Tag: perang Aceh

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

SJAMAUN Gaharu merupakan salah satu tokoh pendidikan, militer dan tokoh sosial Aceh yang ikut terlibat aktif dalam perang melawan Belanda di era kemerdekaan Indonesia. Sjamaun telah mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pembangunan keamanan nasional di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menekuni karier militernya, dia adalah seorang guru Taman Siswa di Kutaraja dan aktif dalam pembinaan pendidikan dasar di Daerah Istimewa Aceh.

Dia juga berperan penting dalam pembangunan Kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiah Ar-Raniry. Sebagai seorang tokoh sosial, Sjamaun Gaharu aktif dalam menjembatani berbagai konflik sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, baik dalam revolusi sosial pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam berbagai gejolak yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Sebagai pelaku sejarah, Sjamaun Gaharu berhasil merekam jejak bagaimana peralihan kekuasaan terjadi di Aceh pada masa Perang Dunia II. Hal tersebut kemudian diceritakannya kepada Ramadhan KH yang lantas menyusunnya dalam buku autobiografi “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal.”

Berikut kesaksian Sjamaun Gaharu mengenai kondisi Aceh di masa Perang Dunia II:

“Perang Dunia II pecah. Saya tengah sibuk mengajar putera-putera bangsa yang akan jadi generasi masa depan, ketika dunia bergejolak dan masuk ke dalam suatu konfrontasi bersenjata. Ideologi yang saling bertentangan mencapai puncak pertikaiannya. Jerman dengan fasisnya bersepakat dengan Italia dan Jepang. Mereka bergerak hampir bersamaan dan memporak-porandakan banyak negeri.

Di daratan Eropa, 10 Mei 1940, Hitler memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda, Belgia dan Perancis. Ketiga negeri tersebut takluk dan dapat direbut Jerman dalam waktu yang singkat. Malah Belanda jatuh pada hari pertama penyerangan itu. Ratu Belanda terpaksa mengungsi ke Inggris hari itu juga, pada pukul 02.30 GMT. Negerinya menjadi negara terjajah. Kejadian itu dapat saya ketahui melalui radio dan sedikit dari berita surat kabar. Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh menjadi loyo, semangat mereka terbang entah ke mana.

Sekarang mereka merasakan bagaimana derita menjadi jajahan! Tanah air mereka berada dalam cengkeraman Jerman yang terkenal kejam.

Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Dengan mendadak mereka membombardir pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii), Minggu, 7 Desember 1941. Pemboman tersebut bagaikan aba-aba. Ia jadi pemicu bagi rencana besar militer Jepang. Bala tentara Jepang bergerak sangat cepat ke Asia Selatan (Nan Yo), dan tidak ada yang dapat menghalanginya.

Menjelang Februari 1942, tentara ke XXV Jepang telah bermarkas di Singapura (Syonanto). Wilayah peperangang bertambah luas. Jepang bergerak. Merambah dataran Asia dan terus ke selatan. Pada 8 Desember 1941, pukul 02.30 GMT, pemerintah Belanda dalam pengasingan di Inggris mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang, melalui duta besarnya di Tokyo.

Pernyataan ini berarti tidak saja mencakup pemerintah Belanda di negerinya, tapi juga melibatkan pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda (Indonesia). Babak baru yang dinamakan Perang Asia Timur Raya telah dibuka. Saya tidak mengetahui secara tepat pernyataan perang itu pada saatnya, baru kemudian saya membacanya di surat kabar. Yang saya lihat dan ketahui adalah kesibukan pasukan Belanda meningkat tinggi.

Di bawah komandan mereka, Kolonel Gosenson, yang mukanya berparut bekas tetakan pedang putera Aceh, mereka mengangkut peralatan dan logistik perang mereka ke Takengon atau ke Rimba Gayo.

Bukan saya saja yang melihat, tetapi hampir semua rakyat Aceh. Putera Aceh hanya melihat dan diam sementara. Dalam diam, mereka diam-diam mengasah parangnya. Sekolah Pertanian tetap berjalan, dan saya tetap berdiri di depan kelas. Tapi mata saya tetap liar melihat kesibukan pasukan Belanda di tanah Aceh.

Seluruh perbekalan militer Belanda ditempatkan di perkebunan Teh Redelong, yang berada dalam wilayah Aceh Tengah, tidak berapa jauh dari Takengon. Saya dapat melihat seluruh kesibukan mereka karena bertempat tinggal di Bireuen. Untuk mencapai Takengon mereka harus melalui tempat saya, dengan sendirinya saya dapat memperhatikan lebih saksama.

Pasukan Belanda terus mondar mandir antara Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dengan Takengon. Kesibukan bidang pemerintahan yang dipimpin Residen Pauw juga meningkat. Kesibukan itu terjadi di awal tahun sampai awal Maret 1942. Perhatian seluruh rakyat Aceh tertuju ke mari.

Dahulu Belanda datang dari Laut, sekarang lari ke dalam rimba. Dalam pikiran, saya berharap agar di rimba Aceh pasukan Belanda akan dihancurkan pasukan musuh mereka. Bagaimana dengan rakyat Aceh? Apakah mereka berdiam diri dan hanya melihat saja musuh bebuyutan melenggang di bumi pusaka? Belanda memang menghadapi dua bahaya besar. Di samping takut terhadap Jepang yang tengah bersiap untuk menerkam Aceh, Belanda menghadapi api dalam sekam. Setiap saat putera-putera Aceh bisa bangkit melawan mereka.

Hal itu memang terjadi. Awal bulan Maret pecahlah perlawanan terhadap Belanda. Di Aceh Besar yang berpusat di Lam Nyong, Teuku Nyak Arif mengangkat senjata. Inilah perang yang berlangsung 9-10-11 Maret 1942. Teuku Nyak Arif menepati ucapannya, ketika beliau menganjurkan saya untuk mengajar di Taman Siswa. Sayang, saya sendiri tidak berperan, karena saya sibuk dengan mendidik bangsa di bidang pertanian. Rasa hormat dan segan saya terhadap Teuku Nyak Arif pun bertambah. Pejuang memang harus memegang kata-katanya!

Sebelum tentara ke XXV Jepang mendaratkan pasukan-pasukannya di Pantai Aceh (Ujung Batee, Aceh Besar, dan Kuala Bugak, Peureulak), Teuku Nyak Arif sebagai pemimpin Aceh menyampaikan ultimatum kepada penguasa Belanda di Aceh. Ia meminta agar pemerintah Hindia Belanda menyerahkan kekuasaan dan senjatanya kepada rakyat Aceh dengan jaminan keselamatan untuk mereka.

Belanda mengabaikan ultimatum itu. Mereka malah menteror rakyat Aceh dengan bermacam-macam provokasi. Pimpinan tentara Belanda mengeluarkan surat perintah penangkapan Teuku Nyak Arif dan tokoh-tokoh lain, hidup atau mati. Keadaan demikian membangkitkan amarah rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda. Militer Belanda waktu itu sedang panik dan ketakutan menghadapi bahaya Jepang, mereka akhirnya tergesa lari terbirit-birit. Ketika kemudian bala tentara Jepang mendarat di Aceh, Aceh telah bersih dari pengaruh kekuasaan Belanda.

