, disebutkan kinerja sektor pertanian (triwulan III-2014) menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu dari 4,1% (yoy) menjadi 2,2% (yoy).

“Cukup besarnya perlambatan sektor pertanian ini merupakan satu penyebab melambatnya ekonomi Aceh. Hal tersebut terjadi karena share yang dimiliki oleh sektor pertanian terhadap ekonomi Aceh cukup tinggi yaitu 27%, dengan andil pertumbuhan kedua terbesar terhadap ekonomi Aceh yaitu 0,59%. Namun, kontribusi tersebut turun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,1%,” tulis BI.

BI menyebut kekeringan di Aceh pada tahun 2014 menjadi faktor utama melambatnya kinerja sektor pertanian, terutama pertanian bahan pangan. BI mengakui saat itu (triwulan III-2014), pemerintah daerah Provinsi Aceh sudah melakukan langkah anitisipasi terhadap kekeringan dengan mengoptimalkan pompa-poma air.

Namun, menurut BI, infrastruktur yang tersedia di Provinsi Aceh belum optimal dalam memitigasi lahan produksi yang mengalami kekeringan. Itu sebabnya, BI merekomendasikan, “Pembangunan sistem irigasi yang terpadu dan modern serta merata di seluruh daerah produksi pertanian hendaknya perlu diprioritaskan untuk membuat kinerja sektor pertanian menjadi lebih baik”.

Masih menurut BI, seiring pertumbuhan sektor pertanian yang tumbuh melambat, kredit pertanian yang disalurkan perbankan juga mengalami perlambatan. Pada triwulan III-2014, kredit sektor pertanian berada pada posisi Rp1,3 triliun. Kredit sektor pertanian pada triwulan itu tercatat mengalami perlambatan dari 63% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 53% (yoy) pada triwulan laporan.

“Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia Provinsi Aceh juga menunjukkan bahwa realisasi sektor pertanian juga tercatat mengalami perlambatan yang sejalan dengan pertumbuhan sektor pertanian (PDRB Sektor Pertanian) pada triwulan III-2014,” tulis BI.

Pertanyaannya kemudian, apakah Pemerintah Aceh mengevaluasi persoalan sektor pertanian tahun 2014 tersebut agar kinerja tahun 2015 ini lebih baik?[]

Laporan M. Fajarli Iqbal

Foto ilustrasi.

Baca juga:

Gubernur Aceh Ajak Semua Pihak Majukan Pertanian Aceh

 Enam Imbauan Zaini Abdullah tentang Program Ketahanan Pangan

 

TNI Ajak Kaum Muda Basmi Kemalasan

TNI Ajak Kaum Muda Basmi Kemalasan

MEULABOH – Dalam panen padi perdana di Gampong Darat, Meureubo, Aceh Barat, Komandan Korem (Dandrem) Korem 012/TU, Kol. Art. Ruruh, AS mengatakan bahwa TNI siap digandeng untuk memajukan pertanian.
“TNI siap membantu tanpa dibayar. TNI sudah ada gaji dari negara.  Program pertanian bagian daripada misi pertahanan,” kata Danrem, Sabtu, 29 Agustus 2015.
Kegiatan panen perdana di lahan seluas 825 hektar itu dilakukan oleh Pemkab Aceh Barat, Korem 012/TU, dan Serikat Muda Aceh Barat (SAMBA). Musim tanam padi 2015 di Meureubo, Aceh Barat, pelaksanaannya di bawah koordinasi BP3K.
Kol. Art. Ruruh, AS juga mengajak semua kalangan, khususnya kaum muda untuk membasmi kemalasan. Untuk itu, menurut Ruruh, semua lahan kosong dan lahan tidur harus dimanfaatkan.
“Saya minta semua lahan kosong dan lahan tidur didata guna dimanfaatkan,” kata Ruruh.
Menurut Danrem, saat ini tidak ada alasan lagi bermalas-malas sebab  pemerintah telah menyediakan bibit, pupuk, dan obat-obatan kepada petani.
Dalam kesempatan tersebut Danrem mengajak seluruh komponen masyarakat terutama kalangan muda yang berhimpun dalam wadah SAMBA untuk sama-sama membasmi kemalasan demi kesejahteraan masyatakat ke depan.
“Korem 012/TU siap membantu masyarakat yang ingin maju melalui pertanian,” kata Ruruh.
Untuk itu Danrem menegaskan bahwa komunitas masyarakat boleh saja menggandeng TNI untuk pembangunan pertanian berkekanjutan. TNI siap membantu tanpa dibayar, karena TNI sudah ada gaji dari negara dan program pertanian merupakan bagian daripada misi pertahanan.
“Harapan saya, besok tidak ada lagi semak belukar di Aceh yang tidak dimanfaatkan,” tantang Dandrem.
Fuad Hadi, ketua SAMBA, mengapresiasi upaya TNI AD melalui Korem 012/TU dan Kodim 0105 Aceh Barat yang terjun langsung membantu masyarakat di sektor pertanian.
“Semoga niat baik ini bisa berjalan dengan lancar demi terciptanya kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” kata Fuad.
SAMBA sangat mengharapkan komitmen Danrem serta jajaran TNI AD agar mendukung penuh upaya-upaya petani dan pemuda yang ingin maju dan mandiri.
Ajakan itu, menurut Fuad karena ada masalah-masalah teknis dan prosedur birokrasi di pemerintahan yang membuat komunitas muda merasa kurang nyaman dalam menggerakkan program-program kemasyarakatan.
“Jadi, TNI perlu menggedor ini agar pemerintah sipil bek laloe dan tuwo droe,” kata Fuad.
Hadir dalam kesempatan tersebut: Danrem 012/TU, Kol. Art. Ruruh, AS, Kasrem 012/TU, Letkol Puguh, Kasiter 012/TU Mayor. Inf. Haris Siregar, Dandim 0105 Aceh Barat Letkol. Inf. Jaka Sutanta, S.Sos, Wakil Bupati Aceh Barat, Wakil Ketua DPRK Aceh Barat, Jajaran Bulog Aceh Barat, Kepala SKPK terkait di lingkup Pemkab Aceh Barat, unsur Muspika Kecamatan Meurubo, para geuchik, tokoh masyarakat, dan seluruh komponen masyarakat di Meureubo. []
Kemarau Ancam Ribuan Hektar Sawah Indonesia

