Tag: pengungsi

Wanita Dijadikan Budak Seks di “Sejumlah Kamp Pemerkosaan” di Sudan Selatan

Wanita Dijadikan Budak Seks di “Sejumlah Kamp Pemerkosaan” di Sudan Selatan

BENTIU — Seorang perempuan diculik sejumlah tentara dan dibawa ke sebuah kamp militer. Di sana, dia diikat dan diperkosa berulang kali selama dua bulan.

Seorang perempuan lain diculik bersama adiknya yang berusia 15 tahun, dan diperkosa setiap malam selama lima malam. Seorang perempuan ketiga dibawa ke hutan bersama putrinya yang baru berusia 12 tahun. Di sana, keduanya diperkosa.

Penculikan perempuan dan gadis muda yang kemudian dijadikan sebagai budak seks—beberapa di antaranya ditahan tanpa batas waktu—diikat bersama ratusan orang lain di “kamp-kamp pemerkosaan” rahasia, merupakan sebuah aspek baru yang mencemaskan dari konflik yang telah berlangsung selama 21 bulan di Sudan Selatan, yang kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusianya sudah sudah dikenal.

Para gadis Chibok di Nigeria, yang diculik Boko Haram pada April 2014, dan para perempuan Yazidi di Irak yang dijadikan budak seks oleh kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS, sudah diketahui dunia. Namun, nasib dari—mungkin ribuan—perempuan Sudan Selatan yang diculik dan berulang kali menjadi korban pemerkosaan brutal serta bekerja dalam kondisi seperti budak tetap tidak terungkap ke permukaan hingga kini.

Puluhan wawancara yang dilakukan kantor berita AFP di utara negara itu mengungkapkan sebuah pola sistematis penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan tentara pemerintah dan milisi sekutunya selama sebuah ofensif berlangsung baru-baru ini.

Penyelidikan difokuskan pada serangan pasukan pemerintah. Namun, kedua belah pihak telah melakukan pembantaian etnis, merekrut dan membunuh anak-anak, serta melakukan pemerkosaan secara luas, juga penyiksaan dan pemindahan paksa penduduk demi “membersihkan” daerah musuh mereka.

Penculikan dan pemerkosaan sistematis

Nyabena, seorang ibu berusia 30 tahun, ditangkap ketika tentara menyerang desanya di Kabupaten Rubkona pada April lalu. Laki-laki dewasa dan anak laki-laki ditembak mati. Rumah-rumah dijarah dan dibakar hingga rata dengan tanah. Kaum perempuan dan anak perempuan ditangkap. Nyabena berada di antara 40 orang yang diambil dari dua desa bertetangga. Ia berurai air mata ketika bercerita tentang kejadian saat dirinya dipisahkan dari kelima anaknya.

Mereka dibawa ke Kabupaten Mayom. Nyabena ditahan di Kotong, wilayah yang dikuasai Mayor Jenderal Matius Puljang, komandan milisi Suku Nuer Bul yang beraliansi dengan tentara Sudan Selatan, SPLA, yang telah memerangi para pemberontak sejak Desember 2013.

Sejak April hingga Juli tahun ini, SPLA dan milisi Puljang telah melakukan serangan yang oleh para peneliti PBB digambarkan sebagai “kebijakan pembumihangusan” dalam laporan mereka pada bulan Agustus.

Pertempuran dan banjir telah membatasi akses ke sebagian besar wilayah Sudan Selatan. Hal itu membuat para pekerja bantuan menyebut bagian selatan negara itu sebagai “lubang hitam informasi”.

Seorang penyidik HAM mengatakan, “Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di Kabupaten Mayom,” tempat banyak perempuan diculik. Seorang pakar militer memperkirakan bahwa “ribuan perempuan” diculik selama serangan itu.

“Di semua kabupaten di bagian selatan Sudan Selatan pun sama. Para perempuan yang melarikan diri ini beruntung. Mereka yang tidak (berhasil melarikan diri) akan diperkosa dan diculik atau dibunuh,” kata penyidik HAM itu. “Penculikan kaum perempuan tampaknya sistematis. Itu bisa satu hari, atau lebih lama, atau untuk selamanya.”