Salah satu contoh dari teror Belanda di masa akhir keberadaannya di Bumi Rencong adalah kisah ini. Pemberontakan meletus setelah Belanda mengabaikan ultimatum Teuku Nyak Arif. Tetapi Residen Belanda sempat juga mengundang beberapa Uleebalang untuk mengadakan rapat kilat di Kutaraja. Teuku Nyak Arif sudah berpesan agar rapat itu jangan dihadiri. Namun pesan itu tidak semuanya sampai ke alamat.

Waktu rapat sedang berlangsung, tiba-tiba muncul Kolonel Gosenson, sang komandan tentara Belanda yang terkenal kejam di Aceh, diiringi Mayor Palmer van den Broek. Sambil mengacung-acungkan sebutir peluru di tangannya, ia mengatakan kepada yang hadir bahwa peluru itu pasti berasal dari Teuku Nyak Arif yang sudah berani mengangkat senjata melawan Belanda.

Kalau Nyak Arif bisa saya tangkap, kata Kolonel Gosenson, saya akan hisap darahnya, seraya memperagakan bagaimana caranya menghisap darah. Kemudian dengan lantang Gosenson menambahkan, “Teuku-Teuku yang hadir di sini semua saya tangkap dan Teuku Nyak Arif akan saya tangkap, hidup atau mati”.

Gosenson segera memerintahkan pasukan Marsose/KNIL untuk menyerang rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong yang lebih kurang 6 kilometer jaraknya dari Kutaraja. Ketika terjadi penyerangan itu kebetulan Teuku Nyak Arif tidak berada di rumah, karena sedang memimpin rapat perlawanan terhadap Belanda di Lubok.

Mendengar rumahnya diserbu dan ditembak secara membabi-buta, Teuku Nyak Arif nekad berangkat pulang karena menyangka keluarganya sudah ditembak atau ditangkap Belanda. Beberapa orang pengikutnya mencoba menahan Teuku Nyak Arif karena khawatir Belanda akan menyergapnya. Tetapi Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya bukan laki-laki kalau saya tidak pulang sekarang ini juga”.

Setiba di Lam Nyong ternyata tentara Belanda yang menyerbu dan mengobrak-abrik rumah Teuku Nyak Arif baru saja beberapa menit kembali ke Kutaraja. dengan membawa beberapa orang yang dapat mereka tawan, di antaranya Teuku Hanafiah Tungkop (kemenakan Teuku Nyak Arif), Ismail Penghulu Akub, M. Daud dan lain-lain. Keluarga Teuku Nyak Arif ternyata dapat menyelamatkan
diri karena kebetulan sedang berada agak jauh di belakang rumah, lagi mempersiapkan dapur umum.

Hanya beberapa jam setelah peristiwa itu sudah berduyun-duyun rakyat berkumpul di Lam Nyong, dengan rencana akan melakukan penyerangan ke Kutaraja selepas Isya. Pada waktu barisan rakyat mulai bergerak dan baru sekitar limaratus meter jaraknya dari rumah Teuku Nyak Arif, mereka melihat di seberang jembatan Lam Nyong ada beberapa kendaraan lapis baja milik Belanda. Beberapa orang serdadu Belanda tampak sedang sibuk berusaha menyingkirkan batang-batang kayu yang sudah ditumbangkan rakyat di tengah jalan.

Barisan rakyat yang dipimpin Waki Harun itu langsung menghadang dan menghujani Belanda dengan tembakan-tembakan gencar. Maka pertempuran seru segera berkecamuk di sana. Pasukan Belanda tidak dapat menembus barisan rakyat, sehingga mereka terpaksa mundur ke pangkalannya di Kutaraja. Dalam pertempuran ini telah jatuh korban di kedua belah pihak. Akhirnya ribuan rakyat dari segenap penjuru menyerbu ke Kutaraja, sehingga pasukan Belanda pun lari terbirit-birit ke Aceh Tengah.”[]

Foto: Ilustrasi perang dunia ke II. @dok

Kenapa Ada Gampong Kaphee di Aceh?

Kenapa Ada Gampong Kaphee di Aceh?

GAMPONG ini menjadi sentral perdagangan Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya strategis dan dilintasi jalur Banda Aceh-Medan. Namanya Lambaro Kaphee (kafir). Letaknya hanya berjarak delapan kilometer dari Banda Aceh.

Lambaro Kaphee menjadi sentra perdagangan dan dinilai sebagai ibukota kedua Aceh Besar. Saban harinya, sayur dan buah dari berbagai penjuru Aceh transit di Lambaro Kaphee. Daerah ini tunduk di wilayah administratif Ingin Jaya. Banyak jalur alternatif yang bisa ditempuh menuju daerah ini. Misalnya dari Medan-Banda Aceh atau sebaliknya, dari Bandara SIM Blang Bintang, dan Lampeuneurut menuju pesisir barat Aceh.

Kondisi Lambaro Kaphee yang strategis inilah membuat daerah tersebut diperebutkan semenjak masa kesultanan Aceh. Salah satunya ketika perang Belanda di Aceh pada abad 19.

Ismail Jakub dalam bukunya Teungku Chik Di Tiro, Hidup dan Perjuangannya, menuliskan kawasan tersebut pernah dikuasai oleh Belanda pada 1880-an. Belanda membuat lini konsentrasi dengan membentengi diri di daerah yang strategis ini untuk mengamankan pusat pemerintahannya di Bandar Aceh. Teungku Chik Di Tiro yang saat itu menjadi pimpinan perang semesta telah berupaya untuk merebut kembali wilayah tersebut. Namun hasilnya gagal.

Pasukan Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik Di Tiro kerap menyerbu tangsi-tangsi Belanda pada masa itu. Termasuk salah satunya benteng Aneuk Galong, yang letaknya tidak jauh dari Lambaro. Hal ini membuat Belanda menarik pasukannya ke Lambaro pada 1883.

Belanda turut membumihanguskan Aneuk Galong saat berpindah ke Lambaro. Mereka juga turut menghancurkan jembatan yang baru dibangun agar tidak bisa dilalui oleh pasukan Teungku Chik di Tiro. Sepeninggal Belanda, Teungku Chik Di Tiro lantas membuat benteng tidak jauh dari Aneuk Galong. Pusat pertahanan pasukan Aceh ini kemudian dinamakan dengan Kuta Bu yang artinya benteng nasi. Penamaan ini tidak terlepas dari peran daerah tersebut yang menjadi sumber logistik bagi pejuang Aceh.

Belanda memperkuat pusat pertahanan di Lambaro dengan meriam berukuran 12 centimeter. Selain itu, sebanyak dua batalyon serdadu Belanda juga disiagakan di daerah ini untuk mengantisipasi serangan pasukan Teungku Chik.

Teungku Chik Di Tiro yang paham benar tentang daerah tersebut kemudian melancarkan serangan ke benteng Lambaro. Namun pasukan-pasukan Aceh yang menyerang dari Lubok tidak mampu merebut Lambaro.