Kemarau Ancam Ribuan Hektar Sawah Indonesia

GROBOGAN – Kemarau panjang diperkirakan melanda Indonesia sampai akhir tahun. Setidaknya 111.000 hektar sawah mengalami kekeringan dan 222.847 hektar sawah irigasi berpotensi kekeringan.

Hal itu diungkapkan Dirjen Sumber Daya Air PUPR, Mudjiadi saat memantau waduk Kedung Ombo, Grobogan, Jawa Tengah. Ia Menambahkan data tersebut merupakan data BNPB. Dalam data itu disebutkan kekeringan sudah melanda 12 provinsi, 77 Kabupaten/Kota dan 526 Kecamatan.

“Sedangkan data kami, dampak kekeringan yang terjadi dari sawah yang sumber irigasinya dari waduk yaitu 3.296 hektar dan yang irigasinya dari sungai seluas 158.293 hektar,” kata Mudjiadi di waduk Kedung Ombo, Grobogan, Sabtu (1/8/2015).

Ia menjelaskan kekeringan pada sawah dibagi dalam tiga kategori yaitu ringan, berat, dan puso. Namun Mudjiadi memastikan hingga kini tidak ada sawah yang puso karena berbagai upaya sudah dilakukan termasuk dengan pengairan bergilir, droping air, dan mengerahkan pompa air.

“Kami sudah menyediakan 761 pompa air yang tersebar di 11 Balai Wilayah Sungai/Balai Besar Wilayah Sungai di 9 Provinsi. Kalu perlu pompa air banjir juga dikerahkan,” tandas Mudjadi.

Sementara itu dari hasil pantauan terhadap 147 waduk, terdapat waduk dengan kondisi air normal, 69 waduk devisit, dan 44 waduk kering. Sedangkan dari 16 waduk besar di Indonesia dengan volume di atas 100 juta kubik, 9 diantaranya normal, 5 defisit, dan 2 waduk kering.

“Saya minta untuk ada pemantauan volume waduk setiap akhir pekan dikirim ke Jakarta sehingga bisa membuat alokasi sesuai dengan kondisi lokal,” tegasnya.

Terkait apakah kemarau panjang tahun ini merupakan dampak El Nino, Mudjadi menjelaskan memang ada beberapa analisa yang mengatakan kemarau kali ini dampak El Nino dengan patokan peristiwa tahun 1997. Apapun penyebabnya, lanjut Mudjadi, pihaknya terus melakukan langkah antisipasi termasuk agar petani tidak gagal panen atau mundur masa tanamnya.

“El Nino terbesar itu tahun 1997, saya baca di koran kali ini sama seperti tahun 1997. Yang jelas kita sudah antisipasi,” terangnya.[] sumber: detik.com

Jokowi Datang, Aceh Diharapkan Bisa “Merdeka”

Jokowi Datang, Aceh Diharapkan Bisa “Merdeka”

SIGLI – Ketua Komisi C DPRK Pidie, Isa Alima, mengharapkan kedatangan Presiden RI, Ir Joko Widodo ke Aceh dapat membuat daerah ini lebih nyaman, tentram dan damai.

“Aceh bisa merdeka dalam tanda petik. Merdeka dari kegelapan (PLN harus lancaar) merdeka dalam kedamaian agar insvestor bisa enjoy berinvestasi ke Aceh,” ujarnya kepada portalsatu.com, Rabu, 15 Juli 2015.