Mereka yang lolos menceritakan kisah mereka dengan suara yang tenang, tanpa emosi (karena sudah mati rasa). Mimpi buruk menimpa beberapa di antara mereka. Kadang, mereka berpikir bahwa dirinya masih ditawan.

Setelah diculik, Nyabena disuruh bekerja pada siang hari. Tugasnya antara lain membawa barang-barang hasil jarahan dan makanan, mengumpulkan air, dan mencangkul kebun. Dia selalu diawasi pada siang hari. Pada malam hari, dia diikat bersama para perempuan lainnya.

“Ketika salah seorang dari tentara itu ingin berhubungan seks, dia akan datang, melepaskan kami, dan membawa kami pergi. Ketika mereka selesai, mereka akan membawa kami kembali dan mengikat kami lagi,” katanya, sambil meregangkan sikunya di belakang punggungnya untuk menunjukkan bagaimana dirinya diikat. Dia mengatakan, diperkosa oleh empat laki-laki dalam semalam merupakan hal biasa.

Perempuan yang menolak untuk bekerja atau melawan saat diperkosa pasti akan lenyap. “Pada pagi hari, kami mengetahui mereka telah hilang,” katanya. Dari 40 orang yang tiba bersamanya pada April lalu, 10 orang hilang dengan cara ini.

Korban termuda berusia 12 tahun

Nyamai, seorang ibu berusia 38 tahun yang punya lima anak, diambil dari desanya di Kabupaten Koch. Dia selalu diawasi dan sering diikat. Sebanyak 10 tentara akan mengantre pada malam hari demi mendapat giliran untuk memerkosanya. “Tolong, satu orang saja yang berhubungan dengan saya, jangan semua,” pintanya. Sebagai jawaban, dia dipukuli dengan tongkat.

Dalam sebuah kasus lain, tiga dari putri seseorang bernama Nyatuach belum menikah dan masih remaja ketika diculik pada Mei lalu dalam sebuah serangan ke desa mereka di Kabupaten Rubkona. Dua putrinya masih hilang, tetapi anaknya yang berusia 17 tahun berhasil melarikan diri bersama tiga keponakannya.

Mereka kembali dalam kondisi “sangat sakit, sangat kurus”. “Tubuh mereka lemah, dan mereka mengeluarkan cairan yang berasal dari begitu banyak pria yang melakukan hubungan seksual dengan mereka,” kata Nyatuach. Ia merujuk ke gejala umum fistula, sebuah kondisi buang air kecil tanpa sadar karena ada kerusakan di dinding antara vagina dan kandung kemih atau rektum, yang dapat disebabkan oleh pemerkosaan yang disertai kekerasan.

Sejumlah perempuan lainnya diperkosa berulang kali sampai mereka akhirnya dibebaskan atau dibunuh karena telah mengalami perdarahan dan tidak sanggup lagi.

“Ketika gadis-gadis itu rusak, mereka akan membuangnya,” kata Nyatuach.

Rebecca, perempuan lainnya, bertemu lagi dengan putrinya yang berusia 12 tahun sehari setelah desa mereka di Kabupaten Koch diserang. “Ketika mereka membawa saya, orang-orang itu memanfaatkan saya,” kata gadis itu kepada ibunya. Rebecca merebus air dan membasuh putrinya dengan kain panas.

“Kita tak bisa berbuat apa-apa,” katanya kepada putrinya. “Begitulah keadaannya.” [] Sumber: kompas.com

Foto: Paling tidak 172 wanita dan anak perempuan diculik dan menjadi korban kekerasan seksual. @BBC

Pengungsi Suriah Ini Tidak Bisa Lupakan Perbuatan Wartawati Hungaria

Pengungsi Suriah Ini Tidak Bisa Lupakan Perbuatan Wartawati Hungaria

OSAMA Abdel-Muhsen Alghadab mengaku tak akan melupakan perbuatan tak terpuji seorang juru kamera wanita Hungaria. Ya, beberapa hari lalu, Osama dan anaknya sengaja disandung oleh Petra Lazlo di perbatasan Hungaria-Serbia.

Kini, Osama bersama anak-anaknya sudah berada di Jerman.