“Berkali-kali diserang dari seberang Krueng Aceh oleh barisan muslimin dari arah Lubuk, tetapi tidak jatuh juga. Maka oleh barisan sabil, dinamakannya benteng Lambaro itu dengan nama Lambaro Kaphee (Kafir),” tulis Ismail Jakub.[]

Ajimat Aceh

Ajimat Aceh

Dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Teungku Chik Di Tiro.

Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh.

Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali.

Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kelewang terjadi.

Tak mau kejadian itu terus menerus menimpa pasukannya, Schmist pun mencari seorang mata-mata handal. Baginya, tidaklah sulit mencari mata-mata itu. Yang sulit baginya adalah merahasiakan hubungannya dengan mata-mata tersebut. Apalagi, di daerah itu ia berhadapan dengan kelompok Teungku Puteh, yang juga punya banyak mata-mata handal untuk mengecoh dan menyusup ke bivak-bivak Belanda.

Maka “perang” antar spionase pun terjadi. Antara Schmist dan Teungku Puteh saling mengirim mata-mata ke lapangan. Sebagaimana Schmist mempunyai banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh, maka sebanyak itu pula ada mata-mata Teungku Puteh disekitar Schmist.

Terhadap peristiwa saling mengintai lawan tersebut, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” mengungkapkan. “Ini adalah permainan licin melawan licin, yang setiap saat dapat menetas menjadi salah satu serangan kelewang yang amat terkenal dan sangat fanatik serta serba mendadak. Sehingga penduduk Seunagan terkenal sangat buruk pada pasukan kita (Belanda-red). Kita tidak pernah merasa yakin akan hari esok,” tulis mantan serdadu belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan tersebut.

Selanjutnya, mantan redaktur Java Bode itu mengisahkan, diantara sekian banyak mata-mata Teungku Puteh, terdapat seorang pedagang yang membuka sebuah toko kecil di Keude Seunagan. Zentgraaff menyebutnya seorang badut yang sangat lihai, yang sekali-kali juga datang kepada Schmist untuk sekedar ngomong-ngomong sebagai basa-basi. “Padahal ia ingin menggali informasi sekitar Schmist untuk kemudian disampaikannya pada Teungku Puteh,” jelas Zentgraaff.

Pada suatu hari, Schmidt menerima berita baik dari salah seorang mata-matanya. Ia segera menelaah informasi yang diberikan oleh mata-mata tersebut. Pada saat yang bersamaan, datang pula pedagang dari Keude Seunagan itu ke sana, yang tak lain merupakan mata-mata dari Teugku Puteh.

Keduanya pun dibawa masuk kedalam sebuah ruangan oleh Schmist. Si mata-mata tadi segera menceritakan informasi yang dibawanya. Sementara si pedangang mendengarnya dengan seksama. Namun keberadaan mata-mata Teungku Puteh tersebut akhirnya diketahui Schmist, setelah ia membongkar rencana Schmist dan pasukannya yang akan menyeran gerilayawan Aceh. Esokya sipedagang itu pun disuruh tangkap.

Antara Schmist dan Teungku Puteh, selain juga sama-sama punya kekuatan mistik. Konon menurut Zentgraaff, Schmist merupakan putra Aceh yang sejak kecil diasuk dan disekolahkan oleh Belanda sampai ke Nezerland, sehingga anak Aceh tersebut menjadi orang Belanda tulen yang sangat mengerti tentang Aceh.

Soal kekuatan mistik yang dimiliki Schmist, Zentgraaff mengaku pernah mendengar hal itu dari Cut Fatimah, janda dari Teungku Keumangan, yang selama hayatnya memberikan perlawanan yang gigih terhadap pasukan-pasukan Belanda di Jeuram. “Ia telah bercerita pada saya, bahwa Schmist adalah salah seorang dari orang-orang yang tidak banyak jumlahnya. Ia memiliki rante bui, yang membuatnya menjadi kebal. Ia juga megetahui hal-hal yang mistik,” ungkap Zentgraaff.

Namun Zentgraaff tidak yakin Schmist memiliki rante bui tersebut. Menurutnya, yang memiliki benda yang bisa menjadi ajimat tersebut hanyalah Teungku Brahim di Njong, Teungki Chik Samalangan dan Teungku Cot Plieng. Mereka adalah pemimpin-pemimpin spiritual di Aceh (ulama) yang mengobarkan semangat jihat untuk melawan Belanda.

“Teungku Cot Plieng merupakan yang paling utama diantara mereka itu. Komandan-komandan patroli kita (Belanda-red) yang paling ulung sekali pun, tak punya harapan menghadapi dia. Tak ada seorang Aceh pun yang berani memberitahukan dimana tempat persembunyian segerombolan dari ulama yang sangat keramat itu,” tulis Zentgraaff.

Pun demikian, pasukan Belanda terus memburunya, sampai kemudian pada Juni 1904, pasukan Belanda pimpinan Kapten Stoop berhasil menemukan jejaknya diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Ia pun disergap, tapi Teungku Cot Plieng berhasil lolos dari “lubang jarum” dengan meninggalkan Al Qur’an dan jimat stempelnya.

Jimat stempel yang ditemukan dari Teungku Cot Plieng itu, disebut-sebut merupakan warisan dari Teungku Syeh Saman Di Tiro, yang dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Karena tak lagi memiliki jimat stempel tersebut Teungku Cot Plieng pun akhirnya berhasil disergap oleh sebuah pasukan patroli pimpinan Letnan Terwogt. Dalam penyergapan tersebut, ulama karismatik itu pun tewas tertembak.

Mayatnya kemudian diusungkan ke salah satu bivak, untuk keperluan identifikasi. Belanda heran, karena mayat tersebut tidak membusuk. Untuk memastikan kalau itu adalah Teungku Cot Plieng, Belanda akhirnya memanggil Panglima Polem.

Sampai di sana, Panglima Polem memberi hormat pada mayat itu dengan melakukan sujud di tengah orang-orang Aceh yang terdiam karena rasa hormatnya. “Ketika kami berjumpa, Panglima Polem bilang hal itu merupakan rahasia Tuhan,” jelas Zentrgaaff.

Panglima Polem pun kemudian melepaskan rante bui dari mayat Teungku Cot Plieng dan memberikannya kepada Van Daalen, seorang perwira Belanda. Tapi Van Daalen menolaknya, karena tak suka terhadap hal-hal yang berbau mistik.

Setelah operasi pembersihan besar-besar dilakukan pasukan Belanda di Pidie, ajimat itu kemudian dihadiahkan kepada Veltman perwira Belanda lainnya yang kerap dipanggil sebagai “Tuan Pedoman”. Ia tidak juga memakai ajimat itu. Ia lebih percaya kepada sebilah besi baja tajam dan sepucuk revolver, ketimbang ajimat tersebut.

