Tag: penculikan

Dikira ingin Menculik Anak SD, Lima Warga Aceh Besar Nyaris Diamuk Massa

Dikira ingin Menculik Anak SD, Lima Warga Aceh Besar Nyaris Diamuk Massa

LHOKSUKON – Lima warga Lhoong, Aceh Besar, nyaris babak belur akibat diamuk massa di Simpang Ulee Tutu, Desa Lhokcut, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Kamis, 8 Oktober 2015 sekitar pukul 08.30 WIB tadi. Massa menduga ke lima warga Aceh Besar ini ingin menculik SM, bocah kelas 5 SD, warga Desa Gunci, Kecamatan Sawang.

Informasi yang dihimpun portalsatu.com, diketahui Irfandi, 34 tahun, salah satu korban amuk massa adalah ayah bocah SM. Dia bersama empat orang temannya menjemput SM di ruang kelas SD Negeri 16 Sawang.

Warga yang menduga telah terjadi penculikan terhadap SM kemudian menghadang ke lima korban di Simpang Ulee Tutu Desa Lhokcut.

Kapolsek Sawang, Iptu Bukhari Gamcut, kepada portalsatu.com sekitar pukul 19.30 WIB tadi mengatakan, Irfandi adalah ayah kandung SM, buah cintanya bersama Idarwati, 30 tahun. Mereka kemudian berpisah dan SM dibawa oleh sang ibu ke Sawang.

Menurut Kapolsek, Irfandi telah beberapa kali meminta kepada Idarwati, mantan istrinya agar SM dapat bertemu dengannya. Dia juga meminta Idarwati agar mengizinkan SM pulang ke rumahnya di Aceh Besar.

“Permintaan Irfandi tidak digubris oleh mantan istrinya tersebut, maka Irfandi mengambil tindakan mengajak beberapa rekannya untuk menjemput anaknya saat sedang belajar di ruangannya,” kata Kapolsek Sawang.

Bukhari mengatakan saat Irfandi tiba di sekolah langsung membawa SM walau telah dilarang oleh gurunya yang sedang mengajar. Melihat kejadian itu, sang guru melaporkan kepada kepala sekolah serta mengejar ke lima warga Aceh Besar tersebut sambil berteriak menyebutkan penculik.

Warga yang sedang berada di seputaran lokasi langsung menghentikan mobil yang ditumpangi Irfandi dan rekan-rekan.

Kapolsek Bukhari Gamcut mengatakan kasus tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Dirinya sudah memanggil pihak-pihak terkait dan mereka telah memutuskan untuk berdamai sesuai adat.[](bna)

Satu WNI Diculik di Arab Saudi

Satu WNI Diculik di Arab Saudi

JAKARTA – Satu Warga Negara Indonesia (WNI) diculik di Riyadh, Ibu Kota Arab Saudi. WNI tersebut bernama Suparto bin Rais Cuniran yang berasal dari Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia & Bantuan Hukum Indonesia (PWNI & BHI) Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, Suparto diculik oleh tiga orang tak dikenal di daerah Esbelia, Exit 10, Riyadh. Sampai saat ini belum diketahui motif dari penculikan tersebut.

“Kejadian 18 September di wilayah Esbelia, Exit 10, Riyadh. Diculik oleh tiga orang,” ujar Lalu Muhammad Iqbal kepada detikcom, Kamis (8/10/2015).

“Sejak kejadian hingga saat ini tidak ada pihak yang mengklaim penculikan atau meminta tebusan sehingga disimpulkan sementara ini bukan kasus penculikan dengan motif tebusan. Karena itu telah diberikan bantuan inhouse lawyer,” lanjutnya.

Iqbal menambahkan, sebelum diculik, Suparto diajak salat terlebih dahulu sambil dipastikan namanya oleh penculik tersebut. Iqbal memastikan bahwa penculikan ini bukan penculikan biasa.