“Saya tak mungkim memaafkan wartawan itu. Bagaimana bisa saya memaafkannya,” kata Osama, seperti dikutip dari Metro, Senin (14/9).

Dalam kejadian yang tak akan dilupakan Osama itu, saat itu dia memegang Zaid, putranya berusia tujuh tahun. Dia menceritakan, ketika itu suasana sudah sangat tegang.

Osama yang mengungungsi bersama ribuan warga Syria lainnya, tertahan oleh aparat keamanan di perbatasan. “Itu daerah yang sangat kecil dengan kerumunan besar. Orang-orang mulai kehilangan kesabaran dan ingin berjalan. Polisi berdiri di sana untuk menghentikan kami,” kenangnya.

Suasana saat itu, imbuh Osama, mendadak menjadi ricuh. “Kacau. Orang-orang mulai saling mendorong. Saya tidak melihat dari mana asalnya, saya tidak tahu apakah itu kamerawati atau polisi. Saya kemudian jatuh ke tanah. Bagaimana bisa saya memaafkannya,” tandas Osama.

Kini, keluarga Osama di Jerman menunggu nasib mereka selanjutnya. “Kami tinggal untuk sementara, dan menunggu. Hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang,” tuturnya.[] sumber: JPNN.com

Baca juga:

Video: Wartawati Hungaria Tendang Pengungsi Suriah Saat Liputan

Tendang Pengungsi, Juru Kamera NT1 Kini Hadapi Penyelidikan Pidana

Juru Kamera Wanita Penjegal Pengungsi Suriah Minta Maaf

Juru Kamera Wanita Penjegal Pengungsi Suriah Minta Maaf

Juru Kamera Wanita Penjegal Pengungsi Suriah Minta Maaf

Juru kamera wanita media Hungaria N1TV meminta maaf atas aksi yang dia lakukan dengan menjegal pengungsi tengah berlari menghindari penangkapan petugas di Roszke. Wanita yang diketahui bernama Petra Laszlo ini pun tidak percaya tindakan itu bisa dia lakukan.

Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam sepucuk surat kepada harian sayap kanan Magyar Nemzet. Dia mengaku terkejut atas insiden itu, namun menolak tindakannya dilakukan berdasarkan unsur rasisme.

“Kamera tengah merekam, ratusan pengungsi menerobos penjagaan polisi, salah satu dari mereka berlari ke arah saya dan saya takut,” ujar Laszlo.

Laszlo mengatakan ada seseorang yang membentaknya. Menurut dia, penjegalan itu hanya merupakan reaksi spontan tubuhnya sebagai reaksi atas bentakan itu.

“Kemudian ada yang membentak saya… Saya hanya berpikir bahwa saya diserang dan saya harus membela diri. Sulit untuk membuat keputusan tepat di saat panik,” ungkap dia.

Selanjutnya, Laszlo menyatakan bersedia bertanggung jawab atas tindakan yang sudah dilakukannya.

“Saya bukan tidak berperasaan, rasis, juru kamera wanita yang menendang anak kecil. Saya tidak berusaha melawan serangan politik yang ditujukan kepada saya, tidak juga pada ancaman kematian,” kata dia.

“Saya hanya seorang ibu pengangguran dengan seorang anak, yang membuat keputusan buruk. Saya benar-benar meminta maaf,” kata dia.

Laszlo telah dipecat oleh pengelola N1TV setelah tindakannya yang terekam kamera diunggah oleh jurnalis Jerman, Stephan Ritcher ke media sosial Twitter. Pihak pengelola menyebut tindakan Laszlo tidak dapat diterima sehingga langsung dipecat.

Kasus penjegalan ini kini telah masuk ke ranah pengadilan. Wakil Kepala Kejaksaan Csongrad Sandor Toro mengatakan saat ini kasus tersebut masih dalam pemeriksaan.

“Dalam proses investigasi, penyidik juga akan melacak keberadaan kasus kriminal yang serius… nantinya bisa digabung,” kata Toro.