Akhirnya rante bui itu dihadiahkan kepada Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda, yang hingga kini masih disimpan dalam etnografia Aceh. “Saya berhasil memperoleh sebuah gambar potretnya berkat bantuan seorang bekas opsir marsose kawakan bernama Lamster,” jelas Zentgraaff.[]

Anton Stolwijk: Profesor di Belanda Tidak Pernah Tahu Tentang Perang Aceh

Anton Stolwijk: Profesor di Belanda Tidak Pernah Tahu Tentang Perang Aceh

BANDA ACEH – Mahasiswa Magister Jurnalistik dan Sastra Kolonial, Universitas Leiden, Anton Stolwijk, mengatakan perang Belanda di Aceh pada abad 19 tidak begitu populer di negaranya. Menurutnya saat ini tidak pernah ada kajian dan penelitian ilmiah terkait peristiwa perang tersebut, lantaran publik Belanda sudah melupakan peristiwa ini.

“Bahkan Profesor di Belanda pun tidak pernah tahu tentang perang Aceh dan Belanda, bagaimana kejadian dan sejarahnya,” kata Anton dalam diskusi Mapesa di Kantor BPNB di Banda Aceh, Sabtu, 9 Mei 2015.

Anton mengatakan semua orang di Belanda sudah lama melupakan sejarah perang tersebut. Sampai saat ini, kata dia, tidak ada lagi pembahasan antara perang Aceh dan Belanda di forum-forum diskusi dan pendidikan.

“Semua peristiwa tersebut mungkin dengan sengaja dilupakan,” ujarnya.

Fenomena inilah yang membuat Anton tertarik menggali sejarah perang Belanda di Aceh. Apalagi, kata dia, banyak bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda di Banda Aceh. Anton Stolwijk berkeinginan untuk menulis buku tentang perang Aceh dan Belanda tesebut.

“Oleh karena itu saya ingin menulis buku terkait perang Aceh dan Belanda ini agar  bisa dibaca oleh semua orang Belanda secara keseluruhan,” katanya.

Di kesempatan itu, Anton Stolwijk mengungkapkan perlu adanya bahan dan masukan agar dalam penulisan bukunya tidak melenceng dari kaidah ilmiah dan sejarah. Hal tersebut dikarenakan menyangkut pemahaman orang banyak di Belanda nantinya.

“Bukunya nanti akan ditulis secara objektif yang sesuai dengan kaidah ilmiah,” ujarnya.[](bna)

Laporan Warga: Perang Belanda di Aceh Tak Populer di Negeri Kincir Angin

Laporan Warga: Perang Belanda di Aceh Tak Populer di Negeri Kincir Angin

BANDA ACEH – Anton Stolwijk, Mahasiswa Magister Jurnalistik dan Sastra Kolonial, Universitas Leiden, akan menulis buku tentang perang Belanda di Aceh. Hal ini disampaikan Stolwijk di sela-sela penelitiannya di kantin SMEA, Lampineung, Banda Aceh, Rabu, 6 Mai 2015.

Stolwijk mengatakan tertarik menulis buku tersebut setelah melihat banyaknya bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial di Banda Aceh. Selain itu, Stolwijk mengaku perang Belanda di Aceh tidak begitu populer di negeri Kincir Angin.

“Buku ini ke depannya akan kita cetak massal dan akan dikomersilkan agar masyarakat Belanda tahu, bagaimana dahsyatnya perang yang terjadi di Aceh pada abad ke 19,” ujar Stolwijk.

Di kesempatan itu, Stolwijk mengungkapkan bukunya nanti akan ditulis secara objektif yang sesuai dengan kaidah ilmiah.

Ia mengatakan Aceh dan Belanda telah menjalin hubungan persahabatan dari abad ke 17. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengiriman Abdul Hamid sebagai delegasi dari Kerajaan Aceh Darussalam ke negeri Belanda pada tahun 1602.

Menurut Stolwijk, Abdul Hamid saat itu dikirim oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Saidil Mukammil dengan membawa berbagai hadiah. Diantara hadiah tersebut adalah emas, burung kakak tua yang bisa berbahasa melayu dan berbagai hadiah lainnya.

“Utusan Aceh sengaja datang ke Belanda untuk mengucapkan selamat kepada Belanda yang baru saja merdeka dari Spanyol. Ini adalah suatu kehormatan bagi Belanda,” ujarnya.

Di sisi lain, menurut Stolwijk, kondisi Aceh waktu itu lebih makmur dan lebih kaya dibandingkan Belanda.

Menurutnya sejarah peperangan Belanda di Aceh merupakan perang terlama yang dilancarkan negara ini di Nusantara. Bahkan, kata dia, Belanda harus menggunakan taktik perang jahat di Aceh.

Ia menyebutkan salah satunya seperti peristiwa penaklukan Gayo tahun 1904. Selain itu peristiwa pembunuhan Panglima Teuku Nyak makam yang dipancung tahun 1896.

“Jika di daerah lain di Indonesia, ada sisi positif kedatangan Belanda. Namun sangat disayangkan di Aceh hanya ada kesan negatifnya. Ini adalah hal yang sangat memalukan bagi Bangsa Belanda,” ujar Stolwijk.

Stolwijk juga mengatakan perang Belanda di Aceh mengakibat hancurnya semua struktur tatanan sosial masyarakat Aceh, baik sisi agama, budaya, adat maupun struktur Kerajaan Aceh itu sendiri. Tak pelak maka Belanda seharusnya bertanggungjawab atas semua hal ini.

“Aceh sangat layak mendapat bantuan pembangunan dan retribusi dari Belanda akibat perang, sebagaimana Belanda memberi bantuan kepada Suriname dan Ghana,” katanya.[](bna)

Tulisan ini dikirim oleh Muhajir, siswa kelas menulis Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri.

Praktik Tipu-tipu, Cara Teuku Kejuruan Muda Mengusir Belanda

Praktik Tipu-tipu, Cara Teuku Kejuruan Muda Mengusir Belanda

TEUKU Umar Johan Pahlawan dikenal sebagai pejuang Aceh yang memiliki kemampuan menipu Belanda. Strategi yang ditetapkan Umar, mampu membuat Belanda terkecoh hingga akhirnya bisa merampas alat-alat perang untuk membantu pejuang Kerajaan Aceh Darussalam.

Siapa menyangka, selain Teuku Umar, praktik ‘tipu-tipu’ tersebut juga dilakoni oleh beberapa pejuang lainnya dari pesisir Barat Aceh. Seperti halnya strategi yang dilakoni Teuku Kejuruan Muda dan bawahannya saat menghadapi agresi Belanda.

Dikutip dari catatan H. Mohammad Said dalam bukunya berjudul Aceh Sepanjang Abad jilid kedua, saat itu Teuku Kejuruan Muda tidak mau bertekuk lutut di bawah bendera Belanda. Padahal, Teuku Tjhi’ Meulaboh, ayah Teuku Kejuruan Muda telah menandatangani pengakuannya kepada Belanda.

Pengakuan tersebut menimbulkan kemarahan Teuku Kejuruan Muda dan rakyat Meulaboh. Akibatnya rakyat mendesak Teuku Kejuruan Muda untuk mengambil alih kepemimpinan dari sang ayah, Teuku Tjhi’ Meulaboh, sebagai penguasa di daerah tersebut.