“Harus dicari pelakunya dan kemungkinan motivasinya khusus,” kata Iqbal.[] sumber: detik.com

Din Minimi Jadi Terduga Eksekutor Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

Din Minimi Jadi Terduga Eksekutor Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Faisal Rani alias Komeng mengatakan ada enam orang yang terlibat membunuh dua anggota TNI dari Kodim 0103 Aceh Utara pada 23 Maret 2015 lalu. Hal tersebut diakui oleh Komeng dalam rekonstruksi pembunuhan dua anggota TNI di Mapolres Lhokseumawe, Selasa, 6 Oktober 2015.

Komeng mengatakan dalam eksekusi tersebut ada sekitar 30-an orang bersenjata api anggota komplotan Din Minimi. Komeng juga mengatakan penembakan terhadap salah satu korban awalnya dilakukan oleh Nurdin Ismail alias Din Minimi. Kemudian diikuti oleh Azhar alias Bahar (DPO), Alue alias Anak Yatim (DPO), Jalfanir alias Teungku Plang (P-21), dan Yusrizal (tewas).

Setelah tersungkur, lalu Faisal alias Komeng kembali menembak untuk memastikan korban tewas. Sementara Alue alias Anak Yatim memeriksa kondisi korban seraya membuka borgol dan tali di tangan ke dua anggota TNI tersebut.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Triarsono, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir, SE, mengatakan, rekonstruksi ini sengaja digelar di Mapolres Lhokseumawe karena hasil dari koordinasi antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lhoksukon. Rekonstruksi ini juga turut melibatkan pihak JPU.

“Hal itu juga untuk menjaga keamanan dikarenakan kasusnya sangat atensi. Apalagi korban tersebut juga dari kalangan aparat, untuk keselamatan dari pada tersangka dan suasana dari rekonstruksi tidak terhambat, maka dari itu kita lakukan di halaman Mapolres Lhokseumawe,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dia mengatakan kasus tersebut sedang menunggu proses pemberkasan. “Kalau memang ini sudah tuntas semuanya dan telah P21, lalu akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhoksukon untuk diproses lebih lanjut,” katanya.[] (bna)

Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Dua Anggota TNI di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Penyidik Kepolisian Resort Lhokseumawe menggelar rekonstruksi kasus penculikan disertai pembunuhan terhadap Sertu Indra Irawan (41) dan Serda Hendrianto (36) di Mapolres Lhokseumawe, Selasa, 6 Oktober 2015. Kedua korban merupakan anggota TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0103 Aceh Utara.

Rekonstruksi tersebut digelar dengan disaksikan oleh tim dari Kejaksaan Negeri Lhoksukon. Polisi turut menghadirkan tersangka Faisal Rani alias Komeng yang bertindak sebagai komandan operasional kelompok tersebut.

Dalam rekonstruksi itu, personil penyidik memeragakan enam adegan mulai dari penculikan hingga proses eksekusi tewasnya dua anggota TNI tersebut. Faisal Rani alias Komeng dalam rekonstruksi menyebutkan ada sekitar 30-an orang saat eksekusi terjadi. Mereka adalah komplotan bersenjata Din Minimi dan juga kelompok Abu Razak cs.

Awal peragaan tersebut, Komeng beserta lima temannya tersesat di hutan. Kemudian mereka bertemu dengan Azhar alias Bahar (DPO) beserta kawan lainnya di kawasan jembatan kecil Desa Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Azhar alias Bahar tersebut memberikan hukuman kepada Komeng cs karena telah tersasar. Tak lama kemudian, tiba satu unit Mobil Kijang LGX warna hitam yang ditumpangi korban. Abu Azis (DPO) dan Alue alias Anak Yatim (DPO) menyetop mobil tersebut dengan menodongkan senjata.

Dia kemudian memerintahkan korban turun dari mobil. Para korban juga diperintahkan untuk tiarap. Tersangka lantas memborgol kedua korban sementara Ridwan (tewas) bertugas memindahkan mobil ke semak-semak.