Insiden ini terjadi pada Selasa lalu. Ratusan pengungsi berlarian untuk bisa masuk ke daerah perbatasan. | sumber: dream.co.id

Miliarder Norwegia Ajak Pengungsi Tinggal di Hotelnya 5 Ribu Malam

Miliarder Norwegia Ajak Pengungsi Tinggal di Hotelnya 5 Ribu Malam

Oslo – Seorang miliarder asal Norwegia menawarkan hotelnya untuk menampung para pengungsi kemanusiaan. Miliarder ini menawarkan kesempatan tinggal selama 5 ribu malam di jaringan hotelnya bagi pengungsi yang tidak kebagian tempat di pusat penampungan.

“Kami menawarkan 5 ribu malam bagi para pengungsi yang membutuhkannya,” tutur miliarder Norwegia, Petter Stordalen melalui akun Twitter-nya, seperti dilansir AFP, Rabu (9/9/2015).

Stordalen memiliki jaringan Nordic Choice Hotels, yang merupakan jaringan hotel terbesar di wilayah Skandinavia, Eropa bagian utara. Terdapat sekitar 170 hotel milik jaringan ini yang tersebar di wilayah Norwegia, Swedia dan Denmark, serta wilayah Baltik.

Krisis imigran yang melanda kawasan Eropa memicu keprihatinan publik, tidak terkecuali Stordalen. “Tentu membuat prihatin semua orang,” tutur Stordalen kepada kantor berita Norwegia, NTB.

Stordalen menambahkan, dirinya juga akan menggratiskan biaya makan bagi pengungsi yang memutuskan tinggal sementara di jaringan hotelnya. Badan Imigran Norwegia atau yang disebut UDI menyatakan, masih mempertimbangkan tawaran Stordalen ini.

Sepanjang Agustus, Norwegia menerima 2.313 permohonan suaka dari para pengungsi, yang sebagian besar berasal dari Suriah, Eritrea dan Afghanistan. Jumlah ini tercatat sebagai jumlah terbanyak dalam waktu sebulan dalam sejarah Norwegia, sejak tahun 1990-an.

Menurut UDI, jumlah pencari suaka bisa melonjak tajam hingga 16 ribu pemohon hingga akhir tahun 2015. Jumlah ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan pada tahun 2014, yang hanya mencapai total 11.460 pemohon suaka.[] Sumber: detik.com

Foto Petter Stordalen (Verdens Gang)

Israel Tolak Tampung Pengungsi Suriah

Israel Tolak Tampung Pengungsi Suriah

TEL AVIV – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Minggu, menolak permintaan pemimpin oposisi Israel untuk menampung pengungsi Suriah dengan alasan negaranya terlalu kecil untuk menerima mereka.

Berbagai foto selama beberapa hari belakangan ini, yang menunjukkan ribuan pengungsi secara bergerombol, menaiki dan turun dari kereta di Eropa untuk mencari tempat berlindung dari konflik Timur Tengah, telah mengusik perasaan di Israel, negara yang terbentuk tiga tahun setelah Pembantaian Nazi –yang menewaskan enam juta warga Yahudi itu.

Isaac Herzog, pemimpin oposisi utama Partai Serikat Zionis, meminta para pemimpin Israel untuk “menyerap para pengungsi dari pertempuran di Suriah”, negara tetangga di utara yang dianggap Israel sebagai negara musuh.

Saat memberikan pernyataan terbuka dalam sidang kabinet, Netanyahu mengatakan Israel “tidak bersikap masa bodoh dengan tragedi kemanusiaan” para pengungsi Suriah. Ia menyatakan bahwa rumah-rumah sakit Israel telah memberikan perawatan bagi orang-orang yang mengalami luka-luka sejak zaman perang saudara.

“Tapi, Israel adalah negara kecil, tidak memiliki wilayah dan kependudukan yang luas,” kata perdana menteri berhaluan sayap-kanan itu.

Menurut dia, menampung para pengungsi Arab akan merusak keseimbangan demografi di negara dengan mayoritas penduduk beragama Yahudi itu, yang seperlima dari total jumlah penduduk 8,3 juta di antaranya merupakan warga negara keturunan Arab.

Kendati tidak ada imbauan dunia internasional agar Israel membuka perbatasannya bagi para warga Suriah, Herzog mengatakan Netanyahu memiliki kewajiban moral untuk menerima pengungsi.