Hal ini menjadi pukulan besar bagi Belanda yang sedang berperang di Aceh Besar tahun 1877. Meulaboh saat itu terus menjadi pemasok dana dan tenaga untuk pejuang-pejuang di sekitar ibukota. Untuk meredam bantuan tersebut, Belanda kemudian mengirimkan tentaranya ke Meulaboh.

Angkatan perang Belanda tiba di Meulaboh pada 3 Maret 1877. Saat itu, asisten residen RC Kroesen memaksa Teuku Tjhi’ Meulaboh yang sudah renta untuk kembali menandatangani pengakuannya kepada kekuasaan Netherland di atas kapal perang Deli. Kroesen juga meminta bantuan Teuku Tjhi’ untuk membangun benteng pertahanan di Meulaboh.

Namun hal ini tidak bisa dilaksanakan karena Teuku Kejuruan Muda dan pasukannya telah bersiap di lokasi yang dimaksud. Hingga akhir Maret, rencana Belanda tersebut tak kunjung berhasil hingga akhirnya mereka terpaksa mendatangkan pasukan pendaratan di bawah komando Kapten Siberg dengan Mayor Inggeris Palmer sebagai penasehat ahli.

Belanda mulai membuat kubu pertahanan di pantai dekat Merbau pada 10 April 1877. Setelah kubu pertahanan ini selesai menjelang akhir Maret, pasukan Belanda belum juga berani memasuki wilayah daratan yang membuat pasukan Aceh geram. Mereka sudah lama hendak membunuh Belanda yang mencoba menginjakkan kakinya di Meulaboh.

Penasaran dengan sikap Belanda tersebut, Teuku Kejuruan Muda kemudian mencoba salah satu tipuan. Dia mengirimkan tujuh prajurit terbaiknya ke pos Belanda yang berada di antara Meulaboh dan Sungai Merbau. Mereka menyamar sebagai utusan Teuku Tjhi’ yang ditugaskan membantu patroli Belanda di daerah tersebut.

Pos ini merupakan bagian muka bivak yang terletak kira-kira 150 meter dari pusat komando perwira.

Ketujuh utusan yang menyamar tersebut hanya menyandang rencong di pinggangnya. Semula, Belanda ragu dan curiga dengan ketujuh pribumi tersebut. Namun akhirnya Belanda mengizinkan utusan ini masuk ke pos dan mengajak ronda bersama.

Saat patroli dilakukan, ketujuh utusan dijadikan sebagai tameng dan mereka ditempatkan di depan pasukan Belanda. Namun apa yang ditakutkan tak pernah terjadi pada patroli pertama tersebut. Hal ini membuat Belanda menjadi percaya dan bergaul dengan ketujuh pasukan Teuku Kejuruan Muda tersebut.

Kepercayaan Belanda tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh ketujuh prajurit Aceh. Di saat pasukan Belanda lalai, ketujuh pejuang Aceh ini menyerang serdadu Belanda yang menyebabkan 11 di antaranya tewas dan empat lainnya melarikan diri. Serangan ini membuat pejuang Aceh berhasil menyita 11 pucuk senapan dan 250 amunisinya.

Selang sepekan, pasukan Aceh kembali menyerang langsung bivak Belanda. Serangan ini mengakibatkan seorang perwira dan puluhan serdadunya luka berat. Siberg sebagai komandan tertinggi di Meulaboh juga harus melarikan diri dari bivak menuju benteng yang sedang dibangun Belanda di pesisir pantai.

Geram dengan aksi pejuang Aceh, Belanda kemudian meneror gampong-gampong. Mereka juga membakar rumah-rumah penduduk. Sedikitnya tiga gampong berhasil dibakar seperti Gampong Merbau, Penaga, dan Ujung Tanjung.

Tindakan Belanda ini mendapat respon dari penduduk setempat yang geram. Mereka melawan serdadu Belanda dan terjadilah duel satu lawan satu. Kejadian tersebut menyebabkan Komandan Laut Letnan Vreede kritis dan banyak di antara serdadunya yang tewas.

Rakyat Meulaboh kemudian mengepung benteng Belanda yang berada di pesisir pantai. Serangan demi serangan dilancarkan setiap waktu yang membuat serdadu Belanda ketakutan. Bahkan Siberg tidak berani melawan sehingga ia digantikan oleh Kapten Von Lubtow.

Bala bantuan dari Ulee Lheue tersebut berhasil dicegat oleh pejuang Aceh. Konvoi yang datang dalam jumlah besar ini berhasil diobrak-abrik pasukan Aceh sehingga menyebabkan banyak Belanda yang tewas dan terluka. Tidak sedikit serdadu turut menyelamatkan diri dengan terjun ke laut dan akhirnya tewas di sana.

Belanda kembali mengirimkan bala bantuan di bawah pimpinan Mayor du Pon pada 10 Juni 1877. Belanda membangun satu benteng lagi di dekat Kota Meulaboh dan membakar rumah-rumah penduduk serta masjid. Aksi ini mendapat balasan dari masyarakat setempat. Mereka melancarkan serangan tiba-tiba ke pusat pertahanan Belanda.

Penyerangan yang dilakukan pejuang Aceh tersebut berhasil. Di Kuala Cangkol, pemimpin pasukan Belanda, Letnan Dijsktra terluka. Selain itu, Komandan Belanda de Wilde juga kritis di penyerangan lainnya yang dilakukan pejuang Aceh pada 4 Juli 1877. Tidak sedikit serdadu Belanda yang tewas dalam rentetan serangan tersebut meski ada juga pemimpin pejuang Aceh yang menjadi korban, seperti Teuku Abas.

Belanda kemudian mencoba memikat adik Teuku Kejuruan Muda, Teuku Raja Itam, untuk bergabung memihak kolonialis. Harapan Belanda yang hendak memecah belah persatuan warga dengan merekrut Raja Itam ternyata sama sekali tidak terwujud. Apalagi, Raja Itam hanya memanfaatkan Belanda agar mendapat keuntungan untuk kepentingan pribadinya.

Belanda semakin geram hingga akhirnya kembali membakar perkampungan penduduk di daerah-daerah tersebut. Sementara Teuku Kejuruan Muda terus memimpin pasukan Aceh di Meulaboh dan memindahkan pusat perjuangan ke pedalaman. Hal ini dilakukan untuk memudahkan serangan gerilya kepada Belanda tanpa harus mengorbankan rakyat.

Hingga permulaan 1878, Belanda tidak pernah bisa menguasai Meulaboh dengan aman. Bahkan ekspedisi-ekspedisi militer lanjutan yang dikirim dari Banda Aceh sama sekali tidak berhasil membungkam perlawanan rakyat meski Jenderal van der Heijden telah turun tangan.