Korban kemudian diintruksikan untuk jalan dengan ditodong senjata oleh Abu Azis dan Alue alias Anak Yatim. Tersangka Abu Azis kemudian mengambil senjata FN milik korban dan menyerahkannya kepada Nurdin alias Din Minimi (DPO). Korban kemudian diperintahkan untuk berjalan dengan tangan terikat dan terborgol.

Pada adegan terakhir, tim penyidik memeragakan eksekusi penembakan korban. Menurut rekonstruksi tersebut, penembakan terhadap korban diawali oleh Nurdin alias Din Minimi (DPO) kemudian diikuti Azhar alias Bahar, Alue alias Anak Yatim, Jalfanir alias Teungku Plang, dan Yusrizal alias Krape.

Setelah korban tersungkur, tersangka Faisal Rani alias Komeng kembali menembak untuk memastikan korban tewas. Terakhir, Alue alias Anak Yatim membuka borgol dan tali.[](bna)

Gadis 13 Tahun asal Kendal Diculik dan Diduga Dikubur di Semarang

Gadis 13 Tahun asal Kendal Diculik dan Diduga Dikubur di Semarang

Semarang – Seorang gadis berusia 13 tahun asal Boja, Kendal, Jawa Tengah diduga di bunuh dan dikubur di  kawasan wisata Goa Kreo atau Waduk Jatibarang, Gunungpati, Kota Semarang. Korban berinisial SM itu dibunuh di Purwodadi, Kabupaten Grobogan sebelum dikubur di Semarang.

Dari pantauan detikcom siang tadi di sisi Barat waduk Jatibarang, tim kepolisian gabungan Polres Kendal, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng, dan tim Dokkes Polda Jateng berada di lokasi untuk mencari keberadaan jenazah korban.

Salah satu tersangka juga terlihat digelandang ke lokasi pencarian untuk menunjukkan lokasi dia mengubur korban. Namun sejak pukul 09.00 hingga 14.00, ternyata jenazah korban tidak ditemukan meski petugas yang dibantu warga sudah menggali ke beberapa titik lokasi.

Salah satu warga yang ikut menggali, Nasikun (44) mengatakan tersangka yang dibawa memang berubah-ubah saat memberikan keterangan. Awalnya tersangka mengaku masuk dari pintu gerbang depan arah masuk waduk. Namun hal itu sedikit janggal karena gerbang tersebut selalu dijaga petugas keamanan.

“Katanya dekat pintu gerbang. Terus gali di sana, terus lagi sampai jembatan dekat goa Kreo, kemudian di dekat bendungan, terakhir di dekat Sutet ini sudah digali sampai tiga kali,” kata Nasikun kepada detikcom di kawasan Waduk Jatibarang, Senin (7/9/2015).

Lokasi terakhir tersebut merupakan tanah milik warga yang masuk Kecamatan Mijen. Untuk masuk ke lokasi tersebut harus melewati gerbang waduk bagian belakang atau lewat perkampungan warga dan pemakaman.

“Setelah sampai gerbang belakang ini, tersangkanya baru ingat katanya memang lewat sini, bukan gerbang depan. Tadi dengar-dengar dia datang jam 03.00 pakai motor Tossa. Tapi kok tidak ada warga yang tahu, ya,” ujar Nasikun.

“Di gerbang belakang ini mungkin cuma patroli-patroli tidak ada yang jaga. Di sekitar sini juga area terlarang, tidak sembarang orang bisa masuk,” imbuhnya.

Beberapa kali petugas dan warga menggali di lokasi yang ditunjuk tersangka. Namun setelah berusaha, ternyata hasilnya nihil. Polisi kemudian meninggalkan lokasi dan mendalami keterangan tersangka.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa pembunuhan terjadi tanggal 10 Agustus lalu setelah sebelumnya ia diculik tiga pelaku di Kendal. Meski penculikan dilakukan di Kendal, namun korban dibunuh di Purwodadi. Tersebar juga informasi tersangka diduga melakukan kekerasan seksual terhadap korban.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol A. Liliek Darmanto saat dikonfirmasi belum bisa memberikan banyak keterangan. Ia mengatakan kepolisian masih terus melakukan penyelidikan.