“Perdana menteri rakyat Yahudi (seharusnya) tidak menutup hatinya dan pintu-pintu gerbang di saat orang-orang lari menyelamatkan diri, dengan menggendong bayi, dari penganiayaan,” kata Herzog.

Dengan menyebut bahaya yang dihadapi para pengungsi Palestina, yang telah lama tinggal di kamp-kamp Suriah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan mereka perlu diizinkan masuk ke Tepi Barat –yang diduduki Israel.

Israel mengatakan masalah keseluruhan menyangkut hak para pengungsi Palestina untuk kembali akan diselesaikan hanya sebagai bagian dari perjanjian perdamaian final. Perundingan antara Israel dan Palestina terputus pada 2014.

Dalam sidang kabinet, Netanyahu mengaitkan pernyataan soal pengungsi Suriah dengan mengatakan bahwa Israel lebih lanjut harus mengamankan perbatasan-perbatasannya dari para migran Afrika dan gerilyawan Islam.

Ia mengumumkan dimulainya pembangunan pagar yang baru sepanjang 30 kilometer di perbatasan dengan Jordania. Israel dan Jordania menandatangani perjanjian perdamaian pada 1994.

Israel telah menyelesaikan pagar sepanjang 230 kilometer di perbatasan dengan Mesir pada 2013. Kedua negara menandatangani kesepakatan damai pada 1979.

Israel juga mematok pagar-pagar di perbatasan dengan Lebanon serta di garis antara Dataran Tinggi Golan yang didudukinya dan di Suriah.

Banyak wilayah Tepi Barat yang juga dibelah dengan tembok-tembok yang dibangun Israel, sementara Jalur Gaza yang dikendalikan gerilyawan Islamis Hamas saat ini tertutup pagar-pagar dan tembok tinggi.[] sumber: antaranews.com

Mengapa Masyarakat Internasional Marah Pada Foto Bocah Suriah Ini?

Mengapa Masyarakat Internasional Marah Pada Foto Bocah Suriah Ini?

Foto yang diterbitkan pertama kali oleh satu kantor berita Turki ini menjadi trending topic di seluruh dunia.

Setidaknya 12 warga Suriah yang mencoba masuk ke Yunani tewas tenggelam di perairan Turki ketika kapal yang mereka tumpangi karam.

Salah satu korban adalah seorang bocah laki-laki yang ditemukan polisi Turki di pantai dan foto bocah tersebut memicu kemarahan masyarakat internasional.

Foto yang diterbitkan pertama kali oleh satu kantor berita Turki ini menjadi trending topic di seluruh dunia.

Ribuan migran tewas sejak awal tahun ini dalam upaya memasuki Eropa melalui laut.

Menurut petugas penjaga pantai Turki, sekelompok migran meninggalkan Turki melalui Semenanjung Bodrum menuju Pulau Kos di Yunani pada Rabu (2/9) dini hari. Namun, dua perahu yang mereka tumpangi karam tidak lama kemudian.

Dua belas jenazah, termasuk lima anak-anak, ditemukan oleh aparat keamanan Turki.

Dari sekitar 23 orang yang berangkat ke Yunani, diperkirakan hanya sembilan yang selamat, beberapa di antaranya mengenakan pelampung dan berenang menuju pantai.

Harapan untuk menemukan korban selamat kini makin tipis.

Foto bocah yang meninggal dan tersapu ombak ke pantai di dekat Bodrum diterbitkan begitu beberapa jenazah ditemukan pada sekitar pukul 06.00 waktu setempat.

Bocah yang meninggal ini diketahui bernama Aylan.

Saudara laki-lakinya, Galip yang berumur lima tahun, dan ibunya, Rihan, meninggal dalam peristiwa ini.[] sumber: National Geographic

BNPB Tidak Mengurus Rohingya di Aceh

BNPB Tidak Mengurus Rohingya di Aceh

MEDAN – Direktur Bantuan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Eko Budiman, mengatakan urusan pengungsi sebetulnya bukan tugas BNPB.

“Tidak ada tupoksi BNPB mengurus pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya di Aceh,” kata Eko Budiman, di sela-sela perjalanan darat dari Kota Medan ke Lhokseumawe, Aceh bersama Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, Sabtu, 29 Agustus 2015.