Hoe gunsting de zaken zich thans ook lieten zien, weldra zou blijken dat wij te Meulaboh niet veel verder gevorded werd waren en dat Teuku Kejuruan Muda en zijn aanhangers, steeds volslagen vijandig blijvende, voortdurend de veiligheid van het garnizoen en van de ons goedgezinde bevolking bedreigen. (Biarpun peristiwanya terlihat sebagai menguntungkan kita, namun segera ketahuan bahwa kita di Meulaboh tidak mencapai kemajuan suatu apa dan bahwa Teuku Kejuruan Muda dan pengikutnya masih terus mengganggu keamanan benteng dan penduduk yang sudah memihak kita),” tulis Kielstra dalam arsip militer ekspedisi Belanda tersebut.

Apa yang disebut Kielstra sangat masuk di akal. Apalagi Teuku Kejuruan Muda selaku pemimpin perjuangan rakyat Aceh di Meulaboh sama sekali tidak bisa disentuh Belanda. Hingga akhirnya, tongkat perjuangan beralih ke tangan Teuku Umar yang meneruskan strategi Tipu Aceh kepada Belanda.[]

Teungku Chik di Tiro; Sang Pemimpin Perang Semesta

Teungku Chik di Tiro; Sang Pemimpin Perang Semesta

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman menawarkan diri menjadi pemimpin Angkatan Perang Sabil melawan Belanda saat Aceh kehilangan sosok panutan.

“Aceh Besar seluruhnya sudah sepi dari suasana perang. Patroli Belanda sampai ke kampung-kampung tepi bukit. Orang perjuangan telah menjadi orang buruan kompeni. Pemerintah Belanda merasa lega dan pemerintah sipil telah dapat dijalankan dengan lancar.”

Demikian Ismail Jakub menggambarkan suasana Aceh dalam bukunya Teungku Tjhik Di Tiro (Muhammad Saman); Pahlawan Besar Dalam Perang Aceh (1881-1891). Kondisi yang dituliskan Ismail Jakub ini terjadi setelah Belanda berhasil menguasai Darud Dunia dan sebagian besar wilayah Aceh Besar, atau setelah serangan militer kedua Belanda ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Ismail menuliskan Belanda saat itu dipimpin oleh si tangan besi, Jenderal Karel van der Hejden. Beberapa ulee balang di Aceh juga sudah bekerjasama dengan Belanda melalui kesepakatan korte verklaring. Salah satunya adalah Teuku Nek Meuraksa.

Para ulee balang yang bersekutu dengan Belanda mendapat perlindungan penuh dari Jenderal Karel. Mereka akan segera mendapatkan bantuan Belanda jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari rakyat.

Banyak para tokoh pejuang Aceh di Aceh Besar yang melancarkan perang gerilya dari pedalaman, baik dari belantara Seulawah maupun di lembah Krueng Aceh. Sementara di Pidie, pasukan Aceh bertahan di Garot, Tiro, kawasan hutan Kemala, Tangse dan Gempang. Di Aceh Utara, para pejuang Aceh bertahan di perbukitan Batee Iliek, lembah Krueng Peusangan hingga perbatasan Gayo. Saat itu, perlawanan Aceh terhadap Belanda sama sekali tidak terstruktur sehingga sulit memperoleh kemenangan besar.

“Demikianlah keadaan perjuangan menentang Belanda di Aceh pada penghujung tahun 1880,” tulis Ismail Jakub.

Kondisi tidak adanya sosok pemimpin yang bisa membangkitkan semangat rakyat untuk kembali menggelorakan perang semesta membuat Sultan Aceh dan para ulee balang yang masih setia dengan Kerajaaan Aceh Darussalam menjadi gundah. Apalagi Teungku Chik Tanoh Abee menolak perang melawan Belanda sebelum para ulee balang menyerahkan harta rakyat yang dirampasnya.

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah dahulu musuh batin yaitu hawa nafsu. Harta rakyat yang ada pada masing-masing kita, yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkanlah kembali dengan segera…(Baca selengkapnya di Majalah ATRA Edisi Perdana April 2015)

Kisah Snouck “Membeli” Habib

Kisah Snouck “Membeli” Habib

Pertemuan Habib Abdurrachman Az-zahir dengan Snouck Hourgronje di Mekkah adalah awal penelitian akademis berujung politik tentang Aceh. Banyak keterangan Habib tentang Aceh yang menjadi dasar bagi Snouck dalam menyusun Atjeh Verslag untuk memecah belah Aceh.

Christian Snouch Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Ia besar dalam lingkungan keluarga pendeta Protestan, karena itu pula sejak kecil Snouck sudah belajar teologi.

Tamat sekolah menengah pada tahun 1875, Snouck melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sinilah ia mendalami teologi dan sastra Arab. Ia berhasil tamat dalam kurun waktu lima tahun dengan predikat cum laude atas desertasinya tentang Makaansche Feest (Perayaan di Makkah-red).

Berbekal kemampuan bahasa Arab, Snouck melanjutkan pendidikan ke Makkah untuk mempelajari Islam pada tahun 1884. Di sana ia berhasil menarik hati para ulama setelah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Pada saat yang sama di Aceh terjadi perang besar-besaran dengan Belanda. Pada 13 Oktober 1887, setelah terjadi perang sengit, Mangkubumi merangkap Menteri Luar Negeri Kerajaan Aceh, Habib Abdurrachaman Az-zahir menyerah dengan syarat kepada Belanda.

Syaratnya, ia akan menetap di Mekkah dengan menerima uang tahunan atas tanggungan pemerintah Kolonial Belanda senilai 10.000 dollar Amerika. Bagi Belanda, menyerahnya Habib Abdurrahman merupakan sebuah kesuksesan besar. Pada 24 November 1887, Habib Abdurrahman dikirim ke Jeddah dengan menumpang kapal Hr Ms Cuaracao.

Pasukan Belanda pun euforia terhadap keberhasilan tersebut. Malah, Mayor Macleod, seorang opsir Belanda, memplesetkan lagu “Faldera dera” yang popular saat itu untuk menggambarkan kesuksesan tersebut. Bunyinya:

Nun di sana terapung istana samudra

Namanya Cuaracao

Habib yang berani akan dibawa

Ke Mekkah tujuan nyata

Kini ia berdendang riang faldera dera

Untuk gubernemen kita

Banyaknya sekian ribua dolar sebulan

Tidak cerdikkah saya?

Kisah membeli kebaikan musuh dengan suapan merupakan upaya yang gencar dilakukan Belanda menaklukkan para pemimpin Aceh kala itu. Termasuk menggaji kaum ulee balang sebagai kaki tangannya.

Meski Habib Abdurrahman sudah di Mekkah, Belanda terus melakukan hubungan korespondensi dengannya untuk mengetahui seluk beluk dan kelemahan masyarakat Aceh. Dari Mekkah, pada 3 Muharram 1302 atau Oktober 1884, Habib Abdurrahman mengirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Isinya, sebuah usulan bentuk administrasi pemerintahan yang menurutnya akan diterima oleh rakyat Aceh.

Dalam surat itu Habib Abdurrahman mengusulkan agar Belanda membentuk administrasi pemerintahan yang baru di Aceh, yakni mengangkat seorang muslimin yang mempunyai pemikiran cemerlang, berasal dari keturunan ninggrat dan paham akan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan Aceh.