Dia juga mengatakan dengan kedatangan Jokowi ke Aceh, daerah ini bisa “merdeka” dalam ketergantungan pangan. Selain itu, waduk untuk pertanian juga diminta jadi skala prioritas pemerintahan saat ini agar sawah rakyat tidak kering. “Aceh merupakan daerah agraris.”

“(Juga) “merdeka” dalam kebodohan. Anggaran pendidikan harus benar diutamakan. Beri motivasi bagi penyelenggaraan Pemerintah Aceh telurkan kepositifan Pak Presiden dan melakukan blusukan kepada pemimpin di Aceh. Kita sambut baik kedatangan presiden. Tapi kedatangan ini harus punya makna tersendiri. Datang di hari Fitri kita harapkan ditinggal pulang pak presiden juga Aceh tetap dalam kondisi Fitri,” katanya.[](bna)

Tahun Depan 26 Kabupaten Tak Dapat Dana Pertanian dari APBN

Tahun Depan 26 Kabupaten Tak Dapat Dana Pertanian dari APBN

JAKARTA – Sebanyak 26 kabupaten tahun depan terancam tidak lagi mendapatkan alokasi dana pertanian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), akibat produksi pertaniannya tidak mencapai target, bahkan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah pusat akan mencabut anggaran pertanian bagi daerah-daerah yang tidak mencapai target produksi. Di sisi lain, daerah yang melebihi target produksi akan mendapat tambahan anggaran. | sumber : detik

Sejauh ini, sudah ada 26 kabupaten yang akan disetop anggarannya pada 2016, karena produksi di sektor pertanian tahun ini tidak sesuai target. Kementerian Pertanian akan menyurati gubernur, bupati, dan kepala daerah untuk mendapatkan pemberitahuan bahwa daerahnya sudah tidak digelontori anggaran.

“Berhubung target produksi di sektor tani tidak tercapai di beberapa daerah, kami mohon maaf ada 26 daerah yang kami stop anggarannya. Semoga surat kami sudah tiba yang tidak capai target bahkan di bawah tahun lalu. Saya kira lebih adil jika tidak mendapat anggaran 2016 dan kemungkinan nol,” ungkap Amran dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/6/2015).

Langkah pencabutan alokasi anggaran untuk 26 kabupaten yang produksi pertaniannya tak capai target, sudah dia laporkan ke Komisi IV DPR yang membidangi sektor pertanian dan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kami sudah laporkan ke komisi IV DPR dan Bapak Presiden,” ujarnya.

Amran menambahkan, alokasi dana bagi yang tidak mencapai target, akan digeser ke wilayah-wilayah yang produksinya baik atau melebihi target.

“Anggaran kami alihkan ke daerah yang capaian pangannya baik atau lebih tinggi. Ini untuk memotivasi daerah tersebut juga untuk meningkatkan panen setiap periodenya menjadi semakin baik,” tukas Mentan.

Namun Amran belum mau menyebutkan daerah mana saja yang anggaran pertaniannya dicabut tahun depan. | sumber : detik

Mahasiswa Teknologi Pertanian Unsyiah Pamerkan Hasil Inovasi Produk

Mahasiswa Teknologi Pertanian Unsyiah Pamerkan Hasil Inovasi Produk

BANDA ACEH – Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Unsyiah kemarin mengadakan Pameran Teknologi Pengembangan Produk di kampus setempat, Selasa, 12 Mei 2015.

Pameran ini merupakan hasil praktikum mata kuliah Teknologi Pengembangan Produk di jurusan tersebut.

“Pameran ini juga merupakan tes pasar untuk melihat perspektif konsumen terhadap produk-produk tersebut. Untuk itu kami mohon dukungan dan kesediannya untuk menyukseskan acara ini,” kata pengasuh mata kuliah TPP Fakultas Pertanian, Ismail.

Salah satu mahasiswa Teknologi Pertanian, Kenara, mengatakan produk yang dipamerkan pada acara ini adalah Biskuit Taste Potato atau BITO. Biskuit ini terbuat dari bahan tepung dan kentang.

“Selain mengenyangkan produk ini juga sehat karena bebas pengawet dan bisa disantap secara instan,” kata Ken kepada portalsatu.com, Rabu, 13 Mei 2015.

Ada juga Sarkopena, yaitu olahan makanan penutup yang mirip dengan eskrim terbuat dari campuran semangka, nanas dan pepaya. Camilan tradisional Remiaki atau rengginang mini aneka kreasi juga turut dipamerkan, tentunya dengan olahan dan inovasi bentuk. Produk lainnya yang dipamerkan adalah Spicy Banana, yaitu keripik pisang yang diberi rasa pedas.[] (ihn)