Di samping tidak ada tupoksinya di BNPB, lanjutnya, pengungsi tidak dapat dikategorikan sebagai peristiwa bencana alam dan pelakunya bukan warga negara Indonesia.

“Dalam kasus pengusian di Aceh, pelakunya warga negara Bangladesh dan Myanmar. Jadi tidak ada perintah UU yang mengharuskan BNPB urus pengungsi,” jelasnya.

Kehadiran BNPB dalam kasus pengungsi Rohingya, menurut Eko atas permintaan Kementerian Sosial (Kemensos). “Menteri Sosial minta kepada kepala BNPB agar memperkuat kerja-kerja sosial yang dilakukan oleh Kemensos,” ujarnya.

Jadi leading sektornya tetap Kemensos. “BNPB hanya sebatas membantu Kemensos yang didasari atas permintaan Menteri Sosial,” tegasnya.[] sumber: JPNN.com

Foto: Ilustrasi pengungsi Rohingya di Aceh. @kompas.com

Pengungsi Suriah Hadapi Kematian Secara Perlahan di Libanon

Pengungsi Suriah Hadapi Kematian Secara Perlahan di Libanon

BEIRUT – Salwa al-Ali, orang Suriah yang kehilangan tempat tinggal, menggendong anaknya yang menderita kanker paru-paru dan memandangi wajah anaknya yang pucat seperti tanda kematian secara perlahan.

Keluarga Salwa al-Ali hidup bersama lima anak di satu ruang sederhana di perbukitan di sebelah barat Kota Kecil Saghbin di Lembah Bekaa di Lebanon. Ia merenungkan cara meringankan penderitaan anaknya dan bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan buat anaknya sedangkan perempuan itu bahkan tak bisa membayar dokter untuk mengobati anaknya.

Salwa kehilangan suaminya dalam pertempuran di Idlib, Suriah, dua tahun lalu. Harapannya sirna untuk bisa membawa anaknya ke rumah sakit karena biaya pengobatan tersebut jauh dari jangkauannya.

“Semua dokter mengatakan anak saya mesti dibawa ke rumah sakit khusus. Tapi untuk itu, saya harus membayar 5.000 dolar AS dan saya tak mungkin memperoleh uang sebanyak itu setelah dihentikannya operasi lembaga bantuan,” kata Salwa baru-baru ini kepada Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi.

Sementara itu, Abou Ahmad Hassan Al-Khoueiry, pengungsi dari Aleppo, kehilangan putrinya tahun lalu, setelah anak tersebut didiagnosis menderita infeksi paru-paru parah.

“Ribuan pengungsi Suriah berada di jalan menuju kematian akibat kurangnya perawatan kesehatan yang diperlukan. Yang menambah parah keadaan ialah ketidak-mampuan Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR),” katanya.

Menurut UNHCR, Lebanon menampung sebanyak 1,2 juta pengungsi Suriah dan menghadapi beban sangat berat dalam menyediakan kebutuhan dasar buat mereka.

Berkurangnya bantuan internasional menjadi pukulan buat pengungsi Suriah di Lebanon, dan kartu pendaftaran yang diberikan kepada pengungsi tak mengizinkan pasien kanker atau mereka yang didiagnosis menderita penyakit kronis untuk memperoleh perawatan medis.

“Kami hidup dalam kondisi putus-asa. Kami khawatir dengan masa depan kami,” kata Hassiba Al-Hassan, pengungsi dari permukiman di Ibu Kota Suriah, Damaskus, kepada Xinhua.

Wanita tersebut mengatakan nama banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal telah dihapus dari daftar bantuan makana. “Kami diberitahu keluarga Suriah yang dihapus dari daftar berjumlah 3.000 keluarga setiap bulan.”

Di gerbang utama salah satu rumah sakit Bekaa, Walid Al-Oreiji, anak Suriah yang berusia 10 tahun, meninggal setelah rumah sakit menolak untuk mengobati penyakit gagal ginjal yang dideritanya.[] sumber: antaranews.com

Kisah Bocah Pengungsi yang Jadi Menteri Pendidikan

Kisah Bocah Pengungsi yang Jadi Menteri Pendidikan

VALENTINO Achak Deng dulu merupakan bocah pengungsi yang berjalan selama berbulan-bulan melintasi wilayah untuk melarikan diri dari perang brutal.