“Masih lidik, doakan semoga cepat terungkap” kata Liliek.

Sementara itu Kapolres Kendal,  AKBP Widi Atmoko juga mengatakan hal serupa. Pihaknya belum bisa memberikan banyak keterangan karena anggotanya masih mendalaminya.

“Saat ini masih dilakukan pencarian. Kalau sudah jelas nanti pasti kasih kabar,” tandas Widi saat dihubungi terpisah. | sumber: detik

Foto detik.com

Diculik Pria Bersenjata AK, Nasib Dua Petani Aceh Timur Masih Misteri

Diculik Pria Bersenjata AK, Nasib Dua Petani Aceh Timur Masih Misteri

IDI RAYEUK – Dua petani asal Gampong Kemuneng yang dilaporkan diculik pada Minggu, 23 Agustus 2015 malam, hingga kini belum diketahui nasibnya, Kamis, 27 Agustus 2015. Polisi mengaku masih menelusuri kasus tersebut.

“Kini anggota sedang bekerja di lapangan. Insya Allah kasus ini hampir selesai,” ujar Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com sekitar pukul 14.30 WIB tadi.

Sebelumnya diberitakan, dua warga Desa Kemuneng, Kecamatan Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur didga telah diculik pada Minggu, 23 Agustus 2015. Mereka adalah Mahmudin, 45 tahun, dan Sarkawi, 28 tahun, yang berprofesi sebagai petani sawit.

Informasi yang dihimpun portalsatu.com, keduanya diduga diculik oleh beberapa orang berpakaian loreng yang menggunakan senjata api AK-47. Keduanya diculik di kawasan Dusun Kulam Pusu, Desa Aleu Mirah, Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur.

Hal ini dibenarkan oleh Waka Polres Aceh Timur, Kompol Aji Purwanto pada Selasa, 25 Agustus 2015. Dia mengatakan polisi telah menerima informasi tersebut dan sedang menelusuri keberadaan kedua warga tersebut.

“Pada hari Senin kemarin, pihak keluarga telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pante Bidari. Dalam laporan tersebut pihak keluarga juga mengakui ditelepon untuk meminta tebusan uang Rp 500 juta,” ujar Kompol Aji.[](bna)

Dua Petani Diculik Kelompok Bersenjata AK-47 di Aceh Timur

Dua Petani Diculik Kelompok Bersenjata AK-47 di Aceh Timur

IDI RAYEUK – Dua warga Desa Kemuneng, Kecamatan Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur didga telah diculik pada Minggu, 23 Agustus 2015. Mereka adalah Mahmudin, 45 tahun, dan Sarkawi, 28 tahun, yang berprofesi sebagai petani sawit.

Informasi yang dihimpun portalsatu.com, keduanya diduga diculik oleh beberapa orang berpakaian loreng yang menggunakan senjata api AK-47. Keduanya diculik di kawasan Dusun Kulam Pusu, Desa Aleu Mirah, Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur.

Hal ini dibenarkan oleh Waka Polres Aceh Timur, Kompol Aji Purwanto pada Selasa, 25 Agustus 2015. Dia mengatakan polisi telah menerima informasi tersebut dan sedang menelusuri keberadaan kedua warga tersebut.

“Pada hari Senin kemarin, pihak keluarga telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pante Bidari. Dalam laporan tersebut pihak keluarga juga mengakui ditelepon untuk meminta tebusan uang Rp 500 juta,” ujar Kompol Aji.

Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui nasib kedua petani sawit tersebut.[](bna)

Waspada Penculikan Bayi Bermodus Cek Kesehatan

Waspada Penculikan Bayi Bermodus Cek Kesehatan

SUMEDANG – Seorang wanita menculik bayi Naufal Ramadhani dengan memakai seragam dan masker yang menutupi wajahnya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Rabu (8/7/2015), wanita itu terpantau kamera CCTV RSUD Sumedang, Jawa Barat keluar areal rumah sakit sambil menggendong Naufal.