Masih menurut Habib Abdurrahman dalam surat tadi, orang tersebut harus diberi gelar raja atau sederajat, sebagai administrator yang bekerja untuk Belanda atas nama seluruh rakyat Aceh. Orang tersebut juga harus mampu menjadi penyeimbang antara hukum agama dengan hukum duniawi.

Menurut Habib, bila orang seperti itu diangkat sebagai pemimpin maka rakyat Aceh akan mengikutinya. Di akhir surat itu, Habib Abdurrahman membubuhkan tanda tangannya yang disertai stempel rijksbestuurder dari Pemerintah Aceh.

Tapi saran Habib tidak ditanggapi Gubernur Hindia Belanda. Karena kecewa, Habib kemudian menyerahkan dokumen atau naskah-naskah tentang Aceh kepada Snouck pada tahun 1886.

Naskah itu oleh Snouck kemudian diberikan kepada Ministerie van Kolonieen (Menteri Jajahan Belanda). Sebagai ilmuan Snouck juga menawarkan diri untuk melakukan penelitian di Aceh agar bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Aceh untuk menaklukkannya.

Snouck berhasil masuk ke Aceh dan menetap di Kutaraja Pada 9 Juli 1891. Ia menjadi orang kepercayaan Van Huetz, seorang jenderal yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Aceh (1904-1909). Setelah melakukan penelitian di Aceh, Snouck kemudian menulis Atjeh Verslag yang berisi laporan kepada Belanda tentan alasan perang Aceh.

Atjeh Verslag merupakan laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher.

Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah ulee balang tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah beroposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu singkat metode yang dipakai berhasil.

Selain itu Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh, Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.

Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang marsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras. Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasehat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam.

Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Dalam lingkup internal mereka, perubahan paradigma ini memunculkan konflik kepentingan yang lain yaitu tentang posisi penguasa di Aceh. Pendekatan tanpa kekerasan, otomatis pengurangan pasukan harus dilakukan. Sedangkan Van Heutsz merupakan orang yang sangat menantang itu. Ia bahkan mengusulkan status di Aceh tetap dipegang Gubernur Militer.

Namun segala taktik Snouck itu ternyata tidak sepenuhnya mampu meredam perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Malah sampai Snouck kembali ke Belanda sebagai Penasihat Menteri Urusan Koloni dan meninggal di sana pada 16 Juli 1936. Saat itu perang Aceh melawan Belanda masih berkecamuk.[](bna)

Inong Aceh di Mata Belanda: Ceubeh

Inong Aceh di Mata Belanda: Ceubeh

Wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh – Zentgraaff

Apa yang dikatakan HC Zentgraaff itu bukanlah tanpa alasan. Jurnalis perang itu mengalami dan melihat sendiri bagaimana perempuan Aceh mengambil perannya dalam perang melawan Belanda. Redaktu Java Bode itu kemudian membukukan pengalaman perangnya di Aceh dalam buku “Atjeh”.

Buku ini kemudian dianggap sebagai godam yang memukul muka Belanda sendiri, menelanjangi kegagalan Belanda di Aceh. Zentgraaff tak segan-segan mencela bangsanya sendiri yang bertindak kejam dalam memerangi orang-orang Aceh. Ia juga dengan rendah hati memuji kehebatan pejuang Aceh, bukan hanya pria tapi juga wanita.

Zentrgaaff menulis, “De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht.”

Artinya, “Wanita Aceh gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu meludahi muka si kaphe.”

Menurut Zentgraaff, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemui Pucut Meurah Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri di Padang Tiji. Ia digelar oleh Belanda sebagai heldhftig yakni perempuan yang gagah berani.

Dalam buku Prominent Women in The Glimpse of History (Wanita-wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah) peristiwa itu ditulis T Ibrahim Alfian dengan juga merujuk pada keterangan Zentgraaff dan sumber-sumber Belanda lainnya.

Suatu ketika keberadaan Pocut Di Biheue diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli 18 marsose bersenjata lengkap. Pocut di Biheue biukannya mundur, ia mencabut rencong dari pinggangnya, menyerang patroli itu seorang diri. “Meunyoe ka lageei nyoe, bah ulon mate,” teriaknya.

Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Melihat Pocut Di Biheue yang sudah tak berdaya, seorang sersan bertanya pada Veltman komandannya. Ia minta ijin untuk mengakhiri penderitaan Pocut Di Biheue, ia ingin menembaknya hingga meninggal. “Bolehkan saya melepaskan tembakan pelepas nyawa?” tanya sersan itu.

Veltman kemudian membentak sersan tersebut. “Apa kau sudah gila.” Veltman membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludahi, “Bek kamat kei kaphe,” kata Pocut Di Biheue sambil setelah meludah wajah Veltman.

Perwira Belanda yang bisa berbahasa Aceh itu kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri. Namun dugaan Veltman meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji. Ia bukan saja mendengar bahwa Pocut Di Biheue masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.

Veltman kagum dengan keberanian Pocut Di Biheue, karena itu ia membawa seorang dokter bersamanya ketika menjenguk Pocut Di Biheue dalam masa penyembuhan di kediamannya.

Ketika Veltman sampai, Pocut Di Biheue masih sangat lemah akibat banyak kehilangan darah. Tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan. Meski begitu, ia tetap menolak bantuan dokter yang dibawa Veltman untuk merawatnya. “Jangan kau sentuh aku, lebih baik aku mati dari pada tubuhku dipegang kaphe,” katanya.

Veltman yang fasih berbahasa Aceh terus membujuk Pocut Di Biheue agar mau diobati. Akhirnya ia menerima juga bantuan dokter itu, tapi tentara pribumi dari pasukan marsose pimpinanVeltman yang mengobatinya. Ia tidak mau tubuhnya dipegang oleh Belanda.

Berita tentang Pocut Di Biheue akhirnya sampai kepada Scheuer, komandan militer Belanda. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan perempan yang dinilainya sangat luar biasa itu.

Ketika Scheuer sampai ke kediaman Pocut Di Biheue, wanita gagah perkasa itu belum sembuh betul. Di hadapan Pocut Di Biheue, Scheuer, komandan militer Belanda itu mengambil sikap sebagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat dengan meletakkan ujung jari-jarinya di ujung topi petnya. “Katakan padanya, bahwa saya sangat kagum padanya,” kata Scheuer pada Veltmant.

Veltman pun menterjemahkan apa yang dikatakan Scheuer terhadap Pocut Di Biheue itu. Pocut Di Biheue yang sudah kelihatan kurus pun tersenyum. “Kaphe ini boleh juga,” katanya. Setelah sembuh, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora, Jawa Tengah. Belanda takut Pocut Di Biheue kembali memimpin masyarakatnya untuk melawan Belanda.

Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi. Suatu ketika pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Hoogres menyerang benteng Gunong Macan. Mereka menggempur benteng pertahanan Pocut Baren dengan dahsyat. Pocut Baren bersama pasukannya melakukan perlawan yang sengit. Dalam pertempuran itu, kaki Pocut Baren tertembak dengan luka yang cukup parah. Karena luka itulah, ia ditawan oleh Belanda dan dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan lalu dibawa ke Kutaraja untuk pengobatan.