Dia tinggal di kamp pengungsi di Ethiopia dan Kenya, menimba ilmu selama perjalanan berbahaya sebelum kemudian direlokasi ke Amerika Serikat.

Kisah kehidupan Deng diceritakan penulis AS, Dave Eggers, dalam buku laris berjudul What is the What.

Valentino DengKini, nasib Deng tak ubahnya kejutan dalam kisah fiksi. Dia telah diangkat menjadi menteri pendidikan di Northern Bahr el-Ghazal, salah satu dari 10 negara bagian Sudan Selatan yang merebut kemerdekaan dari Sudan pada 9 Juli 2011.

Deng mengaku dia pun susah membayangkan dirinya yang dulu berpakaian compang-camping kini berubah menjadi menteri dengan setelan rapi.

“Bila seseorang bersikap positif dan optimis, hal-hal baik akan terjadi,” katanya.

deng-bbcDeng memiliki ambisi besar bagi anak-anak di wilayahnya dan mengatakan cerita hidupnya memberi contoh yang baik.

“Pelajaran yang saya dapatkan adalah manusia bisa selalu belajar, berhasil melalui masa sulit dan gigih dan bertumbuh. Sangat menyenangkan melihat anak-anak yang berhasil – semuanya tersenyum dan memiliki kisah sukses.”

Deng diangkat menjadi menteri pendidikan di Northern Bahr el-Ghazal tahun lalu setelah sukses membangun sekolah di Kota Marial Bai, dibantu dana dari penjualan buku What is the What.

Ketika kita berbincang, seorang orang tua murid datang berterima kasih kepada Deng karena pendidikan yang diberikan sekolah yang dia dirikan bagi anak-anak.

Di sekolahnya itu, Deng membawa anak-anak dari Pibor, area terdampak konflik di ujung negara tersebut.

“Saya ingin anak-anak dari Northern Bahr el-Ghazal belajar bersama anak-anak dari ke sembilan negara bagian Sudan Selatan lainnya, dan mengambil manfaat dari lingkungan antar-budaya itu,” katanya.

Namun sekarang Deng menghadapi tantangan-tantangan lebih besar sebagai menteri negara bagian di sebuah negara dengan politik yang terbelah dan krisis ekonomi hasil perang sipil Sudan Selatan.

Deng mengatakan dia kekurangan pengajar yang cakap di tengah banyaknya jumlah siswa yang berbondong-bondong ke sekolah.

Bangunan sekolah pun bermasalah. Banyak kegiatan belajar-mengajar berlangsung di bawah pohon. Begitu musim hujan semua kebasahan.

deng sudan-bbcAnak-anak juga seringkali datang ke sekolah dalam kondisi lapar “yang berdampak pada kemampuan belajar mereka”, kata Deng.

Lalu banyak yang kesulitan mengerti bahasa Inggris, bahasa resmi Sudan Selatan, khususnya bila mereka tumbuh besar di masa pra-kemerdekaan Sudan yang bahasa resminya adalah Arab.

Northern Bahr el-Ghazal telah diselamatkan dari dampak terburuk perkelahian perang sipil yang dimulai 18 bulan lalu, namun dampak krisis masih jelas terlihat.

“Harga terus berfluktuasi, guru-guru tidak dapat bertahan hidup dengan gaji mereka,” jelas Deng.

“Anak-anak kelaparan, mereka tidak pergi ke sekolah karena mereka harus bertahan hidup.”

Deng khawatir kehilangan jumlah besar anak-anak yang buta huruf, akibat kekerasan.

“Pendidikan bisa mentransformasi, namun tidak bisa melakukan banyak bila murid-murid terpaksa harus meninggalkan sekolah.”