Pelaku memperdaya orangtua Naufal yaitu Priatna Kurnia dan Rani Maryani warga Tanjungsari, Sumedang dengan pura-pura menjadi petugas kesehatan. Wanita itu menawarkan pemeriksaan kesehatan bayi gratis senilai Rp 3,5 juta dan membuatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Sesampai di rumah sakit, pelaku meminta bayi dengan alasan akan dilakukan cek kesehatan di laboratorium. Dan kesempatan itu digunakan pelaku untuk menculik Naufal melalui ruang rawat inap.

“Bayi diambil (oleh pelaku penculikan), lalu 10-15 menit dicari tidak ada,” ucap ayah bayi Naufal, Priatna Kurnia.

Pihak rumah sakit membenarkan peristiwa ini. Saat itu pelaku dan orangtua bayi sempat mendaftar untuk melakukan pengecekan medis. Orangtua Naufal sudah melaporkan kasus ini ke Polsek Sumedang Selatan. Mereka sangat berharap Naufal segera ditemukan dan pelaku penculikan ditangkap.[] sumber: Liputan6.com

Korban Dugaan Penculikan di Aceh Timur Kembali ke Keluarga

Korban Dugaan Penculikan di Aceh Timur Kembali ke Keluarga

IDI RAYEUK- Korban penculikan, Muzakir, 28 tahun, warga Desa Blang Bareum, Kecamatan Rantau Peureulak, kini dilaporkan sudah dikembalikan keluarganya, Senin dini hari, pukul 03.00 pagi.

“Keluarga dari Muzakir sudah melaporkan kasus ini ke Kapolsek Rantau Peureulak, bahwa  korban  telah dikembalikan pada Senin dini hari 03.00 WIB,” kata Kasat Reskrim Aceh Timur, AKP Budi Nasuha Waruwu kepada portalsatu, Selasa 09 Juni 2015, pukul 15.00 WIB.

Kata Kasat, menurut keterangan keluarga korban kasus penculikan tersebut hanya kesalahpahaman saja dan tidak dimintai tembusan apa pun dari pihak keluarga Muzakir.

“Dan keluarga meminta kasus ini untuk tidak dipermasalahkan lagi,” ujar Kasat.

“Meskipun  keluarga meminta kasus tersebut untuk tidak ditindaklajuti lagi, namun kami dari pihak Polres Aceh Timur tetap mempelajarinya lagi,” kata AKP Budi. []

Polres Aceh Timur Selidiki Laporan Penculikan Warga Rantau Peureulak

Polres Aceh Timur Selidiki Laporan Penculikan Warga Rantau Peureulak

IDI RAYEUK – Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Aceh Timur AKP Budi Nasuha Waruwu, membenarkan adanya laporan salah satu warga Aceh Timur yang diduga diculik orang tak dikenal.

“Kini saya beserta anggota sedang berada di lapangan untuk menyelidiki lebih lanjut atas kejadian penculikan tersebut,” katanya ketika dikonfirmasi portalsatu.com melalui telepon selular hari ini, Minggu, 7 Juni 2015.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang warga Desa Blang Bareum, Kecamatan Rantau Peureulak, Muzakir, 28 tahun, dilaporkan diculik orang tidak dikenal sekitar pukul 21:30 WIB malam tadi, Sabtu, 5 Juni 2015.

Kejadian berawal saat sebuah mobil kijang Innova berwarna hitam yang tidak diketahui nomor polisi nya berhenti di sebuah warung kopi di Desa Blang Bareum.

Kemudian dari mobil tersebut, turun tiga orang laki-laki berbaju loreng yang menggunakan penutup wajah sebo,  serta memegang 3 pucuk senjata api laras panjang jenis AK 47, dan 2 pucuk M16. Mereka menjemput paksa Muzakir yang sedang ngobrol bersama warga lainnya. (Baca: Warga Aceh Timur Diculik Pria Bersenjata)