Luka kakinya bertambah parah, hingga tak dapat diobati lagi. Tim dokter yang merawatnya terpaksa melakukan amputasi; kaki Pocut Baren dipotong. Selama di Kutaraja Pocut Baren diperlakukan sebagaimana layaknya tawanan perang dan seorang Uleebalang. Masa-masa di Kutaraja merupakan masa penantian yang sangat panjang, masa penantian keputusan hukuman yang akan dijatuhkan Belanda terhadapnya.

Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh, Van Daalen memutuskan hukuman buang ke Pulau Jawa terhadap wanita perkasa ini. Mendengar putusan itu,  seorang perwira penghubung Belanda, T J Veltman, menyampaikan saran kepada Van Daalen agar Pocut Baren tidak dibuang ke Pulau Jawa, melainkan dikembalikan ke daerahnya untuk melanjutkan kembali kepemimpinannya sebagai Uleebalang. Saran Veltman itu diterima oleh Van Daalen.

Doup seorang penulis Belanda dalam buku Gadenk Book va Het Korps Marechaussee mengungkapkan, Pocut Baren merupakan wanita yang diburu secara khusus oleh Belanda. Para pemimpin patroli pemburu Pocut Baren adalah tokoh-tokoh Belanda terkemuka dan terkenal amat berpengalaman dalam peperangan. “Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu memang dianggap sebagai lawan tangguh,” tulis Doup.

Doup mencatat nama-nama perwira Belanda yang pernah pemimpin pasukan pemburu Pocut Baren, mereka antara lain adalah Kapten TJ Veltman, Kapten A Geersema Beckerrigh, Kapten F Daarlang, Letnan JHC Vastenon, Letnan OO Brewer, Letnan W Hoogers, Letnan AH Beanewitz, Letnan HJ Kniper, Letnan CA Reumpol, Letnan Wvd Vlerk, Letnan WL Kramers, Letnan H Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan De Jong, Sersan Gackenstaetter, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, dan Sersan Bron.

Veltman yang fasih berbahasa Aceh, secara berkala terus melakukan komunikasi dengan Pocut Baren, sehingga perwira Belanda itu dapat membuat laporan mengenai perubahan yang terjadi pada Pocut Baren. Ia wanita yang suka berterus terang, suatu sikap yang amat dihargai oelh Veltman. Karena itulah Pocut Baren dikenal sebagai pejuang yang dapat menghormati musuhnya karena kebaikannya.

Adalagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka parah di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. “Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),” hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.

Sikap ceubeh dan tungang itu hingga kini masih menjalar dalam jiwa-jiwa perempuan Aceh. Menutup tulisan ini saya kutip sepenggal puisi Vichitra, cucu Tuanku Hasyim Banta Muda, panglima besar perang Aceh yang mempertahankan mesjid raya saat agresi pertama Belanda. “Bangsa Aceh terkenal tungang, sesama bangsa sendiri sering bertikai, konon lagi dengan musuhnya.” []

 

Pesan Teungku Chik Tanoh Abee untuk Pejuang Aceh

Pesan Teungku Chik Tanoh Abee untuk Pejuang Aceh

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah dahulu musuh batin yaitu hawa nafsu. Harta rakyat yang ada pada masing-masing kita, yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkanlah kembali dengan segera. Janganlah rakyat itu selalu teraniaya, tegakkanlah keadilan di tengah-tengah kita lebih dahulu, sebelum kita minta keadilan pada orang lain. Dari itu, tobatlah teuku-teuku dahulu sebelum mengajak rakyat memerangi kompeni. Kalau tidak juga dikembalikan harta-harta rakyat yang diambil dengan jalan yang tidak sah, yakinlah rakyat itu akan membelakangi kita dan kita akan tersapu bersih dari Aceh ini, melebihi dari yang sudah-sudah. Kalau yang saya minta teuku-teuku penuhi, maka saya akan bersama-sama teuku ke medan perang. Bila tidak, saya dan murid-murid saya jangan dibawa serta. Dan saya pandang, teuku-teuku berperang dengan saudara sendiri,” ujar Teungku Chik Tanoh Abee.

Apa yang disampaikan Teungku Chik Tanoh Abee ini dicatat kembali oleh Ismail Jakub dalam bukunya Teungku Tjhik Di Tiro (Muhammad Saman); Pahlawan Besar Dalam Perang Aceh (1881-1891). Teungku Chik Tanoh Abee menyampaikan hal tersebut dalam perundingan Lamsie yang diikuti oleh seluruh ulee balang Aceh, baik yang masih setia dengan Sultan Aceh maupun yang sudah bekerjasama dengan Belanda.

Perundingan ini terjadi setelah Darud Dunia direbut oleh Belanda dan sebagian besar wilayah Aceh Besar, atau setelah serangan militer kedua Belanda ke Kerajaan Aceh Darussalam. Banyak para tokoh pejuang Aceh di Aceh Besar yang melancarkan perang gerilya dari pedalaman, baik dari belantara Seulawah maupun di lembah Krueng Aceh. Sementara di Pidie, pasukan Aceh bertahan di Garot, Tiro, kawasan hutan Kemala, Tangse dan Gempang. Di Aceh Utara, para pejuang Aceh bertahan di perbukitan Batee Iliek, lembah Krueng Peusangan hingga perbatasan Gayo. Saat itu, perlawanan Aceh terhadap Belanda sama sekali tidak terstruktur sehingga sulit memperoleh kemenangan besar.

Perundingan ini dihadiri oleh Teuku Panglima Polem Muda Kuala pemimpin Sagi XXII Mukim yang sepakat dengan pernyataan Teungku Chik Tanoh Abee.

Sikap tegas yang disampaikan Teungku Chik Tanoh Abee dan Panglima Polem ini membuat pejuang kerajaan menjadi gundah. Mereka lantas kembali mengadakan pertemuan di Gunung Biram, Lamtamot, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Seulimum. Pertemuan rahasia ini membahas tiga opsi.

Opsi pertama adalah kembali ke daerah masing-masing dan menerima hukuman dari Jenderal Karel van der Heijden yang dikenal berlaku kejam terhadap lawannya. Kedua tetap bersembunyi di rimba belantara hingga ajal menjemput, dan opsi ketiga adalah mengirimkan utusan ke Pidie untuk meminta bantuan.

Akhirnya pertemuan Biram tersebut melahirkan kesepakatan meminta bantuan ke Pidie. Daerah ini dikenal memiliki banyak pemimpin dan ulama yang masih didengar oleh rakyat terutama di kawasan Tiro.

“Utusan Gunung Biram berangkat ke Pidie melalui bukit barisan di kaki Gunung Seulawah. Jalan yang ditempuh amat sulit, masih jalan ayam dalam hutan. Berkali-kali mereka sesat tujuan. Dipilihnya benar tempat yang berjauhan dari kampung supaya selamat dari mata-mata musuh,” tulis Ismail Jakub.

Sejak saat itu, tongkat kepemimpinan perjuangan melawan Belanda akhirnya beralih ke tangan ulama-ulama Tiro.[]