Deng menganggap dirinya sebagai seseorang yang bertindak dan bukan hanya seorang politikus, namun dia sendiri tahu dari pengalaman pribadi perubahan yang bisa dibawa oleh pendidikan.

deng again“Ketika saya berjalan melintasi selatan Sudan tanpa alas kaki, saya benar-benar tidak tahu apapun, tidak memiliki peta, tidak tahu lokasi saya, cara mencari jalan di hutan atau mencari tanda-tanda bahaya. Saya hanya seorang bocah naïf, mencari keselamatan.”

Perjalanan pendidikan Deng sendiri,terputus karena perang. Hidup di kamp pengungsi Ethiopia dan Kenya mengajarkan dirinya bahwa negara asalnya akan lebih baik bila lebih banyak orang bersekolah.

“Kami memiliki segelintir orang-orang yang berpendidikan, jumlah sekolah yang sedikit, infrastruktur dasar pun tidak ada, tidak ada sistem pertanian pusat. Itu semua karena perang, yang memundurkan kami beberapa tahun. Jadi dengan pendidikan, saya tidak akan harus melalui kesusahan itu. Seseorang pasti akan memikirkan alternatif.”

Sekarang Deng memiliki kesempatan mendidik ribuan anak-anak, sebagai menteri pendidikan negara bagian atau melalui sekolahnya.

“Yang saya doakan, kami sebagai pemimpin negara muda ini harus menghentikan kekerasan, menghentikan apapun yang menghancurkan jiwa, mencari solusi dan kita pun bisa seperti yang lain.”[] sumber: bbc.co.uk

Uni Eropa Diusulkan Tampung Pengungsi Sesuai Kuota

Uni Eropa Diusulkan Tampung Pengungsi Sesuai Kuota

Komisi Eropa segera menyusun draf aturan yang mengharuskan setiap negara anggota Uni Eropa menampung pengungsi sesuai dengan ketetapan kuota.

Penyusunan draf tersebut mengemuka sebulan setelah sekitar 700 migran tenggelam akibat kapal yang mereka tumpangi karam di Laut Mediterania dalam perjalanan dari Afrika menuju Italia.

Sejak insiden itu, para pemimpin negara anggota Uni Eropa mendapat tekanan untuk mengeluarkan kebijakan imigrasi yang lebih manusiawi sekaligus efektif dalam menekan praktik perdagangan manusia.

Akan tetapi, persetujuan proposal itu memerlukan kesepakatan dari segenap negara anggota UE, khususnya mengenai penetapan kuota jumlah pengungsi yang harus ditampung setiap anggota.

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC, Katya Adler, kuota akan ditentukan menggunakan sejumlah faktor, termasuk populasi negara, kekuatan ekonomi, dan jumlah pengungsi dan pencari suaka yang sebelumnya ditampung.

Sejauh ini, ide itu disambut baik oleh Jerman, yang menerima permohonan suaka dari 200.000 orang tahun lalu.

Menurut rencana, proposal Komisi Eropa tersebut akan menjadi topik bahasan khusus dalam Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa pada akhir Juni mendatang.

Mandat PBB

Soal perdagangan manusia, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini telah meminta ijin kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memakai metode kekerasan untuk melawan orang-orang yang menjalankan bisnis perdagangan manusia di Libia.

Tanpa mandat PBB, aksi militer untuk menghancurkan kapal-kapal yang dipakai untuk memperdagangkan manusia di Libia atau perairan internasional dikategorikan sebagai tindakan ilegal.

Kalaupun PBB memberi mandat, lembaga Amnesty International memperingatkan bahwa konsekuensi aksi penghancuran kapal perdagangan manusia juga bisa berakibat buruk terhadap para migran.

“Menjalankan aksi memerangi penyelundup manusia tanpa menyediakan rute alternatif bagi orang-orang yang ingin melarikan diri dari konflik di Libia tidak akan menyelesaikan masalah pengungsi dan migran,” kata Direktur Amnesty International di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Philip Luther.

Berdasarkan data PBB, lebih dari 1.800 migran tewas sepanjang tahun ini di Laut Mediterania, peningkatan 20 kali lipat dari periode yang sama pada 2014. | sumber : bbc.co.uk

Foto: Imigran gelap asal Myanmar yang terdampar di Aceh Utara pada Minggu, 10 Mei 2015 @portalsatu.com/Zulkifli Anwar